1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Hiraeth


__ADS_3

Rumah...


Bukan hanya bicara soal bangunan berdinding beton,


tapi juga seseorang yang selalu membuat kita merasa nyaman untuk tetap tinggal


Ketika jauh darinya, seperti ada hal yang juga pergi bersamanya


Kepergian telah menciptakan jarak, dan jarak menciptakan kerinduan


Darinya kita bisa belajar bahwa,


Jarak selalu mengajarkan kita untuk senantiasa menghargai setiap pertemuan


Dan kerinduan juga mengajarkan agar kita senantiasa menghargai kebersamaan


Untuk hal yang berharga,


Apa yang lebih dirindukan saat jauh selain rumah?


Shuwan, Jiao, dan Zhang berhenti di tepi sebuah danau. Kuda yang mereka tunggangi sudah kelelahan, dan juga mereka belum beristirahat setelah meninggalkan lembah. Karena hari sudah hampir petang, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di tepi danau itu.


Zhang membuat api unggun yang bisa menghangatkan tubuh mereka bertiga.


Malam pun telah tiba. Suasana di tepi danau itu sangat hening, dan membuat tenang setiap hati yang berada di sana, tidak terkecuali Shuwan. Ia terduduk bersandar di pohon, pandangannya kosong, namun hati dan pikirannya tidak berhenti beraktivitas. Ya, Shuwan sedang melamun.


Hingga Zhang menyadarkan Shuwan dengan menepuk bahunya, “Sudah malam, tidak baik jika kau terlalu lama melamun. Aku khawatir kalau kau akan kerasukan roh jahat.”


Karena tepukan Zhang, Shuwan pun menjadi kaget. Ia pun berkata pada Zhang, “Aku hanya sedang merindukan rumah. Perjalanan yang tak berkesudahan ini membuatku jadi merindukannya.”


“Kami sudah menceritakan kisah kami padamu, tapi sampai saat ini kami belum tahu kisah hidupmu, Shuwan,” ucap Jiao.


Shuwan memalingkan pandangannya yang semula lurus ke depan, dan memandang ke arah danau yang ada di sebelah kanannya.


“Aku tidak bisa mengatakan detailnya, yang jelas aku hanya rindu pada orang-orang yang telah membersamaiku hingga saat ini. Aku telah banyak melakukan perjalanan panjang seperti ini sejak lama, dan sedikit waktu yang bisa kuhabiskan bersama mereka. Terkadang aku merasa begitu lelah melakukan perjalanan panjang ini. Aku selalu merasa ingin pulang, sangat ingin. Tapi aku tidak bisa. ”


Zhang memandangi Shuwan dari samping, ia melihat ada kesedihan di wajah Shuwan. Rupanya dia memiliki sisi rapuh seperti ini, batin Zhang. “Jika kau rindu pada keluargamu, kau bisa menganggapku sebagai tempatmu untuk pulang, Shuwan.”


Shuwan membalas tatapan Zhang. Tiba-tiba Jiao menyela dengan nada penuh semangat, “Aku juga. Aku juga akan menjadi rumahmu, Shuwan. Aku telah kehilangan rumah dan keluargaku sejak orang tuaku menjualku hingga aku merasa selalu sendiri dan menderita. Tapi semuanya berubah saat bertemu denganmu, Shuwan. Kau telah merubah hidupku, Shuwan."


“Kita sudah bersama melakukan perjalanan ini dari awal. Kau bisa menganggapku dan Jiao sebagai rumahmu jika kamu ingin. Tidak perlu selalu menunjukkan bahwa kau selalu baik-baik saja. Tidak baik-baik saja juga sebuah kondisi normal seorang manusia. Jika merasa bahagia maka tertawalah, dan jika sedih maka menangislah. Tidak ada yang salah dari itu,” ucap Zhang.


Mata Shuwan pun berkaca-kaca. Ia tersenyum pada Zhang dan Jiao, lalu mengucapkan, “Terima kasih.”

__ADS_1


Zhang dan Jiao hanya membalasanya dengan senyuman lembut.


“Karena sudah malam, sebaiknya kita segera tidur supaya besok bisa bangun lebih pagi untuk melanjutkan perjalanan,” kata Zhang.


Jiao dan Shuwan hanya mengangguk. Setelah mereka tidur, barulah Zhang tidur.


Saat Shuwan masih dalam lelapnya, ia tenggelam dalam sebuah mimpi. Dalam mimpinya, ia melihat orang yang mirip dengannya merasa kesakitan sambil memegang bagian perut dekat ulu hatinya. Ketika melihatnya Shuwan tiba-tiba saja juga merasa kesakitan, ia pun menangis karenanya.


Karena sakit yang mendadak dan menyakitkan itu, Shuwan terbangun kaget. Tubuhnya berkeringat, napasnya terengah-engah dan tidak terasa air matanya menetes.


Melihat Zhang dan Jiao masih terlelap, Shuwan mendekat ke tepi danau. Ia melamun di sana, memikirkan mimpi yang baru saja ia alami.


Zhang yang tertidur tiba-tiba tersadar, kemudian ia melihat Jiao yang masih terlelap, dan tidak mendapati Shuwan berada di posisi tempat tidurnya tadi. Zhang pun terbangun dan memandang sekeliling. Akhirnya ia menemukan Shuwan yang sedang duduk di akar pohon yang ada di tepi danau. Ia pun mendekati Shuwan.


“Aku pikir kau hilang ditelan bumi, ternyata sedang ada di sini,” ucap Zhang yang mengagetkan Shuwan yang sedang melamun.


“Kenapa kau bisa ada di sini?”


Zhang kemudian duduk di dekat Shuwan, ia menggoda Shuwan dengan mengatakan, “Mungkin ini yang disebut sebagai ikatan hati. Kau tidak ada didekatku, jadi aku merasa tidak tenang dan terbangun dari tidurku.”


“Belakangan ini sepertinya kau banyak memakan permen, ya? Kata-katamu terdengar begitu manis.”


Zhang hanya tertawa, ia kemudian berkata, “Terserah kau mau mengelak dan berkata seperti apa, yang jelas apa yang aku ungkapkan adalah apa yang aku rasakan.”


“Apakah kau tidak bisa tidur karena memikirkan keluargamu?” tanya Zhang.


“Bukan. Aku baru saja memimpikan hal yang cukup menyakitkan, jadi aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Makanya aku ke sini, barang kali bisa menenangkanku dari mimpi buruk itu.”


Kedua tangan Zhang meraih wajah Shuwan dan memegangnya dengan lembut.


“Shuwan, lihatlah aku,” pinta Zhang.


Shuwan kemudian memandangnya, lagi-lagi ia hanya terdiam.


“Jika kau merindukan keluargamu, atau mengalami hal yang menyakitkan kau bisa kembali padaku. Aku akan menjadi rumah untukmu, supaya kau tidak lagi merasa sedih atau kesepian. Aku juga akan menahan rasa sakit yang kau rasakan.”


Air mata Shuwan tidak lagi mampu di bendungnya, ia mengalir dengan derasnya di pipi Shuwan.


Zhang pun memeluk Shuwan dengan erat, “Menangislah sekuat mungkin, Shuwan. Lepaskan semua beban yang kau pikul. Aku akan menjadi sandaran yang kuat untukmu.”


Shuwan menangis dengan derasnya, meluapkan segala kesedihan yang ia rasakan, hingga ia pun merasa kelelahan dan terlelap dalam pelukan Zhang.


Zhang yang menyadari kalau Shuwan tertidur pun menyandarkan punggungnya, dengan tidak melepaskan pelukannya pada Shuwan.

__ADS_1


Zhang membatin, semua akan baik-baik saja, Shuwan. Kau tidak perlu bersedih, aku akan selalu bersamamu, sampai kapan pun. Bahkan di kehidupan selanjutnya.


Malam pun telah beranjak, sinar matahari mengintip dari langit timur. Langit yang gelap telah berubah menjadi biru kejinggaan, pertanda sebuah semangat baru di awal pagi.


Jiao yang terbangun terlebih dahulu menyadari kedua temannya tidak ada di dekatnya. Ia pun berkata, “Mereka berdua ke mana? Apakah aku ditinggalkan begitu saja?”


Jiao pun memandang ke sekitar tempat mereka bermalam dan menemukan kedua temannya masih tertidur sambil berpelukan.


Ia yang menyaksikan pemandangan langka itu pun hanya tersenyum. “Akhirnya dewa telah mengabulkan keinginanku,” ucap Jiao senang.


Karena melihat Shuwan yang sepertinya akan bangun, Jiao kembali pura-pura tidur supaya tidak ketahuan kalau ia melihat Zhang dan Shuwan berpelukan semalaman.


Shuwan pun terbangun karena telinganya mendengar suara detak jantung. Ia terkaget saat melihat dirinya tertidur dalam pelukan Zhang, dan segera berteriak yang membuat Zhang terbangun.


“Kyaa...! A-apa yang kau lakukan? Kenapa... Kenapa aku bisa tidur di pelukanmu?”


Jiao pun juga pura-pura terbangun dan kaget.


Zhang yang terbangun pun melihat wajah Shuwan merona, dan menggoda Shuwan dengan berkata, “Apa yang aku lakukan? Hubungan kita tadi malam sudah sangat dekat, loh. Apakah kau akan melupakannya begitu saja? Bagaimana kau akan bertanggung jawab padaku?”


“Apa yang kau bicarakan? Semalam aku hanya...” Shuwan mengingat kembali apa yang terjadi semalam. “I-itu kau yang mencari keuntungan di tengah penderitaanku!” ucap Shuwan dengan wajah yang masih merona karena malu.


“Hah, mencari keuntungan? Jelas-jelas kau yang tertidur dipelukanku,” kata Zhang mencoba mengelak.


“Kau...!”


Jiao tiba-tiba masuk di antara pertengkaran Shuwan dan Zhang seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka dengan mengatakan. “Anu, apa yang sebenarnya terjadi? Suara kalian membangunkan tidurku.”


“Tidak ada apa-apa!”


Zhang dan Shuwan pun mengatakannya berbarengan sambil membuang muka masing-masing. Shuwan pun pergi terlebih dahulu membereskan perlengkapan miliknya, dan meninggalkan Zhang yang masih tersenyum karena Shuwan terpancing olehnya.


Setelah membereskan perlengkapan mereka bergegas melanjutkan perjalanan, hingga tiba Shuwan memilih untuk naik kuda dengan Jiao. “Aku akan naik kuda dengan Jiao, dan kau Zhang, naik kudamu sendiri.”


“Tidakkah ini terlalu kejam untukku? Bukankah semalam kau merasa nyaman tidur dipelukanku?”


“Hei..!” Shuwan menggertak Zhang.


“Jiao, ayo kita jalan duluan saja!” pinta Shuwan.


“B-baiklah, hyaaa..!” Jiao mulai menjalankan kuda yang ia tunggangi bersama Shuwan.


Zhang hanya tertawa dan merasa senang karena ia bisa meluluhkan hati Shuwan sedikit demi sedikit. Ia kemudian menyusul kuda yang ditunggangi Shuwan dan Jiao. “Hei, tunggu aku!”

__ADS_1


Tidak peduli sekeras apa pun hati seseorang, suatu hari nanti ia pasti akan luluh juga. Layaknya sebongkah batu yang akan hancur jika terus menerus ditetesi oleh air. Itulah peribahasa lama yang dijadikan prinsip oleh Zhang dalam meluluhkan hati Shuwan.


__ADS_2