1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Kepingan Memori


__ADS_3

“A-aku ada di mana ini?” Shuwan kaget mendapati dirinya berada di tempat asing. “Bukankah tadi aku sedang berada di dasar jurang? A-apa jangan-jangan ini adalah alam akhirat?” Pikiran Shuwan mulai meracau liar. Ia tidak tahu di mana ia berada sekarang.


Saat ini dirinya ada di sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti kamar. “Kamar siapa ini? Desainnya seperti desain zaman kuno?” Shuwan mengelilingi ruangan itu, dan betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita yang mirip sekali dengannya sedang duduk di meja belajarnya. Perempuan ini? Kenapa begitu mirip denganku? Apakah kita kembar?


Shuwan berjalan mendekati perempuan itu, “Hei, apakah kau tahu ini ada di mana?” tanya Shuwan. Tapi perempuan itu tidak menanggapinya, dan masih fokus menulis di atas sebuah kertas. “Hei, apakah kau mendengarku?” Shuwan memastikan dengan berusaha menyentuh bahu perempuan itu, dan ternyata ia tidak bisa menyentuhnya. Mata Shuwan terbelalak, ia jadi gemetaran. Apakah aku benar-benar sudah mati? Tampak matanya mulai berkaca-kaca menyadari kejanggalan pada dirinya itu.


“Maafkan aku, Yin Lang. Aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita. Aku hanya ingin kau tetap hidup.” Tiba-tiba saja perempuan itu berkata demikian, dan menitikkan air mata.


Shuwan yang melihatnya juga menjadi pilu. “Ada apa ini? Kenapa hatiku juga terasa sakit. Siapa perempuan ini sebenarnya? Apa hubungannya denganku?”


Perempuan itu lalu menyisipkan surat yang ia tulis di kaki seekor elang pengantar surat, dan membiarkannya terbang mengantarkan surat itu pada penerimanya.


Setelah kejadian itu, tiba-tiba saja Shuwan seperti berpindah tempat. “Hah, ada di mana lagi aku sekarang? Ini benar-benar aneh,” Shuwan bingung. Sekarang ini ia berada di tepi sungai. Ia melihat seorang pemuda bertubuh tegap sedang membaca sebuah surat. Shuwan juga melihat burung elang pengantar surat milik perempuan yang mirip dengannya. “Burung itu! Jadi, pemuda ini penerimanya?”


“Shu’er, maafkanlah aku yang juga tidak berdaya ini. Andai aku adalah orang yang berkuasa, aku pasti bisa membahagiakanmu. Tapi aku hanyalah prajurit biasa. Bagaimana mungkin aku layak bersanding denganmu? Shu’er, tidak ada jalan lain bagiku, selain melepaskanmu. Semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bersatu tanpa tapi,” kata pemuda itu dengan air mata yang menetes dengan derasnya. Shuwan merasa iba melihatnya.


“Apakah mereka ini pasangan kekasih? Apa yang menyebabkan mereka berdua berakhir seperti ini? Shu’er.... Mungkinkah itu nama gadis yang mirip denganku tadi?” Shuwan menghela napas. Hatinya bingung bukan kepalang. Belum selesai kebingungan Shuwan, lagi-lagi ia berpindah entah ke mana. “Di mana lagi ini? Rasanya benar-benar seperti berada dalam film. Apakah ini kekuatan ajaib yang tersembunyi?” tukas Shuwan.


Rupanya Shuwan kembali ke kamar tempat wanita yang mirip dengannya. Perempuan itu sedang duduk diam di meja belajarnya, hingga terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. 


“Shu’er... Buka pintunya. Ini ayah.”


“Sebentar ayah.” Perempuan itu pun berjalan menuju pintu, dan lalu membukankannya. “Ada apa, Ayah? Kenapa wajahmu terlihat begitu semringah?”


“Putriku, pernikahanmu akan diselenggaran dua hari lagi.”


“A-apa? Kenapa jadi dimajukan begitu cepat? Bukankah seharusnya dua pekan lagi?”

__ADS_1


“Ini demi kebaikanmu, Shu’er. Ayah hanya tidak ingin kamu terus berhubungan dengan si Yin Lang itu. Ugh...”


“A-ayah....” Tiba-tiba saja ayah Shu’er tumbang dengan tangan yang meremat dada kirinya. Shu’er yang menyaksikannya pun panik. “Apa yang terjadi padamu ayah?” Shu’er menangis dengan sejadi-jadinya.


Shuwan yang melihat pemandangan itu pun hanya bisa terdiam. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Tentu hingga semuanya berakhir, dan misteri yang ada dalam mimpinya itu terkuak.


Setelah membawa sang ayah ke kamarnya, Shu’er meminta seorang tabib untuk memeriksanya. “Nona, jantung tuan bermasalah, dan ini sudah sangat parah. Aku takut jika tuan tidak bisa bertahan hidup lebih lama...” jawab tabib itu dengan ucapan yang terdengar bergetar.


Shu’er yang mendengar perkataan tabib itu seperti baru saja tersambar petir. Ayah yang begitu menyayanginya kini tengah terbujur lemah tak berdaya. Meskipun dia telah menentang hubungannya dengan sang prajurit, Yin Lang, tapi dia sangat menyayangi ayahnya. Shu’er menggenggam erat tangan ayahnya. Di ruangan itu, berkumpul ibu dan juga adik perempuannya.


“Shuwan, putriku....”


Shuwan yang juga ada di sana pun terkesiap mendengar ayah Shu’er memanggil putrinya.


“S-Shuwan? Jadi... Shu’er nama aslinya adalah Shuwan? Bagaimana mungkin bisa sama dengan namaku? Terlebih, dia juga memiliki paras yang sama persis denganku. Tidak.... Tidak.... Ini pasti hanya sebuah kebetulan. Ataukah, memang benar ada kaitannya dengan kehidupan masa laluku. Aku tidak bisa memastikannya sekarang,” Shuwan yang menyaksikan kejadian demi kejadian menjadi semakin bingung. 


“Keluarga Zhang? Aku harap ini bukanlah seperti yang aku bayangkan,” Shuwan berusaha menepis pernyataan orang tua itu, berharap bahwa Zhang yang dia maksud bukanlah Zhang yang membersamai misinya saat ini.


“Apa yang ayah katakan? Ayah pasti sembuh. Kita pasti bisa terus bersama,” ucap Shu’er dengan terisak.


Air mata Shuwan menetes begitu saja, melihat orang tua itu berkata pada dirinya yang lain di sana. “Kenapa.. Kenapa air mataku juga menetes? Hatiku terasa sesak.”


“Shu’er, ayah sudah tua. Ditambah ayah juga memiliki penyakit. Bukankah kematian itu adalah hal yang pasti dirasakan semua makhluk hidup?” Ayah Shu’er lalu membelai lembut kepala putrinya. “Ayah hanya ingin kau hidup bahagia. Lagi pula, putra keluarga Zhang itu juga terlihat menyukaimu. Ayah yakin dia bisa menjaga dan membahagiakanmu.”


“Iya, ayah... Aku pasti akan menikah dengannya, dan hidup dengan bahagia. Jadi, kau harus sembuh, dan tetap hidup.” Ucapnya dengan sesenggukkan menahan kesedihan.


Ayah Shu’er tersenyum setelah mendengar perkataan putrinya.

__ADS_1


Shuwan yang sedari tadi menyimak pun kembali terlempar ke waktu yang lainnya. Ia melihat dirinya mengenakan pakaian pengantin, sedang duduk di kamar pengantin menunggu suaminya.


Kriet....


Pintu terbuka, menampilkan seorang pria dengan pakain pengantin yang senada. Shuwan yang melihatnya pun terkaget. Matanya terbelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak seketika itu juga.


“Laki-laki ini... Kenapa mirip dengannya?” Shuwan seakan tak percaya, bahwa laki-laki itu sangat mirip dengan Zhang. Ia hanya melihatnya dengan tatapan yang bingung. Ia terus memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu di kamar ini.


Laki-laki itu pun berlajalan mendekati ranjang pengantin tempat Shu’er menunggu. Ia lalu membuka penutup wajah yang menutupi wajah Shu’er. Ketika mendapati istrinya tengah menangis, pria itu mengusap air mata Shu’er. “Mengapa kamu menangis? Apakah kamu takut denganku?” tanya pria itu.


“Tuan Muda Zhang, a-aku hanya... Aku hanya belum siap melakukannya. Jika kau ingin memiliki seorang penerus, maka kuberi tahu bahwa aku belum siap untuk itu,” jawab Shu’er terbata.


Mendengar jawaban istrinya tentu pria bermarga Zhang itu pun terkejut. “Begitu rupanya. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya malam ini. Aku akan menunggumu hingga siap.”


“Terima kasih, atas pengertianmu.”


Pria itu tersenyum, lalu berkata, “Jangan terlalu formal padaku. Sekarang aku adalah suamimu. Aku ingin mendengarmu memanggilku ‘suamiku’ langsung mulutmu?”


“Su-suamiku...” wajah Shu’er memerah karena malu. Pemuda itu pun tersenyum melihatnya. 


“Tapi malam ini aku juga akan tidur di sini. Aku tidak ingin ada rumor yang menyudutkanmu, jika di malam pengantin kita tidak menghabiskan malam bersama. Kamu tenang saja, aku masih bisa mengendalikan diriku. Aku tidak akan berbuat apa pun padamu.”


Malam itu pun Shu’er tidur di ranjang, sedangkan pria itu duduk di meja belajar yang ada di sana. Saat tengah malam, pria itu mendekati Shu’er yang tertidur di balik kelambu. Ia membenahi selimut istrinya, lalu duduk di sampingnya, dan membelai wajahnya dengan lembut.


“Shuwan, kau mungkin tidak mengingatku. Tapi aku selalu mengingatmu, bahkan sejak masih kecil. Aku sudah menyukaimu sejak lama, hingga saat ini pun rasa itu masih sama. Aku harap, kau bisa membuka hatimu untukku, dan kita bisa hidup normal seperti pasangan suami istri pada umumnya,” pria itu mengakhiri ucapannya dengan memberikan sebuah kecupan selamat malam pada Shu’er yang terlelap, dan kembali menutup kelambunya.


Jadi, dia sudah menyukai Shu’er sejak kecil? Shuwan membatin menyaksikan pemandangan di depan matanya itu. Ia melihat pria bermarga Zhang itu masih dengan tenangnya duduk, sembari memegang kuas dan kertas. Shuwan lalu mendekatinya. “Rupanya Shu’er benar-benar telah menjadi obsesinya,” celetuk Shuwan setelah melihat lukisan indah perempuan yang bernama dan berparas sama dengannya itu.

__ADS_1


Shuwan lalu duduk di samping pemuda itu, mengamatinya dari dekat hingga ia selesai melukis. Dia benar-benar mirip dengan Zhang. Sebenarnya, apa semua ini? Kenapa aku harus melihat ini? Rasa yang ada di dalam hatiku dengan apa yang terjadi benar-benar terasa tidak asing. Aku harap bisa menyelesaikan teka-teki ini agar semuanya segera berakhir.


__ADS_2