
Sepasang mata terpejam yang tengah mencari ketenangan dan bersiap meluncurkan serangan. Yah, sepasang mata itu adalah milik Shuwan. Saat ini ia sedang akan berlatih dengan pedangnya kembali. Setelah sekian lama tumbang dan hilang dari pertempuran.
Aku sudah lama tidak merenggangkan tubuhku. Kini aku sudah menyelesaikan misiku. Tapi kenapa aku masih belum bisa kembali juga? Apakah, skenarionya sengaja diubah?
Shuwan kemudian membuka kembali matanya. Posisinya tegap berdiri, menghadap sasaran yang ada di sana. Beberapa batang kayu yang sudah didirikan untuk menjadi objek serangannya.
Ia memulainya dengan langkah setengah berlari, menuju objek serangannya. Satu... Dua... Tiga.... Kedua kakinya dirapatkan dan Shuwan pun melompat.
Lompatan itu membuatnya melayang di udara, dan kemudian menebaskan pedangnya pada sebatang kayu di hadapannya. Ia melanjutkannya dengan berputar dan memotong kayu lainnya.
Di tengah fokus Shuwan yang sedang berlatih pedang, rupanya sepasang mata sedang memerhatikannya dari balik dedaunan di atas pohon. Ya, itu Xin Ru.
Ia akhirnya bisa menemukan Shuwan tepat di hari pencariannya yang ke dua.
Untung saja aku bertemu tukang gulali itu di pasar. Kalau tidak, aku pasti akan habis dipukuli Yang Mulia. Xin Ru merasa lega telah berhasil menemukan keberadaan wanita yang membuat tuannya penasaran.
Dengan tatapan yang tajam dan fokus, Xin Ru memerhatikan setiap langkah dan gerakan yang dilakukan Shuwan.
Sudah kuduga, kalau wanita ini bukanlah orang biasa. Kemampuannya bermain pedang tidak bisa diremehkan. Aku akan melaporkannya pada Yang Mulia. Batin Xin Ru.
Shuwan yang sedari tadi hanya terfokus pada serangan dan pedangnya pun baru merasakan sesuatu.
Tadi seperti ada yang mengawasiku. Tapi, siapa ya? Shuwan tampak celingak celinguk di posisinya berdiri saat ini. Karena masih penasaran, ia pun pergi untuk memastikan. Langkahnya terbawa menuju sebuah pohon di mana Xin Ru berada saat itu.
Gawat! Sepertinya dia menyadari keberadaanku. Aku harus cepat pergi. Xin Ru yang menyadari Shuwan mendekat pun langsung menghilangkan dirinya secepat kedipan mata.
Shuwan lalu mendongakkan kepalanya ke atas pohon begitu ia sampai di pohon yang dicurigainya.
“Tidak ada siapa pun di sini. Apakah itu hanya halusinasiku saja?” Karena tidak ada apa pun di sana, Shuwan pun kembali ke dalam rumah. Ia sudah selesai berlatih. Luo Shu memintanya untuk tidak memporsir latihan terlalu berat. Khawatir akan membuatnya terluka lagi.
Tampak Jiao sudah menunggunya di ruang tengah. Ia lalu mendekati Shuwan dan memberondongnya dengan aneka pertanyaan.
“Apa kau merasa sangat lelah dibanding biasanya? Atau ada bagian tubuhmu yang terasa sakit? Apakah butuh obat untuk meredakannya?”
Shuwan menghembuskan napasnya. Iya Jiao, aku lelah. Lelah dengan semua pertanyaanmu yang seperti wartawan itu. Umpat Shuwan.
Ia kemudian mengembangkan senyum di wajahnya, dan menanggapi pertanyaan temannya itu. “Um... Jiao, aku baik-baik saja. Bahkan, aku merasa lebih baik setelah latihan. Tapi, sekarang aku agak haus. Aku akan ke dapur untuk minum.”
“Benarkah? Kalau begitu syukurlah. Apa kau ingin kuambilkan minumnya?”
Shuwan melambaikan kedua tangannya, seraya tersenyum paksa. “Tidak perlu Jiao. Aku akan mengambilnya sendiri.”
“Oh, baiklah.”
Shuwan lalu menuju dapur untuk mengambil minum. Sedangkan Jiao, ia masih fokus membaca buku-buku medis milik Luo Shu.
***
Di pagi yang sama, Zhang dan Yu Hao pergi menemui penguasa Negeri Awan, Yang Mulia Raja Li Changyi.
__ADS_1
Begitu mereka sampai di aula pertemuan, untuk pertama kalinya mereka bertemu dengan putra mahkota. Keduanya pun memberi hormat pada orang penting di negeri itu.
Setelah memperkenalkan diri, mereka pun memulai diskusi mengenai strategi perdangan yang dapat membantu pertumbuhan perekonomian Negeri Awan.
Putra mahkota memperhatikan Zhang yang berbicara dengan cakap dan juga tenang.
“Orang ini sangat cerdas. Strateginya juga masuk akal untuk dilakukan. Aku rasa jika dia menjadi menteri di sini, dia akan sangat membantu negari kita ini,” kata Zhi Qiang pada seorang kasim di dekatnya.
“Kau benar, Yang Mulia. Tapi, semua bergantung pada orang ini sendiri, apakah dia berkenan tinggal atau tidak. Lagi pula kudengar dia datang kemari karena ingin mengobati penyakitnya, dan tidak mengatakan kalau akan menetap,” tandas sang kasim.
“Yah, kita lihat saja bagaimana nanti,” Zhi Qiang lalu meneguk teh yang ada di cawan tepat di hadapannya. Pandangannya masih tertuju pada Zhang yang berbicara.
Begitu pertemuan itu selesai, raja dan juga pejabat lainnya membubarkan diri. Sementara itu, Zhi Qiang lalu mendekati Zhang yang masih ada di aula itu, dan mengajaknya sedikit berbincang.
“Strategimu begitu bagus. Jujur aku merasa sangat puas dan tertarik,” kata Zhi Qiang.
Zhang dan Yu Hao langsung memberikan hormat padanya, “Salam Yang Mulia Putra Mahkota.”
“Sudah-sudah. Jangan terlalu banyak menunduk, nanti pinggang kalian pegal,” bisiknya seraya menutupi salah satu sisi wajahnya dengan tangan.
Zhang dan Yu Hao langsung menegakkan kembali tubuhnya.
“Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia. Semua tidak terlepas dari pengajaran ayah hamba,” kata Zhang dengan sopan.
“Ayahmu pasti orang yang sangat hebat, dia juga pasti bangga denganmu.”
Senyum simpul Zhang mengembang di balik pilunya hati, mengingat bagaimana tragedi kebakaran itu menewaskan anggota keluarganya, termasuk sang ayah yang begitu dicintainya.
Zhang mengangguk, “Anda bisa memanggilku kapan saja, Yang Mulia. Kebetulan, hamba akan berada di sini selama sepekan.”
“Itu bagus! Kau bisa membantu kami juga mempersiapkan peringatan hari jadi Negeri Awan. Tapi, jika kau berkenan sih.”
“Aku dan Yu Hao pasti akan datang membantu,” kata Zhang.
Zhi Qiang tersenyum. Ia lalu menepuk pundak kanan Zhang. “Kalau begitu sampai bertemu besok,” katanya seraya melepaskan tangannya dari pundak Zhang.
“Baik, Yang Mulia.”
Zhi Qiang pun pergi meninggalkan Zhang dan Yu Hao di aula yang kini menjadi sepi. Hanya ada lalu lalang para dayang yang membersihkan dan merapikan tempat itu kembali.
***
Setelah berhasil menyelesaikan misi, Xin Ru pun bergegas kembali ke kediaman putra mahkota. Begitu tiba di depan kamar, diketuknya pintu di hadapannya.
“Yang Mulia, Xin Ru datang menghadap,” ucap Xin Ru dari balik pintu kamar.
“Masuklah, Xin Ru.”
Xin Ru kemudian masuk ke dalam, dan mendapati putra mahkota seperti biasanya. Duduk di meja belajar dengan mainan kuas dan juga buku-buku laporan yang tebal.
__ADS_1
Xin Ru kemudian berjalan mendekati putra mahkota yang sibuk. “Yang Mulia, aku berhasil menemukan wanita itu.”
Zhi Qiang menghentikan aktivitas menulisnya. Ia lalu meletakkan kuas itu pada tempatnya. Netranya kini menatap pengawal setianya itu.
“Benarkah?” tanya Zhi Qiang dengan mata yang membulat sempurna.
Xin Ru pun mengangguk. “Dia berada di kediaman alkemis Luo Shu.”
Zhi Qiang mengerutkan keningnya. “Alkemis Luo Shu? Kenapa dia ada di sana?” Sejenak putra mahkota yang suka kabur itu berpikir keras, mencoba menerka alasan Shuwan ada di sana.
Tiba-tiba ia mengangkat kedua alisnya. Matanya pun terbelalak. “Ah... Jangan-jangan...”
“Jangan-jangan apa?” tanya Xin Ru.
“Jangan-jangan Shuwan sakit. Makanya dia ada di sana,” terka Zhi Qiang.
Xin Ru pun memasang raut aneh. Ia lalu menjelaskan apa yang dilihatnya pada Zhi Qiang. “Kalau dia sakit, tidak mungkin dia berlatih pedang dengan begitu lincahnya.”
“Berlatih pedang?”
“Yah, pagi ini dia berlatih pedang. Aku memerhatikannya dari tempat tersembunyi. Sejak awal, aku menduga dia bukanlah orang biasa.”
“Bisa bermain pedang, ya? Bukankah ini menarik? Kebanyakan wanita muda di negeri ini bermain musik atau pun menyulam. Tapi dia, justru malah bermain dengan sebuah pedang.” Zhi Qiang tersenyum-senyum sendiri mendengar hal tak biasa yang dilakukan wanita yang membuatnya jatuh hati.
“Yang Mulia, tidakkah kau takut kalau dia adalah mata-mata atau pembunuh? Bagaimana kalau kau sampai jatuh ke genggamannya? Bukankah itu sangat mengerikan?” celetuk Xin Ru dengan imajinasinya yang bukan-bukan mengenai Shuwan.
“Aku merasa Shuwan bukanlah mata-mata. Sorot matanya terlihat polos, dan dingin. Aku tidak tahu apa yang telah dia alami. Tapi aku benar-benar yakin kalau dia adalah wanita baik-baik.”
“Hah... Kalau begitu terserah padamu. Yang penting aku sudah melaksanakan tugasku.”
“Em... Xin Ru. Menurutmu bagaimana aku akan mengundang Shuwan agar datang menemuiku? Aku sangat ingin kabur, hanya belum menemukan celahnya. Ayah terus saja melimpahkan laporan yang menyebalkan ini.”
Xin Ru terdiam. Kedua tangannya dilipat ke depan dada. Kakinya pun mengiringi jalan pikirannya, mondar-mandir di hadapan Zhi Qiang.
Setelah mondar-mandir hampir sepuluh kali, Xin Ru menghentikan langkahnya. Tampaknya, ia sudah memiliki ide untuk diutarakan.
“Yang Mulia, bagaimana kalau kita mengajaknya bergabung dalam festival lampion peringatan hari jadi Negeri Awan?”
Sejenak Zhi Qiang terdiam. Ia sedang mempertimbangkan ide dari Xin Ru. “Em... Aku rasa itu ide yang bagus. Festivalnya akan diadakan pekan depan. Tapi, bukankah itu terlalu lama?”
“Haish... Kau benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengannya?”
Zhi Qiang mengangguk. “Aku ingin berbincang banyak dengannya,” imbuh Zhi Qiang.
“Kalau begitu, bukannya kau bisa mengundangnya secara pribadi dengan datang ke kediaman alkemis Luo Shu?”
Zhi Qiang menggeleng, ia teringat bagaimana hubungan ayahnya dengan alkemis yang terkenal sakti itu. “Xin Ru, kau kan tahu bagaimana hubungan ayah dengan pak tua itu. Aku takut kalau nekat ke sana, belum memasuki rumahnya aku sudah tewas diracunnya.”
“Oh, Yang Mulia ku, kau kan tidak harus pergi langsung. Berikan saja pada pengawal. Lalu selipkan maksudmu. Ajaklah dia mempersiapkan festival. Anggap saja sebagai perwakilan dari kalangan alkemis. Bukankah Luo Shu adalah mantan ketua persatuan alkemis di negeri ini?”
__ADS_1
“Kau benar! Tidak sia-sia aku membiarkanmu berada di sisiku selama ini,” puji Zhi Qiang.
“Tentu saja. Aku adalah pengawal bayangan yang cerdas dan tangguh. Bisa menyelesaikan misi seperti apa pu,” ucap Xin Ru dengan percaya dirinya.