1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Menikah?


__ADS_3

Kuncup terakhir telah mekar. Tapi, rasanya tidak ada yang terlalu berbeda denganku. Apakah karena aku belum menemukan seseorang yang mampu menggetarkan hatiku? Sepertinya aku harus mencoba menemukan orang itu.


Shuwan memandangi tiap kelopak bunga yang berguguran di terpa angin. Ia tak sadar kalau tali sepatunya terlepas.


BRUGH!


Shuwan terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri. “Aw!” Shuwan meringis kesakitan. Ia akhirnya terduduk di trotoar jalan, dan mulai mengikat kembali sepatunya. Untungnya jalanan ini selalu sepi. Kalau tidak aku pasti sudah habis ditertawai. Batin Shuwan.


Shuwan masih duduk di trotoar, dan melamun. Menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang membawa semerbak aroma musim semi. Cinta... Apakah akan terasa hangat dan menenteramkan seperti ini? 


“Apa kau baik-baik saja?” tanya seorang pria berwajah teduh.


Shuwan lalu menengadahkan pandangannya, dan ia pun seketika diam mebatu. O-orang ini? Shuwan membuang napasnya, dan langsung bangkit. “K-kau... Bagaimana bisa?”


Pria itu hanya tersenyum seolah mengerti dengan maksud Shuwan. “Sst... Ada hal yang sebaiknya tetap dirahasiakan. Kalau begitu aku pergi dahulu.” Pria itu langsung melewati Shuwan yang bengong karena bingung.


Shuwan yang menyadari pria itu pergi pun langsung menoleh ke belakang. “Pembawa pesan itu... Apa juga berasal dari dunia ini? Kenapa aku selalu bertemu dengannya?” Shuwan masih bingung, kenapa pria yang terlihat seperti pengantar pesan cek eps. 73) dalam mimpinya itu bisa berada di sini. Tapi Shuwan mencoba untuk tidak terlalu peduli. 


“Mungkin memang sudah jalannya...” gumamnya. Shuwan pun melanjutkan perjalanannya.


Hembusan angin musim semi yang menenangkan dan hangat itu tidak hanya menerbangkan bunga-bunga yang bermekaran. Tapi juga membawa kembali benang  merah takdir di antara dua anak manusia.


Sebuah selendang berwarna merah melayang di udara bersamaan dengan bunga-bunga yang berguguran.


Shuwan tak menyadari selendang yang melayang di udara itu. Ia hanya fokus pada jalan yang akan dia tempuh di depannya.


Namun, semuanya berubah. Ketika selendang itu jatuh di kepalanya, dan menutupi pandangannya.


“A-apa ini?” Shuwan menarik selendang merah yang menutupi kepala sekaligus penglihatannya. Ia membentangkannya di atas kedua telapak tangan yang menengadah ke atas. Tiba-tiba saja netranya membulat sempurna. “I-ini... Kenapa bisa?”


Shuwan seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya kini. Sebuah selendang bersulam sepasang bebek mandarin yang tengah berenang di kolam teratai. Sebuah sulaman tentang kesetiaan dan juga kebahagiaan.


Tidak terasa air mata yang telah bermuara di netra Shuwan menetes. Kilatan ingatan mengenai selendang yang ada di genggamannya kini muncul kembali. Selain itu, ingatan tentang seseorang yang terakhir kali menunjukkan selendang itu padanya juga muncul. Ya, orang itu adalah Zhang.


Shuwan menangis dalam diam, ia merasa bingung sampai tak lagi memperhatikan sekitarnya. Hingga kini, di hadapannya pun ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya. 


Mata itu milik seorang pria bertubuh tinggi tegap, dengan rambut berwarna hitam. Pria itu berdiri di hadapan Shuwan dengan jarak tiga meter saja. 


Shuwan memandangi selendang itu lagi, dan mencium selendang itu. Tangannya bergetar, begitu pula hatinya yang berdetak sangat kencang, hingga...


“Selendang itu selalu tahu bagaimana kembali pada pemiliknya...” ucap pria itu.


Hati Shuwan seakan luruh begitu mendengar suara yang pernah ia dengar, dan sangat akrab baginya. Ia pun memberanikan diri untuk menatap lurus ke depan. Dan lagi, air mata itu jatuh begitu saja di pipinya. Kini Shuwan tak lagi menahan diri, ia menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekati Shuwan. Ia langsung memeluk erat tubuh Shuwan. “Aku berhasil menemukanmu, Shuwan. Bukankah artinya kau harus menepati janjimu?” kata pria itu langsung pada topiknya.


Shuwan masih menangis di pelukan pria itu. Pria yang selama ini selalu hadir di mimpi dan ingatan masa lalunya. Pria yang dengan egoisnya selalu mencintainya. Dari dahulu, hingga kini. Pria yang hanya mengakui Shuwan sebagai belahan jiwanya. Pria yang sama-sama rela menahan sakit demi bersama orang yang dicintainya.


Ya, pria itu adalah Zhang Wu Liem. Ia masih mendekap erat-erat wanita yang dicintainya. Kelopak bunga yang berguguran dihembuskan angin menambahkan suasana syahdu dari dua hati yang sedang memadu kasih, dan melepas segala rindu.


“Shuwan...” pria itu melepaskan pelukannya, dan kini memegangi kedua lengan Shuwan. “Lihat aku...” katanya lembut.


Shuwan yang masih sesenggukan pun mencoba berani menatapnya. “Bagaimana... Bagaimana bisa kau di sini?” tanya Shuwan.


Pria itu menyentuh lembut kedua pipi Shuwan dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ia memandangi Shuwan dengan dekat dan menatapnya penuh arti. “Bukankah aku sudah sering mengatakannya? Aku akan selalu menunggu, dan mencarimu. Biar harus menanti ribuan tahun, aku akan tetap menunggumu. Karena hanya kaulah satu-satunya wanita yang aku akui sebagai istriku, dan satu-satunya wanita yang aku cintai dengan segenap hatiku.”


Shuwan kembali terisak. Ia mengingat kembali bagaimana Zhang melalui hari-harinya yang begitu menyakitkan. Kehilangan orang yang dicintai, dan juga merasakan sakit karena penyakitnya.


“Sekarang semuanya sudah selesai. Bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?” kata Zhang dengan lembut.


Shuwan langsung tersenyum. Ia kemudian mengangguk pelan. Ia tidak lagi peduli bagaimana pedihnya masa lalu ketika ia mendapat kutukan itu. Di hatinya, sekarang hanya ada rasa percaya, dan juga cinta yang baru saja ia rasakan.


Zhang kemudian kembali memeluk Shuwan. Kini kedua hati itu telah bersatu kembali setelah melalui ribuan rintangan dan ujian. “Sudah saatnya kita pergi ke kantor catatan sipil.”


Shuwan terbelalak. Ia pun mendorong Zhang dari pelukannya. “A-apa? Tapi bukankah itu terlalu cepat?”


Zhang tersenyum. “Bukankah kau sudah berjanji kalau kita bisa bertemu lagi kau akan bersedia menikah denganku?”


“Bukankah seorang ksatria akan menepati ucapan dan juga janjinya? Jika kau melanggar ucapan dan janji, aku tidak yakin kalau kau adalah ksatria sejati.”


“K-kau!”


Zhang langsung menarik tangan Shuwan. “Kita akan menjelaskannya nanti setelah resmi menjadi suami istri.” Kata Zhang seraya berjalan dengan menarik tangan Shuwan.


“Tapi tidak bisa seperti ini. Bagaimana kalau mereka sampai marah? Aku bisa dikutuk nanti!”


Zhang tersenyum. “Itu tidak akan terjadi. Percayalah padaku.”


Bagaimana caranya menghadapi spesies ini? Sejak dahulu sampai sekarang bertemu kembali, masih sangat sulit bagiku untuk melawannya. Batin Shuwan yang tamak mulai menyerah. Ia akhirnya pasrah dan mengikuti Zhang menuju kantor catatan sipil.


Semuanya berjalan begitu saja. “A-aku sudah menikah?” Gumam Shuwan. Ia memandangi akta nikahnya dengan Zhang. Bagaimana aku harus menjelaskannya pada kakek? Dia pasti akan langsung mengutukku dan mencoreng namaku dari kartu keluarga. Shuwan menepuk dahinya dengan pelan. Ia berulang kali membuang napasnya yang terasa begitu berat.


Shuwan masih menunggu Zhang yang sedang menulis sesuatu di meja resepsionis kantor catatan sipil. Ia memandangi punggung Zhang, dan masih merasa tidak percaya kalau dirinya sekarang sudah menikah.


Zhang yang baru selesai menulis pun langsung memerhatikan Shuwan yang sedari tadi memandanginya. “Jika kau tidak sabar denganku kita bisa melakukannya sepulang nanti.” Zhang mulai menggoda Shuwan lagi.


Shuwan langsung memalingkan wajahnya. Pipinya jadi merona.

__ADS_1


Zhang langsung mendekatinya. “Bagaimana Shuwan? Apakah kamu sudah siap?”


“Omong kosong apa yang kau bicarakan!” Shuwan berusaha menepis ucapan Zhang yang baru saja mendarat di pendengarannya.


“Heh... Kau adalah istriku, tentu saja kau harus melakukan kewajibanmu. Benar ‘kan, istriku?”


Wajah Shuwan kembali merona. Bisa-bisanya dia mengatakan hal tak senonoh seperti ini bahkan saat kita belum meninggalkan kantor catatan sipil. Gerutu Shuwan dalam hatinya. “Ahem... Sepertinya kita harus segera pergi dan memberikan penjelasan yang logis pada kakek. Kau tentunya harus bertanggung jawab dengan semua ini!” 


Zhang tersenyum simpul. “Kalau begitu ayo.” Ajak Zhang seraya menarik kembali tangan Shuwan.


“Bisakah kau melepaskan tanganku?” kata Shuwan.  “Dari tadi kau selalu saja menggenggam tanganku.” Shuwan merasa sedikit kesal karena Zhang tidak melepaskan tangannya.


“Aku tidak bisa melepaskanmu lagi Shuwan. Semua yang sudah kita lakukan dan lalui selama ini sudah cukup menampar diriku sendiri. Lagi pula, kita adalah sepasang suami istri, tentu saja ini hal yang normal. Sudahlah, dari pada memusingkannya lebih baik kita nikmati suasana musim semi yang membahagiakan ini.”


Shuwan merasa sedikit kesal dengan sikap Zhang yang seperti ini. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tidak menolak perlakuan Zhang. Apakah ini yang dinamakan lain di mulut lain di hati? Mungkin. Untuk pertama kalinya, degub jantungnya bisa tak terkendali seperti saat ini, tepat ketika berada di dekat Zhang.


Apakah seperti ini rasa cinta yang sesungguhnya? Batin Shuwan. Ia kemudian membalas genggaman Zhang dengan menggenggam balik tangannya dengan erat.


Zhang yang menyadari itu pun langsung tersenyum senang.


***


“Apa? Menikah?” Lin Quon terkejut mendengar penjelasan Zhang yang sudah menikahi Shuwan. Hal ini juga dapat dilihat dari ekspresi Jianying, kakak Shuwan.


“Shuwan... Apa kau yakin dengan keputusan ini?” tanya Jianying kepada adiknya itu.


Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan kakak? Tapi aku sudah berjanji pada Zhang waktu itu. Shuwan merasa tidak yakin untuk menjawabnya. Namun Shuwan berusaha akhirnya mengangguk pelan. Ia tidak ingin kakaknya menuduh hal yang bukan-bukan. Toh ia juga pasti tahu mengenai pertemuannya dengan Zhang.


Jianying membuang napasnya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa, dan merilekskan tubuhnya yang sempat menegang karena kaget. “Baiklah jika ini sudah menjadi keputusanmu. Selama kau bahagia, maka aku akan selalu mendukungmu,” ucapnya.


Shuwan tersenyum simpul. “Terima kasih, Kak,” balasnya lembut.


Sementara itu Quon juga melakukan hal yang sama dengan Jianying. Membuang napas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Segala sesuatu yang telah dipersatukan oleh takdir tidak bisa kita ubah lagi. Karena sudah terlanjur begini, kenapa kalian tidak langsung merencanakan bulan madu saja?”


“Uhuk... Uhuk...” Shuwan tersedak salivanya sendiri. Ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan kakeknya. “Kakek! Apa aku tidak salah dengar? Kau menyetujui kami dan bahkan meminta kami untuk bulan madu?” tanya Shuwan dengan nada meninggi.


“Uhuk... Aku sudah tua. Sudah lama sekali aku tidak mendengar riuh anak kecil. Kakakmu juga masih menjomblo saja, tidak tahu kapan akan menikah. Jadi, aku harap kalian bisa segera memiliki momongan agar bisa meramaikan rumah ini.”


“T-tapi Kek... Kami belum mengadakan pesta pernikahan. Bagiamana mungkin langsung bulan madu?” Shuwan masih berusaha memberikan pembelaan. Seharian ini, ia dibuat senam jantung karena hal-hal yang begitu mengejutkan.


“Kalau itu, kita laksanakan saja lusa besok. Aku akan meminta WO kenalanku untuk mengaturnya.” Imbuh Lin Quon.


Shuwan hanya bisa pasrah. Hah.. Apakah aku boleh pingsan saja? Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Membuang napasnya perlahan. Pandangannya pun mengawang tanpa tujuan. Ia bingung, tapi juga senang. Perasaan yang bercampur aduk seperti itu benar-benar telah melumpuhkan akal sehatnya.

__ADS_1


__ADS_2