1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Brengsek!


__ADS_3

Zhang yang telah pergi dari ruang belajar Luo Shu pun kembali ke ruang tengah. Tempat Yu Hao dan Jiao menunggu. Ia lalu mendekati mereka yang tampaknya sudah sangat lelah. “Malam ini aku ingin tidur dengan Shuwan.”


Jiao dan Yu Hao kaget bukan kepalang.


“T-tidur bersama? Hei, kenapa kau mau melakukan tindakan mesum saat ia sedang terlelap?” Jiao curiga.


“Aku ingin menjaganya. Lagi pula, kau dan Yu Hao tampak terlalu lelah. Jadi, serahkan urusan ini padaku.”


“T-tapi...”


Yu Hao membekap mulut Jiao. Ia lalu tersenyum pada Zhang. “Jika kau ingin tidur dengannya, maka tidurlah. Aku dan Jiao akan istirahat.”


Zhang lalu tersenyum. Ia lalu pergi masuk ke kamar Shuwan, dan menutup pintunya.


Sementara itu, Jiao menggigit tangan Yu Hao yang membekapnya.


“Aduh!” Yu Hao melepas tangannya dari mulut Jiao dan mengerang kesakitan.


“Hei! Apa yang kau lakukan? Membiarkan seorang laki-laki tidur dengan perempuan yang belum sah?” Jiao kesal.


“Ssstt!” Yu Hao menutup mulut Jiao dengan jari telunjuknya. “Apa kau tidak menyadarinya, kalau ini adalah situasi yang bagus?”


Jiao bingung dengan perkataan Yu Hao, “Maksudmu?”


Yu Hao merangkul bahu Jiao. “Bukannya kau ingin menjodohkan mereka berdua? Dengan Zhang tidur bersama Shuwan, bukankah ini akan semakin mempererat hubungan mereka berdua?”


Kepala Jiao mengangguk-angguk. Wajahnya menjadi cerah. “Kau benar. Ini adalah saat yang bagus untuk mereka.”


“Nah, kalau begitu, kita biarkan saja mereka. Kita urusi urusan kita. Bagaimana, Jiao?” Alis kiri Yu Hao dinaik turunkan, seolah sedang berusaha menggona Jiao.


Jiao mendengus kesal. Ia melepas rangkulan Yu Hao. “Jangan harap! Kau urusi saja urusanmu sendiri.” Jiao berjalan menuju kamar yang berseberangan dengan Shuwan dan langsung menutup pintunya.


Yu Hao membuang napasnya. “Wanita memang sulit dimengerti ya?” Matanya lalu memandangi pintu kamar Shuwan. “Zhang, semoga kau berhasil melakukannya. Hehe.” Yu Hao lalu meninggalkan ruang tengah, dan bergegas menuju kamar yang ada di sebelah kamar Jiao untuk istirahat.


Sementara itu, Zhang masih berdiri memandangi wajah ayu Shuwan yang sedang terlelap. Bibirnya tidak lagi tampak pucat seperti sebelum.


Zhang kemudian melangkah mendekati pembaringan Shuwan, lalu duduk di tepian ranjang seraya memegangi kotak yang diberikan oleh Luo Shu. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Shuwan. “Shuwan, aku sudah punya cincin untukmu. Saat kau sadar besok, aku akan mengenakannya di jari manismu,” bisik Zhang. Kemudian diletakkannya kotak itu di bawah bantal. 


Setelah meletakkan kotak itu, Zhang merebahkan kepalanya di atas bantal yang sama dengan Shuwan. Tubuhnya pun menghadap Shuwan. Ia tersenyum lembut melihat wajah cantik wanita yang dicintainya.


“Saat kau menyelesaikan misi ini, akankah kau mencintaiku, Shuwan? Atau, kau membenciku setelah mengetahui semuanya? Aku sangat mencintaimu. Tapi, jika kau selalu terluka karenaku, dan jika dengan jauh dariku kau tak terluka, maka aku akan melepasmu. Demi kebahagiaanmu, Shuwan. Wanita yang kucintai sepanjang masa.”


Zhang terus berbicara pada Shuwan yang terlelap. Tak terasa, kini kantuk telah memburunya dengan garang. Ia meraih Shuwan dalam dekapannya. Matanya pun terpejam dalam lelap.


***


Pagi-pagi buta di bilik kamar Shuwan.


Suara detak jantung siapa ini? Batin Shuwan yang masih belum membuka matanya tapi sudah sadar dan merasakan hal aneh di dekatnya.


Ia pun terbelalak setelah membuka matanya. Bocah brengsek ini!


Shuwan mencoba berontak. Tapi tubuhnya masih sakit. Ia tidak sanggup melawan kekuatan Zhang yang mendekapnya. Tenagaku tidak cukup kuat untuk melepaskan pelukannya.


Rupanya Zhang sadar jika Shuwan mencoba berontak dari pelukannya. “Kau sudah sadar, Shuwan?”


Shuwan memasang wajah kesalnya. “Ya. Aku sudah sadar. Jadi, bisakah kau melepaskanku sekarang?” ketus Shuwan.


Zhang malah semakin mengeratkan pelukannya. Tangan kiri Zhang meraih kepala Shuwan dari belakang. Sedangkan tangan kanannya memeluk erat tubuh Shuwan. “Sebentar lagi aku akan melepaskan pelukan ini. Tolong tetap seperti ini. Sebentar saja.”


“Kau seorang mesum!”


“Jika itu kau, aku memang mesum, Shuwan.” Zhang menanggapinya dengan tenang. Ia tidak terpancing dengan nada kasar Shuwan.


“Brengsek! Kau benar-benar brengsek, Liem!”


Zhang hanya terdiam. Ia lagi-lagi tak peduli dengan perkataan Shuwan. “Marahlah sesukamu Shuwan. Aku ingin terus mendengarnya.”


Bocah ini kelihatannya jadi semakin sinting. Bisa-bisanya ia tidak terpengaruh dengan ocehanku. Shuwan semakin kesal. Amarahnya tampak mendidih di ubun-ubun. 

__ADS_1


“Aku akan menikahimu setelah aku sembuh, Shuwan. Jadi, kau bersiaplah.”


Shuwan kaget. Dahinya berkerut mendengar ucapan Zhang. “M-menikah? Tidak! Bagaimana mungkin aku menikah denganmu? Sebentar lagi aku akan pergi. Sebaiknya kubur saja impian konyolmu itu.”


“Tapi aku tidak mau. Apa kau tahu, kalau aku sudah punya cincin pernikahan untukmu?”


C-cincin? Bagaimana dia mempersiapkannya? Shuwan masih tak percaya dengan ucapan Zhang. Hatinya berulang kali menepisnya.


Zhang lalu mengendurkan pelukannya. Diambilnya kotak cincin dari bawah bantal. Ia lalu terduduk, begitu pula Shuwan yang mencoba bangkit.


“Ini adalah cincinnya.” Zhang membuka kotak itu. 


Terpampanglah cincin mutiara hitam yang begitu indah. Siapa pun yang memandangnya akan jatuh hati.


“Ini adalah pemberian alkemis yang telah menolongmu. Ia memberikannya padaku tadi malam untuk diberikan pada wanita yang kucintai..” Zhang menghela napas dan bersiap mengutarakan maksudnya. “Bisakah aku meminta tangan kananmu? Biar ku kenakan cincin ini di tanganmu,” kata Zhang seraya menjulurkan tangan kirinya.


Shuwan memalingkan pandangannya dari Zhang. Wajahnya tampak tidak siap menerima pemberian ini. Ia juga kesal karena Zhang berbuat sesukanya tanpa meminta pendapatnya.


“Kau simpan saja cincin itu sendiri.”


Namun Zhang tidak tinggal diam. Ia menarik paksa tangan kanan Shuwan.


“A-apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Muka Shuwan berubah merah padam. Sekarang ia benar-benar marah pada Zhang. “Kubilang lepaskan!” Sekali lagi Shuwan meneriaki Zhang.


Zhang hanya fokus pada tangan kanan Shuwan yang berupaya melepaskan diri dari genggamannya. Ia memandangi wajah Shuwan, dan langsung mencium bibirnya tanpa basa basi.


Shuwan seperti membatu karena perlakuan Zhang. Matanya membulat sempurna. Tampak air matanya turun begitu saja. 


Shuwan berusaha berontak dengan menggigit bibir Zhang. Tampak darah segar mengalir di antara kedua bibir yang saling bertautan. 


Zhang mengabaikan rasa sakit itu. Ia lalu memanfaatkan kesempatan ini. 


Tangan kanan Shuwan ditariknya ke belakang, agar ia tidak memberontak. Sedangkan kedua tangan Zhang melingkar di tubuh Shuwan. Dengan upaya yang ia lakukan, Zhang langsung memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanan Shuwan. 


Shuwan yang menyadarinya pun langsung mendorong Zhang dengan tangan kirinya, hingga Zhang terbentur tiang kelambu. Shuwan berusaha melepas cincin itu, tapi usahanya sia-sia.


“Kenapa? Kenapa tidak bisa dilepas?” kata Shuwan berusaha menarik cincin itu dari jari manisnya. 


Shuwan langsung menarik kedua kerah Zhang dengan paksa. “Lepaskan! Aku tidak menginginkannya!” teriak Shuwan dengan kerasnya.


“Tadi sudah ku katakan, jika itu adalah cincin pemberian dari tuan alkemis yang membantumu. Jika sampai kau menolaknya, itu artinya kau merendahkannya.”


Mereka hanya saling beradu pandangan. Suasana pun menjadi tegang. Tampak linangan air mata masih membanjiri mata Shuwan. Perlahan, Shuwan mulai mengendurkan tarikannya pada kerah Zhang, lalu melepasnya.


Ia terduduk, dan menangis sejadi-jadinya. Zhang kembali mendekati Shuwan, dan memeluknya. Kali ini tidak ada perlawanan dari Shuwan yang sedang menangis.


Maafkan aku jika aku kasar, Shuwan. Tapi aku benar-benar takut kehilanganmu.


“Kau brengsek! Kau benar-benar b*jingan!” teriak Shuwan dalam amarah dan juga tangisnya.


Zhang masih di sana. Memeluk erat Shuwan yang marah dan menangis karena perbuatannya. 


***


Jiao yang sudah bangun lebih awal pun pergi ke halaman belakang. Meski pun rumah itu besar dan punya banyak pelayan, namun suasana sepi masih dominan di sana.


Jiao hanya fokus melangkah menuju halaman belakang untuk menemui Luo Shu. Setibanya, ia mendapai sang guru yang sedang fokus menumbuk obat.


Luo Shu pun menyadari kedatangan Jiao. “Kemarilah,” ujarnya.


Jiao pun mendekat. Ia lantas bertanya pada sang guru. “Apa yang sedang kau lakukan?” 


“Aku sedang membuat obat untuk temanmu, Shuwan. Kau bisa membantuku sekaligus mempelajari aneka tanaman obat.”


“Baik, Shifu.” Jiao membantu Luo Shu dalam meracik obat. 


“Siapa namamu?” tanya Luo Shu.


“Aku Jiao, Wang Jiao.”

__ADS_1


“Untuk yang pertama, kau akan mempelajari aneka jenis tanaman obat yang sudah aku sediakan. Kau harus mampu mengenali bentuk, jenis, rasa, manfaat dan dosis dari tanaman obat yang akan kau gunakan. Bagaimana Jiao? Apakah kamu siap?”


“Aku siap, Shifu!” kata Jiao dengan yakin dan penuh semangat.


Akhirnya Jiao mulai belajar mencium aroma, mencicipi, dan memahami tekstur tiap tanaman obat yang sudah disediakan Luo Shu.


“Setelah paham ilmu dasar ini, aku akan mengajarimu tentang racun dan bagaimana membuat penawarnya.”


Jiao mengangguk. “Aku akan belajar dengan giat, sehingga tidak mengecewakanmu.”


Luo Shu merasa senang melihat semangat belajar Jiao.


Kau bocah yang polos dan gigih, walau kadang mengalir seperti air. Jika kau belajar dengan tulus, maka kau akan mewarisi kemampuan medisku. Batin Luo Shu.


***


Sinar matahari sudah mulai masuk dari balik fentilasi kamar. Selang tidak berapa terdengar pintu kamar Shuwan diketuk.


“Shuwan, Shuwan!” suara Jiao yang lantang terdengar jelas dari balik pintu. “Zhang. Zhang!” Ia kembali memanggil nama Zhang.


Shuwan tersadar dalam pelukan Zhang. Ia kembali mendorong Zhang dan membuang muka. 


Karena tidak ada yang menyahut, Jiao jadi khawatir. “Mereka berdua kenapa ya? Kenapa tidak ada yang menyahut? Apa jangan-jangan...” pikiran Jiao mulai meracau. Ia jadi cemas karena tidak mendapat jawaban dari kedua temannya di dalam.


Di tengah kekhawatirannya, pintu tiba-tiba saja terbuka. Tampak Zhang yang muncul di hadapan  Jiao.


Jiao lega. Pandangannya lantas tertuju pada bibir Zhang bengkak. “Zhang, apa yang terjadi dengan bibirmu?” tanya Jiao penasaran.


Dengan tenang Zhang menanggapinya. “Tidak apa-apa. Tadi aku kurang hati-hati dan terjatuh. Bibirku terluka karena terbentur.” Zhang mencoba mengelabui Jiao.


Kepala Jiao manggut-manggut. “Begitu rupanya. Em, kau dicari oleh Shifu. Katanya kau sudah berjanji sesuatu padanya semalam.”


Zhang kaget mendengar Jiao memanggil Luo Shu dengan Shifu. “Shifu?”


“Ah, itu untuk menghormati alkemis Luo Shu. Aku sudah resmi menjadi muridnya. Jadi, aku memanggilnya Shifu.”


“Begitu rupanya. Itu bagus. Aku yakin kau akan menjadi tabib yang hebat suatu saat nanti.”


Jiao tersipu malu karena punjian Zhang. “Terima kasih, Zhang.”


“Sama-sama. Kalau begitu aku langsung menemui Tuan Luo Shu untuk mengerjakan tugasku.”  Zhang lalu beranjak pergi dari tempatnya. Meninggalkan Shuwan yang masih marah, dan juga Jiao yang berdiri di depan pintu.


“Shuwan! Kau sudah sadar?” Wajah Jiao menjadi semringah menyadari Shuwan sudah sadar. Ia lalu berjalan menuju ke tempat tidur Shuwan.


Sedangkan Shuwan, ia masih duduk di atas ranjang dan mengondisikan wajahnya agar Jiao tak curiga. “I-iya. Aku sudah sadar Jiao.”


“Syukurlah.” Jiao lalu duduk di tepi ranjang. “Kau tahu betapa takutnya aku saat kau kritis? Aku seperti akan kehilangan permata yang begitu berharga.”


“Hahaha! Kau ini ada-ada saja Jiao!” Shuwan berupaya menyembunyikan matanya yang sembab. Ia menggosok-gosok matanya seolah seperti orang yang baru bangun tidur. Jiao tidak boleh sampai curiga!


Eh, di bibirnya Shuwan ada.... Batin Jiao dikelilingi rasa penasaran setelah mendapati ada yang janggal dengan bibir Shuwan. Apa mungkin dia dan Zhang benar-benar sudah melakukannya hingga begitu intimnya? Aku harus memastikannya sendiri.


“Shuwan?”


“Hm?” pandangan Shuwan langsung teralihkan ke Jiao. “Kenapa?” tanyanya.


“Em... Itu, kenapa bibirmu bengkak? Dan, kenapa ada bercak darahnya?”


Shuwan memutarkan bola matanya. Ia mulai khawatir karena sepertinya Jiao mengetahui sesuatu. “Ah, ini. T-tadi aku tersangkut selimut, dan terjatuh dari tempat tidur.”


“Benarkah? Kau terjatuh dari tempat tidur?”


“I-iya. Itu karena aku kurang hati-hati saja,” jawab Shuwan. Maaf Jiao. Aku tidak mungkin mengatakan hal bodoh seperti itu padamu.


“Tadi, Zhang juga mengatakan kalau dia terjatuh. Apa jangan-jangan kalian...”


“Tidak! Itu tidak seperti yang kau bayangkan Jiao. Aku dan Zhang memang terjatuh bersamaan. Tapi kami tidak melakukan hal seperti yang kau bayangkan.” Shuwan berusaha meyakinkan Jiao, dan menyangkal apa yang terjadi dengannya dan Zhang pagi ini.


Jiao hanya memandang curiga Shuwan yang tampak aneh. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu. “Hm... Kalau begitu baiklah. O, iya aku harus mengganti perbanmu, dan memberikan obat padamu.”

__ADS_1


“Baiklah, Jiao.” Pasti Jiao memikirkan hubunganku dengan Liem yang bukan-bukan. Batin Shuwan dilingkupi rasa cemas.


__ADS_2