
Segumpal daging bernyawa ini rasanya seperti tercabik, hingga hancur remuk tak berbentuk
Jiwa yang bersemayam pun seolah menghilang, menyisakan raga yang hidup namun tak segan
Amarah kini telah menjadi nadi belenggu yang menguasai seluruh rongga dada
Kisah cinta sekeping hati yang terhormat, perlahan mulai memudar, dikikis kesalahpahaman tak bertepi
---
Zhang berjalan dengan langkah yang gontai meninggalkan ruangan itu. Bukannya bahagia setelah pertemuan dengan raja, justru hanya ada amarah karena cinta.
Yu Hao mengikuti langkah Zhang yang tidak seperti biasanya. Ia ingin mengajaknya bicara, tapi Zhang masih saja diam tanpa kata. Pandangannya lurus kedepan, namun tak satu pun yang menjadi fokus netranya.
Hingga langkah Yu Hao terhenti dibarengi Zhang yang berhenti berjalan. Tampak Zhang memegangi dada kirinya.
“Uhuk....” Tiba-tiba saja Zhang terbatuk, tangan yang ia gunakan menutupi mulutnya pun bersimbah darah.
“Zhang, apa yang terjadi?” Yu Hao yang berada di dekatnya pun panik dan memegangi kedua bahu Zhang.
Perlahan pandangan Zhang menjadi kabur. Kakinya tak lagi kuat menahan tubuhnya agar tetap kokoh berdiri. Di lorong yang hanya ada beberapa penjaga itu pun Zhang tumbang.
Yu Hao memapahnya sekuat tenaga. Lalu dua orang penjaga datang menghampiri Yu Hao dan membantunya mengangangkat tubuh Zhang.
Shuwan yang ada di dalam pun tersentak kaget. Raja dan Zhi Qiang juga melihatnya.
Ingin sekali rasanya Shuwan berlari dan menghampiri Zhang, tapi Zhi Qiang menahannya.
Sang raja melihat perubahan eskpresi Shuwan. Ia kemudian mengajukan pertanyaan pada Shuwan. “Qiang’er, ada apa dengan istrimu? Dia tampak gelisah.”
Zhi Qiang melihat ke arah Shuwan, “Shuwan...” panggilnya.
Shuwan yang sedari tadi memandangi luar pintu mendadak kaget. Ia lalu berusaha mengondisikan dirinya. “M-maafkan aku, Tuan,” kata Shuwan dengan tergagap.
“Dari tadi kulihat kau memandang ke luar pintu, apakah kau juga mengenal pemuda bernama Zhang itu?” tanya raja.
Shuwan terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa pada ayah Zhi Qiang.
Melihat kondisi Shuwan yang demikian, Zhi Qiang mencoba mengatasi pertanyaan ayahnya. “Ayah, Shuwan juga tinggal di tempat alkemis Luo Shu. Mereka berdua tentu saling mengenal. Iya ‘kan, Shuwan?” Zhi Qiang kembali melirik Shuwan yang masih dengan perasaan cemas dan bersalah. Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Zhang, Shuwan? Kau sampai begitu khawatirnya?
Tanpa berani membalas pandangan, Shuwan hanya menanggapinya dengan alakadarnya. “I-iya... Kami memang berteman.” Shuwan meremat selendang gaunnya. Liem, apa yang terjadi padamu?
Sementara itu Zhang dibawa ke tabib istana. Ia diperiksa oleh tabib yang sebelumnya memeriksa dan membuatkan obat untuk Zhang. Sedangkan Yu Hao, ia masih setia menemani Zhang dengan perasaan penuh kekhawatiran.
Begitu tabib selesai memeriksanya, Yu Hao langsung bertanya. “Bagaimana keadaanya?”
“Sebenarnya... Aku tidak tahu kenapa sakitnya bisa kembali lagi.” Tatapan tabib itu menjadi sendu begitu mendapati hasil diagnosanya.
“A-apa? Bukankah kau bilang jika seminggu meminum obat dari lotus salju itu dia akan sembuh?” sergah Yu Hao.
__ADS_1
“Itu benar. Terakhir kali aku memeriksanya, dia sudah sembuh. Tapi ini.... Ini seperti sesuatu diluar dugaanku. Aku juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.”
Yu Hao mengacak rambutnya. Berulang kali ia membuang napasnya yang berat. Ia lalu memandangi kembali tabib itu. “Apakah suasana hatinya bisa menjadi sebab penyakitnya kembali lagi?”
“Ini juga adalah salah satu dugaanku. Apakah dia baru saja mengalami gejolak yang begitu keras?” tanya sang tabib.
“Kau benar. Dia tadi sangat terkejut karena sesuatu hal.” Pandangan Yu Hao berubah sendu.
“Kalau begitu, aku akan mencoba mengobatinya kembali dengan ramuan lotus salju. Semoga saja ini bisa berhasil mengobatinya lagi.”
Tabib itu kemudian keluar dari ruangan. Meninggalkan Yu Hao yang sayu, dan Zhang yang terbaring lemah.
Jika Shuwan ada di sini, itu artinya Jiao juga datang ke sini bukan? Aku harus mencarinya, dan bertanya mengenai hal ini. Zhang aku akan segera kembali. Tunggulah sebentar.
Yu Hao kemudian keluar mencari Jiao, dan meninggalkan Zhang yang masih tidak sadarkan diri.
***
Jiao menyelediki orang yang dicurigai Shuwan di gudang tempat lampion berada. Ia mengintip dari balik celah-celah jendela ruangan itu. Apa yang dilakukan orang itu? Kenapa dia seperti memberi sesuatu di setiap lampion itu?
Jiao yang fokus mengintai pun tidak menyadari keberadaan seseorang di belakangnya. Orang itu menepuk bahunya hingga membuat Jiao terkesiap.
“Jadi, kau memata-matai pria lain ketika aku pergi?” bisik orang itu.
Jiao lalu menoleh dan mendapat Yu Hao di belakangnya. “Kenapa kau bisa tahu aku di sini?” tanya Jiao.
“Butuh waktu cukup lama hanya untuk bisa menemuimu. Dan, ngomong-ngomong kenapa kau datang ke istana tapi tidak langsung menemui kami?”
Yu Hao hanya mengiyakannya. Ia turut mengintip siapa sebenarnya orang yang di intai Jiao.
Selang tidak berapa lama kemudian, orang yang diintai Jiao pun keluar dari gudang. Jiao mengambil kesempatan ini untuk menyelidiki lampion itu. Ia masuk ke gudang begitu orang yang dicurigainya tidak lagi kelihatan.
Yu Hao hanya mengikuti Jiao dari belakang.
Jiao lalu mengambil lampion yang tadi disentuh oleh orang misterius itu. “Dugaanku benar. Orang itu mengganti minyaknya dengan bubuk mesiu. Jika sampai sumbunya disulut, maka benda ini bisa meledak.”
“Apa maksudmu, Jiao? Aku tidak mengerti kenapa kau menyelidiki masalah ini?”
“Nanti akan kujelaskan secara detail, Yu Hao. Aku merasa ini ada kaitannya denganmu.”
“Kaitannya denganku?” Yu Hao seakan tak percaya.
“Ya. Malam nanti temuilah aku di hunian khusus diplomat. Aku akan menceritakannya padamu.”
“Aku dan Zhang juga menginap di sana. Kenapa kita tidak bertemu sebelumnya?”
“Aku dan Shuwan menginap di tempat khusus wanita. Tentu saja tidak bertemu dengam kalian.”
“Begitu, ya?” Yu Hao terdiam sejenak, dan kembali mengingat tentang kondisi Zhang. “Jiao, Zhang...”
__ADS_1
“Apa lagi yang terjadi padanya?”
“Zhang, jatuh sakit lagi. Dia belum sadarkan diri sampai sekarang.”
“A-apa?”
“Sudahlah. Tidak ada waktu untuk menjelaskannya di sini. Ikut denganku,” Yu Hao menarik tangan Jiao dan membawanya ke kamarnya, di mana Zhang juga terbaring tak sadarkan diri di sana.
Jiao yang tiba di sana dan melihatnya pun seakan tak percaya. “B-bagaimana dia bisa berakhir seperti ini?”
“Ini karena dia melihat Shuwan dengan putra mahkota. Putra mahkota tadi menemui raja, dan membawa Shuwan. Dia mengatakan bahwa Shuwan adalah istrinya.”
“Tapi, seingatku Shuwan pergi bersama Qiang’er si pustakawan istana itu?”
Yu Hao membuang napasnya. “Maksudmu Zhi Qiang? Dia sebenarnya adalah putra mahkota istana ini.”
Netra Jiao membulat sempurna. Lidahnya terasa kelu ketika hendak berucap. “A-apa?” Jiao masih tak percaya. Ia masih mencoba membangunkan dirinya sendiri jika benar semua itu hanya mimpi. “J-jadi, Qiang’er itu adalah putra mahkota?”
Yu Hao mengangguk.
“Apakah Shuwan sudah mengetahuinya?” Jiao merasa khawatir.
“Dari yang aku lihat tadi, Shuwan sepertinya belum tahu. Aku tidak tahu kenapa Shuwan bisa bersama dengan putra mahkota. Yang jelas, itu membuat Zhang terpukul, dan kembali jatuh sakit.”
“Waktu itu, aku dan Shuwan pergi ke pasar. Saat aku meninggalkan Shuwan sebentar untuk mencari penjual teh, Shuwan hampir celaka karena akan ditabrak seekor kuda yang melaju kencang di pasar. Qiang’er menyelamatkannya, dan Shuwan pun berhutang budi padanya. Makanya, dia meminta Shuwan untuk membantu persiapan perayaan ini. Tapi, untuk masalah dia diminta menjadi seorang istri, Shuwan benar-benar tidak mengatakannya padaku.”
“Jadi, kau juga tidak mengetahuinya? Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Shuwan?”
Jiao menggeleng tak paham. Ia lalu mengambil sebuah kertas dari saku pakaiannya. “Mengenai apa yang ingin aku katakan tadi, akan aku jelaskan sekarang.” Jiao menyerahkan kertas itu pada Yu Hao.
“Apa ini?” Yu Hao langsung membuka kertas itu. Seketika itu juga ia terbelalak. “I-ini...”
“Ya... Itu adalah lambang kelompok Mawar Hitam bukan? Orang yang aku mata-matai tadi, dan yang mengganti minyak di lampion dengan bubuk mesiu adalah orang yang memiliki tanda ini di dekat pergelangan tangannya.”
Yu Hao terngaga. Matanya masih membulat sempurna. “Kenapa orang-orang itu bisa sampai kemari?”
Jiao membuang napas beratnya. “Shuwan mengatakan, kalau dia mendapat petunjuk dari mimpi tentang pemberontakan di istana ini. Saat malam perayaan, pemberontakan itu akan diluncurkan. Dan, Shuwan mencurigai orang dengan tato ini di tubuhnya. Tapi, ia tidak cukup bukti untuk bisa mengatakannya pada raja, atau putra mahkota.”
Yu Hao tertegun. Pikirannya kembali kacau. Ia pun menyandarkan kepalanya pada tiang tempat tidur Zhang. “Disaat seperti ini, kenapa selalu saja masih ada kekacauan? Ini adalah masalah yang benar-benar besar.”
“Kau tahu, Shuwan sepertinya sudah memikirkannya sejak kami belum kemari. Dia sampai tidak makan, dan bahkan merahasiakannya dariku. Kemarin karena aku memaksanya saja baru dia buka mulut. Dia selalu saja menanggung semuanya sendiri.”
“Aku jadi merasa, kalau Shuwan bersama putra mahkota ada kaitannya dengan ini,” kata Yu Hao.
“Kita akan meminta penjelasannya nanti ketika dia telah kembali. Selain itu, apa salahnya kita bantu Shuwan menyelidiki. Pertama, kita sudah mendapati orang yang mencurigakan dengan simbol ini. Dan kedua, orang itu terbukti telah mengganti minyak lampion dengan bubuk mesiu. Tentu itu akan berbahaya bagi orang yang menyulut sumbunya. Aku yakin, itu adalah upaya untuk memancing kericuhan.”
“Kalau begitu, ayo kita lanjutkan penyelidikan dan mengumpulkan bukti.” Imbuh Yu Hao dengan penuh semangat.
“Lalu, bagaimana dengan Zhang? Dia masih belum sadarkan diri sekarang. Bagaimana mungkin kita bisa meninggalkannya sendirian di sini?”
__ADS_1
“Kau benar. Kita tunggu tabib yang merawat Zhang kembali. Baru kita akan pergi,” jawab Yu Hao