1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Jiao mulai membuka perban Shuwan. Ia lalu mengajaknya berbincang. “Shuwan, apa kau tahu kalau Zhang yang menggendongmu dari dasar tebing sampai kemari?”


Shuwan yang mendengarnya sontak kaget. “M-menggendongku? Dari dasar tebing?”


“Ya. Itu benar. Karena kau tidak sadarkan diri beberapa waktu, makanya kau juga tidak sadar mengenai tempat ini.” 


Apa yang sebenarnya sudah mereka lalui? Aku tidak bisa ingat apa pun. “Memangnya ini di mana?”


Jiao tersenyum, lalu menanggapi perkataan Shuwan dengan tangan yang masih fokus melilitkan perban ke perut Shuwan. “Kita sudah sampai di Negeri Awan, Shuwan.”


“S-sudah sampai?”


“Iya. Kita sudah sampai. Tempat ini berada di atas tebing yang menjulang ke langit. Tidak ada cara untuk sampai kemari selain dengan memanjatnya. Butuh waktu sehari semalam untuk sampai. Selain mengkhawatikanmu, aku juga khawatir pada Zhang. Ia bersusah payah mendaki dengan menggendongmu ketika memanjat tebing.”


Shuwan ternganga. Ia benar-benar tidak tahu bahwa Zhang sudah melakukan hal sebanyak itu untuknya. Ia hanya teringat saat ia terkena jarum beracun di kedai makanan saat itu. Setelahnya, ia tidak tahu.


 “Kau akan menangis melihat kekhawatirannya padamu Shuwan. Terlebih, saat kau muntah darah yang berwarna hitam pekat saat itu.” Kata Jiao ketika ia melihat bagaimaba perjuangan Zhang untuk sampai ke puncak.


“Apakah semua itu benar, Jiao?” Shuwan berusaha memastikan ucapan Jiao.


“Kau bisa melihat luka di telapak tangannya, Shuwan. Tangan kami sama-sama terluka. Tapi tidak ada yang separah miliknya,” imbuh Jiao. “Dia ingin segera sampai ke Negeri Awan ini untuk mencari penawar jarum racun yang mengenaimu itu, Shuwan. Zhang tidak lagi memikirkan kondisinya, yang dia khawatirkan hanyalah dirimu seorang.”


Shuwan hanya membatin. Ia tidak ingin memberitahu Jiao bahwa pagi ini dirinya lah yang membuat bibir Zhang berdarah.


Dia sampai seperti itu karena mengkhawatirkanku? Hah... Apa ini? Aku jadi merasa bersalah setelah memperlakukannya dengan buruk pagi ini. Tapi, itu juga salahnya. Kenapa dia tiba-tiba tidur di ranjang yang sama denganku? Dan lagi, dia menciumku dengan paksa.


Jiao memperhatikan Shuwan. Apakah Shuwan akhirnya mengerti ucapanku? Jika memang tersentuh, maka itu adalah hal yang bagus. 


Tak terasa Jiao pun telah selesai mengganti perban Shuwan. “Nah, Shuwan. Sekarang aku sudah selesai mengganti perbannya.”


Shuwan langsung merapikan pakaiannya. “Terima kasih, Jiao.” 


“Sama-sama, Shuwan. Aku akan kembali ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan.” Jiao pun beranjak dari atas ranjang.


“T-tunggu! Apakah aku bisa membantu?” 


Jiao menepuk bahu kanan Shuwan. Ia lalu berkata dengan lembut, “Tidak Shuwan. Kau masih butuh banyak istirahat. Kalau sampai kau kelelahan sebelum pulih, itu artinya perawatan medis yang kita lakukan sia-sia.” 


Shuwan terdiam. “Kalau begitu, aku akan beristirahat di sini saja. Tapi, jika kau membutuhkan bantuanku panggil saja.”


“Di sini ada banyak pelayan. Kau fokuslah memulihkan dirimu.”


Shuwan mengangguk. 


Jiao lalu membalasnya dengan tersenyum. Ia kemudian pergi meninggalkan Shuwan sendiri di kamarnya.


Apa yang harus kulakukan dengan Liem sekarang? Aku benar-benar bingung. Shuwan menyandarkan kepalanya ke tiang penyangga kelambu yang ada di sebelah kirinya.


Shuwan memandangi cincin yang dipasangkan Zhang secara paksa ke jarinya. Sesekali ia membelai lembut mutiara hitam yang ada di sana.


Dia memberiku sebuah cincin, apakah ini artinya dia sedang melamarku? Tapi kalau pun itu benar aku tidak akan bertahan lama di sini. Sebentar lagi kita akan berpisah, Liem. Kenapa kau tidak mengerti juga?


***


Di halaman belakang Zhang sedang fokus memotong kayu dengan kapak. Luo Shu memantaunya dari pondok kecil yang ada di sana seraya meminum teh ginseng kesukannya. 


“Zhang, ayo istirahat dahulu,” panggil Luo Shu.


Zhang mengelap peluh yang mengucur di keningnya. “Baik, Tuan,” sahutnya.


Ia lalu meletakkan kapaknya dan berjalan mendekati Luo Shu. Dengan segera Luo Shu pun menuangkan teh ke dalam cangkir Zhang. Zhang kemudian meminumnya perlahan.


“Apakah temanmu itu sudah sadarkan diri?” tanya Luo Shu.


Zhang mengangguk. “Ya. Dia sudah sadar. Mungkin tinggal masa pemulihannya saja.” Zhang kembali meminum teh di cangkirnya.


“Itu artinya, kau sudah memberikan cincin itu padanya?”

__ADS_1


“Aku sudah memasangkannya. Tepat di jari manis tangan kanannya.” Zhang menatap sisa teh yang ada di cangkirnya. Ia sedang bertengkar dengan perasaannya sendiri. Ada rasa bersalah karena telah memaksa Shuwan menerima cincin itu. Ditambah, perilakunya yang buruk pagi ini.


Luo Shu menyandarkan punggungnya di kursi. “Syukurlah kalau begitu. Semoga kalian bisa meresmikan hubungan kalian ya?”


Zhang diam. Ada sesuatu yang sangat dia utarakan, dan Zhang rasa ini adalah waktu yang tepat. “Sebenarnya, aku berencana menikahinya sebelum ia pergi.”


Luo Shu yang duduk tenang di kursi goyangnya pun tersentak. “Kapan rencananya?” tanya Luo Shu.


“Tepat saat aku sudah menjalani pengobatan.”


“Begitu rupanya. Jika kau ingin menikah, aku punya kenalan yang bisa membantumu mempersiapkannya,” Luo Shu menawarkan bantuan.


Pandangan Zhang berubah menjadi sayu. Ia tersenyum paksa. “Tapi aku tidak tahu, apakah dia setuju atau tidak?”


“Lalu, apakah kau akan menyerah tentangnya?”


“Tidak. Aku tidak akan menyerah.” Zhang menatap ke arah depan dengan yakin.


Luo Shu mengangguk. Senyuman tipis mengembang di wajahnya. Ia jadi teringat masa mudanya ketika mengejar mendiang sang istri. “Aku suka dengan semangatmu, Nak. Kau tidak menyerah pada meski kau tahu apa yang akan terjadi.”


“Aku tidak mungkin menarik kembali kata-kataku. Sebagai seorang pria, tentu itu adalah sebuah harga diri. Jadi, aku akan berpegang teguh dengannya.”


Setelah mereka berdua cukup lama berbincang-bincang, Jiao pun memanggil mereka berdua,. “Shifu, Liem, sarapannya sudah siap. Ayo pergi sarapan!” 


“Ya, kami akan segera ke sana.” Sahut Zhang dengan lantang.


Zhang dan Luo Shu pun berjalan beriringan menuju ruang makan. Menyusuri lorong-lorong rumah yang nampak artistik.


Begitu sampai di ruang makan, pandangan Zhang langsung tertuju pada Shuwan yang sedang duduk. Shuwan tampak memandang ke arah jendela yang ada di selah kanannya. 


Luo Shu yang berada di sebelah Zhang pun menyadari itu. Ia tersenyum, lalu berjalan dan langsung duduk di samping Yu Hao yang sudah ada di sana.


Meja makan itu berbentuk bundar, dan kini hanya menyisakan sebuah bangku kosong di samping kanan Shuwan. Zhang menyadarinya, ia lantas berjalan mendekat ke arah bangku dekat Shuwan.


Ditariknya bangku itu, dan duduklah ia di samping Shuwan. 


Sementara Shuwan yang menyadari kehadiran Zhang di sebelah kanannya langsung mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang tersedia di atas meja makan.


“Selamat makan!” Jiao langsung mengambil lauk pauk dan meletakkannya di atas mangkuknya.


Yu Hao terkekeh melihat mangkuk Jiao yang sudah penuh dengan makanan. “Hei, tidakkah kau sadar kalau mangkukmu sudah begitu penuh?” ledek Yu Hao.


Jiao hanya tersenyum malu, “A-aku sangat lapar. Jadi, tidak sadar kalau ternyata mangkuk ku sudah terlalu penuh.”


“Tuan Luo Shu, aku harap kau tidak keberatan memelihara dia,” kata Yu Hao seraya mengerucutkan bibirnya menunjuk Jiao.


“Huz! Apa yang kau katakan? Kau pikir aku hewa piaraan?” Jiao menjadi kesal karenanya.


“Bukannya memang benar begitu? Lihat saja makananmu yang banyak itu. Jika Tuan Luo Shu membiarkanmu tinggal di sini, sudah pasti dia rugi banyak.”


“Kau ini!”


“Hahaha! Sudahlah, tidak apa. Nikmati saja. Kalau kurang tinggal tambah saja.” Alkemis Luo Shu sangat terbuka. Ia terkekeh melihat Yu Hao dan Jiao yang saling menggoda.


Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Shuwan dan Jiao. Suasana kedua orang ini benar-benar bukan yang aku harapkan. Batinnya setelah melihat cincin mendiang istrinya dikenakan oleh Shuwan. Aku harus mencari topik yang bisa merekatkan keduanya.


“Zhang, kapan kau akan memulai pengobatanmu?” tanya Alkemis Shu.


Zhang tersenyum, “Aku akan memulainya besok. Jadi, kemungkinan malam ini aku akan pergi ke istana.”


Mata Shuwan terbelalak mendengarnya. Dia akan memulai pengobatannya?


“Bagus kalau begitu. Semakin cepat, maka akan semakin bagus. Jangan sampai membuat dirimu sendiri dalam bahaya karena menahannya terlalu lama.”


Zhang mengangguk, “Aku mengerti.”


Yu Hao dan Jiao yang sedari tadi mendengarkan percakapan Zhang dan alkemis Shu pun bingung.

__ADS_1


“Kau akan pergi ke istana Zhang?” tanya Yu Ho.


“Ya. Aku akan pergi dan tinggal di istana selama seminggu untuk menjalani pengobatan.”


“S-seminggu?” Jiao kaget.


“Itu bukanlah pengobatan biasa. Jadi, butuh waktu seminggu untuk menyembuhkannya.”


Dia akan tinggal seminggu di istana? Seharusnya aku senang karena dia pergi, tapi kenapa aku merasa sedikit kehilangan? Hati Shuwan bergejolak mendengar rencana kepergian Zhang.


“Kalau begitu aku akan menemanimu, Zhang,” Yu Hao menawarkan diri.


“Apa kau tidak keberatan? Aku khawatir kau akan merasa bosan menemaniku.”


“Apa yang kau katakan? Kita sudah melakukan perjalanan panjang bersama. Bagaimana mungkin aku keberatan.”


“Baiklah kalau kau memang bersedia. Setelah makan malam, kita berangkat.”


“Siap, kapten!”


“Kapten? Apa maksudmu?” Zhang memicingkan matanya. Dahinya berkerut karena bingung dengan panggilan Yu Hao.


“Ya. Kaulah kapten itu, Zhang.”


“Tentu saja. Kau adalah pemimpin perjalanan ini. Dan itu adalah julukanmu,” Jiao menimpali.


Suasana meja makan pun menghangat. Tapi tidak dengan Shuwan yang masih bertengkar dengan perasaannya sendiri.


Zhang menyadarinya. Ia menatap lekat-lekat wajah Shuwan. Seminggu tidak bertemu, aku pasti akan merindukanmu.


Luo Shu pun masih memantau mereka berdua. Aku harus mencari kesempatan berbicara dengan gadis ini nanti.


***


Senja... Diibaratkan seperti sebuah perpisahan. Surya yang tadinya bersinar, perlahan pergi menyisakan gelap. Tapi kenapa? Kenapa senja memiliki warna yang indah? Apakah perpisahan itu berwarna indah seperti itu? Shuwan memikirkan bagaimana ketika ia meninggalkan Zhang nanti. 


Shuwan duduk di teras, memandangi matahari yang perlahan tenggelam. 


Tiba-tiba saja, Zhang menghampirinya. Ia menyadari Shuwan yang sedang melamun. “Apa kau masih marah padaku?”


Shuwan tidak menatap apalagi menjawabnya. Dia hanya diam memandangi langit jingga sorea itu.


“Begitu rupanya. Aku hanya ingin berpamitan padamu. Aku mungkin tidak bisa menemuimu selama seminggu. Dan.. Mengenai sikapku pagi ini, aku benar-benar minta maaf.”


Benar. Malam ini dia akan pergi. Seharusnya aku merasa senang bukan? Tapi kenapa aku merasa bersalah. Batin Shuwan masih dilema. 


Dia masih marah padaku. Pandangan Zhang menjadi sendu. “Kalau begitu aku akan berkemas.” 


Ketika Zhang akan berjalan masuk ke dalam rumah, Shuwan menahan tangannya. “Duduklah sebentar di sini. Temani aku.”


Senyum simpul langsung terlukis di wajah Zhang. Ia pun lalu duduk di sebelah Shuwan.


“Apakah kau benar akan pergi selama seminggu?” tanya Shuwan.


“Hah... Itu benar. Aku akan mengobati penyakitku, makanya aku harus menetap di sana untuk menjalani perawatan.”


Wajah Shuwan tiba-tiba saja menjadi sedih. “Sebenarnya kau menderita penyakit apa? Bahkan kau beberapa kali sempat pingsan bukan?” Shuwan menatap Zhang dengan tajam. Matanya tampak berkaca-kaca.


Apakah dia sedang mengkhawatirkanku? Zhang lalu mengangguk. “Aku menderita penyakit yang tidak bisa kujelaskan. Intinya, dalam seminggu kedepan aku akan menyembuhkan diriku. Baru saat itu, aku akan memberikan sebuah hadiah yang indah padamu.”


Zhang menatap Shuwan dengan senyuman hangat yang mengembang. 


Sedangkan Shuwan, ia tertunduk lesu. “Kenapa... Kenapa sudah seperti ini kau masih saja memikirkan aku?” Emosi Shuwan meledak-ledak setelahnya.


“Cukup satu alasan bagiku untuk tetap bertahan. Yaitu kau, Shuwan.”


Tumpukan cairan hangat di mata Shuwan pun luruh begitu saja. Hatinya seolah menghangat melihat ketulusan Zhang selama ini. Sedangkan Shuwan, ia merasa begitu bersalah telah memperlakukannya dengan buruk. Ditambah, ia tidak bisa membalas perasaan Zhang.

__ADS_1


Zhang yang menyadarinya pun langsung mengusap air mata Shuwan. Ia lalu memeluk Shuwan erat-erat. “Kau adalah yang terpenting dalam hidupku, Shuwan.”


Hehehe. Begini lebih baik.  Batin Luo Shu yang sedari tadi menguping Shuwan dan Zhang dari balik dinding.


__ADS_2