1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Benih 1000 Peony


__ADS_3

Hari silih berganti. Namun kondisi Shu’er tidak membaik sama sekali. Berbagai tabib terkemuka telah dipanggil untuk menyembuhkannya, tapi hasilnya nihil. 


“Kenapa tidak ada satu pun yang berhasil? Benar-benar tidak berguna!” Tuan Muda Zhang geram pada para tabib yang gagal menyembuhkan istrinya itu. Hingga, tabib terakhir yang dipanggil mengatakan sesuatu padanya.


“Tuan, mungkin kau harus menemui kembali orang yang memberimu racun itu. Jika ia mempunyai  racunnya, bukankah berarti dia juga memiliki penawarnya?”


Seketika Tuan Muda Zhang tersadarkan dengan ucapan tabib ini. “Kau benar! Aku harus segera menemukan pertapa itu,” sergahnya.


Pada hari keberangkatannya, Tuan Muda Zhang berpamitan pada istrinya. Ia menggenggam erat tangan Shu’er yang terbaring di tempat tidur, dan tak kunjung sadar dengan kondisi yang semakin lemah. “Shu’er, aku akan segera mencari penawar racun itu. Tunggu aku kembali. Kau harus bertahan,” ucapnya lirih.


Shuwan masih ada di sana, duduk di kursi dan menjadi saksi setia. Kenapa kau harus membawa racun itu, jika pada akhirnya kau menyesal telah membuatnya seperti ini? batinnya prihatin.


Tepat saat Tuan Muda Zhang akan menunggangi kuda, Shuwan mengikutinya. Orang itu memacu kuda dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai di tempat ia bertemu dengan sang pertapa secepat mungkin. Yaitu di sebuah dangau yang berada di perbatasan desa.


Matahari sudah beranjak dari peraduan, dan ia akhirnya sampai. Namun betapa terkejutnya ia, mendapati tempatnya bertemu dengan pertapa itu berubah menjadi lahan tandus yang kosong. “B-bagaimana mungkin? Jelas-jelas waktu itu di sini tempatnya? Kenapa sekarang berubah menjadi seperti ini? Pasti mataku salah lihat!”


Tuan Muda Zhang tampak frustrasi. Ia memacu kudanya mengelilingi lahan tandus itu untuk memastikannya sekali lagi. Tapi tetap saja, ia tidak berhasil menemukan apapun di sana.


“Shu’er... Kau harus tetap hidup.” Pria itu menangis, mengingat kembali istri yang begitu ia cintai sedang menanti obat di rumah. 


Karena tak mendapatkan apa-apa di sana, laki-laki itu punmemutuskan untuk bertanya pada warga sekitar. Tapi hasilnya yang sama diperolehnya. Tidak ada satu pun warga di sana yang pernah melihat dangau apa lagi bertemu seorang pertapa di lahan itu.


Di ambang keputus asaan, hujan pun tiba-tiba saja turun. Di bawah hujan yang lebat, suami Shu’er  menengadahkan wajahnya ke langit. Air matanya menetes, menyatu bersama rintikan hujan yang turun. “Ini semua salahku!” katanya dengan nada penuh sesal.


Shuwan hanya tertunduk lesu. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Melihat Tuan Muda Zhang yang seperti itu, juga membuat hatinya semakin luka.


Setelah berdiam diri di bawah hujan cukup lama, pria itu menjalankan kembali kudanya. Tidak dengan pacuan yang kencang. Kuda itu berjalan seperti biasa. Rupanya ia mengarahkan kudanya menuju kuil suci di tepi hutan. Tepat di sebelah selatan desanya. 


Sesampainya di sana, ia turun, dan berjalan masuk ke dalam kuil. Ia hanya duduk diam mamatung dengan pandangan yang kosong. Dirinya yang seperti itu terlihat seperti raga tanpa jiwa. 


Ia pun kembali tersadar saat ada seseorang yang menepuk bahu kirinya. Seketika ia pun mendongak ke atas, dan mendapati seorang biarawan tengah tersenyum padanya.


“Kelihatannya kau sangat tertekan. Mungkin kau bisa sedikit bercerita untuk meringankan bebanmu, dan mungkin saja aku bisa membantu mencarikan solusi,” kata biarawan itu yang kemudian duduk disamping suami Shu’er.


Tanpa rasa keberatan, Tuan Muda Zhang mulai menceritakan masalahnya. Biarawan itu menghela napas yang dalam, dan mulai menanggapi. 


“Begitu rupanya. Aku tidak menyangka bahwa kau bisa mendapatkan racun hati es yang melegenda itu. Dahulunya, racun ini digunakan untuk menghukum orang-orang yang berbohong dan berkhianat. Orang yang menciptakan racun ini adalah seorang pertapa yang dikenal sebagai ‘Pertapa Tujuh Jalan’. 


Banyak yang mengatakan bahwa dia adalah titisan dewa agung, sehingga banyak orang yang menghormatinya. Namun, jalan hidupnya sebagai seorang pertapa membuatnya tidak bisa menetap di suatu tempat dalam waktu lama. Tidak tahu di mana, dan ke mana dia pergi.” “Bagaimana kau mengetahui masalah ini begitu jauh? Apa kau ada kaitannya dengan pertapa itu?”


Biarawan itu tersenyum. “Aku hanya mendengarnya dari nenek buyutku.”


“Begitu rupanya. Lalu, bagaimana dengan penawarnya?”


Biarawan itu menghirup napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kembali dengan berat. “Racun itu tidak memiliki penawar,” singkat biarawan itu.


Tuan Muda Zhang yang mendengar pernyatan biarawan itu pun terkesiap. “Mustahil! Kau pasti bohong! Pasti ada penawarnya bukan? Aku benar-benar tidak percaya pada omong kosongmu sekalipun kau adalah orang suci!”


Biarawan itu mengangguk dengan tenang. Ia paham betul bagaimana kondisi pria yang ada di hadapannya itu. “Tenanglah, anak muda. Kau.. Tunggulah di sini sebentar,” ucap sang biarawan seraya bangkit dari tempat duduknya. 


Biarawan itu berjalan, dan masuk ke dalam sebuah ruangan tersembunyi yang ada di dalam kuil. Selang beberapa waktu kemudian, ia keluar dengan membawa sebuah kantung kecil berwarna putih. Ia lalu menyerahkan kantung itu pada Tuan Muda Zhang, “Ini... Ambilah. Semoga ini bisa membantu menyelesaikan permasalahanmu.”


“Apa ini?” Tuan Muda Zhang kemudian membuka kantung itu. Ia pun terkejut melihat isinya. “Benih? Apakah maksudnya?”

__ADS_1


“Itu adalah benih 1000 bunga Peony. Hanya dengan membuatnya tumbuh dan mekar, maka kutukan itu akan sirna.”


“Semudah itu?”


“Untuk membuat kuntum itu mekar, harus ada orang yang menjalankan misi dengan pergi ke masa lalu sebanyak jumlah biji bunga yang ada di kantung itu. Dan, yang bisa menyelesaikannya adalah yang bersangkutan, ataupun orang yang memiliki ikatan darah dengannya.”


“Pergi ke masa lalu? Bagaimana itu bisa dilakukan?”


“Ada sebuah cara yang bisa dilakukan untuk menembus ruang dan waktu. Ketika kau sudah menanam benih itu, segera kemari. Aku akan menjelaskannya padamu.”


Tuan Muda Zhang tidak banyak berkomentar. “Um... Baiklah. Lalu... Bagaimana jika misi itu tidak bisa terselesaikan?”


“Kutukan itu akan berlanjut pada reinkarnasinya kelak. Sehingga mau tidak mau, dia harus menyelesaikan misi itu jika ingin terbebas darinya.”


Mendengar hal ini, Shuwan menjadi kaget. Reinkarnasi? Itu artinya, aku benar-benar adalah reinkarnasi Shu’er? Tidak... Tidak... Kakek dan kakak tidak bercerita apapun mengenai hal-hal seperti ini. Shuwan berusaha menepis perkataan biarawan itu.


Di sisi lain, perkataan biarawan itu juga membuat Tuan Muda Zhang menjadi semakin panik, “A-apa? Kenapa bisa seperti itu? Bukankah hanya dengan menumbuhkannya, dan membuatnya mekar bisa terbebas dari kutukan racun itu?”


“Itu adalah kehendak dari langit dan sebuah kebenaran yang harus kau terima.”


Tiba-tiba saja napas Tuan Muda Zhang menjadi tidak teratur. Terlihat seperti orang yang sesak napas. Biarawan itu memegangi kedua bahunya. “Tenanglah... Anak muda...” sergahnya.


“Kenapa bisa jadi begitu rumit? Apakah ini hukuman untukku? Aku hanya tidak ingin berpisah dengan orang yang kucintai. Tapi mengapa langit tidak pernah mendengar doaku sedikit pun?” Air mata Tuan Muda Zhang pun mengalir dengan derasnya.


Shuwan yang ada di sana juga larut dalam suasana. Berulang kali ia menyeka air mata yang tumpah membasahi pipi. Hujan di luar pun tak kunjung reda, seakan mengerti kesedihan yang menimpa seorang pemuda yang malang.


Akhirnya, ketika Tuan Muda Zhang merasa cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Tak lupa, ia berpamitan kepada biarawan dan berjanji akan segera kembali meminta penjelasan.


“Tidak mengapa. Sudah tugas kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong.”


Zhang pun menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. Setelah itu, ia pun bergegas menaiki kuda, begitu juga Shuwan yang duduk di belakang punggungnya. 


Perasaan Tuan Muda Zhang yang kacau membuatnya memacu kuda dengan kecepatan penuh di tengah lebatnya hujan. Ia tidak peduli dengan dirinya lagi. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Shu’er, istrinya.


Setelah seharian menunggangi kuda, Tuan Muda Zhang dan Shuwan pun tiba di kediaman. Baru saja hendak turun dari kuda, seorang pelayan yang merawat Shu’er datang dengan tergopoh menghadapnya.


“T-tuan... Nona muda... Nona muda terus-terusan muntah darah....”


Sontak mendengar perkataan pelayan itu mata Tuan Muda Zhang terbelalak. Tanpa pikir panjang ia pun melompat dari kuda, dan berlari menuju kamar untuk menemui istrinya.


Brakk...


Tuan Muda Zhang membuka pintunya dengan keras hingga menimbulkan kebisingan. Para tabib yang ada di sana hanya tertunduk karena tak mampu melakukan apa pun lagi.


“T-tuan... Nona sudah memasuki masa kritis.... Aku takut jika ia tidak bisa diselamatkan la-“


“Diam! Istriku akan baik-baik saja. Kalian semua adalah tabib yang tidak berguna! Jika sampai aku mendengar kata-kata yang tidak enak itu lagi, akan ku potong lidah kalian!” gertaknya seraya menarik kerah salah seorang tabib dengan paksa.


Di tengah amarah Tuan Muda, Shu’er melihatnya dengan pandangan yang sudah mulai kabur. Ia pun berusaha memanggil suaminya.


“S-suamiku.... Uh... Uhuk... Uhuk...” Shu’er kembali muntah darah. 


Tuan Muda yang ada sedang berurusan dengan para tabib itu pun bergegas lari mendekati istrinya, dan meraih tubuhnya yang sedang terbaring di atas tempat tidur. “Iya, Shu’er... Mana yang sakit? K-kau ingin apa?”

__ADS_1


Shu’er meraih wajah suaminya, “Jangan salahkan mereka... Tabib bukanlah dewa yang bisa menyembuhkan segala sakit... Dan yang terpenting, jangan salahkan dirimu sendiri. Ini adalah keputusanku untuk meminum racun itu. Jadi itu bukan salahmu. Setelah aku pergi, kau harus hidup dengan bahagia...”


Suami Shu’er hanya menggeleng dengan air mata yang berderai, “Tidak... Apa yang kau katakan? Aku sudah menemukan cara untuk mengangkat kutukan itu. Lihat... Di dalam kantung ini ada benih bunga Peony. Aku akan menanamnya untukmu. Saat mekar nanti, pasti akan terlihat sangat cantik. Kau harus melihatnya...”


Shu’er membelai wajah suaminya, “Aku sangat ingin melihat bunga Peony yang kau tanam untukku. Tapi... Aku tidak bisa lagi bersamu. Aku... harus pergi...”


“Tidak... Selama aku tidak mengizinkan, maka kau tidak boleh pergi. Apa kau mendengarku, Lin Shuwan?!”


Shuwan yang sedari tadi diam, dan menangis di dekat mereka pun kaget bukan kepalang ketika Tuan Muda Zhang itu menyebut nama dan marganya. “Kau...” Shuwan tak mampu lagi berkata-kata. Ucapannya terputus dengan isak tangis yang semakin menjadi.


“Kau... Masih saja egois, ya?”


“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, karena aku mencintaimu. Bahkan sejak kita masih kanak-kanak....” suami Shu’er tak kuasa menahan sedihnya. Ruangan kamar itu di penuhi oleh isak tangis orang-orang. 


“Terima kasih sudah mencintaiku dengan segenap hati, mejagaku saat sakit, dan terus melindungiku walau aku tidak bisa mencintaimu dengan layak. Ugh... Aku harap, aku bisa menebus rasa bersalahku dikehidupan selanjutnya. Jika kita memang ditakdirkan bersama, takdir pasti akan mempertemukan kita kembali.” 


Shu’er pun mengambil sulaman yang ia letakkan di dalam kotak yang ada di samping bantalnya, dan menyerahkannya pada sang suami. “A-aku membuat ini untukmu. Aku harap kau menyukainya,” ucapnya lirih.


Suami Shu’er pun mengambil selendang sulaman itu, “Aku akan selalu menyukai apa pun darimu,” ucapnya dengan suara yang bergetar.


Shu’er tersenyum lembut padanya, hingga....


Uhukkk... Uhukkk... Uhukk... Uhukkk...


Shu’er kembali muntah darah. Tubuhnya mengejang. Nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Suaminya pun menjadi semakin panik tak karuan. Ia mendekap erat-erat tubuh istrinya, seraya menangis tersedu-sedu.


“Shu’er... Apakah kau masih bisa mendengarku? Jika kau ingin pergi, maka pergilah... Tapi, aku ingin mendengar kau memanggil namaku, dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Walau pun aku sendiri tidak tahu perasaanmu yang sebenarnya. Aku... Aku hanya ingin mendengar ucapan ini, untuk yang pertama, dan terakhir kalinya...”


Shu’er rupanya masih bisa mendengar suara sang suami. Dengan kekuatan seadanya ia mengatakan apa yang diminta oleh suaminya itu.


“Liem.... Z-Zhang Wu Liem....”


Shuwan yang masih di sana pun lagi-lagi kaget dibuatnya. Zhang Wu Liem? Apakah panggilan yang sebenarnya adalah Liem? Jika benar, bukankah Liem yang aku temui di toko juga mempunyai kemiripan dengan Zhang, dan pria yang ada di hadapanku saat ini. Jadi semua ini benar.... celetuknya setelah menyadari kesamaan yang ada.


“Z-Zhang Wu Liem.... A-aku.... M-mencintai-mu....”


Napas Shu’er pun terhenti setelah selesai mengucapkannya. Suaminya hanya bisa pasrah menerima. Ia memeluk erat tubuh istrinya, yang kini mulai terasa dingin.


“Shu’erku, kau adalah satu-satunya Lin Shuwan milikku, dan satu-satunya yang akan menjadi istriku. Di kehidupan ini, selanjutnya, dan selamanya. Hanya kau yang akan aku cintai seumur hidupku...”


Zhang Wu Liem kembali menangis dengan keras karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit akibat kehilangan orang yang paling dia cintai.


Shuwan pun tidak mampu menahan sedihnya, ditambah rasa sakit yang menyeruak dari dalam dadanya setelah mengetahui semua kebenaran tetang dirinya.


***


Disebuah ruangan dengan dinding bambu, tubuh Shuwan yang penuh luka akibat terjatuh dari jurang terbaring di atas tempat tidur.


Kini ia masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.  Jiwanya sedang berada dalam ruang memori kehidupan lampaunya. Air matanya pun menetes di tengah lelapnya.


“Apa yang membuatmu begitu sedih?” ucap seorang pria muda berambut putih panjang, dengan mata berwarna biru safir yang tengah berdiri di samping tempat tidur Shuwan.


Ia lalu duduk di samping Shuwan, dan menyeka air matanya. Pria itu masih duduk di sana, dan memandangi Shuwan yang sedang terlelap dengan tatapan yang hangat.

__ADS_1


__ADS_2