
“Tuan Alkemis, ini aku Shuwan. Apakah kau ada di dalam?” teriak Shuwan dari balik pintu.
“Masuklah,” sahut Luo Shu.
Shuwan membuka pintu ruangan itu, dan mendapati Luo Shu sedang menulis di atas sebuah buku. Ia lantas berjalanan mendekatinya.
“Silakan duduk.”
Shuwan menarik kursi yang berseberangan dengan Luo Shu dan duduk di sana. “Maaf, karena aku baru datang menemuimu. Um... Kira-kira ada keperluan apa sehingga kau memanggilku?”
Luo Shu meletakkan kuas yang sedari tadi ia gunakan untuk menulis. Aktivitasnya pun sengaja dihentikan untuk fokus berbicara dengan Shuwan.
“Sebenarnya bukan apa-apa. Aku hanya ingin memastikan suatu hal,” kata Luo Shu.
“Memastikan suatu hal? Hal apa yang memangnya ingin kau pastikan?”
“Bagaimana perasaanmu terhadap Zhang?”
Shuwan terkesiap mendengar perkataan Luo Shu. Ia tidak pernah menyangka bahwa orang yang baru saja ia temui menjadi begitu peduli pada perasaannya.
Shuwan tersenyum setelahnya, ia kemudian mengatakan, “Kenapa kau sangat peduli urusan orang yang baru saja kau temui beberapa hari?”
Luo Shu membuang napasnya dengan tenang. “Aku hanya kasihan melihat seorang pemuda yang sangat mencintai wanitanya, tapi wanita itu tidak membalas perasaannya.”
Apa Liem curhat pada pak tua ini? Mulutnya benar-benar tidak bisa dipercaya. Batin Shuwan. Shuwan melipat kedua tangannya ke depan dada. Matanya berubah menjadi sorotan yang tajam. “Bocah itu, apa saja yang ia katakan padamu?”
“Dia mengatakan mengenai permasalahannya denganmu, dan juga mengenai penyakitnya.”
Mata Shuwan seketika terbelalak. Penyakitnya? Hal yang tidak pernah ia katakan padaku ia katakan pada orang asing ini? Batin Shuwan mulai merasa kesal. “Memangnya, dia itu sakit apa sampai tidak mau bercerita padaku dan yang lainnya?"
Luo Shu kembali tersenyum seribu makna. Ia lantas mengatakan kebenarannya pada Shuwan. “Dia menderita racun hati yang nyaris sama denganmu. Sebuah racun yang ia dapatkan karena meminum Arak Penghukum Jiwa.”
“Bagaimana kau tahu mengenai penyakitku? Dan, kenapa dia harus sampai meminum arak itu?” Shuwan bingung dengan racun yang baru saja Luo Shu sebutkan.
“Tentu saja aku tahu. Aku adalah ahli kimia sekaligus tabib. Saat mengoperasimu, aku sekalian memeriksa kondisimu. Dan, mengenai Zhang, dia meminum racun itu karena orang yang dicintainya.”
Orang yang dicintainya? Apakah orang itu adalah aku?
“Dia rela meminum racun itu demi menebus rasa bersalahnya pada orang yang dicintainya. Meski pun dia juga tahu risiko yang akan dideritanya setelah meminum racun itu. Ia hanya ingin melakukan perjalanan bersama pujaan hatinya dengan rasa sakit yang diderita masing-masing.”
Liem benar-benar bodoh! Disaat orang lain ingin sembuh dari sakitnya, dia malah meminum racun yang berbahaya. Shuwan mengepal erat kedua tangannya. Ada perasaan kesal dan marah yang menyelimuti hatinya mana kala mendengar kebenaran penyakit Zhang.
“Jika aku sangat menderita karena jatuh cinta, lalu efek apa yang sebenarnya diderita olehnya? Waktu itu dia sempat pingsan di hadapanku,” ujar Shuwan.
“Dia akan merasakan sakit ketika punya perasaan terlalu dalam pada seseorang. Hampir sama denganmu. Dia akan mudah tumbang ketika khawatir, atau perasaannya tak terbalaskan. Sebelum dia pergi mengobatinya, dia sempat menemuiku, dan mengatakan semua ini. Dia juga menunjukkan lebam-lebam yang dideritanya. Hampir seluruh dada bagian kirinya menghitam. Racunnya sudah pada tahap paling berbahaya.”
Shuwan tercekat. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Perasaannya jadi tidak karuan. “Lalu, apakah dia akan sembuh setelah melakukan pengobatan?”
“Itu bergantung pada usahanya. Kolam dingin bukanlah kolam biasa. Di air yang terkena pantulan bulan itu ada kekuatan magis yang bisa menjadi penawar atau pun malah membunuhnya. Jika dia berhasil mengendalikannya, maka dia akan sembuh. Jika sebaliknya yang terjadi, bisa dipastikan ia akan mati membeku.”
M-mati? Liem tidak boleh mati. Bagaimana bisa dia menanggung risiko yang begitu besar?
__ADS_1
Luo Shu mengehela napasnya, ia kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang sebelumnya ia ajukan pada Shuwan. “Jadi, setelah mengetahui kebenaran tentang Zhang, bagaimana perasaanmu sekarang?”
Shuwan lalu menatap fokus Luo Shu. Ia melepaskan lipatan kedua tangannya. “Kau seharusnya juga tahu, kalau aku tidak bisa membalas perasaannya karena sakit.”
“Jika kelak kau sembuh, apakah kau akan membalasnya?”
Shuwan tertunduk layu. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu. “Aku hanya takut, ketika saat itu tiba, kita tidak lagi bisa bertemu.”
“Kau adalah penjelajah waktu bukan?”
Shuwan diam seribu bahasa karena kaget mendengar Luo Shu mengetahui kebenaran tentang dirinya. “B-bagaimana kau tahu?”
“Aku hanya asal tebak saja.”
Shuwan mengalihkan pandangannya. Ke sudut bawah lemari buku yang ada di sebelah kanannya.
“Aku kembali pada pertanyaan awalku. Bisakah kau memberikan jawabannya?”
“Kenapa kau begitu peduli pada kami?” sebuah kalimat yang terlontar saja dari mulut Shuwan.
“Aku hanya merasa yakin, kalau kalian memang sejak awal ditakdirkan bersama,” imbuh Luo Shu.
Senyum getir terlukis di wajah Shuwan. Ia lalu menghela napas dan kembali menatap Luo Shu. “Mengenai apakah aku akan menerimanya atau tidak, biarkan waktu yang akan menjawabnya.”
“Bukankah dia sudah melamarmu dengan cincin yang saati ni kau kenakan?”
Shuwan lantas memandangi cincinnya yang dipasangkan secara paksa oleh Zhang. “Dia memasangkannya dengan paksa. Aku juga tidak bisa melepasnya karena ada kekuatan yang mengikatnya. Padahal, dia juga tahu kalau aku tidak bisa membalas perasaannya. Aku sudah berulang kali mengatakan padanya, untuk tidak jatuh cinta padaku. Tapi dia tetap kekeh pada pendiriannya. Aku hanya takut menyakitinya semakin dalam ketika kita tidak lagi bersama.”
“Jika tidak ada lagi yang ingin dibahas, maka aku akan undur diri.”
Sebenarnya Luo Shu masih ingin berbincang dengannya. Tapi melihat kondisi Shuwan yang sendu, ia memutuskan untuk membiarkannya. Ia mengangguk, “Kau boleh pergi. Dan, jaga cincin mendiang istriku baik-baik.”
“Jadi, cincin ini...”
“Ya, itu adalah cincin peninggalan istriku.”
Shuwan tidak menanggapinya lagi. Ia pun bangkit, dan menundukkan kepalanya memberikan penghormatan.
Shuwan berjalan menuju pintu, membukanya, dan melangkah keluar. Meninggalkan Luo Shu yang masih tenggelam dalam perbincangannya dengan Shuwan barusan.
Luo Shu lalu bangkit dari tempat duduknya. Berjalan sedikit, dan menatap ke langit-langit ruangan. Ia menarik kedua tangannya ke belakang dan menyatukannya.
Sesekali ia menghembuskan napasnya. “Hah... Cinta memang rumit dan selalu jadi rahasia,” gumam Luo Shu.
***
Malam semakin larut, Zhang yang sedari senja tadi sudah berendam di kolam dingin pun mulai menggigil hebat. Tubuhnya terlihat menggigil tak bisa dikendalikan.
Yu Hao hanya bisa melihatnya dengan harap-harap cemas. Penyakitnya saja sudah terlihat begitu menyakitkan. Kini metode pengobatannya pun sama-sama menyakitkan. Zhang, selama ini kau pasti sudah sangat menderita bukan?
Zhang yang sedang berada dalam tapa nya pun berusaha mengendalikan kekuatan di sekitarnya. Meski yang kini yang terlihat di luar dirinya hanyalah tubuhnya yang tampak menggigil tak beraturan.
__ADS_1
Bibirnya terlihat membiru, kulitnya tampak putih pucat. Matanya terpejam, tapi buruan napasnya masih terdengar di tempat itu.
***
Sementara itu, sekembalinya dari ruang belajar Luo Shu, Shuwan hanya meringkuk di atas tempat tidur. Pikirannya kosong, begitu pun pandangannya.
Jiao yang baru saja masuk ke kamarnya pun menjadi bingung. Apa yang terjadi dengan anak ini? Apakah Shifu memarahinya? Batin Jiao seraya membayangkan Shuwan yang sedang dimarahi gurunya.
Segera ia menggeleng, menepis imajinasinya yang bukan-bukan. Ia pun berjalan mendekati Shuwan seraya memastikan.
“Shuwan?” panggil Jiao.
Tapi Shuwan tidak menanggapinya. Ia hanya diam tak berkutik dengan posisi sama seperti yang sebelumnya.
“Shuwan?” Jiao mengulangi panggilannya. Namun, hal senada juga terjadi. Tidak ada jawaban dari Shuwan.
Jiao yang khawatir langsung menepuk bahunya, “Shuwan?”
Shuwan menggelinjang kaget. Ia langsung merespon panggilan Jiao dengan gelagapan. “I-iya Jiao.”
“Apa yang sedang kau pikirkan? Sampai-sampai kau tidak mendengar panaggilanku.”
“A-ah... Itu, bukan apa-apa Jiao.”
“Bohong! Semenjak kau kembali dari ruangan Shifu, kau tampak murung. Apa dia mengatakan hal buruk tentangmu?” Jiao berusaha memastikan bahwa temannya itu baik-baik saja.
“Bukan, Jiao. Sungguh itu bukan apa-apa. A-aku hanya sedang memikirkan Zhang dan juga Yu Hao di istana.” Maafkan aku karena berbohong padamu, Jiao. Aku pun tak tahu apa yang sedang ku pikirkan saat ini.
Apa benar itu yang sedang dipikirkannya? Hm... Jiao menyipitkan matanya, dan menjatuhkan tatapannya pada Shuwan.
Apa dia mencurigaiku? Aku harus mengalihkan pembicaraan. “Ehh... Jiao, apakah di sini ada pasar? Aku ingin pergi ke sana. Di sini membuatku jenuh dan bosan.” Shuwan mencoba mengalihkan perhatiannya.
Jiao seketika langsung merubah ekspresi wajahnya. “Tentu saja ada. Dan, kebetulan guru memintaku pergi ke sana untuk mencari beberapa barang.”
“Benarkah?” Wajah Shuwan menjadi semringah. Sudah sangat ingin dia pergi ke tempat ramai. “Apakah aku boleh ikut? Aku sudah baik-baik saja. Lihat..” Shuwan lalu berdiri di atas ranjang dan memutar-mutar tubuhnya.
“Besok aku akan bertanya terlebih dahulu pada Shifu. Apakah kau boleh keluar atau tidak.”
Shuwan menganggukkan kepalanya, dan menghentikan polahnya. “Baiklah. Semoga aku diizinkan. Aku benar-benar bosan dikurung seperti ini.”
“Hahaha... Aku tahu bagaimana rasanya. Aku merasa kemungkinan besar kau diperbolehkan. Melihat tulang-tulangmu sudah baik-baik saja berkat ramuan ajaib Shifu.”
Mata Shuwan membulat sempurna. Binar polosnya membuat siapa pun merasa tenang.
Shuwan, Shuwan. Kau ternyata juga bisa merengek seperti anak kecil ya? Kalau diingat-ingat, dia selalu bersikap dingin pada kami. Tapi sekarang, hatinya seperti sudah mulai menghangat. Apakah... Ini berkat cintanya Zhang? Pikir Jiao.
“Jiao, ayo kita istirahat dan bangun lebih awal besok.”
Seketika lamunan Jiao pecah. Ia lalu menanggapi ajakan Shuwan. “Ah... Iya.”
Mereka pun memadamkan lampu yang menerangi ruangan. Seketika suasana menjadi hening. Keduanya pun terlelap.
__ADS_1