
Shuwan bangun lebih awal, dan bersiap melakukan perjalanan. Ia lantas menemui Jiao untuk meminta izin.
“Jiao, aku akan pergi selama beberapa waktu. Kemungkinan siang atau petang nanti baru kembali.”
Jiao kaget mendengar ucapan Shuwan. “K-kau ingin pergi ke mana, Shuwan?”
“Aku harus mengantarkan surat untuk undangan kemarin. Setidaknya aku meminta dia menunggu keputusanku, sampai gurumu itu memberikan jawaban.”
“Apa kau akan pergi sendirian? Bagaimana jika aku menemanimu?”
Shuwan berjalan mendekati Jiao. Ditepuknya bahu Jiao dengan lembut. “Jika kau ikut denganku, lalu siapa yang akan menjaga Tuan Shu? Jiao kau tidak perlu khawatir. Aku sudah pulih, dan bisa menjaga diriku sendiri. Aku berjanji akan kembali secepatnya.”
“Em... Kalau begitu berjanjilah.”
Jiao memberikan pelukan hangat pada Shuwan. Setelah berpelukan, Shuwan pun pergi ke kandang kuda milik Luo Shu untuk memilih kuda yang akan ditungganginya.
“Nah... Aku akan memilihmu. Kau tampak kuat dan gagah, kita pasti akan lebih cepat sampai ke istana.”
Shuwan menjatuhkan pilihannya pada seekor kuda hitam, berperawakan tinggi besar, dengan corak putih yang berada di bagian depan kepalanya.
“Kau menjatuhkan pilihan yang bagus, Nona.”
Seseorang dari balik tumpukan jerami tiba-tiba saja muncul dan membuat Shuwan kaget.
“S-siapa kau?”
“Jangan takut. Aku adalah orang mengurusi kuda-kuda milik Tuan Shu.”
“Begitu rupanya.”
“Kuda yang kau pilih memang memiliki perawakan yang lebih besar dibanding kuda lainnya. Tapi, terkadang dia sulit dikendalikan. Dia hanya mau ditunggangi oleh orang yang diakuinya.”
“Maksudmu seperti ini?” Shuwan mengatakannya setelah berhasil naik ke atas kuda itu.
“B-bagaimana kau bisa?”
“Dia sangat menurutiku. Aku pikir dia memang seperti itu.”
“Aiya... Kuda ini sudah beberapa kali menendang orang, termasuk aku. Tidak kusangka kalau dia begitu menurut pada orang yang baru ditemuinya.”
“Hm... Begitukah?” Shuwan tiba-tiba kembali teringat kalau dia harus melakukan perjalanan yang jauh. “Ah... Maaf... Aku pinjam kuda ini dahulu. Aku akan mengembalikannya begitu sampai.”
“Baiklah. Hati-hati Nona.”
“Hyaa!” Shuwan melajukan kudanya, langsung dengan kecepatan penuh.
“Hah... Anak muda zaman sekarang memang sulit ditebak ya?”
Sementara Shuwan dalam pacuan kudanya.
“Sudah lama aku tidak merasakan kebebasan seperti ini. Rasanya sangat menyenangkan. Eh... Aku seperti melupakan sesuatu tapi apa ya?” Shuwan melamun sebentar. “Ah.. Benar! Aku ‘kan tidak tahu di mana letak istananya. Duh bagaimana ini? Kenapa aku bisa begitu bodoh?”
Tanpa disangka kuda itu meringkik dengan sendirinya, seolah mengerti dengan masalah Shuwan.
Shuwan yang menyadarinya langsung mendekatkan wajahnya pada kuda itu. “Hei, apa kau tahu istana itu ada di mana?”
Kuda itu meringkik, dan langsung menambah laju kecepatannya.
“Itu keren! Kau seperti mengerti ucapanku!” Teriak Shuwan dari kuda yang melaju begitu kencangnya.
Setelah lama mendaki kuda, Shuwan merasa sedikit lelah. Mereka pun menepi di sebuah danau. Di sana juga ada sebuah pohon besar yang rindang.
__ADS_1
“Kau minumlah. Perjalanan kita masih cukup jauh.” Kata Shuwan seolah mengajak kuda yang ditungganginya berbicara.
Selesai memberi minum kuda, Shuwan menyandarkan punggungnya di pohon rindang itu.
“Ah... Setelah melakukan perjalanan jauh tanpa ada sandaran, kini menyandarkan punggung seperti ini sudah seperti kenikmatan yang hakiki. Seharusnya, satu jam lagi akan sampai di istana bukan?”
Shuwan kemudian mengambil tas yang dibawakan Jiao.
“Wah... Ada bakpao. Jiao memang yang paling terbaik.” Shuwan pun memakan dengan lahap bekal yang dibawakan Jiao. Di wadah itu, terdapat enam bakpao. Shuwan memakan dua buah, sisanya ia simpan untuk nanti.
Setelah merasa cukup untuk istirahat. Shuwan kembali menarik tali kudanya.
“Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan.”
Shuwan menaiki kuda itu, dan kembali melajukan kudanya dengan cepat.
***
Sementara itu di kediaman Luo Shu, Jiao sedang duduk di kursi yang ada di depan kamar Luo Shu. Ia masih fokus membaca buku medis.
Di tengah fokusnya, tiba-tiba saja terdengar sebuah benda terjatuh dari kamar Luo Shu.
Jiao segera menutup dan meletakkan bukunya ke meja. Ia lantas berlari masuk ke dalam kamar gurunya.
“Shifu!” Jiao kaget melihat Luo Shu terjatuh ke lantai. “Apa yang sedang kau lakukan?” Jiao segera memapah gurunya kembali ke pembaringan.
“Ah... Aku hanya haus. Tadi aku berusaha mengambil cangkir air itu, tapi malah tidak sampai. Jadi cangkirnya jatuh, begitu pun dengan aku. Hahaha...”
“Shifu! Kau kan bisa memanggilku atau pelayan lainnya jika membutuhkan sesuatu,” ucap Jiao yang cemas.
“Aku hanya kasian pada kalian. Pasti begitu lelah telah menjagaku. Jadi aku berusaha sebisanya.”
“Shifu...” kata Jiao memelas.
Ia pun lalu memberikan segelas air kepada gurunya yang haus. “Ini guru, kau minumlah dahulu.”
Luo Shu menerimanya, dan segera meminumnya.
“Seharusnya jika kau tahu itu makanan yang dilarang, jangan memakannya. Untung saja Shuwan menemukanmu dengan cepat. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang terjadi padamu.”
“Shuwan?” Luo Shu kaget mendengar bahwa Shuwan yang menemukannya.
Jiao mengangguk. “Kemarin Shuwan ingin menemuimu. Ia mengetuk pintu ruang bacamu, tapi tidak mendengar jawaban. Ia lalu mengintip dari balik celah, dan mendapatimu sudah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Dia mencoba mendobrak pintu itu sendirian tapi tidak berhasil. Untungnya aku dengar, jadi kubantu saja dia mendobrak paksa pintumu.” Jelas Jiao dengan singkat.
Luo Shu memebuang napasnya, seolah merasa begitu lega. “Maaf sudah membuat kalian khawatir. Seharusnya aku tidak merepotkan kalian.”
“Apa yang kau ucapkan, Shifu? Kau sudah menolong kami, dan tentu saja kami harus menolongmu.”
“Hm... Baiklah. E.... Ngomong-ngomong di mana Shuwan? Kenapa aku tidak melihatnya bersamamu?” tanya Luo Shu.
“Shifu, aku harap kau tidak marah. Shuwan... Dia pergi ke istana.”
Luo Shu mengeritkan dahinya, “Apakah dia akan langsung pergi begitu saja?”
Jiao menggeleng. “Dia pergi ke sana mengantarkan surat untuk orang yang telah mengundangnya. Dia hanya meminta agar orang itu mau menunggunya sampai kau memberikan Shuwan jawaban.”
Dia benar-benar anak yang penurut. Aku jadi merasa bersalah sekarang. Batin Luo Shu yang sedikit menyesalkan perbuatannya kemarin. “Hm... Begini saja. Aku akan memberi izin kalian untuk turut serta ke sana. Tapi, kalian harus membawakanku manisan yang dibagikan istana. Bagaimana?”
Netra Jiao membulat sempurna. Ia seakan tidak percaya bahwa gurunya mengizinkan mereka pergi.
“S-shifu... Apakah kau serius?”
__ADS_1
Luo Shu mengangguk.
“Terima kasih... Terima kasih banyak, Shifu! Shuwan pasti akan sangat senang mendengar ini saat dia kembali.”
“Tapi, tolong ingat permintaanku ya?! Manisan... Jangan lupa.”
“Kenapa kau sangat suka manisan, Shifu? Kau sudah tua, bagaimana kalau sampai terkena gula darah?”
“Apa aku perlu mencabut izinku agar kalian tidak pergi?”
“J-jangan Shifu! A-aku juga ingin tahu seperti apa itu istana Negeri Awan.”
“Makanya, jangan banyak bertanya. Aku hanya ingin memaniskan hidupku yang selama ini sudah getir. Jadi aku membutuhkan makanan yang manis-manis.”
“Hahaha... Ternyata kau juga punya sisi seperti ini ya, Shifu? Kupikir kau hanyalah orang tua yang kolot, dan juga dingin.”
“Hm... Biar bagaimana pun aku juga harus bahagia disisa hidupku yang terbatas ini.”
“Baiklah, baiklah... Kau memang yang terbaik, Shifu!”
“Mengenai penyampaiana izinku pada Shuwan, bagaimana kalau kita menjalankan sandiwara kecil?” Pinta Luo Shu.
“Sandiwara? Kenapa kita harus bersandiwara?”
“Yah, aku hanya ingin tahu bagaimana usahanya dalam mendapatkan izin dariku. Selain itu juga, hubunganku dengan istana tidaklah baik. Makanya aku memikirkan terlebih dahulu permintaannya untuk pergi ke sana.”
“Ha... Begitu rupanya. Baiklah, Shifu. Aku akan bersandiwara juga.”
Keduanya pun membicarakan rencana untuk mengerjai Shuwan.
***
Setelah melakukan perjalanan hampir 3 jam, Shuwan akhirnya sampai di istana.
“Hei, kau ternyata kuda yang cerdas ya? Aku akan sering menunggangimu kalau begitu.” Shuwan memuji kuda yang mengantarkannya.
Ia lantas mendekati gerbang untuk bertanya pada para penjaga.
Begitu sudah dekat, Shuwan melompat dari kudanya. Pandangan netranya tidak terlepas dari gerbang yang tampak begitu megah dan besar.
“Woah.. Apakah kehidupan masa dinasti seperti ini? Benar-benar luar biasa,” celetuk Shuwan.
Salah seorang penjaga di sana pun menanyai Shuwan.
“Perimisi, Nona, apakah ada yang bisa kami bantu?”
“Ah... Aku hanya ingin menemui seseorang, apakah aku boleh masuk ke istana?”
“Siapa yang ingin kau temui?”
“Aku ingin bertemu dengan penjaga perpustakaan. Apakah sekarang dia ada?”
“Dia selalu ada di sana. Siapa namanya? Apa kau sudah memiliki janji dengannya?”
“A-aku... Lupa menanyakan namanya. Tapi aku ingat ciri-ciri fisiknya. Dan aku tidak membuat janji dengannya. Aku datang atas keinginanku sendiri. ”
Sial! Kenapa waktu itu aku lupa menanyakan namanya? Shuwan mendengus kesal. Dan lagi, aku memang tidak memiliki janji langsung dengannya. Hm... Bagaimana ya?
"Kau ingin bertemu seseorang tapi tidak tahu namanya? Heh... Nona, tempat ini begitu luas, dan lagi orang yang menjaga perpustakaan itu tidak hanya satu orang." Ketus sang penjaga.
“Ah... Tuan, t-tapi aku hanya ingin menyampaikan pesan padanya. Tolong izinkan aku masuk ya? Sebentar saja. Aku mohon.” Pinta Shuwan dengan wajah memelas dan kedua tangan yang ia satukan seperti sedang memohon.
__ADS_1
“Maaf, Nona. Jika kau tidak memiliki izin atau dokumen resmi, kau tidak bisa memasuki istana. Tolong jangan mempersulit kami. Kami juga melakukannya agar istana selalu aman.”