
“Lalu, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Jiao memecah keheningan.
“Pertama obati tubuh Shuwan. Kalian juga mendengarnya bukan? Bahwa pil bunga lotus hanya mampu mengurangi nyeri, tidak untuk menyembuhkannya secara total,” tukas Zhang.
Tampaknya Jiao mengerti dengan apa yang diutarakan oleh Zhang.
“Baiklah. Sebaiknya kalian berdua menyingkir dahulu. Bagaimana mungkin aku mengobati Shuwan dengan kalian yang masih siaga di sini?” Jiao meminta Zhang dan Yu Hao untuk menyingkir sebentar dari tempat Shuwan dan Jiao.
Sedangkan Shuwan, nyeri yang ia rasakan memang berkurang. Namun kebingungan yang ada dipikirannya masih saja gentayangan di otaknya.
Setelah Shuwan tinggal berdua dengan Jiao, ia pun memulai percakapan. “Jiao, sebenarnya apa yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri? Dan, makhluk menyeramkan tadi, siapa dia?”
Jiao mengeluarkan perban yang ia simpan di kantung obatnya. “Makhluk itu bernama Gao Chun. Dia juga yang membantu Zhang untuk menjemputmu. Kau tahu betapa khawatirnya kami dengan kondisimu? Baru saja kau terjatuh ke jurang, sekarang kau terluka semakin parah. Untuk sementara ini, kau tidak boleh bertarung.”
Shuwan hanya terdiam. Ia paham dengan perkataan Jiao yang menyiratkan kondisinya yang sangat tidak baik.
Jiao memeriksa Shuwan, pandangannya sendu, bahkan lidahnya tak mampu berucap.
“Jiao, aku mengerti. Aku berjanji, sebisa mungkin aku tidak akan bertarung untuk sementara waktu. Semoga, perjalanan kita tidak mengharuskan aku untuk bertarung langsung,” kata Shuwan dengan pandangan mata yang kosong.
Jiao mengangguk. Ia melanjutkan mengoleskan obat luka pada tubuh Shuwan, dan membidai tangan kirinya yang patah. “Kami akan berusaha melindungimu Shuwan. Selama ini, kau sudah berbuat banyak untuk melindungi kami.”
Shuwan tersenyum. “Aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku, tentu saja harus ada upaya yang aku lakukan untuk melindungi kalian. Termasuk kau, Jiao. Aku menganggapmu seperti adikku sendiri Walau pun, aku belum tahu bagaimana rasanya memiliki adik,” Shuwan menimpali.
Mata Jiao berkaca-kaca, ada rasa haru bercampur bahagia yang menyelimuti hatinya. “Terima kasih,” balas Jiao seraya menyelesaikan perbannya.
Kini ia sudah selesai mengobati memar, dan juga patah tulang Shuwan. Ia pun memanggil kembali Zhang dan Yu Hao yang berada tidak jauh dari sana. “Zhan, Yu Hao, kalian bisa keluar sekarang.”
Zhang dan Yu Hao pun keluar, dan berjalan mendekati Shuwan yang tubuhnya kini dipenuhi perban.
“Selanjutnya apa?” tanya Yu Hao.
“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Aku takut sesuatu yang buruk kembali terjadi,” tukas Zhang.
Yu Hao mengangguk, “Kau benar. Kita tidak bisa bertahan di sini lagi. Kalau begitu ayo lanjutkan perjalanan.”
Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kuda yang sebelumnya mereka gunakan. Sebelum berangkat, Zhang melepaskan jubah yang ia kenakan, dan memberikannya pada Shuwan. “Kau tidak boleh sampai kedinginan. Itu bisa membuat nyerimu semakin sakit.”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Kau jangan mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Kau harus lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri,” kata Zhang.
“Hyaa!” Zhang memacu kudanya secepat mungkin. Berharap setelah ini bisa menemukan sebuah perkotaan agar bisa menjumpai tabib yang bisa menyembuhkan Shuwan.
__ADS_1
Dalam laju kuda yang menggema di tengah belantara, Shuwan mengajukan sebuah pertanyaan yang sudah ia pendam selama berada di kediaman Ying Jie. “Zhang, siapa namamu sebenarnya? Selama ini, kau memperkenalkan dirimu hanya dengan margamu?”
Zhang kaget mendengar pertanyaan Shuwan. Kuda yang mereka berdua tunggangi pun melambat. Mereka pun berhenti, di tengah hutan, dengan dikelilingi pepohonan yang menyisakan ruang bagi cahaya bulan untuk masuk. Seolah, sorot cahaya bulan itu memang ditujukan untuk Zhang dan Shuwan.
“Kenapa kau ingin mengetahuinya?” tanya Zhang kembali.
“Aku hanya ingin mengetahuinya, sebelum aku pergi jauh darimu.”
Mata Zhang terbelalak. Tangannya memegang erat tali pengendali kuda. Ia lagi-lagi merasa terpukul mendengar jawaban menyedihkan dari wanita yang ia cintai. Karena itu, akhirnya ia pun menyerah, dan memberitahukan namanya. “Zhang Wu Liem, ingat namaku baik-baik.”
“Hyaa!”
Shuwan sudah mengerti jika Zhang adalah Liem yang pernah ia jumpai. Tapi sekali lagi ia merasa seperti tertampar. Sepanjang jalan ia hanya melamun. Bahkan suara langkah kuda pun tak terdengar di telinganya. Hanya ada pikiran tentan Liem, dan sisa-sisa perjalanan yang selama ini ia lakukan.
Kenapa kau harus mengingatkanku lagi tentang sebuah perpisahan, Shuwan? Sebegitu cepatnya ‘kah kau ingin berpisah denganku? Zhang mendengus kesal. Pikirannya kini dipenuhi oleh Shuwan. Ia mengalihkannya sesaat demi sesaat melalui pacuan kudanya.
Shuwan paham kalau Zhang mungkin marah dengannya. Ia pun kembali mencoba membuka mulutnya. “Zhang... Ah tidak, maksudku Liem. Apakah kau lihat cahaya bulan yang menyinari perjalanan malam kita ini? Cahayanya sangat teduh dan indah bukan? Tapi ia akan mulai pudar saat fajar datang.”
Zhang lagi-lagi menghentikan kudanya secara mendadak.
“Rasanya, kau dan aku seperti cahaya bulan yang memudar itu. Perpisahan kita terasa semakin dekat. Sama seperti jarak waktu malam dan pagi. Kau... Juga menyadarinya bukan?”
Zhang hanya diam. Wajahnya terlihat sedih. Lagi-lagi ia seperti diingatkan agar tidak jatuh terlalu dalam pada Shuwan.
Miris, dan juga perih. Itulah yang Shuwan rasakan ketika mengatakannya.
Zhang mengabaikannya, sebuah fakta yang kelak akan terjadi. Perpisahan yang sungguh menyayat hati, antara dirinya, dan sang pujaan hati.
“Hyaa!”
Kuda itu melaju dengan kencang dan menyalip kuda yang ditunggangi Jiao dan Yu Hao.
Bagaimana bisa kau melemparku pada wanita lain, Shuwan? Yang kuinginkan hanyalah dirimu, dan itu berlaku untuk selamanya. Batin Zhang yang pilu kembali berkecamuk, di atas pacuan kuda yang menerjang hutan malam hari.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa lagi-lagi mereka harus sepert ini?” tanya Jiao.
“Hm, kita tidak bisa mencampuri urusan hati mereka. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri,” sahut Yu Hao.
Sementara di atas kuda, Shuwan merasa sedikit ketakutan akibat laju kuda yang begitu kencangnya. “Apakah kau ingin membunuhku juga, Liem?”
Zhang menarik tali kudanya, hingga kuda itu pun meringkik, dan mengangkat kedua kaki depannya.
Shuwan pikir, Zhang akan memakinya, tapi ia salah. Tiba-tiba saja Zhang memeluknnya dari belakang. Cairan hangat yang sedari tadi bermuara di mata Zhang, jatuh ke atas pakaian Shuwan. Shuwan merasakannya. Benda hangat yang menjadi lambang sebuah kesedihan menyentuh kulit bahunya.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Shuwan. Karena terus bersamamu, adalah janjiku seumur hidup. Aku tidak peduli jika harus menginjak ribuan jarum yang tajam, ataupun jatuh di palung paling dalam. Aku juga tidak peduli jika harus menanti ribuan tahun untuk bida bertemu denganmu kembali. Karena kaulah, sumber kebahagian sejatiku.”
Shuwan hanya terdiam, mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Zhang. Hatinya pun tidak mengerti.
Setelah mengucapkan apa yang ingin diutarakan, Zhang mengendurkan pelukannya.
Shuwan mengira kalau Zhang memang sudah selesai dengan urusannya. Ia tidak berpikir yang macam-macam mengenai Zhang, hingga insiden setelahnya pun terjadi.
Brug...
Tubuh Zhang tiba-tiba saja terjatuh dari atas kuda. Shuwan terpaku, penuh diam dan membisu menyaksikan orang yang baru saja menangisinya tiba-tiba saja tumbang.
“Liem!” teriak Shuwan yang tidak ingin memanggilnya Zhang lagi. Ia pun bersusah payah melompat dari kuda. Walau pun setelah berhasil melompat, ia kembali meringis kesakitan akibat bertumpu pada kakinya yang patah. “Ah!” Shuwan mencoba mengabaikan rasa sakit yang dideritanya.
Ia berusaha berjalan mendekati Zhang dengan menyeret kakiknya yang sakit. “Liem, Liem! Apa yang terjadi padamu?” teriak Shuwan histeris.
Jiao dan Yu Hao yang baru saja tiba langsung turun dari kudanya, dan berlari mendekati Shuwan yang sedang berusaha membangunkan Zhang.
“Shuwan, tenanglah,” Jiao berusaha menenangkan Shuwan yang terlihat begitu panik. Ia lantas mengambil obat dari kantung obat milik Zhang. Setelah mendapatkannya, ia pun langsung memberikannya pada Zhang. Tapi, ia dibuat bingung. “Bagaimana dia bisa meminum obatnya?”
“Berikan saja padaku,” pinta Shuwan. Ia pun memasukkan pil itu ke dalam mulut Zhang. Setelahnya, Shuwan meminum air dan langsung memberikannya pada Zhang, dengan cara yang sama seperti burung yang memberikan makan pada anaknya.
Maafkan aku, Liem. Batinnya seraya memberikan minum pada Zhang dengan mulutnya. Ia langsung mengelap sisa air yang berserakan di sekitar bibir Zhang. Ia memandangi Zhang dengan perasaan bersalah.
“Apa sebenarnya penyakit Zhang? Kenapa dia sampai seperti ini?” tanya Shuwan.
Jiao dan Yu Hao tertunduk lesu mendengar pertanyaan yang dilontarkan begitu saja oleh Shuwan.
“Aku juga tidak mengerti, Shuwan. Dalam perjalanan untuk menemukanmu, dia juga sempat seperti ini,” balas Jiao.
“A-apa? Kenapa kalian tidak mengatakannya padaku?”
“Zhang meminta kami agar tidak memberitahukannya padamu. Ia takut, kau akan mengkhawatirkannya,” Yu Hao menimpali.
“Dia terlalu mengkhawatirkanmu, Shuwan. Dia sangat takut kehilanganmu. Tekanan itulah, yang mungkin membuatnya menjadi seperti ini. Mengenai penyakitnya, sungguh aku tidak mengetahuinya. Ilmu medisku tidaklah setinggi itu untu bisa memprediksi penyakit seperti ini,” terang Jiao.
Perasaan Shuwan semakin bercampur aduk., hingga ia pun memutuskan untuk menunda perjalanan. “Kalau begitu, kita istirahat di sini saja. Setidaknya, sampai keadaannya sedikit membaik.”
Jiao dan Yu Hao saling melempar pandangan, hingga mereka berdua pun mengangguk setuju.
Di malam yang hampir pagi, Yu Hao berupaya menghidupkan api untuk menghangatkan tubuh mereka. Setidaknya sampai matahari menerangi tempat itu, dan membawa kehangatan yang lebih banyak.
Sekarang, Shuwan yang berbalik menjaga Zhang. Jubah yang tadinya diberikan Zhang untuk menghangatkan tubuhnya, kini ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Zhang.
__ADS_1