
Sebentar lagi akan memasuki gurun. Entah kenapa aku merasa sedikit khawatir. Semoga saja tidak terjadi sesuatu saat melintasi gurun ini. Batin Shuwan sembari memandangi gurun yang akan mereka lewati dari kejauhan.
“Kita akan melewati gurun, kira-kira apa yang harus kita persiapkan?” Tanya Jiao penasaran.
“Tentu saja kita harus memiliki persediaan air yang mencukupi. Gurun merupakan tempat yang panas dan gersang, jika tidak punya persediaan air yang memadai kita bisa kehilangan banyak cairan hingga dehidrasi,” terang Zhang.
“Bagaimana kita akan melindungi mata kita dari pasir yang kemungkinan beterbangan ditiup angin?” Yu Hao bertanya untuk memperjelas.
Shuwan kemudian menyela, “Soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku sudah membawa pelindung mata untuk kita semua. Selain itu, kalian harus menyiapkan selendang atau kain untuk menutupi hidung dan mulut kalian agar tidak menghirup pasir.”
Shuwan kemudian mengeluarkan kacamata yang ia bawa sebelum menjalankan misi. Jiao kemudian bertanya, “Benda apa ini? Aku belum pernah melihatnya.”
Yu Hao pun menambahi, “Benar. Benda ini terlihat sedikit aneh.”
“Pfft...” Shuwan tertawa. “Benda ini disebut dengan kacamata. Benda ini sangat langka karena hanya bisa ditemukan disebuah tempat yang sangat jauh dari sini,” terang Shuwan agar tidak membuat teman-temannya curiga.
“Begitu rupanya. Pantas saja terlihat aneh,” ucap Jiao.
Shuwan kemudian memasangkan kacamata itu pada teman-temannya. Anehnya dia merasa kalau Zhang seperti sudah mengerti benda ini. Zhang tidak bertanya apapun tentang kacamata ini. Apakah dia menyadari sesuatu? Tanya batin Shuwan.
“Oh, iya! Bagaimana dengan kuda yang kita tunggangi? Apakah kita akan membawanya melintasi gurun?” tanya Yu Hao.
“Aku rasa kita tidak bisa membawanya lagi. Kita tidak punya cukup tempat untuk menampung air. Takutnya mereka akan mati karena kehausan saat berada di tengah gurun,” ucap Zhang menanggapi pertanyaan Yu Hao.
“Perkataanmu masuk akal. Jadi, kita akan membiarkannya di sini?” kata Yu Hao.
“Benar. Kita lepaskan mereka di sini. Jika kita mengikatnya khawatir mereka juga akan mati karena kelaparan. Untuk itu, kita lepaskan saja mereka sehingga mereka bebas berkeliaran mencari makan dan bertahan hidup,” terang Zhang.
Akhirnya mereka pun melepaskan kuda yang selama ini sudah membersamai mereka melakukan perjalanan.
“Nah... Sekarang kamu bebas. Terima kasih sudah menemani perjalanan kami,” kata Zhang sembari mengelus kepala kuda yang ia lepaskan.
Setelah terlepas dari ikatan, kedua kuda itu berlari bebas masuk kembali ke dalam hutan.
Masalah pertama sudah terselesaikan. Tapi masalah selanjutnya adalah bagaimana mereka bisa menentukan arah saat sedang melintasi gurun.
Kita tidak punya kompas, aku tidak membawanya juga. Aih... Bagaimana bisa aku seceroboh ini? Batin Shuwan dipenuhi dengan rasa khawatir. Shuwan mulai membuka suara, “Ehem... Anu... Bagaimana kita akan mengenali arah yang kita tuju? Sedangkan kita tidak punya alat penunjuk arah.”
“Kita bisa menggunakan bintang sebagai petunjuk arah. Aku pernah mempelajarinya di sekolah,” ucap Zhang.
__ADS_1
“Aku pernah mendengarnya, jika bintang di langit bisa menunjukkan arah yang kita tuju,” Shuwan menyela.
“Kalau begitu, apakah kita harus menunggu sampai malam agar bisa mendapatkan bintang itu?” Jiao bertanya dengan rasa penuh penasaran.
Yu Hao pun menyela, “Tapi kita tidak punya cukup penerangan jika melintasi gurun tengah malam.”
Zhang pun terdiam, begitu juga dengan Shuwan.
Biar pun aku sudah menjalani banyak misi, tapi aku tidak pernah melintasi gurun. Bagaimana aku bisa mengerti hal semacam ini? Aku jadi semakin khawatir. Batin Shuwan.
“Kalau begitu kita akan berjalan dari sekarang, setidaknya kita bisa mencapai seperempat perjalanan. Selain itu, kita bisa menggunakan kain panjang untuk mengikat tangan kita agar tidak terpisah dan bisa merasakan keberadaan kita masing-masing,” ucap Zhang memecah keheningan.
Shuwan mengeluarkan kain panjang miliknya, meski tidak sepanjang seperti awalnya karena sudah pernah terpotong ketika melintasi Lembah Putus Asa (episode 11). Mereka saling mengikatkan kain itu ditangannya masing-masing. Tidak lupa mereka juga mengenakan cadar untuk menutupi hidung dan telinga mereka agar tidak kemasukan pasir. Setelah selesai, mereka kembali bersiap dan bergegas menuju gurun.
“Biarpun sekarang masih memasuki musim semi, tapi gurun tetaplah sebuah gurun. Sangat panas, gersang, dan juga tandus. Baru saja kita memasukinya, tapi rasanya kaki ini mulai berat untuk melangkah,” keluh Zhang. “Jika kalian merasa lelah, katakan saja. Kita bisa beristirahat sejenak,” ucap Zhang menenangkan situasi.
Setelah berjalan cukup lama, mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Minum, dan memakan sedikit kudapan yang dibawa.
Kalau begini kulitku bisa terbakar hangus. Sial! Seandainya aku membawa tabir surya. Batin Shuwan kesal.
“Gurun ini tampak begitu luas. Berapa lama agar kita bisa melewatinya?” ucap Jiao.
“Apa?” Yu Hao kaget. Ia pun menghempaskan tubuhnya ke atas pasir gurun, seraya mengatakan, “Jika begini terus aku bisa mati.”
“Aku rasa orang sepertimu tidak akan mati dengan mudah,” kata Jiao tertawa melihat Yu Hao yang nyaris putus asa. “Tapi, apakah persediaan makan dan minum kita cukup untuk beberapa hari kedepan?” Sambung Jiao cemas.
“Ini yang juga aku khawatirkan,” celetuk Shuwan. “Kita harus berhemat agar cukup,” sambungnya lagi.
“Kalau begitu, kita hanya akan minum satu tegukan ketika istirahat. Biar bagaimana pun perjalanan kita belum sampai setengahnya,” ujar Zhang.
“Ha-hanya satu tegukan?” Yu Hao terbata sembari membangkitkan tubuhnya yang sedari tadi terlentang di atas pasir.
Shuwan, Zhang, dan Jiao pun mengangguk.
“Ah... Tidak... Aku akan benar-benar mati kali ini,” ucap Yu Hao dengan mimik putus asa.
Zhang bangkit dari duduknya, “Nah... Karena sudah beristirahat, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan,” ajak Zhang.
Mereka yang masih terduduk beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan.
__ADS_1
Hari menjadi semakin terik di gurun, hingga tidak di sangka angin besar menghampiri mereka dengan membawa partikel debu yang bisa mengiritasi mata. Untungnya mereka dilindungi oleh kacamata milik Shuwan.
Tidak terasa matahari akan segera pergi dari posisinya, digantikan malam. Namun siapa menduga, bahwa Shuwan dan teman-temannya dihadang oleh badai yang melanda gurun itu.
“A-apa itu di depan sana?” tanya Jiao panik.
“Gawat! Sepertinya badai akan melintas ke sini,” kata Zhang yang juga menjadi panik. “Kita harus saling bergandengan dan bersujud, agar tubuh kita tidak terseret dan terhempas oleh badai pasir ini."
Mereka pun bertahan menghadapi badai pasir itu. Namun, badai itu seperti tidak berkesudahan, dan membuat mereka semakin panik. “Bagaimana ini? Badainya tidak kunjung berakhir. Kita bisa terkubur oleh pasir,” kata Jiao yang suaranya menjadi gemetaran karena takut.
“Zhang bagaimana ini?” Tanya Shuwan yang juga mulai merasa terancam. Zhang hanya menggenggam erat tangan Shuwan.
“Kau janngan takut, ada aku dan yang lainnya di sini. Kau tidak sendirian,” ucap Zhang setengah berteriak.
Firasatku benar. Padahal dalam buku itu tidak ada badai pasir. Bagaimana bisa sekarang seperti ini? Apakah jalan ceritanya benar-benar telah berubah? Batin Shuwan bergejolak di tengah hempasan badai pasir.
“Karena badai ini sepertinya akan berlangsung lama, bagaimana jika kita berjalan melawan badainya?” Kata Zhang meminta pendapat pada teman-temannya. “Mungkin akan lebih baik begitu. Aku takut jika kita hanya menunggu, kita bisa terkubur pasir gurun ini,” sahut Yu Hao.
Mereka berempat pun saling bergandengan tangan dan menggenggamnya dengan erat. Zhang yang membawa tongkat panjang berjalan di depan untuk menahan dan memandu jalan.
Saat melangkah, kaki mereka terasa begitu berat karena melawan arah angin badai. Pasir-pasir beterbangan dan mengaburkan pandangan mereka. Tubuh mereka pun melemah karena lelah, Jiao yang berjalan paling belakang pun terjatuh karena kelelahan.
“Jiao! Bertahanlah. Ini minumlah...” Seru Shuwan sambil memberikan botol minum pada Jiao.
“Aku sangat lelah, benar-benar lelah,” ucap Jiao.
Shuwan, Zhang, dan Yu Hao hanya saling memandang. Mereka pun tidak tahu harus bagaimana.
Tidak habis di sana rintangan mereka. Tepat dibelakang Jiao tiba-tiba muncul pasir isap. Sontak tubuh Jiao tertarik oleh pasir itu. “Aaaahhh... Tolong aku!” teriak Jiao.
“Jiao! Bertahanlah, kami akan menarikmu!” Seru Yu Hao.
Gaya tarik pasir isap itu begitu kuat, hingga membuat Shuwan dan yang lainnya juga terseret masuk ke dalam pasir.
“Aaaahhh....”
Mereka berteriak dengan begitu kerasnya karena tarikan itu.
Apakah ini akhir dari kisah perjalananku? Kakak, Kakek, maaf... Batin Shuwan sedih.
__ADS_1
Mereka pun tenggelam ke dalam pasir dan terjatuh di suatu tempat yang begitu asing, gelap, dan hening. Semuanya berada dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat masuk ke dalam pasir isap itu.