1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Mestika Giok Hitam


__ADS_3

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hati Shuwan menjadi gundah karenanya. Ia bingung harus melakukan apa. Karena sudah seperti ini, aku langsung pergi saja kalau begitu.


Shuwan berusaha berenang menuju permukaan. Tapi, ia dihentikan oleh perwujudan roh itu.


Tunggu, Nona! Roh itu mengajak Shuwan berkomunikasi menggunakan pikiran.


Telepati 'kah? Shuwan kaget dibuatnya. Ia hanya memandangi roh itu dengan tatapan penasarannya.


Aku Qin Gao, penjaga mestika giok hitam itu. Aku bisa berwujud apa saja menyesuaikan situasi. Karena kamu berhasil mengalahkanku, maka kamu bisa membawa mustika giok hitam itu. Ucap roh itu, menjelaskan identitas dan situasi saat ini.


Mestika? Jadi harta ini adalah mestika? Apa yang bisa diwujudkan oleh mestika ini hingga banyak orang berusaha mengambilnya? Tanya Shuwan penasaran.


Qin Gao mendekati Shuwan untuk menjelaskan. Mestika giok hitam merupakan salah satu mestika yang bisa mengabulkan keinginan pemiliknya. Tentu saja banyak orang yang menginginkannya untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya.


Namun, karena keserakahan hati manusia, mestika itu pernah digunakan untuk melakukan kejahatan. Oleh sebab itu, mestika itu ditenggelamkan di danau ini agar tidak ada yang menemukannya lagi. Tapi siapa mengira, bahwa setelah ratusan tahun, ada orang yang berhasil menemukannya lagi.


Pantas saja Xie Bei juga sangat berambisi memilikinya. Sekarang aku harus bagaimana? Jika mestika ini jatuh ke tangan yang salah sudah pasti akan berbahaya. Hati Shuwan kalut.


Mestika itu akan mengakui si empunya yang mengambilnya. Selain si pengambilnya, mestika itu tidak akan berfungsi. Jelas Qin Gao.


Shuwan terkesiap mendengar perkataan Qin Gao. I-itu artinya...


Benar. Kau adalah pemilik sah mestika itu. Tukas Qin Gao.


Lalu, bagaimana dengan Xie Bei? Dia adalah orang yang memintaku mengambilnya?


Xie Bei? Coba saja kau bayangkan apa yang akan dia lakukan setelah mendapatkan mestika itu. Jika dia menginginkan mestika itu, dia harus menghabisimu untuk menjadi pemilik barunya.


Mata Shuwan terbelalak. Apa? Tidak! Tidak boleh seperti ini!


Itu adalah kemungkinan terdekatnya. Lalu, apa rencanamu sekarang? Tanya Qin Gao.


Apakah aku harus menghabisinya terlebih dahulu sebelum dia menghabisiku dan yang lainnya? Kalau begitu, aku sama jahatnya dengan dia. Hah... Kepalaku sakit memikirkannya. Waktuku juga hampir habis.


Shuwan masih tenggelam dalam lamunannya, hingga memikirkan solusi lainnya. Apa yang akan terjadi jika aku menghancurkan mestika ini? Tanya Shuwan dengan serius.


Tentu saja kekuatannya akan menghilang, dan mestika itu hanya akan menjadi legenda. Selain itu, aku juga bisa bebas tanpa perlu terikat dengan mestika itu lagi. Jelas Qin Gao.


Begitu rupanya. Tapi, apakah kau benar tidak apa jika mestika ini dihancurkan? Shuwan memastikan keputusannya.

__ADS_1


Qin Gao mengangguk. Mungkin aku akan kembali ke nirwana dan hidup dengan tenang di sana.


Baiklah kalau begitu. Waktuku hampir habis, aku harus kembali ke permukaan. Terima kasih sudah membantuku. Shuwan melambai pada Qin Gao dan bergegas berenang menuju permukaan.


Harusnya aku yang berterima kasih padamu, gadis kecil. Qin Gao tersenyum sembari memandangi Shuwan yang sedang berenang menuju permukaan.


Huah... Shuwan menyembul dari dalam danau. Ia segera berenang ke tepian menuju teman-temannya yang ditawan oleh Xie Bei.


Tampak Xie Bei telah menunggunya di sana dengan mata berbinar. Bagus, bagus! Akhirnya aku akan menjadi penguasa negeri ini. Xie Bei yang dikelilingi oleh pikiran-pikiran serakahnya. “Serahkan benda itu padaku,” pintanya.


“Tidak semudah itu. Bebaskan dahulu teman-temanku, baru aku akan menyerahkan mestika ini padamu,” Shuwan menimpali.


“Apa kau berusaha mengancamku? Berani sekali kamu!” Xie Bei mulai tersulut emosinya.


“Itu terserah padamu. Aku memegang benda ini sekarang. Menurutmu apa yang bisa aku lakukan dengan benda ini?” kata Shuwan.


“Kau...! Hump... Pengawal, bebaskan mereka semua!” Perintah Xie Bei untuk membebaskan teman-teman Shuwan.


Para pengawal itu pun membebaskan Zhang, Jiao, dan Yu Hao dari ikatannya. Mereka bertiga segera berlari menuju Shuwan.


“Shuwan, kau tidak apa-apa kan?” Tanya Zhang dengan wajah khawatirnya.


“Syukurlah,” Zhang tampak lebih tenang sekarang.


“Aiyo... Apakah sudah selesai melepas rindunya? Sekarang, berikan mestika itu!” Seru Xie Bei.


Shuwan mengeluarkan mestika itu dari dalam kotak, dan menunjukkannya di hadapan semua orang. “Menyerahkannya padamu? Mimpi saja!”


“Apa yang kamu lakukan?” Xie Bei panik. Tampak ia menjadi marah karena Shuwan mengelabuhinya.


Kraak...


Shuwan menghancurkan mestika itu dengan sekali remat.


“Jangan....!” teriak Xie Bei dengan kuatnya. Tapi, semua itu sudah terlambat. Mestika itu hancur berkeping-keping.


“Beraninya... Beraninya kau menipuku dan menghancurkan mestika itu!” Xie Bei murka. Wajahnya menghitam. “Pengawal! Habisi mereka semua!”


Ketika para pengawal itu ingin menyerbu Shuwan dan yang lainnya tiba-tiba muncul serangan seperti bom bola api dari dalam danau. Dan...

__ADS_1


Duarr.... Duarr.... Duarr....


“Argh...” Para pengawal itu berguguran terjatuh terkena ledakan itu.


“I-ini...” Shuwan kemudian menengok ke belakang. Ia pun melihat Qin Gao, melayang di atas permukaan danau. “Apakah kau yang melakukan ini?” Tanya Shuwan.


Qin Gao tersenyum, “Tentu saja! Kau sudah membebaskanku, jadi, aku harus membalas budimu. Karena, aku tidak suka berutang budi pada siapa pun,” kata Qin Gao.


Shuwan tersenyum, “Begitu rupanya.”


Xie Bei bangkit, “Kurang ajar! Berani-beraninya kau mencampuri urusanku!” teriaknya. Xie Bei melaju untuk menyerang Qin Gao. Tapi dengan cepat Qin Gao menyerang Xie Bei dengan kekuatannya.


“Ugh...” Xie Bei terpelanting. Ia pun muntah darah akibat serangan tenaga dalam yang diluncurkan Qin Gao.


“Sebentar lagi, kau akan mati, karena aku telah berhasil melukai seluruh titik vitalmu,” pungkas Qin Gao.


“Kau... Ugh...” Xie Bei tergeletak tak sadarkan diri. Mengakhiri pertempuran itu.


Shuwan dan yang lainnya hanya saling melemparkan pandangan. Ia kemudian kembali memandangi Qin Gao.


“Dia pantas mendapatkannya. Selama ini dia sudah berlaku sangat kejam,” kata Qin Gao dengan seriusnya. “Karena aku sudah menyelesaikan tugas ini pada Tuanku, sekarang aku akan pergi. Untuk selanjutnya, jaga dirimu baik-baik, Tuan.” Qin Gao menghilang seperti kilatan cahaya. Menyisakan rasa penasaran yang begitu dalam di benak Zhang, Jiao, dan Yu Hao.


Tuan? Apa maksudnya aku? Batin Shuwan penasaran, pun setelah kepergian Qin Gao.


“Jadi, Shuwan. Apakah kau mau menceritakan semua yang terjadi selama kami diam ditawan?” Zhang meminta penjelasan dari Shuwan.


“Baiklah-baiklah. Aku akan menceritakannya sambil kita berjalan ya? Sekarang, kita harus meninggalkan tempat ini segera mungkin,” ajak Shuwan.


“Sebaiknya kita obati dahulu lukamu, baru kita lanjutkan perjalan. Aku khawatir, lukamu yang terbuka ini bisa terinfeksi,” Jiao menyela.


“Jiao benar. Sekarang, obati dahulu lukamu, Shuwan,” Yu Hao menimpali.


Shuwan tersenyum, “Baiklah.”


Jiao mengobati luka Shuwan dengan obat-obatan seadanya. Setelah selesai, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tujuan semula mereka.


Dengan wajah cerah, Shuwan menceritakan bagaimana ia bisa mengambil mestika itu dari dalam danau dan pertemuannya dengan Qin Gao. Teman-teman Shuwan hanya ternganga setelah mendengar cerita Shuwan, bingung sekaligus takjub dengannya.


Langkah kaki mereka terus melaju, mengikuti arah tujuan yang seharusnya. Bertemu dengan banyak hal dalam petualangan panjang ini. Kendati pun, masih banyak aral melintang dan kejutan yang terbentang di hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2