
Keesokan harinya, kediaman putra mahkota ternyata sudah menyediakan seperangkat perlengkapan untuk menjamu di atas sebuah pendopo yang ada di atas sebuah kolam.
Terlihat Zhi Qiang ditemani Xin Ru sudah menunggu dengan antusias di sana. Tak berapa lama kemudian, Zhang dan Yu Hao tiba.
“Salam, Yang Mulia,” sapa keduanya.
Putra mahkota mengangguk seraya tersenyum. Ia lalu mempersilakan kedua tamunya itu untuk duduk.
Seorang pelayan yang masih di sana pun bergegas menuangkan teh ke dalam cawan yang sudah disediakan sejumlah orang yang duduk.
Begitu selesai, putra mahkota pun meminta pelayan itu pergi.
“Maaf karena merepotkan kalian untuk datang menemuiku,” kata putra mahkota.
Zhang lalu tersenyum, “Anda tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan kami. Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami.”
“Benar, Yang Mulia. Itu merupakan sebuah kehormatan bagi orang biasa seperti kami,” imbuh Yu Hao.
“Baiklah. Kalau begitu, silakan nikmati tehnya dahulu.”
Mereka bertiga pun meminum tehnya masing-masing.
“Ah... Teh ini benar-benar menyegarkan,” kata putra mahkota memuji tehnya. “Bagaimana, apakah kalian juga menyukai tehnya?”
“Ya, Yang Mulia. Teh ini sangat enak. Aromanya benar-benar bisa membuat pikiran menjadi tenang,” jawab Zhang.
“Syukurlah kalau kalian menyukainya.” Putra mahkota berpikir sejenak, sebelum ia kembali melanjutkan perbincangan. “Em... Rencananya kalian akan menetap berapa lama di sini?”
Zhang langsung menanggapinya, “Kalau hamba sendiri belum bisa memastikan. Kalau Yu Hao mungkin dia akan menetap di sini.”
Putra mahkota mengangguk. “Kau jangan terlalu formal padaku. Yah, panggil saja aku Zhi Qiang. Aku merasa seperti terlalu tinggi jika kalian terus menghamba seperti itu.”
“Baiklah, kami akan memanggil namamu saat hanya kita bertiga saja,” Yu Hao mengusulkan.
Zhi Qiang tersenyum.
Mereka bertiga pun mendiskusikan mengenai konsep acara peringatan hari jadi Negeri Awan. Beberapa hal masih sama seperti yang lainnya, hanya ada sedikit perubahan mengenai tambahan membagikan manisan kepada penduduk.
Setelah selesai berdiskusi, putra mahkota pun pergi terlebih dahulu. Ia berpamitan pada Zhang dan Yu Hao. Ia langsung menuju ke meja belajar yang ada di kamarnya.
Diambilnya secarik kertas dan juga kuas untuk menulis.
Sebelum menggoreskan kuas di atas kertas, ia pun bertanya pada Xin Ru.
“Xin Ru, menurutmu apakah aku harus menggunakan nama putra mahkota atau penjaga perpustakaan untuk nama pengirim?”
Xin Ru mengedarkan netranya. Ia juga berusaha mempertimbangkan apa yang terbaik.
“Hm... Bagaimana ya? Jika kau menggunakan nama penjaga perpus, itu akan terlihat seperti undangan tidak resmi. Tapi, jika kau menggunakan nama putra mahkota, penyamaranmu bisa terbongkar.”
Zhi Qiang melipat tangan kirinya ke atas meja, menjadi penyangga dagunya.
“Hal itu juga yang terlintas di kepalaku. Jadi, bagaimana sebaiknya?”
Xin Ru memulai kebiasaannya. Mondar-mandir ketika sedang berpikir. Setelah cukup lama mondar mandir di depan Zhi Qiang, Xin Ru akhirnya mendapat ide. Ia lalu menghadapkan tubuhnya lurus ke arah pangeran.
“Hm... Bagaimana kalau kau membuat dua jenis surat?”
Zhi Qiang membenarkan posisi kepalanya. Ia kembali menegakkan kepalanya dari posisi menyandar di tangan.
“Em... Maksudnya?”
“Begini, kau buat satu surat sebagai undangan resmi atas nama putra mahkota. Lalu, buat lagi satu surat biasa sebagai undangan yang mengatakan bahwa kau ingin mengundangnya juga untuk menjadi panitia di sana. Bagaimana?”
“Selain itu, agar tidak curiga, buatlah keduanya dengan tulisan tangan yang berbeda. Supaya dia tidak curiga,” sambung Xin Ru.
Zhi Qiang tersenyum sampai terlihat giginya. Ia lalu menjentikkan jarinya.
“Itu ide yang cemerlang. Kau benar-benar bisa di andalkan,” kata Zhi Qiang seraya mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Xin Ru meletakkan kedua tangannya di pinggang, dan berbicara dengan sangat percaya diri. “Tentu saja. Aku memang pengawal yang paling hebat.”
“Ah... Aku benar-benar tidak bisa melawan kecerdasanmu yang bersinar terang itu.”
Tawa mereka berdua pun pecah. Keduanya memang suka bercanda, sehingga tidak terlihat seperti bawahan dengan tuannya, melainkan kakak dan juga adik.
***
Di kediaman Luo Shu.
“Shuwan... Shuwan... Apa yang kau lakukan di kamar?” teriak Jiao dari balik pintu.
“Buk saja pintunya , Jiao,” sahut Shuwan.
Jiao pun masuk ke kamar Shuwan, dan ia sudah mendapati Shuwan yang tengah mengasah pedangnya di kamar.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jiao.
“Kau pasti sudah lihat kan? Aku sedang mengasah pedangku?”
“Kau mengasah pedang seolah akan kembali berperang. Aku rasa tidak akan terjadi apa-apa di sini. Bukankah negeri ini terkenal aman?”
“Tidak ada salahnya berjaga-jaga. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.”
Jiao mengangguk. Ia kembali memperhatikan Shuwan mengasah pedangnya, dan melihat gelinangan air bekas asahan pedang itu.
Seketika wajah Jiao menghitam. “Shuwan... Apakah kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan?”
Shuwan menghentikan aktivitasnya, dipandanginya Jiao.
“Hah, apa maksudmu?”
Jiao membuang napasnya, “Coba lihat genangan air ini! Apakah seperti ini kamar anak perempuan?”
“A-ah... Aku...”
“Nona Shuan!” panggilnya di depan pintu kamar yang terbuka.
“Ya?” Shuwan segera mengalihkan pandangannya.
Pelayan perempuan itu pun masuk dengan membawa dua buah gulungan.
“Nona, ini ada surat untukmu dari istana.”
Pelayan itu menyerahkan gulungan surat kepada Shuwan.
“Surat dari istana? Sejak kapan aku jadi orang penting yang menerima undangan dari istana?” Shuwan tercekat.
Ia menerima dan langsung membuka isi suratnya.
Rupanya dia. Batin Shuwan setelah melihat siapa pengirimnya.
Untuk nona yang cantik seperti angsa hitam....
Shuwan terkekeh membaca surat pribadi itu. Nona angsa hitam? Kenapa orang itu memanggilku seperti itu?
Ia pun kembali melanjutkan membaca surat itu.
Aku bermaksud mengajakmu untuk turut serta membantuku dalam persiapan perayaan hari jadi Negeri Awan. Jadi, bisakah besok kau menemuiku untuk membahasnya? Anggap ini sebagai balas budimu atas pertolonganmu padaku.
Semoga kau berkenan untuk datang. Aku akan menunggumu balasanmu.
Tertanda... Penjaga perpustakaan yang tampan dan menawan...
Cih... Narsis sekali dia? Tampan dan rupawan? Hm... Batin Shuwan setelah selesai membaca surat itu.
“Siapa pengirimnya Shuwan? Sampai bisa membuatmu tersenyum-senyum seperti itu ketika membacanya? Apakah dia kekasih yang baru saja kau temui?” tanya Jiao.
Shuwan tertawa kecil. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Jiao. Kemarin aku bertemu dengan seseorang dari istana ketika di pasar. Dia membantuku, jadi aku berhutang budi padanya. Sekarang dia meminta bantuanku, tentu saja aku harus membantunya juga bukan?”
__ADS_1
“Oh... Begitu rupanya. Lalu apa isi suratnya?” Jiao penasaran.
“Ini adalah undangan untuk membantu pihak istana mempersiapkan acara perayaan hari jadi Negeri Awan.”
“Perayaan hari jadi? Bukankah itu sangat keren?”
Shuwan menggulung kembali surat itu.
“Kau benar. Tapi, kita harus menanyakannya pada Tuan Shu, apakah dia akan mengizinkan kita pergi atau tidak. Biar bagaimana pun, ini menyangkut persatuan alkemis di sini.”
“Kau benar. Kita tidak bisa pergi begitu saja. Semua ini juga butuh izin darinya.”
“Kalau begitu, di mana dia sekarang?”
“Dia sedang keluar. Kemungkinan petang nanti baru kembali,” kata Jiao.
Shuwan mengangguk, “Baiklah. Kita akan berbicara dengannya ketika dia pulang nanti.”
***
“Zhang, apakah keputusan membantu putra mahkota ini adalah pilihan yang benar?” tanya Yu Hao.
“Kenapa? Apa kau jadi ragu?”
“Entahlah... Aku punya sebuah firasat, kalau sesuatu akan terjadi.”
“Sudahlah. Tenangkan dirimu. Kita akan di sini hanya sampai pekan depan.”
“Hah... Tapi kenapa rasanya sangat lama ya? Apakah karena tidak ada Shuwan dan Jiao di sini?”
Zhang lalu memandangi temannya yang duduk bersebarangan dengannya. Pandangannya lalu tertunduk, “Mungkin kau benar.” Zhang menutup buku daftar yang harus disiapkan olehnya dan Yu Hao.
“Em.... Zhang, kita sibuk membantu putra mahkota. Lalu, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Shuwan?”
“Aku akan membantu persiapannya secepat mungkin, dan meminta izin pada putra mahkota.”
“Apakah Shuwan juga tahu tentang acara ini dan rencanamu menikahinya? Jika dihitung, bukankah itu akan berbenturan dengan festival?”
“Aku belum memberitahukan rencana pernikahan ini padanya.”
Yu Hao pun tersedak ludahnya sendiri. “A-apa? Bagaimana mungkin kau belum memberitahunya?” Mata Yu Hao seketika membulat sempurna, seperti mengingat sesuatu. “Jangan bilang kalau kau akan melakukan pernikahan secara sepihak?”
Tatapan Zhang berubah menjadi dingin. Ia diam tanpa eskpresi. Perlahan ia membuang napasnya, dan bersiap berbicara.
“Ya, aku akan melakukannya, Yu Hao. Aku memang melakukan pernikahan sepihak dengannya.”
Yu Hao membuang napasnya. Ia memijit-mijit keningnya. Tampak kekhawatiran membayang di wajah Yu Hao.
“Apakah kau yakin? Bagaimana kalau dia malah jadi membencimu karena melakukan sesuatu yang menyangkutnya tanpa pertimbangan darinya sendiri?”
Zhang lagi-lagi terdiam. Tampaknya, ia masih seperti mempertahankan prinsipnya.
“Kalau dia pergi, menurutmu aku harus bagaimana? Aku hanya ingin dia menjadi milikku, Yu Hao.”
Yu Hao membuang napasnya. Kembali ia berusaha agar Zhang mempertimbangkan keputusannya. “Zhang, aku harap kau memikirkannya kembali. Selama ini aku setuju dengan beberapa ide darimu, tapi kalau seperti ini, aku sendiri tidak bisa membayangkannya.”
Yu Hao membalikkan tubuhnya. Kini ia memunggungi Zhang yang masih tertunduk dingin.
“Aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi mengikatnya dengan alasan pernikahan sepihak, apakah itu benar yang dikatakan cinta? Aku rasa kau lebih paham dengan apa yang kumaksudkan bukan?”
Zhang masih tidak bergeming. Hatinya merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan Yu Hao.
Apakah benar yang akan kulakukan?
Yu Hao kembali membalik tubuhnya, dan memandangi Zhang yang masih diam tanpa kata.
Zhang, aku memang ingin melihatmu bahagia dengan Shuwan. Tapi, jika kau melakukannya dengan pernikahan sepihak, aku takut hanya ada kebencian yang Shuwan miliki untukmu.
Aku hanya ingin kau dan Shuwan hidup dengan bahagia dan saling mencintai. Bukan dalam ikatan paksa yang hanya ada amarah, ego sesaat, dan kebencian.
__ADS_1