1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Istana Negeri Awan


__ADS_3

Waktu bergulir dengan cepat. Shuwan dan yang lainnya sudah selesai makan malam. Sedangkan Zhang dan Yu Hao telah bersiap untuk menuju istana.


“Yu Hao, bagaimana persiapanmu?” tanya Zhang.


“Aku sudah siap sedari tadi.”


“Baguslah. Kalau begitu, ayo kita berangkat,” ajak Zhang dengan penuh semangat.


Zhang dan Yu Hao pun berpamitan pada Shuwan, Jiao, dan juga Luo Shu. 


Saat Zhang berhadapan dengan Shuwan, ia pun tersenyum.


“Berhati-hatilah, dan cepat kembali,” kata Shuwan dengan lembut.


“Aku akan berhati-hati.” 


Zhang dan Yu Hao kemudian pergi meninggalkan rumah Luo Shu dengan mengendarai kuda. Shuwan memandangi kepergian mereka.


Tunggulah aku, Shuwan. Batin Zhang dalam laju kudanya. “Hyaa!”


Setelah mereka berdua menghilang dalam gelapnya malam. Shuwan, Jiao dan alkemis Luo Shu pun kembali ke dalam rumah.


“Hah... Apa yang akan kita lakukan tanpa mereka?” keluh Jiao.


Shuwan terkekeh melihat perubahan sikap temannya itu. “Hei... Apa ini? Yu Hao baru saja pergi dan kau sudah merindukannya?”


Wajah Jiao seketika menjadi merah. “A-aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa bahwa seminggu ini pasti akan terasa begitu sunyi. Bukankah mereka berdua adalah pembuat onar?”


“Ya, ya, ya. Kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu di depanku, Jiao.”


“A-aku tidak...”


“Sudahlah. Kita doakan saja, semoga mereka bisa cepat kembali lagi,” imbuh Shuwan berusaha menenangkan temannya itu.


“Ahem!”


Shuwan dan Jiao kaget mendengarnya.


“Ah, maaf karena mengganggu kalian,” tegur Luo Shu.


“Tidak, Shifu. Kau tidak mengganggu kami,” sahut Jiao.


“Shifu? Kau berguru dengannya Jiao?”


Jiao mengangguk, “Tentu saja. Siapa yang tidak ingin menjadi alkemis yang hebat ini.”


“Itu keren. Kelak kau akan jadi alkemis yang hebat, Jiao!”


“Kau terlalu berlebihan. Aku masih pemula dan perlu banyak belajar.” Jiao tersipu malu setelah mendengar pujian Shuwan.


“Nona Shuwan, apakah besok kau bisa menemuiku di ruang belajar? Aku ingin berbincang denganmu,” kata Luo Shu.


Dia ingin berbincang denganku? Mengenai apa ya? “Baiklah. Besok aku akan menemuimu.”


“Bagus. Sedangkan Jiao, jangan lupa besok kita latihan seperti biasanya.”


“Siap, Shifu!”


Malam itu rumah Luo Shu menjadi begitu tenang. Shuwan tidur bersama Jiao. Pikiran Shuwan bergelayutan memikirkan hal lain.


Liem, apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau sudah sampai di istana dengan selamat?


***


Sementara itu, Zhang dan Yu Hao masih berada dalam perjalanan menuju istana. Zhang menghentikan kudanya sejenak. Pandangannya teralihkan pada bulan yang kini tak lagi utuh. Ia teringat dengan bayang-bayang Shuwan di sana.


“Zhang, apakah kita tidak terlalu larut untuk sampai ke istana? Bagaimana kalau kita malah dicurigai sebagai penyusup?” tanya Yu Hao cemas.


Zhang tersenyum, “Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.”


“Aku hanya merasa sedikit khawatir saja.”


“Kau yang mantan penjahat pun merasa khawatir karena hal seperti ini,” ledek Zhang.


“Hm... Ini adalah tempat asing yang seperti ada di khayalan. Tentu saja aku merasa khawatir. Lagi pula aku adalah penjahat yang sudah sadar. Jelas saja ada sebagian perasaan yang hilang.”

__ADS_1


“Termasuk keberanian?”


“Yah... Kau tahu itu. Jadi, aku tidak perlu menjawabnya.”


“Hahaha. Kau ternyata punya sisi seperti ini ya?”


Yu Hao mendengus kesal karena terus menerus diledek oleh Zhang. “Ya sudah. Ayo segera lanjutkan perjalanan. Bukankah kau ingin segera kembali pada punjaan hatimu itu?”


“Tumben kau cerdas.”


“Hei, apa maksudmu?”


“Tidak ada.”


Kini pandangan Zhang kembali diluruskan pada jalan setapak yang ada di depannya.“Hyaa!” Zhang kembali memacu kudanya ke arah istana Negeri Awan.


Derap langkah kuda menggema di jalanan malam. Menyusuri kembali jalan yang sebelumnya ia lalui. Tidak peduli udara dingin yang menyerang mereka kala itu.


Setelah melakukan perjalanan selama 3 jam, Yu Hao dan Zhang akhirnya sampai di depan gerbang istana.


“Ini...” Yu Hao terkesima dengan pemandangan megah istana Negeri Awan. 


“Ayo kita masuk!” ajak Zhang.


Saat berada di sana, pengawal yang bertugas di gerbang menghentikan mereka. Seperti biasa, selalu ada pemeriksaan identitas sebelum memasuki area penting.


“Berikan identitasmu!” pinta para pengawal.


Zhang lalu mengeleuarkan kembali  token yang sebelumnya ia keluarkan di gerbang Negeri Awan.


“Rupanya kau berasal dari 7 keluarga besar. Ada keperluan apa datang ke istana?”


“Aku ingin menemui Yang Mulia. Ada sesuatu hal yang ingin aku diskusikan dengannya,” jelas Zhang.


“Ah... Begitu rupanya. Tapi ini sudah larut malam. Yang Mulia pasti sedang beristirahat.”


Yu Hao mendekatkan kudanya pada Zhang, “Bagaimana ini Zhang?” tanyanya khawatir. Tidak mungkin kan perjalanan kami sia-sia begitu saja?


“Karena kau adalah anggota 7 keluarga besar, maka kau bisa menginap di hunian khusus diplomat. Saat pagi tiba, kau baru bisa menemui Yang Mulia,” kata sang pengawal.


“Kalau begitu ayo ikuti aku.”


Pengawal itu menjadi pemandu Zhang dan Yu Hao. Mereka diarahkan ke hunian para diplomat yang memang disediakan khusus oleh pihak istana.


Sebelum masuk ke hunian itu, pengawal mendata mereka kembali. Setelahnya, baru mereka berdua diberikan kamar untuk beristirahat.


Sepanjang perjalanan di lorong menuju kamar, berbagai lukisan dari para utusan yang pernah singgah pun terpajang di sana.


Yu Hao lalu mendekati salah satu lukisan, dan ia terkejut karena ada marga Zhang yang terpajang di sana. “Hei, Zhang, coba lihat ini!”


Zhang lalu mendekati Yu Hao. “Ada apa?” tanyanya sederhana.


“Apakah ini leluhurmu? Dia juga bermarga Zhang,” kata Yu Hao seraya memandang lekat-lekat lukisan itu. “Dan... Lihat simbol keluarga ini. Bukankah itu mirip dengan yang terpatri di tokenmu?”


Sebuah simbol dari teratai salju ada di lukisan itu. Sama persis dengan pahatan yang ada di token milik Zhang.


“Kau benar. Mungkin dia adalah leluhurku. Kakek pernah bercerita mengenai hubungan antara keluargaku dan juga Negeri Awan.”


“Bukankah itu keren? Kau ternyata seorang bangsawan penting.”


“Sudahlah. Status bangsawan tidak terlalu penting untukku. Mau bangsawan, atau orang biasa, kita semua sama. Sama-sama makan nasi, dan juga akan mati.”


Yu Hao terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zhang. Orang ini, sepertinya tidak sesederhana kelihatannya.


“Sebaiknya kita segera istirahat, sebelum pagi datang.”


Yu Hao mengangguk. Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu, dan memasuki kamar yang sudah ada lambang keluarganya di sana.


“Bahkan semuanya sudah dibuat khusus. Ini benar-benar keren.” Yu Hao kembali terkagum-kagum. Tidak hanya itu, begitu pintunya dibuka, sebuah kamar dengan desain yang indah dan juga fasilitas yang banyak terpampang di hadapan mereka. Mereka  berdua pun melangkah masuk. 


Zhang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia terlihat sangat lelah. 


Yu Hao mengerti, ia tidak ingin mengusili atau pun mengganggu Zhang lagi. Ia lantas tidur di tempat tidur lain di ruangan itu.


Sebelum terlelap, Zhang sempat memikirkan Shuwan. Malam ini terasa begitu panjang. Apakah karena Shuwan tidak ada didekatku? Shuwan, apakah kau merasakan keresahanku juga? Setelah memikirkan Shuwan, Zhang pun terlelap.

__ADS_1


***


Setelah menanti pagi dalam lelap yang singkat namun terasa begitu panjang dan lama, Zhang akhirnya bisa tersadar. Saat mengerjapkan matanya, dan memandang sekeliling. Ia mendapati Yu Hao yang sudah bangun terlebih dahulu.


“Akhirnya kau bangun. Aku pikir kau akan melewatkan hari ini?” ucap Yu Hao.


Zhang langsung terduduk. “Apa kau sudah siap?” tanya Zhang.


“Tentu saja. Kau tidak lihat aku sudah tampan, rapi, dan wangi? Ayo cepat, mandi dan bersiaplah.” 


“Kenapa kau tidak membangunkanku jika kau sudah bangun terlebih dahulu?”


“Kau terlihat begitu kelelahan. Aku tidak tega untuk membangunkanmu. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan bersiap terlebih dahulu dan menunggumu bangun sendiri.”


“Hm... Terima kasih sudah mengerti.”


Yu Hao hanya menganggukkan kepalanya.


Zhang lalu beranjak dari tempat tidurnya, dan pergi mandi. Lagi-lagi ia melamunkan Shuwan. Sepertinya Shuwan sudah menjadi pengisi di otak dan hatinya.


Akhirnya setelah menunggu beberapa waktu, Zhang selesai mandi. Yu Hao tampak seperti orang yang lelah menunggu.


“Hei, apakah kau ini putra mahkota? Kenapa mandinya begitu lama?”


Zhang langsung menghentikan aktivitasnya mengenakan pakaian. “Maaf sudah membuatmu menunggu. Aku hanya sedang kepikiran seseorang?”


“Pfft... Apakah orang itu Shuwan?”


Wajah Zhang langsung merona. Meskipun ia membelakangi Yu Hao, tapi Yu Hao bisa tahu akan seperti apa ekspresinya.


“Hah... Bersabarlah, Zhang. Setelah kau sembuh, kau akan punya cukup waktu dengannya.”


Tiba-tiba saja pandangan Zhang berubah menjadi sendu. Lagi-lagi ia berhenti sejenak dari aktivitasnya. “Aku harap juga begitu,” singkatnya.


Setelah keduanya siap, mereka akhirnya melanjutkan tujuan mereka. Dengan bantuan pengawal istana, keduanya digiring menuju istana.


Sesampainya di aula, terlihat Yang Mulia Raja tengah duduk di singgasananya. Pengawal yang memandu Zhang dan Yu Hao pun memberikan laporan pada sang raja. Begitu pengawal itu selesai melapor, raja pun meminta keduanya mendekat.


“Salam kepada Yang Mulia,” ucap Zhang dan Yu Hao seraya merendahkan punggungnya untuk memberikan penghormatan.


“Silakan berdiri,” kata sang raja seraya memberikan isyarat tangan agar Zhang dan Yu Hao menegapkan kembali tubuhnya. “Aku sudah mendengar laporan tentang kedatangan kalian. Sekarang apa yang kalian inginkan?”


Zhang lalu maju selangkah dari posisi semulanya. “Yang Mulia, hamba ingin meminta izin dari Anda untuk menggunakan kolam dingin yang ada di sini. Selain itu juga, aku ingin meminta kemurahan hati Yang Mulia untuk memberikan Ramuan Lotus Salju pada hamba.”


Raja Negeri Awan pun mengerutkan keningnya. Ia lantas melontarkan sebuah pertanyaan, “Kenapa kau membutuhkan kedua hal itu?”


“Aku membutuhkannya untuk mengobati penyakit yang sudah lama aku derita.”


Sang raja seperti mengerti ucapan dari Zhang. Tapi ia tak lantas memberikannya begitu saja. “Kalau begitu, apa yang bisa kau berikan sebagai gantinya?” imbuh sang raja.


“Selama aku di sini, aku bisa membantumu menyusun strategi perdagangan antar negara. Sehingga bisa mendapatkan pendapatan yang lebih besar, dan membantu pembangunan di negeri ini.”


Sang raja tersenyum puas. “Kau memang berasal dari keluarga Zhang,  yang terkenal dalam dunia perdagangan. Kalau begitu, aku akan menitahkan pada penjaga kuil untuk membantumu, dan juga tabib kerajaan untuk membuatkan ramuan itu.”


Zhang melipat kedua tangannya ke depan, “Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia. Semoga panjang umur dan selalu diberkahi.”


Wajah Zhang tampak begitu cerah. Kini harapannya untuk sembuh sudah terpampang di depan mata.


“Untuk menyambut kunjungan ini, kita makan siang bersama sebagai sambutan dari Negeri Awan,” kata raja.


“Terima kasih Yang Mulia,” Zhang dan Yu Hao pun kembali memberikan penghormatan.


Jamuan pun diadakan di kediaman raja. Ia mengundang keduanya secara khusus karena ada hal yang ingin dibicarakan.


“Sejak kapan kalian tiba di sini?” tanya sang raja.


“Sejak tiga hari yang lalu. Kebetulan kami tinggal di kediaman alkemis Luo Shu beberapa hari ini,” imbuh Yu Hao.


Sang raja membuang napasnya, dan berkata, “Sudah lama aku tidak melihatnya. Ia menjadi begitu tertutup setelah kehilangan istri dan anaknya beberapa tahun lalu.”


“Sebenarnya apa yang terjadi pada istri dan anaknya? Ketika aku berbincang dengannya, dia tidak mengatakan apa pun,” kata Zhang.


Begitu Zhang selesai berbicara, wajah Yang Mulia tampak menjadi sendu. Ia lalu meletakkan sumpit yang dipegannya ke atas mangkuk, dan memulai cerita. “Ini sebenarnya tragedi yang cukup memilukan. Bukan hanya bagi Luo Shu tapi juga bagiku.”


Zhang jadi semakin penasaran dibuatnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku jadi semakin penasaran? Batin Zhang seraya memasang tampang serius.

__ADS_1


__ADS_2