
“Apakah itu rumah alkemis yang dimaksud?” teriak Jiao setelah mendapati sebuah rumah yang berada terpisah dari keramaian dan tertutup kabut.
“Sepertinya begitu. Hyaa!” Zhang menambah laju kuda yang ia tunggangi.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam, mereka pun sampai di sana. Zhang turun dari kuda, dan menggendong Shuwan di punggungnya.
Waktunya sudah hampir habis. Shuwan, bertahanlah! Batin Zhang seraya celingukan memerhatikan kondisi rumah yang kini ada dihadapannya.
Yu Hao pun mengetuk pintu rumah itu. “Permisi!”
“Apakah rumah ini tidak ada penghuninya?” tanya Jiao.
“Entahlah, kita hanya bisa menunggu sampai pintu terbuka,” imbuh Zhang.
Sudah sekitar 10 menit mereka menunggu, tapi tetap tidak ada balasan dari dalam rumah.
“Bagaimana ini, Zhang?” Yu Hao mulai cemas.
Zhang diam. Ia lalu berjalan mendekati gerbang, dan mengintip dari celah yang ada di sana. Setelah menjelajah, ia pun mendapati sesuatu di sana. “Begitu rupanya?”
“Kau menemukan apa Zhang?”
“Kita dobrak saja pintu ini,” kata Zhang dengan memasang senyum terpaksa. Ia memberikan isyarat mata pada Yu Hao bahwa sebenarnya orang yang mereka cari ada di balik pintu ini.
Tampak di balik pintu, seorang pria tua berambut dan berjenggot putih panjang sedang memasang wajah cemas. Apa... Apa mereka bilang akan menghancurkan pintuku?
“Apa kau yakin, Zhang? Aku sangat mahir menghancurkan sesuatu. Bahkan jika hanya kayu tua seperti ini, aku bisa membuatnya menjadi partikel debu, loh?” Yu Hao berusaha memancing ikan dengan kata-katanya.
“Tidak masalah. Pintu ini akan aku serahkan padamu. Karena tidak ada orang di dalam, kita bisa merampas obat-obatan yang ada di dalam secara paksa. Cepat lakukan!”
“Baiklah. Kalau bagitu bersiaplah!”
Saat Yu Hao akan menghantam pintu itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Pria yang sedari tadi berada di balik pintu pun keluar dengan memasang ekspresi datar. Seenaknya saja ingin menghancurkan pintuku. Tidak akan kubiarkan dengan mudah.
“Katakan, apa yang kalian inginkan?” tanya pria tua itu.
“Aku membutuhkan bantuanmu untuk mengobati temanku,” jawab Zhang dengan cepat.
“Heh, kenapa aku harus peduli padamu?”
“Kau seorang alkemis. Tentu saja menyelamatkan sebuah nyawa merupakan hal penting bagimu. Jika kau sampai gagal, bukankah itu akan mencoreng nama yang sudah kau bangun sampai sekarang?”
“Kau sangat berterus terang ya?”
Tanpa disangka pria tua itu mencoba menyerang Zhang dengan sebuah belati. Namun Zhang tidak bergeming sedikit pun. Ekspresinya biasa saja, bahkan saat belati itu berada tepat di hadapannya.
Setelah mengetahui karakter Zhang lewat serangan tiba-tiba itu, pria itu menurunkan belatinya dan tersenyum puas. “Kau memiliki ketenangan yang luar biasa. Karena kalian berhasil melewati ujianku, maka silakan bawa masuk temanmu.”
“Ujian? Sejak kapan kau memberi kami ujian?” tanya Yu Hao penasaran.
Pria tua itu membalikkan badannya, berusaha menjadi pemandu untuk mereka di kediamannya. “Aku tidak akan memberi tahu kapan aku memberikan ujiannya. Hanya diri kalian sendiri yang paham.”
__ADS_1
“Hah?” Yu Hao masih kebingungan.
Sedangkan pria tua itu hanya tersenyum karena berhasil membuat orang-orang yang di hadapannya bingung. “Kalau begitu ayo segera masuk. Aku takut kalau temanmu itu tidak punya banyak waktu.”
Zhang tersentak, ia pun berjalan mengikuti pria tua itu. Matanya tak berhenti memandangi kediaman Luo Shu. Untuk yang pertama kalinya, ia takjub melihat aneka tanaman obat yang langka.
Sesampainya di dalam rumah, “Letakkan wanita itu ke tempat tidur. Dan kau, bantu aku mengganti pakaiannya,” katanya seraya menunjuk Jiao.
“A-ah baiklah,” Jiao pun masuk dan mengganti pakaiannya.
Sementara pria tua si alkemis legenda pun mempersiapkan peralatannya di luar. Zhang dan Yu Hao hanya menunggu dengan harap dan cemas.
“Aku akan melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan racunnya.” Alkemis itu pun mengeluarkan pisau bedahnya.
Zhang menjadi semakin cemas melihat pisau kecil itu. “Apakah dia akan baik-baik saja?”
Alkemis itu tersenyum, “Semua juga bergantung pada dirinya. Baiklah aku akan memulai operasiku. Dan, nona yang satu ini akan membantuku. Kau juga punya kemampuan medis bukan?”
“I-iya.” Jiao sedikit gugup setelah mendengar ucapan itu. Bagaimana orang ini mengetahuinya?
Jiao pun menemani alkemis itu mengoperasi Shuwan. Sedangkan Zhang dan Yu Hao menunggu dengan penuh kecemasan.
“Racunnya sudah menyebar. Aku harus melakukan pembersihan secepatnya. Kau, perhatikan aku baik-baik bagaimana aku melakukannya. Siapa tahu ini bisa membantumu di kemudian hari.”
“B-baik, Tuan.”
Alkemis Luo Shu mulai menyayat kulit di atas ulu hati Shuwan. Jiao sedikit meringis memperhatikannya. Meskipun itu hanya sayatan kecil, tapi jika dia yang merasakannya pasti sudah sangat ngilu.
Saat cairan itu dimasukkan ke dalam tubuh Shuwan, Shuwan yang sedari kemarin tidak sadarkan diri menunjukkan reaksinya.
“Ah!”
Dia mengerang kesakitan. Tampak wajahnya yang pucat jadi semakin pucat. Ia mengerang kesakitan yang luar biasa.
Jiao yang ada di sana memegangi tubuh Shuwan yang mulai memberontak tak terkendali. Sesekali, ia menyeka keringat dingin yang keluar dari tubuh Shuwan. Bertahanlah Shuwan! Sebentar lagi kau akan baik-baik saja.
Setelah ramuan yang dimasukkan berhasil menyerap racun dalam hati Shuwan, alkemis itu menarik keluar cairan dari dalam hati Shuwan yang kini berwarna keruh.
“Kau lihat? Ini adalah racun yang melumpuhkan temanmu. Walau pun dia hanya terkena ujung jarumnya saja, tapi racun itu sangat agresif dan cepat menyebar.”
Jiao tertegun melihat kemampuan alkemis itu. Bukan hanya kerjanya yang cepat, tapi juga rapi dan bersih. Benar-benar seseorang yang sangat ahli.
Alkemis itu kemudian meletakkan cairan yang keruh itu ke dalam wadah, dan meminta pelayannya untuk membawa ramuan yang masih jernih dan baru.
Hal yang sama ia lakukan kembali. Sampai beberap kali, hingga dirasa racun yang ada di hati Shuwan benar-benar bersih.
Tidak terasa sudah hampir 2 jam operasi itu berjalan. Zhang hanya mondar-mandir di depan pintu kamar operasi itu. Sesekali ia mencoba mengintip dari balik celah. Namun tak membuahkan hasil apa pun.
“Hufft.” Alkemis itu menghembuskan napasnya yang berat. Wajahnya tampak lelah. Namun ia tetap tidak mengeluh. Setelah selesai, ia menjahit kembali sayatan yang ia buat di tubuh Shuwan dan menutupnya dengan perban. Ia lalu meminumkan obat untuk memulihkan kondisi tubuh Shuwan.
“Aku sudah meminumkan obat untuknya. Aku juga tahu kalau dia mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuh. Obat ini akan membantu memulihkannya. Bantu ingatkan dia untuk meminumnya secara rutin.”
__ADS_1
“Baik.” Singkat Jiao.
“Kalau begitu aku akan istirahat. Kedua teman pria mu pasti sudah sangat cemas di luar sana. Aku akan memberitahu kalau temanmu sudah baik-baik saja.”
Alkemis itu berjalan menuju pintu. Tiba-tiba saja Jiao menghentikannya.
“Tunggu!”
Alkemis itu lalu menghentikan langkahnya.
“Bisakah aku menjadi muridmu?” kata Jiao.
“Kenapa kau ingin menjadi muridku?”
“Itu karena, aku ingin menyelamatkan lebih banyak nyawa di luar sana. Selama ini, aku hanya menyusahkan Shuwan. Ketika melihatnya sekarat, aku sangat ingin membantunya mengatasi rasa sakit. Tapi aku tidak bisa. Untuk itulah, aku ingin menjadi seorang alkemis. Aku juga ingin menyelematkan nyawa-nyawa lain di luar sana."
Luo Shu hanya diam berdiri. Ia hanya menunggu Jiao selesai berbicara.
"Selain itu juga, aku mengagumimu. Kau tidak hanya mahir dalam meracik obat, tapi kau juga seorang tabib yang terampil. Aku ingin jadi sepertimu. Untuk itu, terimalah aku jadi muridmu. aku berjanji tidak akan mengecewakanmu!" pinta Jiao dengan menundukkan kepalanya penuh harap.
Alkemis itu tertawa. “Tekadmu begitu bulat. Kalau begitu, besok pagi-pagi buta datanglah ke halaman belakang untuk menemuiku.”
Mata Jiao membulat sempurna, dengan penuh binar di sana. Apakah itu artinya aku diterima? Batin Jiao kegirangan. “Baiklah. Terima kasih, Shifu.” Jiao merendahkan punggungnya memberikan sebuah penghormatan untuk orang yang kini menjadi gurunya.
Alkemis itu pun beranjak pergi meninggalkan Jiao dan Shuwan. Ketika pintu dibuka, tampak Zhang dan Yu Hao yang sudah lelah menanti dalam cemas.
“Ba-bagaimana keadaan Shuwan, Tuan?” tanya Zhang dengan terbata.
“Dia sudah baik-baik saja. Kalian bisa menemui- “
Belum selesai alkemis itu berkata, Zhang dan Yu Hao sudah masuk begitu saja.
“Aiya! Anak muda memang selalu seperti ini, ya?” kata sang alkemis sambil menepuk jidatnya.
Begitu sampai di dalam, Zhang langsung menghampiri tubuh Shuwan yang terbaring. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Jiao yang duduk di tepi tempat tidur. “Jiao, bagaimana keadaan Shuwan?”
“Tenanglah, Zhang. Shuwan sudah baik-baik saja. Tapi ia masih belum bisa sadar. Kemungkinan tengah malam atau besok pagi ia baru sadar,” terang Jiao.
“Begitu rupanya.” Zhang kembali fokus pada Shuwan.
“Tuan alkemis juga sudah memberikan obat untuk Shuwan. Termasuk untuk patah tulangnya. Ia akan segera pulih”
“Syukurlah,” Zhang merasa begitu lega setelah mendengar perkataan Jiao. Ia meraih tangan Shuwan dan memandangi wajahnya lekat-lekat.
Sementara itu, Yu Hao memberikan kode pada Jiao untuk meninggalkan Zhang dan Shuwan. Mereka berdua pun meninggalkan Shuwan dan Zhang berduaan di dalam kamar.
“Shuwan, kau akhirnya baik-baik saja. Apakah kau tahu, kalau kau hampir membuatku mati berdiri? Bisa-bisanya kau terluka sampai seperti ini. Tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Kita sudah sampai, dan...” tiba-tiba Zhang menghentikan ucapannya. Ia teringat pada perkataan Shuwan tentang ‘Cahaya Bulan yang Memudar.’ “Dan... Cahaya bulan itu semakin memudar.” Sambung Zhang dengan suara parau.
Ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa jarak perpisahannya dengan Shuwan sudah semakin dekat. Zhang menyandarkan kepalanya di tiang penyangga kelambu. Tangannya masih menggenggam erat tangan Shuwan.
“Setelah kau sadar, aku akan melamarmu, Shuwan.” Celetuk Zhang dengan penuh kemantapan. Ia jadi semakin ingin memiliki Shuwan di detik-detik menjelang perpisahannya. Tidak peduli bagaimana reaksi Shuwan nanti, ia tetap akan melakukan apa yang ia yakini.
__ADS_1