
“Kapan Angsa Hitamku akan datang?” tanya Zhi Qiang yang tampak sudah mulai bosan menunggu.
Sementara Xin Ru hanya memperhatikan polah tuannya yang sedang kasmaran itu.
Baru saja Zhi Qiang mengatakannya, tiba-tiba datanglah seorang pelayan wanita dengan berlari tergopoh-gopoh. Ya, pelayan itu adalah orang suruhan Zhi Qiang yang diminta untuk memantau kedatangan Shuwan.
“Yang Mulia!” kata pelayan wanita itu dengan napas yang tersengal-sengal.
Zhi Qiang langsung bangkit dari duduknya. Ia lalu menuangkan segelas air dan memberikannya pada pelayan wanita itu. “Ini minumlah dahulu,” katanya.
Tanpa pikir panjang pelayan wanita itu langsung menyambar gelas yang ada di tangan Zhi Qiang. Buru-buru sekali ia langsung meneguknya habis, dan kemudian memegangi gelas itu.
“Coba katakan apa yang ingin kau sampaikan,” tutur Zhi Qiang.
“Yang Mulia, nona yang Anda minta saya pantau sudah tiba di istana. Sekarang dia sedang menyusuri lorong menuju kemari.”
Wajah putra mahkota tampak semringah. Senyum simpul terus menerus mengembang di wajahnya. “Kalau begitu kau bisa kembali ke pekerjaan biasamu. Ini ada sedikit bonus dariku.” Zhi Qiang menyerahkan sebuah kantung kecil berisi uang kepada pelayan itu.
Dengan segala hormat, pelayan itu menerimanya. “Terima kasih banyak Yang Mulia,” kata si pelayan.
Zhi Qiang mengangguk. “Bolehkah aku minta tolong satu hal lagi?”
“Ya, Yang Mulia?” tanya pelayan wanita itu.
“Aku ingin kau bertugas menjadi pemandu Shuwan ketika di istana. Dan, apa pun yang dia lakukan kau bisa melaporkannya padaku,” jelas Zhi Qiang.
Pelayan ini menundukkan kepalanya, “Baik, Yang Mulia,” sahut pelayan wanita itu dengan tegas.
“Kalau begitu, kau boleh pergi sekarang, dan tunggu perintahku selanjutnya.”
Pelayan itu kembali memberikan hormat pada Zhi Qiang. Ia lalu memundurkan dirinya beberapa langkah, dan berbalik pergi meninggalkan Zhi Qiang dan Xin Ru di pendopo itu.
Tidak henti-hentinya Zhi Qiang tersenyum senang. “Sebentar lagi dia akan ke sini.”
“Kau bisa cepat keriput jika kebanyakan tersenyum, Yang Mulia?” celetuk Xin Ru yang mulai merasa risih dengan perilaku tuannya itu.
“Aku harus menjaga penampilanku saat bertemu kembali dengannya.”
“Hah...” Xin Ru membuang napasnya yang terasa berat.
Setelah menunggu sejenak, terlihat Shuwan dan Jiao menuju tempat Zhi Qiang berada.
Zhi Qiang sudah menunggunya dengan senang di sana.
“Tuan, ini ada wanita yang Anda undang,” kata penjaga itu.
“Baiklah. Terima kasih sudah mengantarkannya kemari.”
Penjaga itu kemudian memberikan hormat dan pergi meninggalkan mereka di sana.
“Nah, ayo silakan duduk.” Zhi Qiang mempersilakan Shuwan dan Jiao untuk duduk.
Setelah mengedarkan matanya Shuwan pun tertuju pada Xin Ru yang berdiri tegap di samping Zhi Qiang. “Kau rupanya bekerja untuknya?” kata Shuwan pada Xin Ru.
__ADS_1
“Ya. Aku bekerja untuk Tuan Qiang’er.”
Shuwan hanya mengangguk. Ia kemudian menyusul Jiao yang sudah duduk terlebih dahulu. Ia kemudian menjatuhkan pandangannya kembali pada Xin Ru yang membuat Xin Ru merasa tidak nyaman.
Kenapa wanita ini terus-terusan memandangiku? Apakah penyamaran kami akan terbongkar? Batin Xin Ru cemas.
Shuwan lalu memandangi Zhi Qiang. “Kenapa kau tidak memintanya duduk bersama? Dia pasti lelah terus berdiri seperti itu?”
Zhi Qiang lalu melirik Xin Ru. “Xin Ru, duduklah dan berbincang bersama kami,” kata Zhi Qiang.
Dengan perasaan sedikit takut Xin Ru pun menuruti perintah tuannya. Ini tidak ada dalam rencana. Kenapa aku harus terlibat sih dalam urusan cintamu?
“Nah, karena kau sudah datang, sekarang kuucapkan selamat datang di istana.”
“Terima kasih atas sambutannya,” sahut Shuwan.
“Kalau begitu ayo kita minum dan makan sedikit kudapan manis. Aku yakin kalian pasti sangat lelah melakukan perjalanan selama beberapa jam bukan?”
Zhi Qiang kemudian menuangkan teh ke cangkir Shuwan dan Jiao yang telah tersedia di sana. Mereka berempat pun minum bersama.
“Em... Teh ini enak,” puji Jiao.
“Tentu saja. Ini adalah teh bunga krisan yang selalu aku minum. Hanya bunga terbaik yang dijadikan teh.”
“Setelah meminumnya, aku merasa lebih rileks,” kata Shuwan.
“Teh bunga krisan selain rasanya unik juga bagus untuk kesehatan. Saat demam atau flu aku biasanya mengonsumsi teh ini secara rutin.”
“Rupanya kau tertarik dengan dunia obat-obatan ya? Kau juga bisa menimba ilmu di sini kalau begitu. Aku punya banyak kenalan tabib jika kau mau.”
“Wah... Itu adalah kesempatan langka. Nanti setelah selesai perayaan, bolehkah aku belajar?”
Zhi Qiang mengangguk, “Tentu saja.” Ia kembali menyeruput tehnya. Pandangannya tak lepas dari Shuwan.
Sementara itu Shuwan juga sedang menikmati teh di cangkirnya. Saat gelas teh sudah menempel dibibirnya, tidak sengaja netranya menatap ke arah Zhi Qiang. Mereka pun beradu pandang sesaat, sebelum Zhi Qiang terbatuk karena tersedak tehnya.
“Uhuk... Uhuk...”
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Xin Ru yang dudu di sampingnya.
Zhi Qiang menghapus sisa teh yang ada di dekat mulutnya. “A-aku tidak apa.” Sesekali ia masih curi-curi pandang ke Shuwan.
Shuwan yang menyadarinya hanya membatin seraya menahan tehnya di mulut. Dasar manusia aneh.
Shuwan kemudian memulai obrolan langsung pada poin utamanya. “Tuan Pustakawan...”
Zhi Qiang menghentikan ucapan Shuwan dengan isyarat tangan. “Panggil saja aku Qiang’er.”
“Ah... Baiklah, Qiang’er....”
“Itu lebih baik,” kata Zhi Qiang seraya tersenyum simpul.
Xin Ru hanya bisa membatin. Tuan, tidak bisakah kau menghentikan senyuman anehmu itu?
__ADS_1
“Jadi, apa yang perlu kami bantu untuk persiapan perayaan itu?” tanya Shuwan.
“Ah... Berkaitan dengan itu, beberapa hal sudah di selesaikan. Kita tinggal mengkordinir pembuatan lampion. Lampion itu akan digunakan pada malam puncak perayaan,” jawab Zhi Qiang.
“Begitu ya? Em... Apakah aku bisa bertemu dengan putra mahkota? Aku belum mengetahui orangnya seperti apa.”
Netra Zhi Qiang langsung membulat sempurna. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Kini ia memandangi Xin Ru yang sama kagetnya dengan dirinya.
****** aku! Batin Zhi Qiang. Ia segera memutar otaknya untuk menjelaskan pada Shuwan. “Ah... Putra mahkota ya? Kenapa kau sangat ingin bertemu dengannya?”
“Sebenarnya tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu seperti apa putra mahkota negeri ini.”
Zhi Qiang menundukkan pandangannya. Ia lalu kembali menatap Shuwan dengan yakin. “Aku rasa kau akan kecewa,” katanya.
“Kenapa?”
“Putra mahkota sedang pergi. Dia baru akan kembali beberapa hari kemudian,” sahut Xin Ru.
Bagus, Xin Ru! Setidaknya ini bisa dijadikan alasan untuk menunda pengungkapan identitasku. Batin Zhi Qiang merasa lega.
“Begitu rupanya,” Shuwan memakan manisan kesemek yang ada di piring. Pandangannya mengawang ke atas meja. Itu artinya, aku harus mencari tahu sendiri seperti apa rupanya, supaya aku bisa melindunginya diam-diam. Selain itu, aku harus menyelidiki kemungkinan orang-orang yang akan melakukan pemberontakan.
“Shuwan?” panggil Zhi Qiang.
Shuwan pun langsung tersadar dari lamunannya. Ia baru menyadari kalau Zhi Qiang bisa mengetahui namanya. “Bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyanya.
Zhi Qiang lagi-lagi tersenyum. Rasanya itu seperti menjadi hari tersenyum bagi Zhi Qiang. “Waktu di pasar, aku tidak sengaja mendengar teman perempuanmu ini memanggil namanu,” jawabnya. Selain itu, kau adalah wanita yang sedang kukejar. Tentu saja aku harus tahu namamu bukan?
Shuwan mengangguk pelan. "Oh... Begitu rupanya."
“Apa kau keberatan jika aku memanggilmu demikian?”
Shuwan menggeleng. “Kau bisa memanggilku apa pun,” singkatnya.
“Kalau begitu, aku akan memanggilmu Shuwan saja. Lalu... Nona yang ada di sebelahmu ini...”
“Aku Jiao. Wang Jiao. Kau bisa memanggilku Jiao,” sahut Jiao.
“Baiklah, Shuwan, Jiao, setelah ini aku akan meminta seseorang untuk mengantarkan kalian istirahat. Besok pagi, kita baru akan memulai persiapannya.”
Shuwan dan Jiao pun mengangguk. Tanda mengerti dengan ucapan Zhi Qiang yang kini sedang menyamar.
***
Wilayah terpencil di bagian utara Negeri Awan.
“Bagaimana persiapan rencana kita?” tanya seseorang dengan suara yang begitu berat. Wajahnya berada dalam kegelapan, sehingga tidak tampak siapa orang yang sedang bicara itu sebenarnya.
“Orang-orang kita sudah diletakkan di beberapa titik penting di istana. Selain itu, beberapa pejabat yang terlibat pun juga sudah siap dengan tugasnya.” Jawab salah seseorang yang sedang bersimpuh di hadapan orang yang berada dalam kegelapan itu.
“Bagus! Itu sangat bagus! Kita akan segera menjalankan rencana yang sudah kita rancang selama bertahun-tahun. Dengan begitu, Negeri Awan akan segera menjadi milikku. Hahaha!”
Orang yang wajahnya tidak terkena sinar itu tertawa dengan kerasnya. Suaranya pun menggema di dalam ruangan yang remang-remang. Tampaknya, ada sesuatu yang telah direncanakannya terhadap Negeri Awan.
__ADS_1