
Keesokan paginya, Shuwan dan yang lainnya bersiap untuk menjalankan rencana yang telah dibicarakan sebelumnya.
“Haruskah aku berpakaian seperti ini? Rasanya wibawaku sedikit hilang,” celetuk Shuwan setelah dirias dan mengenakan gaun (hanfu).
Pelayan yang merias Shuwan dengan tersenyum berkata, “Nona, Anda adalah seorang wanita tentu saja ini merupakan hal yang wajar bukan? Lagi pula, nona sangat cocok menggunakannya.”
Setelah mendengar perkataan pelayan itu, Shuwan hanya memasang raut kesal dan melanjutkan riasannya. Selesai berdandan, ia pun bergegas keluar kamar untuk berangkat ke kediaman keluarga Liu. Begitu Shuwan keluar, Zhang, Feng, Yu Hao, bahkan Jiao pun terkesima dengan penampilan Shuwan.
Jiao berjalan mendekati Shuwan, “Shuwan, apakah ini benar dirimu? Aku tidak menyangka kalau kau akan begitu cantik mengenakan pakaian wanita,” katanya.
“Hum.. Jika bukan karena misi dan butuh uang, aku tidak akan berpenampilan memalukan seperti ini. Sejak dulu aku jarang mengenakan gaun, karena sangat merepotkan. Bahkan jika tidak hati-hati berjalan, kamu bisa terjatuh karena tersangkut gaunmu,” gerutu Shuwan.
Memandangi Shuwan mengenakan gaun, Feng juga ikut maju mendekati Shuwan, “Pilihanku tidak mungkin salah. Kau sangat cocok dengan riasan ini. Setelah selesai nanti, aku akan menyiapkan banyak gaun dan juga perhiasan untukmu,” ucap Feng dengan percaya dirinya.
“Jangan kau pikir aku akan tergoda dengan pemberianmu. Aku hanya menjalankan peranku saja, sampai misi ini selesai. Dengan begitu aku bisa secepatnya pergi dari tempat ini,” kata Shuwan dengan ketusnya. “Sudahlah, sebaiknya kita segera berangkat. Aku tidak suka menunda-nunda pekerjaan,” sambung Shuwan.
Mereka berangkat menuju kediaman Liu, ketiga temannya menyamar sebagai pengawal Shuwan. Sedangkan Feng mengantar mereka dan memata-matai dari kejauhan. Khawatir dirinya akan ketahuan meski sudah menyamar.
Sesampainya di gerbang kediaman Liu, para penjaga menanyakan identitas mereka. “Siapa kalian dan ada urusan apa datang kemari?” tanya penjaga itu.
Karena mereka memang tidak saling mengenal, mereka tetap menggunakan nama asli mereka, “Aku adalah seorang guru guzheng, dan mereka adalah pengawalku. Kudengar kediaman ini sedang mencari seorang guru musik,” Shuwan menjelaskan.
Kedua penjaga itu saling pandang, dan akhirnya mengizinkan mereka masuk ke kediaman Liu. Salah seorang dari kedua penjaga gerbang itu memandu mereka untuk menemui tuannya.
Orang-orang zaman dahulu memang memiliki jiwa seni yang tinggi ya. Taman yang diatur rapi, dan juga rumah dengan banyak hiasan dan ornamen. Benar-benar menyejukkan mata yang memandangnya. Batin Shuwan mengagumi pemandangan yang ada di depan matanya.
Mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan, “Tuan, ada seorang guru yang ingin melamar menjadi guru musik tuan muda,” kata penjaga itu.
“Persilakan masuk,” ucap seorang pria dengan suara seraknya.
Shuwan dan ketiga temannya pun memasuki ruangan itu. Tampak seorang pria paruh baya yang menyambut mereka di sana.
“Selamat datang di kediaman Liu. Aku adalah Liu Changhai, kepala keluarga Liu. Jika boleh tahu siapa nama dan dari mana Anda berasal?” tanya pria itu sopan.
“Aku Shu’er, dan ketiga orang ini adalah pengawalku. Aku hanyalah seorang pengelana yang menjelajahi berbagai tempat. Kebetulan baru singgah di wilayah ini dan membutuhkan uang untuk melanjutkan perjalanan,” terang Shuwan dengan lembut.
“Kalau begitu, Anda akan mengikuti seleksi dengan para guru lainnya. Besok malam, kita akan mengadakan pertemuan di halaman kediaman ini. Jadi sekiranya guru Shu’er bisa berkenan hadir dalam perjamuan itu,” kata Tuan Liu.
“Baik, Tuan,” Shuwan mengakhiri perbincangan itu.
Tiba-tiba, pintu di belakang mereka dibuka hingga menyebabkan bunyi yang begitu kerasnya. Tuan Liu yang sedari tadi duduk tenang berubah masam mukanya. Ia menghela napas panjang dan mulai berkata, “Liu Han Ji, tidak bisakah kau menjaga sopan santunmu?” tanyanya dengan nada tinggi.
Rupanya dia adalah Tuan Muda yang dibicarakan oleh Feng. Bau arak yang begitu kuat. Batin Shuwan setelah melihat situasi yang terjadi di dalam ruangan itu.
Tuan Muda Liu pun berjalan mendekati ayahnya, “Ayah, berikan aku uang. Aku masih ingin pergi ke sana,” ucapnya.
Tuan Liu hanya menggeleng karena tidak tahu harus berbuat apa lagi pada putranya itu. “Setiap hari yang kau lakukan hanya menghamburkan uang, mabuk-mabukan, dan juga bermain wanita. Aku tidak akan memberikan uang lagi padamu,” ketus Tuan Liu.
__ADS_1
“Tapi Ayah... Gadis-gadisku menunggu di sana,” pinta Tuan Muda Liu dengan tampang memelas.
Benar-benar seorang playboy. Apa seperti ini kelakuan seorang putra keluarga terpandang? Batin Shuwan sembari menghela napas panjang.
“Tidakkah kau lihat, ayah masih kedatangan tamu yang akan menjadi calon gurumu. Tapi kau menghancurkannya dengan memberikan kesan tidak sopan seperti ini,” kata Tuan Liu memperingatkan putranya.
Tuan Muda Liu pun melihat ke arah Shuwan, “Cantik... Siapa dia ayah? Aku menginginkannya,” katanya membujuk sang ayah.
“Dia adalah calon guru musikmu. Dia akan resmi mengajar jika bisa lolos tahap seleksi,” celetuk Tuan Liu.
Shuwan pun mengambil perannya, “Salam kenal Tuan Muda Liu,” kata Shuwan seraya memberikan hormat. “Karena sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku pamit undur diri,” Shuwan meminta izin.
“Baiklah, sampai bertemu di perjamuan,” Tuan Liu kembali mengingatkan.
“Baik, Tuan,” ucap Shuwan. Setelah Shuwan mengatakannya, ia bergegas meninggalkan ruangan itu. Tapi langkahnya dihentikan oleh Tuan Muda Liu.
“Nona, apa kita bisa berbincang lebih? Aku ingin mengundangmu ke ruanganku,” pintanya.
Zhang menunjukkan tatapan tidak sukanya pada Tuan Muda Liu. Ia membatin, bocah kurang ajar ini, aku benar-benar ingin menghajarnya.
“Liu Han Ji! Jangan membuat masalah lagi untukku. Biarkan dia pergi,” seru Tuan Liu pada putranya.
“Ta-tapi ayah...” ucapnya terputus.
“Tidak ada tapi-tapian. Sudah! Kembali ke kamarmu dan belajarlah. Setiap hari kerjamu hanya main saja!” perintah Tuan Liu pada putra sulungnya itu.
Shuwan tersenyum, “Baiklah,” ia pun berbalik meninggalkan Tuan Muda Liu itu.
Setelah keluar dari kediaman Liu dan cukup jauh dari sana, Shuwan pun menghela napas lega. “Akhirnya terbebas juga dari pria genit itu,” celetuknya.
“Benar, Shuwan. Laki-laki seperti itu, bagaimana bisa menjadi Tuan Muda dari keluarga terpandang?” Jiao menimpali.
Yu Hao yang sedari tadi diam pun ikut mengobrol, “Dia adalah salah satu contoh buruk dari keluarga terpandang. Caranya menatap Shuwan sudah menunjukkan lampu hijau bahwa dia tertarik pada Shuwan. Benar ‘kan, Zhang?” kata Yu Hao seraya menyenggol lengan Zhang.
Tapi Zhang hanya diam saja. Ia berjalan mendahului mereka menuju tempat tinggal sementara yang disiapkan Feng.
“Dia itu kenapa sih? Sensitif sekali hatinya. Bahkan lebih sensitif dari seorang wanita,” Shuwan setengah melawak.
“Haish... Shuwanku yang bodoh. Dia cemburu karena perlakuan Tuan Muda Liu itu,” singkat Jiao.
“Begitu rupanya. Ya sudah, biarkan saja dia seperti itu. Kalian tetaplah bersamanya, untuk mengantisipasi sikapnya yang suka gegabah jika sedang emosi,” jelas Shuwan.
“Em.. Baiklah,” jawab Jiao.
Mereka pun sampai di rumah yang disiapkan oleh Feng. Sesampainya di sana, ternyata Feng sudah ada di sana bersama Zhang yang sedang berbincang. Shuwan dan Feng beradu tatapan. Tapi dengan cepat ia membuang tatapannya pada Feng dan masuk ke dalam rumah. Shuwan duduk di kursi yang ada di ruang tengah. Yang lainnya pun bergegas masuk.
“Jadi kau harus melewati seleksi guru pengajar?” tanya Feng memastikan.
__ADS_1
“Aku rasa Zhang sudah menjelaskannya tadi. Begitulah situasinya,” kata Shuwan dengan cueknya.
“Apa kau sudah menyiapkan lagu yang akan kamu bawakan besok malam?” tanya Feng.
Shuwan mengangguk, dirinya pun membatin. Tentu saja aku akan membawakan lagu dari duniaku. Akan kubuat kalian kagum.
Mereka mengakhiri perbincangan hari itu. Hingga keesokan harinya pun tiba.
“Kenapa waktu begitu cepatnya berlalu. Ah... Aku benar-benar malas bertemu Tuan Muda itu. Jika bukan karena uang aku tidak akan melakukan pekerjaan menyedihkan ini,” gerutu Shuwan yang sedari tadi sudah duduk di atas pohon.
“Setidaknya aku bisa melihat sisi lembutmu sebagai seorang wanita,” ucap Feng yang tiba-tiba sudah berada di bawah pohon tempat Shuwan duduk.
“K-kau! Bisa-bisanya kau mengagetkanku,” teriak Shuwan kesal.
“Haha.. Aku hanya datang untuk mengingatkanmu tentang seleksi malam ini. Berusahalah yang terbaik,” kata Feng.
“Aku sudah tahu. Tidak perlu mengingatkanku terus,” celetuk Shuwan.
Malam yang dinanti tiba. Shuwan dan yang lainnya sudah sampai di kediaman Liu. Ramai sekali. Kupikir hanya acara perjamuan biasa. Ini lebih seperti sebuah pesta. Shuwan kembali membatin.
“Baiklah, silakan kepada para tamu dan juga calon guru untuk duduk di tempat yang telah di sediakan,” ucap si pembawa acara.
Shuwan duduk di tempat yang telah disediakan. Yu Hao dan yang lainnya tetap berada di belakang Shuwan mendampingi.
Pembawa acara itu kembali memandu acaranya, “Karena para tamu sudah berkumpul, langsung saja kita saksikan penampilan dari masing-masing calon guru. Untuk yang pertama dipersilakan kepada Tuan Yu untuk memberikan penampilan terbaiknya.”
Orang bernama Tuan Yu itu mulai memainkan ziternya. Shuwan yang melihatnya hanya membatin. Permainannya terkesan kaku dan dipaksakan. Aku rasa aku bisa lebih baik darinya.
Penampilan demi penampilan terus berlanjut, hingga kini tiba giliran Shuwan. Shuwan maju dan duduk ditempat yang ditentukan bagi para calon guru. Ia mulai memainkan lagunya.
Kelopak Bunga Aprikot berjatuhan tertiup angin
Cinta seorang jenderal pada seorang putri terkenang hingga menembus waktu
Meski takdir telah memisahkan
Namun, cinta abadi tetap terjaga dalam penantian
Orang-orang yang ada di sana terpesona dengan permainan guzheng Shuwan. Ia tampak bersinar dalam riuhnya malam itu. Alam juga menyambut permainannya dengan membawakan angin yang menaburkan kelopak Bunga Aprikot. Menambah suasana dramatis dari permainan Shuwan.
Shuwan membawakan lagu dari dunianya, berjudul Endless Love (Ost. The Myth). Begitu ia selesai memainkannya, semua orang bertepuk tangan dengan meriahnya. Shuwan pun memberi hormat dan kembali ke tempat duduknya semula.
Tibalah pengumuman guru yang terpilih, “Baiklah. Kita semua sudah menyaksikan penampilan dari para guru. Setelah melihatnya, Tuan Liu telah menjatuhkan pilihan kepada... Nona Shu’er... Selamat kepada Nona Shu’er yang terpilih menjadi guru kediaman Liu...” kata pembawa acara itu.
Shuwan berdiri dan memberikan penghormatan. Terlihat Tuan Muda Liu tersenyum puas, karena wanita yang diinginkannya semakin dekat dengannya.
Akhirnya perjamuan itu berakhir, Shuwan dan yang lainnya kembali ke kediaman milik Feng. Karena mulai besok ia sudah harus mengajar, Shuwan pun tertidur lelap dengan cepat.
__ADS_1