1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Misteri Penduduk yang Hilang


__ADS_3

Perjalanan Shuwan, Jiao, dan juga Zhang beberapa hari ini berjalan tanpa ada halangan yang berarti, hingga akhirnya mereka bertemu dengan seorang gadis kecil yang sedang menimba di sumur tua yang ada di dalam hutan.


“Kenapa seorang gadis kecil harus menimba air di tengah hutan seperti ini?” ucap Jiao sambil menghentikan kudanya.


Zhang menghentikan kudanya dan mendekati anak perempuan itu, ia bertanya, “Adik kecil, kenapa kau menimba di sini sendirian?”


Nampak anak itu sedikit ketakutan karena bertemu asing. Ia menjawab pertanyaan Zhang dengan terbata, “A-aku hanya... Aku hanya ingin mebantu nenek di rumah, ia sudah tua untuk melakukan pekerjaan ini. Lagi pula jarak yang ditempuh juga cukup jauh dari rumah.”


Gadis itu tertunduk dengan wajah sayu setelah mencerikan neneknya.


Zhang kembali bertanya, “Memangnya di mana rumahmu, Dik?”


“Di Desa Tianyu, cukup jauh dari sini jika berjalan kaki,” ucap anak itu.


Shuwan dan Jiao pun turun dari kuda. Mereka mendekati anak itu dan juga Zhang yang sedang berbincang. Jiao kemudian bertanya pada anak itu dengan nada lembut, “Lalu, kamu ke sini naik apa?”


Anak itu menjawab pertanyaan Jiao dengan wajah polos sembari tersenyum, “Berjalan kaki.. Aku sudah terbiasa melakukan ini. Setiap hari aku selalu mengambil air di sini.”


“Kau berjalan kaki sambil membawa kendi air ini?” tanya Zhang kaget.


Anak itu pun hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Zhang. Ia kemudian kembali berkata, “Sepertinya kakak-kakak sekalian tidak berasal dari sini? Kalian mau pergi ke mana?”


Zhang yang kemudian menjawab pertanyaan anak itu. Ia mengatakan, “Kau benar. Kami memang tidak berasal dari sini. Kami hanyalah pengelana yang kebetulan lewat. Oh, iya, apa boleh kami mengantarkanmu ke rumah? Kebetulan kami juga ingin bertemu dengan nenekmu, boleh ‘kan?”


“Tentu saja.” Anak itu segera menuangkan air ke dalam kendi dan menyelesaikan pekerjaannya.


Anak itu naik kuda bersama Jiao, sedangkan Shuwan naik kuda bersama Zhang membawa kendi berisi air meskipun mereka belum sepenuhnya berbaikan.


Setelah sampai di gerbang desa, Shuwan, Jiao, dan Zhang terkejut karena melihat desa seperti mengalami kekeringan, hingga Shuwan pun berkata, “Sekarang sedang musim semi, bagaimana di sini begitu kering seperti mengalami kemarau?”


“Ini sudah terjadi semenjak 3 tahun yang lalu. Sumber air yang selama ini mengalir di desa tidak mengalir lagi, sehingga desa mengalami kekeringan seperti yang kakak-kakak lihat sekarang ini. Untuk kebutuhan sehari-hari warga yang mampu akan membeli air dari saudagar yang menjual air di desa ini. Sedangkan kami yang miskin dan tidak mampu membeli air hanya bisa bergantung dengan sumur yang ada di hutan itu,” ucap anak itu.


Shuwan hanya melamun, ketika mereka melewati sungai yang mengering ia pun bertanya kembali, “Apakah warga di sini tidak mencoba memeriksa hulu sungai? Barangkali ada yang menyumbat aliran air di sini.”


“Orang-orang yang mencoba memeriksa hulu sungai sampai sekarang belum ada yang pernah kembali. Nenek dan para warga mengatakan kalau di sana ada hantu yang menculik para warga, termasuk ayahku. Jadi, sekarang tidak ada lagi orang yang berani ke sana.”


Shuwan pun kaget mendengar ayah anak itu juga menjadi korban.


“Hantu?" kata Shuwan seakan tidak percaya.


“Kepala desa yang mengatakannya. Dia bilang dia menyaksikan dengan matanya sendiri kalau hantu itu mengeluarkan sihir yang dapat membuat warga pingsan lalu menyeretnya ke tengah kabut dan menghilang tanpa jejak.”


“Apakah kalian tidak berpikir ini aneh? Sungai yang mengering dan tiba-tiba ada saudagar kaya yang menjual air,” kata Shuwan kepada kedua temannya.


Zhang pun menanggapi, “Kau benar! Ada yang tidak beres dengan desa ini.”


Shuwan masih mencoba menerka masalah yang di alami desa ini, hingga mereka sampai di kediaman anak itu.


“Nenek... Aku pulang...” teriak anak itu dari depan pintu rumah.


“Iya, Niu,” ucap seorang wanita tua yang keluar dari dalam rumah. Nenek itu pun terkejut mendapati cucunya membawa 3 orang asing ke rumahnya, ia kemudian bertanya pada cucunya, “Niu, siapakah orang-orang yang bersamamu ini?”


“Nenek mereka adalah pengelana yang kebetulan lewat desa ini, dan katanya mereka ingin bertemu nenek.”


“Begitu rupanya, kalau begitu ayo masuk dahulu,” ajak nenek Niu.


Shuwan, Jiao dan Zhang pun dipersilakan duduk di ruang depan. Kemudian nenek itu memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya, “Perkenalkan, aku Fang Wei, panggil saja Nenek Wei. Lalu anak ini adalah cucuku, Fang Niu.”

__ADS_1


“Namaku Zhang, yang ini adalah Shuwan, dan Jiao. Kami adalah pengelana yang kebetulan melintasi desa ini,” jawab Zhang sambil memperkenalkan diri.


Ia kembali menyambung perkataannya, “Ngomong-ngomong apakah kalian hanya tinggal berdua di sini?”


Nenek itu mengangguk dengan wajah yang sedikit sendu. Ia lalu berkata, “Kami hanya tinggal berdua di rumah ini, ibunya meninggal saat melahirkan Niu. Sedangkan ayahnya, tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang setelah menghilang ketika memeriksa hulu sungai 3 tahun yang lalu.”


Shuwan kemudian angkat bicara, “Kami sudah mendengar permasalahan desa ini dari Niu. Kalau diizinkan, kami akan mencoba menyelidiki permasalahan ini dan mencari penyelesaiannya.”


“Tapi, siapa saja yang mencoba berurusan dengan masalah ini bisa saja celaka. Seperti saat ini tidak ada yang berubah situasinya,” ucap nenek Wei khawatir.


Zhang mencoba meyakinkan Nenek Niu dengan berkata, “Jangan khawatir, Nek. Kami pasti akan menyelesaikan permasalahan ini.”


“Em.. Baiklah, tapi kalian harus berhati-hati.”


Mereka memulai penyelidikan dengan menanyakan tentang saudagar kaya yang menjual air kepada warga, Shuwan pun bertanya, “Nek, bisakah Anda menceritakan tentang saudagar kaya yang menjual air itu?”


“Aku juga tidak tahu pasti latar belakang saudagar itu, tapi yang jelas kekeringan yang melanda desa ini terjadi tepat setelah kedatangannya. Sejak awal sebenarnya aku sempat mencurigainya kalau saudagar itu ada kaitannya dengan kekeringan dan menghilangnya warga.”


“Aku juga merasa demikian, apa mungkin benar dia yang melakukannya?” sambung Zhang.


Jiao pun memasuki pembicaraan, “Aku rasa juga begitu, hanya saja kita tidak punya bukti kalau benar dialah pelakunya.”


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, Shuwan, Zhang dan Jiao yang kelelahan pun memutuskan untuk memeriksa hulu sungai esok pagi. Mereka beristirahat di rumah Nenek Wei untuk semenatara waktu hingga masalah terpecahkan.


Keesokan paginya, Shuwan, Jiao, dan Zhang menuju ke hulu sungai.


Setibanya di sana, Zhang berjalan terlebih dahulu untuk memberikan umpan. Sedangkan Shuwan dan Jiao bersembunyi dibalik semak untuk mengintai.


Mereka mendapati bahwa hulu sungai telah di bendung, dan aliran airnya diubah sehingga sungai yang mengarah ke desa tidak mengalir.


“Ternyata sungai ini telah dibendung. Orang-orang itu mencari keuntungan di atas penderitaan warga desa. Keterlaluan!” ucap Shuwan dari balik semak.


Setelah Zhang sampai di tepi hulu, munculah sosok yang menggunakan jubah hitam memakai topeng kabuki, sehingga identitasnya tidak terlihat. Ia menghalangi langkah Zhang, “Seharusnya kau tidak ikut campur masalah yang ada di desa ini.”


Dengan tenang Zhang berkata, “Kalau aku tidak ikut campur, warga desa ini hanya akan terus menderita karena ketamakan kalian.”


“Karena itu adalah pilihanmu, maka terimalah konsekuensinya!”


Sosok bertopeng itu menyerang Zhang dengan tiba-tiba, namun sesuai rencana ia pura-pura lumpuh oleh serangannya.


Zhang pun dibawa kesuatu tempat, Shuwan dan Jiao pun mengikuti sosok bertopeng kabuki itu agar mengetahui lokasi persembunyiannya.


Setelah mengikuti orang bertopeng itu, mereka sampai di sebuah tempat pengasingan yang yang terlihat seperti rumah terbengkalai.


“Ternyata ada tempat seperti ini di sini,” kata Jiao.


“Banyak orang yang berjaga, kita akan coba menerobos masuk setelah obat bius yang kuberikan pada Zhang bekerja,” ucap Shuwan pada Jiao.


Jiao pun mengangguk.


Setelah Zhang dibawa masuk ke dalam tempat itu, ia membuka botol obat bius yang diberikan Shuwan dan menaburkannya. Shuwan dan Jiao yang berada di balik semak pun bersiap dengan menggunakan penutup wajah.


Para penjaga pun merasa pusing terkena efek obat bius. Shuwan dan Jiao menyerang penjaga yang sempoyongan itu hingga pingsan. Mereka kemudian mengikatnya agar saat sadar para penjaga tidak lari.


Zhang yang lebih dulu masuk pun melihat sel yang berisi para warga yang telah hilang selama ini. Saat ia akan di masukkan ke dalam sel, ia pun memberontak dan melawan orang bertopeng itu. Alhasil orang bertopeng itu pun tumbang oleh serangan Zhang.


Zhang kemudian mengambil kunci-kunci sel yang dibawa oleh pria bertopeng itu dan membebaskan warga yang menjadi tahanan, mereka pun berterima kasih kepada Zhang.

__ADS_1


“Anak muda, terima kasih karena sudah membebaskan kami,” ucap salah seorang warga.


Zhang tersenyum dan berkata, “Sama-sama. Sekarang ayo kita keluar dari sini sebelum orang-orang yang lain datang.”


“Kalau begitu ayo, kita bawa juga para penjahat ini. Tapi sebaiknya kita lihat dahulu orang yang memakai topeng ini.”


Saat mereka membuka topeng itu, alangkah terkejutnya mereka. Orang yang telah menculik mereka ternyata adalah kepala desa mereka sendiri.


Salah seorang warga berkata, “Tidak kusangka ternyata kepala desa melakukan tindakan tercela seperti ini.”


“Kalau begitu ayo kita bawa para penjahat ini ke desa untuk diadili,” teriak warga yang lain.


Shuwan dan Jiao pun masuk ke dalam bangunan itu. Mereka berdua pun mendapati bahwa Zhang dan para warga baik-baik saja. Shuwan kemudian mendekati Zhang dan para warga. Ia mengeluarkan sebuah surat dengan stempel berlambang bunga Mawar dan bertanya, “Apakah kalian tahu stempel bunga Mawar ini?”


Seorang warga pun menjawabnya dan ternyata itu adalah ayah Niu, Fang Jun. “Itu adalah lambang kediaman tuan Yong, saudagar yang menjual air di desa. Selama ini aku sudah mencurigai mereka. Saat akan membongkarnya, aku justru tertangkap.”


“Jadi selama ini mereka bekerja sama untuk menipu warga?” teriak warga lainnya.


“Kalau begitu ayo kita bawa mereka!”


“Ayo..!”


Akhirnya, Shuwan, Jiao, Zhang dan para warga membawa kepala desa beserta antek-anteknya menuju kediaman saudagar penjual air yang dimaksud.


Ketika sampai di gerbang kediaman, perseteruan antara warga dan penjaga pun terjadi.


Penjaga itu berkata, “Kalian yang tidak berkepentingan lebih baik pergi dari sini atau kami akan mengusir kalian secara paksa!”


Shuwan kemudian maju dan berhadapan dengan para penjaga itu. Ia tersenyum sinis sembari mengeluarkan pedang hitam dari sarungnya dan berkata, “Kalau kalian tidak mau membukakan gerbangnya, pedang hitamku yang mengilap ini akan dengan senang hati menebas tubuh kalian.”


Sontak para penjaga itu ketakutan dan akhirnya membukakan gerbang. Para warga pun menerobos masuk dan menyeret para penjahat yang mereka tangkap itu.


Ketika mereka semua masuk, mereka menyaksikan bahwa saudagar kaya bernama Hu Yong itu sedang menghitung hartanya. Ia pun kaget melihat para warga yang ditangkap dan dikurungnya menerobos masuk ke kediamannya.


“Ka-kalian.. Bagaimana bisa ada di sini?” kata Hu Yong.


Para warga mendorong kepala desa bersama antek-anteknya ke hadapan Hu Yong.


Ayah Niu pun menghadapi Hu Yong dengan berkata, “Tentu saja keajaiban yang membawa kami pulang kembali ke desa kami. Dan, para penjahat seperti kalian pantas untuk dihukum.”


Hu Yong, kepala desa, dan antek-anteknya pun dibawa paksa oleh warga yang lainnya untuk diserahkan ke pengadilan. Mereka pun bersorak gembira karena bisa pulang ke rumah.


Tiba-tiba Shuwan pun berteriak, “Masalah ini belum selesai sepenuhnya. Kita belum menghancurkan bendungan yang menghalangi air masuk ke desa. Jadi, ayo tuntaskan yang belum selesai.”


Shuwan, Jiao, dan Zhang beserta warga kembali ke sungai. Mereka menghancurkan bendungan menggunakan bahan peledak. Air pun telah kembali mengalir ke sungai.


Tidak terasa senja sudah tiba, Shuwan beserta rombongan pulang kembali ke desa. Para warga yang lain sudah menanti kedatangan rombongan yang menghancurkan bendungan di gerbang desa.


Niu yang melihat ayahnya kembali dengan selamat pun menangis sambil memeluk ayahnya. Di sana juga para warga yang bertemu keluarganya kembali saling berpelukan dan melepaskan kerinduan.


Malam harinya, para warga mengadakan rapat terbuka dan menyetujui bahwa ayah Niu, Fang Jun diangkat menjadi kepala desa yang baru. Selain itu, mereka juga berterima kasih kepada Shuwan, Jiao, dan Zhang karena sudah membantu menyelesaikan permasalahan di desa mereka.


Masalah di desa ini pun sudah terselesaikan. Karena sudah larut malam, Shuwan, Jiao, dan Zhang memutuskan untuk bermalam di desa itu lagi, dan melanjutkan perjalanan esok hari.


Hingga keesokannya pagi pun tiba, Shuwan, Jiao, dan Zhang sudah bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Mereka pun berpamitan pada warga. Niu memberikan kenang-kenangan kepada mereka bertiga berupa gelang tangan yang terbuat dari kayu Cendana.


“Terima kasih karena kakak-kakak sudah menyelamatkan desa ini, dan mengembalikan ayahku. Semoga kalian semua dilindungi dan diberikan kesehatan sampai ke tempat tujuan.”

__ADS_1


Zhang tersenyum, ia mengelus kepala Niu seraya berkata, “Terima kasih untuk hadiahnya. Suatu hari nanti, kamu pasti akan tumbuh menjadi perempuan yang hebat.”


Akhirnya Shuwan, Jiao, dan Zhang pergi meninggalkan desa. Warga Desa Tianyu pun memulai kembali kehidupan barunya dan hidup dengan damai.


__ADS_2