
Di dasar Jurang Kesunyian, Zhang, Jiao, dan Yu Hao dibuat semakin khawatir manakala mendapati tempat itu hanya terdapat bangkai beruang yang Shuwan habisi. Mereka butuh waktu hampir 2 hari untuk sampai ke tempat itu.
“Kenapa di sini hanya ada bangkai beruang? Kemana Shuwan pergi?” kata Zhang yang semakin cemas.
“Entahlah. Aku juga tidak mengerti,” sahut Yu Hao.
Di tengah kebingungan itu, Jiao mendapati sebuah petunjuk yang cukup penting. Ia lantas memanggil Zhang dan Yu Hao. “Zhang! Yu Hao! Kemarilah... Aku menemukan sesuatu.”
Dengan ligat keduanya mendekati tempat Jiao bersimpuh.
“Apa yang kau temukan, Jiao?” tanya Yu Hao.
“Coba kalian lihat jejak tapak kuda ini. Firasatku mengatakan kalau ini ada hubungannya dengan Shuwan.”
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita ikuti ke mana jejak ini pergi!” Seru Zhang seraya berlari memimpin perjalanan mencari Shuwan.
***
Biar pun harus menanti selama ribuan tahun
Biar pun begitu getirnya yang kurasakan
Aku tidak peduli
Dan aku tidak akan berpaling
Sebab kau adalah satu-satunya alasanku
Untuk terus bertahan, dalam mengarungi arus ruang dan waktu
Sebagai penuntun jalanku, agar bisa kembali bertemu denganmu
Hari sudah semakin larut, namun Liem belum beranjak dari tempatnya. Duduk di meja belajar, ditemani sebuah lentera, dan lukisan Shu’er yang tergantung di hadapannya. Sejenak ia menghentikan aktivitasnya menulis, dan memandangi lukisan mendiang istrinya.
“Istriku, aku akan tetap menunggumu di kehidupan selanjutnya. Meski harus menanti ratusan, atau ribuan tahun lamanya, aku akan tetap setia padamu. Itu juga ‘kah maksud dari sulaman yang kau berikan padaku? Jika benar begitu, aku sangat menantikan hari pertemuan kita. Mungkin kau tidak akan mengingatku, tapi aku akan selalu menempatkanmu di hatiku yang paling dalam. Itu adalah janjiku selamanya. Kelak, orang yang membersamaimu dalam perjalanan melintasi waktu adalah aku, dan itu akan selalu aku. Karena sejatinya, kisah yang kau lalui adalah kisah tentang kita, bukan tentang orang lain.”
Shuwan tak kuasa menahan air matanya. “Kenapa, kau harus sampai seperti ini?”
Liem menjalani kehidupannya yang biasa. Kekuatannya tak lagi setangguh dulu, karena kini telah rapuh terkikis oleh penyakit. Para tabib telah menyerah, dan obat terbaik pun tidak berguna.
Shuwan begitu iba melihatnya. Kau hidup, tapi hatimu telah mati, terkubur bersama sang pujaan hati. Apa lagi yang lebih kau nantikan, selain kematian untuk kembali pada sebuah pertemuan? Cinta itu... Memang sungguh menyakitkan bukan?
Liem yang merasa ajalnya semakin dekat, baru saja selesai menulis surat wasiat untuk keluarganya. Saat ia selesai, dan akan bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba saja ia kolaps.
Prangg....
Tempat tinta yang ia gunakan menulis terjatuh ke lantai karena senggolan tangannya. Dan ia pun jatuh tersungkur di lantai. Tangannya tidak berhenti menggenggam erat perut kanan atasnya.
"Ughh...."
Ia mengerang kesakitan. Wajah kesakitan itu sangat jelas bisa membekas pada siapa pun yang melihatnya.
Shuwan menjadi panik bukan main. Ia pernah melihat orang kesakitan, tapi rasanya wajar saja. Untuk kali ini, hatinya juga seolah-olah bisa merasakan sakitnya. “Hei! Apa yang terjadi padamu?” Shuwan mencoba menyentuhnya, tapi sia-sia. Ia tidak bisa terlihat, apa lagi menyentuh. “A-apa yang harus aku lakukan?”
Tiba-tiba saja dari luar ada yang mengetuk pintu kamar. Rupanya itu adalah ayah Liem. Karena ia tidak mendengar jawaban dari putranya, ia pun mendobrak pintu dengan paksa.
__ADS_1
“Liem... Apa yang terjadi padamu?” ucap Zhang Zhi Hua, ayah Liem yang panik mendapati putranya telah terkapar di lantai.
Dengan tergopoh, Zhi Hua berlari mendekati Liem. Ia menggungcang tubuh putranya, menepuk pipinya, dan memanggil namanya, tapi putranya hanya memandangnya dengan pandangan yang mulai kabur.
“A-ayah... A-ku... Akan segera... Menemani Shu’erku. Tolong, baca baik-baik wasiatku. Maaf... Karena belum bisa... Menjadi anak yang ba-ik... Un-tuk keluarga... Ini... Jangan menangisiku... Karena aku... Per-gi... Dengan bahagia... Menyu-sul cinta-ku di kehidupan selanjutnya.”
Liem menutup mata setelah selesai mengucapkan kalimat itu. Meski ia menahan kesakitan, tapi ia pergi dengan wajah tersenyum.
Zhi Hua menangis, air matanya jatuh membasahi wajah Liem yang tak lagi bernyawa. Begitu pun dengan Shuwan. Hatinya merasa hancur menyaksikan pemandangan yang menyesakkan ini.
Shuwan merasakan nyeri di ulu hatinya. Dalam tangisnya, perlahan pandangannya kabur, dan perlahan menghilang. Ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Hingga, ia pun tersadar dengan napas yang memburu.
“Tidakkk!” teriak Shuwan ketika membuka matanya. Ia meremas kepalanya setelah menyaksikan begitu banyak tragedi. Air matanya tidak berhenti mengalir, bahkan ketika ia telah sadar kembali.
“Akhirnya kau sadar juga,” celetuk pria berambut putih yang sedari Shuwan pingsan berjaga di sampingnya.
Shuwan pun kaget mendapati pria asing di dekatnya, “S-siapa kau? Dan kenapa kau ada di sini?” ucapnya dengan tatapan yang tajam. Shuwan kemudian menyadari bahwa pakaiannya telah berganti. “Aahhh... Pakaianku!”
“Hei... Tidak perlu sepanik itu ‘kan? Aku adalah dewa penyelematmu. Mengenai pakainmu, sekarang masih berada di jemuran. Aku mencuncinya karena banyak noda darah.”
“I-itu artinya... Kau yang mengganti pakaianku? Dasar kau mesum!”
Pria itu berdecak. “Yang mengganti pakaianmu adalah muridku. Kau jangan salah paham. Bagaimana mungkin aku tertarik dengan dada rata sepertimu?”
“K-kau....”
“Sudahlah. Apa yang aku katakan adalah benar yang terjadi. Aku hanya ingin menyelematkanmu, karena saat aku melintasi Jurang Kesunyian aku melihat tubuh manusia. Dan, saat aku periksa, ternyata masih ada denyut nadi yang lemah. Jadi, aku bergegas membawamu ke tempat tinggalku.”
“Jurang Kesunyian?” Tiba-tiba Shuwan mengingat sesuatu yang terlupakan. “Zhang? A-aku harus segera kembali ke sana! Teman-temanku pasti mengkhawatirkanku.” Shuwan berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Tapi kondisi fisik yang lemah membuatnya nyaris terjatuh saat ia mulai berusaha melangkah.
“Aahh...!”
Shuwan akhirnya pasrah, saat pria itu membaringkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Kenapa kau mau menolongku?” tanya Shuwan dengan pandangan kosongnya.
Pria itu tersenyum, “Karena kau cantik,” singkat pria itu.
“Hei! Aku bertanya serius, kau jangan bercanda.”
“Tapi aku juga serius,” pria itu tersenyum menggoda. “Aku hanya menyayangkan jika wannita secantik dirimu mati di tempat menyedihkan itu.”
“Heh... Rupanya kau sama saja dengan pria-pria mesum di luar sana.”
“Pria mesum? Hei! Jangan sembarangan menilaiku. Apa kau tahu aku sudah menempuh ribuan mil hanya untuk bisa hidup tenang seperti ini?” Pria itu tampak kesal.
“Kau pikir aku bertanya tentang perjuangan hidupmu? Sudahlah aku ingin istirahat, supaya aku bisa segera pergi dari sini.” Shuwan membelakangi pria itu, dan menarik kembali selimutnya.
Kruyukkkk....
Tiba-tiba perut Shuwan berbunyi karena lapar. Sial! Kenapa harus di saat seperti ini? Bikin malu saja!
“Hemm... Sepertinya ada yang sedang lapar? Apa kau yakin akan terus tidur seperti itu? Aku punya banyak makanan enak loh di dapur?”
“Aku tidak butuh! Sudah! Selesaikan saja urusanmu sendiri!”
__ADS_1
Kruyukkkk....
Sial! Kenapa bunyi lagi, sih? Batin Shuwan kesal. Tampak wajahnya memerah karena malu.
“Yakin kau tidak membutuhkannya?” Pria itu tak habis-habisnya menggoda Shuwan.
Karena ia memang merasa sangat lapar ketika bangun, ia pun mengalah pada idealismenya untuk tidak berhadapan dengan pria itu. Shuwan berusaha turun dari tempat tidurnya, dan ia pun meringis kesakitan.
“Aahh...!”
Lagi-lagi pria itu menopang tubuhnya yang nyaris jatuh, dan perlahan memapahnya untuk duduk di kursi yang tersedia di sana.
Setelah duduk, pria itu bergegas ke dapur mengambil makanan. Shuwan hanya memandangi tempat yang ia singgahi kini.
Setelah beberapa menit kemudian, pria itu membawa sebuah nampan berisi makanan yang akan ia santap bersama. Pria itu meletakkannya di meja tempat Shuwan berada, lalu duduk di seberangnya.
“Makanlah agar setidaknya kau punya cukup tenaga untuk berdebat denganku.” Pria itu kembali tersenyum pada Shuwan.
Shuwan menghiraukannya, dan menatap mangkuk yang berada di hadapannya. “Di mana muridmu? Kenapa aku tidak melihat siapa pun selain dirimu?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Shuwan.
“Mereka sedang mencari kayu bakar, dan juga tanaman obat. Mungkin petang nanti baru kembali.”
“Lalu kenapa kau tidak membantu mereka? Dan malah asyik berdiam di rumah?”
“Apa aku terlihat seperti seseorang pria tampan yang tidak berguna?”
Narsis sekali orang ini? Yah, tapi itu benar. Kau bahkan mengakuinya sendiri bahwa kau adalah orang tak berguna. Batin Shuwan .
“Tapi aku sedang sibuk mengurusimu, sepanjang waktu. Apa kau tahu berapa banyak aku mengelap air matamu yang keluar setiap saat itu? Sepertinya hampir setengah belanga air matamu itu keluar.”
Shuwan kaget mendengar ucapan pria itu. Apa aku menangis sepanjang waktu? Bahkan perasaaan sedih itu bisa berdampak seperti itu. Shuwan kemudian menyantap nasi yang ada dihadapannya. Lalu ia pun mengucapkan permintaan maaf, “Maaf, karena telah menyusahkanmu. Kau tenang saja, setelah ini aku akan segera pergi dari sini, dan kupastikan kau tidak akan melihatku lagi.”
“Kau tidak perlu terburu-buru. Kau masih membutuhkan istirahat. Berjalan dari tempat tidur ke sini saja tidak bisa, ingin pergi dari sini? Aku ragu soal itu.”
“Aku ingin mencari teman-temanku.”
“Teman? Kau punya teman?”
“K-kau! Tentu saja aku punya. Aku ini lumayan populer tahu!”
“Hahaha... Aku hanya bercanda. Sudah, selesaikan makanmu, lalu segera minum obat.”
Shuwan masih kesal dibuatnya. Sejenak tidak ada perbincangan di atas meja makan. Rasanya jadi canggung. Hingga akhirnya Shuwan berusaha memecah keheningan.
“Umm... Siapa namamu?” tanya Shuwan dengan tiba-tiba.
“Aku Ying Jie. Lalu kau?
“Aku adalah Lin Shuwan.”
“Kalau begitu aku akan memanggilmu... Umm.. Shu’er. Bagaimana?”
Shuwan kaget mendengar orang itu memanggilnya seperti itu. Ia jadi teringat bagaimana Zhang Wu Liem memanggilnya ‘Shu’er’ di kehidupan lampau. Padahal waktu itu aku juga memperkenalkan diri di Kediaman Liu (episode 29) dengan nama itu, dan rasanya biasa saja. Tapi setelah melihat tragedi yang menyedihkan, aku tidak mengerti perasaanku harus bagaimana.
“Hei.. Apa kau baik-baik saja?” Ying Jie menyadarkan Shuwan dari lamunannya. “Apakah kau tidak menyukainya? Kalau tidak suka, aku akan menggantinya,” sergah Ying Jie.
__ADS_1
“Tidak apa, aku hanya teringat dengan masa lalu. Panggilah aku senyamanmu,” kata Shuwan setelah Ying Jie membangunkan lamunannya. Ia pun kembali menyantap hidangannya.
Sedangkan Ying Jie hanya tersenyum, seakan ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan dialami oleh Shuwan.