
Hari yang dinantikan pun tiba. Shuwan terlihat cantik dengan menggunakan pakaian pernikahan tradisional berwarna merah. Meski hanya dipoles sedikit make up, wajahnya sudah terlihat lebih bersinar.
Shuwan hanya tidak ingin menggunakan make up yang terlalu tebal. Pun dengan persiapan pernikahan ini, ia juga tidak ingin terlalu merepotkan. Malahan Zhang sendiri yang membuatnya jadi wah dengan segala keribetan yang ada.
Shuwan masih duduk di depan meja rias. Ia memandangi wajahnya yang sudah didandani. Jantungku berdegup dengan begitu kencangnya. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung dalam waktu dekat ini. Batinnya seraya membuang napasnya.
“Shuwan... Ini sudah waktunya,” panggil Jianying.
“Iya kakak.” Shuwan segera menutup wajahnya menggunakan penutup kepala. Sebagaimana tradisi yang dilakukan orang-orang di sana. Nanti penutup kepala itu hanya akan dibuka oleh sang suami.
Akhirnya setelah berbagai kesulitan yang mereka lalui, keduanya dipersatukan sekali lagi oleh takdir. Di atas pelaminan, keduanya telah mengikat janji sehidup semati. Kembali. Tapi kali ini, benar-benar ada cinta di antara keduanya. Bukan lagi pernikahan politik yang berlandaskan ‘terpaksa.’
“Ah.. Kapan acara ini akan selesai? Aku benar-benar sudah lelah,” keluh Shuwan yang masih duduk di pelaminan. Ia mengeluh karena hari sudah malam tapi acara belum selesai juga.
Zhang tersenyum padanya,”Apa kau sudah tidak siap dengan agenda selanjutnya?” tanya Zhang.
“Hah? Masih ada agenda yang lainnya?” Shuwan kaget.
Zhang mendekatkan bibirnya ke arah telinga Shuwan. “Tentu saja. Bukankah setelah ini adalah malam pertama kita?” Bisik Zhang.
DEG!
Shuwan merona. Hal yang selama ini tidak pernah dibayangkannya pun akan terjadi begitu saja. “A-aku sebenarnya....”
Zhang langsung berdiri. “Baiklah para hadirin. Istriku sudah kelelahan hari ini. Jadi, kami akan beristirahat lebih awal.”
“Yah, kalian lanjutkan saja urusan kalian selanjutnya. Tapi jangan terlalu kasar. Aku khawatir dia akan ketakutan!” Teriak seseorang di antara tamu undangan.
Di dalam penutup wajahnya, Shuwan benar-benar sudah seperti tomat. Wajahnya merah merona mendengar Zhang yang begitu berinisiatif.
Zhang kembali memandangi istrinya yang ada di balik penutup wajah. Tanpa pikir panjang ia menggendong Shuwan ala bridal. Shuwan langsung kaget dibuatnya.
“Hei, turunkan aku! Aku masih bisa jalan sendiri tahu!” teriak Shuwan.
“Jika kau turun sekarang, aku bisa kehilangan muka,” kata Zhang.
Shuwan tak lagi memberontak setelah mendengar ucapan Zhang. Ia hanya mengumpat dalam hatinya. Sial!
Zhang langsung membawa Shuwan ke dalam mobil pengantin. Iring-iringan itu pun mengantarkan mereka ke rumah yang kelak akan mereka berdua huni.
Sesampainya di sana, Shuwan dibantu Zhang keluar dari mobil.
Jianying keluar dari mobil yang lainnya. Ia mendekati Zhang dan Shuwan yang berdiri di teras rumah. “Liem, aku percayakan adikku padamu. Jaga dan sayangi dia. Jika sampai kau membuatnya menangis, maka jangan salahkan aku jika aku akan membawanya kembali.”
Shuwan hanya diam. Ia tahu betul karakter kakaknya itu. Keras. Dia juga ‘sister-complex,’ benar-benar tidak tahan jika adiknya kenapa-kenapa.
Zhang tersenyum lembut. Ia kemudian berjalan mendekati kakak iparnya itu. “Kau tenang saja. Dahulu memang aku yang bodoh, tapi setelah semuanya, aku sudah berkomitmen untuk percaya dan menjaganya. Jika memang aku membuatnya terluka, kau boleh membawanya kembali.”
Jianying mengangguk. “Akan kupegang kata-katamu sebagai seorang pria.” Imbuhnya. Ia sekarangan mendekati Shuwan, dan memberinya wejangan. “Shuwan, sekarang kau sudah menikah dengan lelaki pilihanmu. Wajahnya adalah wajahmu. Bajunya adalah bajumu. Kau harus bisa menjaga kehormatannya.”
Ada perasaan haru yang bergemuruh di hatinya. Ia membayangkan bagaimana Jianying menjaganya selama ini. Tak terasa air matanya menetes begitu saja. “Kakak... Aku akan mendengar nasehatmu. Terima kasih sudah menjagaku selama ini.”
Shuwan memeluk Jianying. Kini ia sudah menjadi milik orang lain. Tidak bisa bergantung atau terus bersama kakaknya.
“Jagalah dirimu baik-baik. Jika kau butuh bantuanku, panggil saja aku,” ucap Jianying.
Shuwan mengangguk. “Tolong jaga kakek baik-baik.” Kata Shuwan mengakhiri.
Jianying tersenyum. “Aku tahu. Hari sudah semakin larut, aku akan pulang.”
“Hati-hati, Kak!” pesan Shuwan.
“Aku mengerti.”
Rombongan pengiring pengantin pun berhamburan pergi. Menyisakan kedua tokoh utama malam itu.
Melihat keadaan yang sudah sepi dan tenang, Zhang langsung menggendong tubuh Shuwan.
__ADS_1
“A-aku bisa jalan sendiri!” pekik Shuwan yang kaget.
“Sst... Tenanglah Shuwan. Ini adalah malam milik kita berdua. Tidak bisakah kau mendukungku sedikit saja?”
Shuwan terdiam. Ia mengerti maksud suaminya itu. Zhang kemudian masuk ke rumah dan sudah di sambut oleh para asisten rumah tangganya.
Ia langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamar pengantin.
Sesampainya di kamar, Zhang langsung mendudukkan Shuwan di tepi ranjang. Tak lupa ia mengunci kembali pintunya.
Kini jantung Shuwan berdegub semakin kencang karena hanya tinggal mereka berdua yang ada di kamar itu.
Zhang mendekatinya, dan berdiri di hadapannya. Ia pun membuka penutup wajah yang telah menutupi wajah Shuwan seharian ini.
Ketika berhasil membukanya, keduanya lalu beradu tatapan. Shuwan tersipu malu karenanya. Ia menundukkan pandangannya.
Zhang tersenyum melihat tingkah menggemaskan Shuwan yang langka ini. Ternyata macan betina yang begitu garang di medan pertempuran bisa seperti kucing yang jinak juga ya? Zhang kemudian duduk di samping Shuwan. Ia lalu meraih tangan Shuwan yang sedari tadi hanya bertaut dengan bergetar.
Ia meletakkan telapak tangan Shuwan ke dadanya. “Shuwan...”
Shuwan langsung menoleh dan menatap Zhang yang ada di sampingnya.
“Bisakah kau percaya padaku?” tanya Zhang dengan lembut.
Tangan Shuwan bisa merasakan bahwa ritme detak jantung Zhang begitu cepat dan memburu. Sama seperti miliknya. Dengan bibir bergetar, Shuwan pun mulai berbicara. “Tubuhku sangat jelek, Liem. Banyak bekas luka sayatan karena pedang. Apa kau akan tetap menyukaiku dengan kondisi yang seperti ini?” tanya Shuwan.
Zhang tersenyum lembut. Tangannya yang lain menyentuh pipi Shuwan. “Aku tidak peduli dengan bekas luka yang kau miliki. Semua yang terjadi juga karena salahku. Aku mencintaimu dengan tulus Shuwan. Aku selalu menerimamu dan memberikan tempat paling luas di hatiku.” Balas Zhang.
Shuwan terharu. Tanpa terasa cairan hangat menetes di pipinya. Zhang langsung menghapus air mata Shuwan.
“Aku mencintaimu.” Kata Zhang lembut.
Shuwan tersenyum lembut. “Aku juga.”
Zhang langsung mencium bibir Shuwan. Malam itu pun, sekuntum bunga yang ranum dan sedang berkembang telah dipetik oleh seorang pujangga yang dimabuk cinta. Langit malam seakan berwarna merah muda, bulan dan bintang pun merona karena menjadi saksi bisu dari sepasang anak manusia yang akhirnya menyatukan cinta mereka.
***
Waktu terus berlalu. Tidak terasa sudah tiga bulan Shuwan dan Zhang menikah.
Terlihat seorang pria matang yang sedang sibuk menyiapkan kepulangannya. Ya, itu adalah Zhang. Dia sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Meninggalkan istrinya yang kini sedang bermalas-malasan di rumah.
Tiba-tiba saja handhphone nya berdering. Sebuah nada khusus hanya untuk wanita yang begitu dicintainya.
“Sayang...” suara seorang wanita yang begitu lembut terdengar dari balik gawai.
Zhang tersenyum simpul. “Kau ingin apa?” tanya Zhang langsung pada intinya.
“Aku ingin makan buah persik. Bisakah kau membelikannya untukku?”
“Aku akan membelikan sebanyak yang kau mau,” balas Zhang.
“Terima kasih. Aku menunggumu. Emuach...” Sebuah kecupan jarak jauh diberikannya.
“Aku akan segera pulang.” Telepon itu pun terputus. Zhang senyum-senyum sendiri setelahnya.
Akhirnya ia Zhang melaju pulang ke rumah dengan mobil yang di kemudikan oleh asistennya. Dalam perjalanannya ia pun terlelap. Betapa senangnya ia membayangkan wajah Shuwan yang menantinya pulang, membawa sekerangjang penuh buah persik.
Setelah sampai di rumah, asistennya pun membangunkan Zhang. “Tuan, kita sudah sampai.”
Zhang mengerjapkan matanya. Ia membuang napas beratnya, dan keluar dari mobil. Zhang segera berlari menuju pintu. Asistennya mengekor membawakan keranjang berisi buah persik.
Ia kemudian menekan bel rumah, dan Shuwan langsung membukakan pintu itu.
Terlihat wajahnya yang manis bertambah cantik ketika senyum simpul nan lembut terlukis di wajahnya. Tanpa basa basi, ia langsung memeluk Zhang.
“Akhirnya kau kembali juga...” kata Shuwan.
__ADS_1
“Apa kau merindukanku? Kita baru tidak bertemu tiga hari dan kau sudah begitu rindunya padaku.”
Shwuan melepaskan pelukannya, dan langsung memasang wajah cemberutnya. “Bukan hanya aku yang merindukanmu, tapi juga juniormu yang ada di perutku ini,” celetuk Shuwan seraya menunjuk ke arah perutnya.
Ya, Shuwan sedang mengandung Zhang junior. Ia jadi begitu manja dan sensitif. Zhang seolah menjadi suami yang takut istri ketika Shuwan hamil. Mengucapkan sesuatu pun harus berhati-hati. Kalau tidak Shuwan akan marah atau menangis. Dan parahnya Shuwan akan mengadukannya pada Jianying, sehingga membuat Zhang diomeli habis-habisan oleh kakak iparnya.
Zhang tersenyum lembut. Ia lalu mencium kening Shuwan. Tangannya pun membelai lembut perut Shuwan yang masih belum terlihat jika dia sedang hamil. “Iya, iya... Aku minta maaf.” Zhang selalu berhasil menjinakkan Shuwan dengan cara seperti ini.
“Kalau begitu, kau harus membukakan buah persik itu untukku.” Pinta Shuwan.
“Aku akan membukakannya. Khusus untuk istri dan Zhang junior yang ada diperutmu,” imbuh Zhang.
Shuwan tersenyum dan langsung menarik tangan Zhang, membawanya masuk ke dalam rumah agar segera membukakan buah persik untuknya.
“Cepatlah bukakan untukku,” rengek Shuwan pada Zhang.
“Iya... Iya... Aku akan membukakannya.”
Zhang membukakan beberapa buah untuk Shuwan. Ia tahu betul bahwa semenjak hamil, nafsu makan Shuwan meningkat drastis.
Dengan telaten dan sabar Zhang membuka buah persik, dan memotongnya agar Shuwan bisa dengan mudah memakannya.
Begitu Zhang selesai mengupas dan memotong buah persik, Shuwan langsung menyambarnya. Ia menyantapnya dengan lahap hingga membuat potongan kecil buah persik tercecer di sekitar bibir.
“Pelan, pelan saja. Tidak ada yang akan berebut denganmu,” kata Zhang seraya mengusap bibir Shuwan untuk menghilangkan sisa buah yang tercecer. Zhang memandangi bibir Shuwan yang begitu kasual dan menggoda.
Tanpa basa basi ia langsung mengecup bibir Shuwan. Shuwan tidak memberontak, ia tahu kalau Zhang menginginkannya. Jadi ia pun mengikuti alur dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Zhang.
Setelah merasa puas mencium Shuwan, Zhang melepaskannya. “Benar-benar terasa manis,” kata Zhang memuji Shuwan.
Shuwan merona karena Zhang mengatakan hal yang begitu memalukan. Ia lalu tetap fokus memakan potongan persiknya.
Zhang terkekeh, ia lalu kembali memeluk Shuwan dan mengelus perutnya. Aku akan menjagamu, dan juga anak-anak kita nanti. Aku benar tidak sabar melihat rumah besar ini berwarna dengan suara tangis dan tawa anak-anak. Batin Zhang yang merasa begitu bahagia.
Setelah semua hal yang mereka lalui, kini mereka bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan.
***
Bulan terus silih berganti, kini tiba saatnya Shuwan melahirkan. Zhang terlihat serius membantu para suster mendorong bed hospital tempat Shuwan terbaring. Tampak Shuwan meringis kesakitan.
Mereka bergegas memasuki ruang bersalin. Zhang yang tadi mengenakan jas kerja kini sudah merangkapi bajunya dengan baju operasi.
Ia mendampingi Shuwan melahirkan. Betapa ibanya Zhang melihat Shuwan yang begitu kesakitan. Ia hanya bisa membelai lembut Shuwan seraya membisikkan semangat ke telinga istrinya itu.
“Kau pasti bisa, Sayang... Aku akan menemanimu di sini.” Kata Zhang dengan lembutnya.
Shuwan mengangguk pelan. Kini ia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Shuwan mulai mengejan sesuai dengan intruksi dokter.
Dengan setia dan juga rasa cemas yang menghantui perasaan Zhang, ia menghapus peluh yang menetes di wajah Shuwan dengan handuk yang sengaja ia bawa dari rumah.
Hatinya bergetar hebat melihat Shuwan yang tengah berjuang dengan maut demi melahirkan anak yang sudah dinantikannya.
Sementara itu, terlihat Lin Quon, Jianying, dan beberapa keluarga Zhang menunggu di depan ruang bersalin. Mereka berdoa untuk keselamatan Shuwan dan juga bayinya.
Setelah lama berjuang, akhirnya suara bayi menangis pun menggema di dalam ruangan, yang juga terdengar hingga keluar.
Jianying dan yang lainnya merasa bahagia setelah mendengarnya. “Aku akan jadi seorang paman,” kata Jianying dengan haru.
Sedangkan Zhang, ia menangis ketika melihat putranya yang masih berwarna merah itu lahir kedunia. Begitu pula Shuwan.
Zhang menggendong anak mereka, dan berjalan menghampiri Shuwan. Ia mengecup lembut kening Shuwan. “Terima kasih, Sayang...” ucapnya lirih.
Shuwan membalasnya dengan senyum. Ia pun juga memeluk bayinya. Mereka kini telah menjadi keluarga kecil yang bahagia.
Ini bukanlah akhir, melainkah awal yang baru. Masih banyak kejutan yang menanti mereka. Namun yang pasti, cinta dan kepercayaan menjadi landasan bagi mereka berdua untuk menjalani bahtera kehidupan ini.
1314... Adalah sebuah kode rahasia yang berisikan ungkapan cinta. Yi San Yi Shi - Yi Sheng Yi Shi, abadi selamanya. Begitulah bagaimana kisah Zhang dan Shuwan diungkapkan. Mungkin kelak mereka akan tiada, namun cintanya akan selalu abadi sepanjang masa.
__ADS_1
- S E L E S A I -