
“Kenapa Jiao? Kau pernah melihat atau memang mengenali lambang ini?” tanya Shuwan penasaran setelah melihat gambar yang dibuat olehnya.
Jiao segera menatap Shuwan. “Shuwan, tidakkah kau mengingatnya? Saat kita pertama kali bertemu Yu Hao?”
“Yu Hao? Maksudmu ini mungkin ada kaitannya dengan masa lalunya?”
Jiao mengangguk. “Waktu itu, aku tidak sengaja melihat salah satu orang yang berada dalam kelompok penjahat yang bersama Yu Hao memiliki lambang seperti ini. Aku yakin, ini adalah ulah Kelompok Mawar Hitam itu.”
“Bagaimana... Bagaimana mereka bisa menyusul kita sampai kemari? Dan lagi, mereka bekerjasama dengan para pemberontak untuk merebut tahta.” Pikiran Shuwan mulai kacau. Ia merasa marah, kesal, dan benci. Andai saja dahulu ia bisa menghancurkan kelompok itu sampai ke akar-akarnya, pasti tidak akan terjadi hal mengerikan seperti yang akan terjadi.
Jiao meletakkan gambar itu ke meja. Lalu ditepuknya bahu Shuwan. “Shuwan, tenanglah. Kita beritahukan saja pada Zhang dan Yu Hao agar mereka bisa membantu. Aku tidak tahu kenapa kau begitu keras kepala menyembunyikan semua ini. Tapi, kau tidak akan mampu melawan mereka jika sendirian.”
Shuwan terdiam. Kedua tangannya saling bertautan, dan meremas satu sama lain. Shuwan kemudian membuang napasnya. “Kalau begitu ayo. Katakan pada mereka!”
“Tunggu, Shuwan! Ini sudah larut. Tidak baik bagi kita untuk berkeliaran di tengah malam. Kita tunggu besok saja ya?”
Shuwan mulai tenang. Ia menuruti perkataan Jiao.
“Aku yakin, kau sepertinya punya janji dengan pustakawan itu ‘kan?”
Seketika Shuwan terbelalak. “B-bagaimana kau bisa mengetahuinya?” kata Shuwan terbata.
“Ini hanya prediksiku saja. Tadi dia memanggilmu secara pribadi, pasti ada hal yang penting yang kalian bicarakan bukan?”
Jiao benar. Besok aku harus menemani manusia aneh itu menemui ayahnya. Hah... Kenapa hidupku rumit sekali?
Akhirnya malam itu Shuwan terlelap juga, setelah seharian memikirkan hal yang begitu rumitnya.
***
Sementara itu, di kamarnya, Zhang dan Yu Hao terlibat sedikit pembicaraan sebelum mereka istirahat.
“Zhang, besok Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan kita. Kira-kira apa yang ingin di sampaikannya ya?” tanya Yu Hao.
“Aku juga tidak tahu. Karena diundang, maka datang saja,” imbuh Zhang.
“Hah... Semoga saja bukan yang aneh-aneh.”
“Kau pikir raja itu kau, yang suka berbuat aneh-aneh? Sudahlah, tidur saja. Besok kita harus bangun pagi dan menghadapnya.”
“Ya, baiklah. Selamat malam, Ketua.” Yu Hao memunggungi Zhang, dan ia mulai mencoba menutup matanya untuk tidur.
Zhang tersenyum, “Ketua? Apa pantas aku jadi ketua?” Zhang melipat kedua tangannya ke belakang tengkuk untuk dijadikan bantal. Perlahan matanya pun terasa berat, dan akhirnya terlelap.
***
Keesokan paginya, Shuwan sudah berada di ruangan lainnya yang masih berada di pekarangan milik Zhi Qiang. Tampak ia sudah didandani sedemikian rupa.
Sementara pikirannya tidak fokus untuk menemui ayah Qiang’er pagi ini. Hanya ada pemberontak dan pemberotak yang selalu menghantui pikirannya.
Aku menyerahkannya pada Jiao selama aku pergi. Semoga dia juga bisa menemukan sesuatu. Batin Shuwan penuh harap.
__ADS_1
Shuwan kemudian memandangi dirinya di cermin. Sedari tadi netranya tidak menatap ke depan, dan hanya memandang kosong meja rias di depannya.
Begitu selesai, Shuwan pun merasa sedikit aneh dengan riasan wanita itu. Sudah sangat lama ia tidak berdandan.
“Haruskah aku berdandan seperti ini? Ini terlihat sangat berlebihan. Aku kurang menyukainya,” imbuh Shuwan. Aku pernah berdandan seperti ini ketika masih berumur lima tahun. Dan sekarang, aku merasa sedikit risih.
“Kau terlihat sangat cantik, Nona,” puji Hu Lian.
“Memangnya orang seperti apa ayah Qiang’er itu? Sampai-sampai aku harus mandi air mawar, dan juga didandani sampai berjam-jam.”
“Kau akan mengetahuinya saat tiba di sana.”
Shuwan mendecak kesal karena Hu Lian tidak menanggapi pertanyaannya dengan serius.
“Nah, karena sudah selesai, kita bisa berangkat ke kediaman Tuan Qiang sekarang.”
Keduanya pun berjalan menuju kediaman utama Qiang. Saat masih di halaman, ternyata Qiang menunggunya di taman. Ia tampak menggunakan pakaian yang seperti pemuda kebanyakan di era itu. Rambutnya di gerai, dengan sedikit bagian yang diikat menggunakan pita berwarna biru muda.
Ketika mendengar langkah Shuwan dan Hu Lian yang mendekat ke arahnya, Zhi Qiang menoleh. Ia terkagum dengan penampilan Shuwan saat ini.
Dia benar-benar berbeda ketika mengenakan gaun dan berdandan. Pilihanku sudah pasti tidak salah. Batin Zhi Qiang.
“Salam, Tuan. Hu Lian sudah selesai mendandani Nona Shuwan.”
“Terima kasih banyak, Bibi. Kau benar-benar sudah bekerja keras. Kalau begitu aku akan membawanya sekarang.”
Zhi Qiang berjalan mendekati Shuwan yang berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Ia kemudian menengadahkan tangan kanannya pada Shuwan.
“Kita harus terlihat akrab bukan?” kata Zhi Qiang.
Shuwan sedikit kesal karena harus mengikuti drama menyedihkan ini. Ia pun kemudian meletakkan tangan kirinya ke tangan Zhi Qiang.
Zhi Qiang tersenyum senang. Kini hatinya berdesir menerima genggaman dari wanita yang membuatnya terpana pada pandangan pertama.
Zhi Qiang maju beberapa langkah dan menyetarakan posisinya dengan Shuwan. Di peganginya tangan Shuwan dengan tangannya yang lain, dan dinaikkan hingga lengan.
Keduanya kini berjalan beriringan. Shuwan berjalan berdampingan di sebelah kiri Zhi Qiang seraya menggenggam lengannya. Berjalan santai meninggalkan kediaman putra mahkota dan menuju ke tempat yang sudah ditentukannya untuk bertemu dengan raja yang belum pernah Shuwan lihat.
Mereka berdua benar-benar pasangan yang cocok. Semoga saja mereka bisa meresmikan pernikahan dan melahirkan anak. Harap Hu Lian dalam hatinya.
Dalam perjalanan, Shuwan merasa risih dengan pandangan orang-orang di istana. Ia hanya memasang wajah cuek dan alakadarnya. Tidak peduli bahwa yang berjalan bersamanya adalah putra mahkota yang sedang ia cari.
“Jangan pedulikan mereka. Ada aku di sini,” bisiknya pelan di telinga Shuwan.
Shuwan membuang muka, “Siapa juga yang peduli. Aku hanya peduli dengan diriku sendiri,” ketus Shuwan.
“Sifatmu yang galak ini yang membuatku semakin menyukaimu,” goda Zhi Qiang.
“Jangan terlalu berharap aku akan membalas perasaanmu.”
Zhi Qiang tersenyum sinis. Kelak aku akan membuatmu menyukaiku, Angsa Hitam.
__ADS_1
Setelah menyusuri lorong-lorong di istana, mereka pun berhenti di sebuah ruangan yang sedikit terbuka pintunya.
“Sepertinya ayahmu sedang berbincang dengan orang lain di dalam,” kata Shuwan.
Sejenak Zhi Qiang memandangi Shuwan yang berusaha mengintip apa yang ada di dalam ruangan itu. “Tidak apa. Kita masuk saja.”
Zhi Qiang melangkah terlebih dahulu, Shuwan mengiringi di sampingnya.
“Ayah ini, Qiang’er,” panggil Zhi Qiang seraya membuka pintu itu dengan lebar.
Betapa tercengangnya Shuwan mendapati Zhang dan Yu Hao di sana. Ia diam membisu.
Liem... Kenapa dia bisa ada di sini? Shuwan mulai gelisah. Ia hanya takut kalau Zhang akan salah paham terhadapnya dan bersikap di luar kendali.
Shuwan? Langkah Zhang yang akan keluar dari ruangan itu pun terhenti. Netranya tak berkedip menatap Shuwan yang sudah semingguan lebih tak dijumpainya.
Begitu pula Yu Hao, ia tak kalah kagetnya dengan Zhang.
Kenapa Shuwan bisa bersama putra mahkota? Dan lagi, dandanan dan juga genggaman itu? Apa mungkin terjadi sesuatu ketika kami tidak pulang? Batin Yu Hao.
“Zhang, kau juga ada di sini? Perkenalkan, dia adalah istriku, Shuwan,” kata Zhi Qiang.
Shuwan memandangi Zhi Qiang dengan amarah yang nyaris meledak. Tapi demi misi yang menantinya, ia harus tetap menjalankan perannya.
Amarah Zhang bermuara, dadanya terasa begitu sesak, pembulu darahnya terasa seperti akan pecah begitu mendengar kata yang terlontar dari Zhi Qiang.
Cinta yang dia perjuangkan, mengapa kini bersama orang lain? Terlebih, orang yang bersama dengan cintanya adalah orang yang ia segani.
Ada beribu tanya yang mendera, berharap bertemu dengan jawabnya. Dua insan yang mulanya begitu dekat, kini terasa seperti terpisah jurang yang begitu jauhnya.
“Jika kau ingin tahu putra mahkota, maka jalankan peranmu,” bisik Zhi Qiang di tengah perang tatapan antara Shuwan dan Zhang.
Shuwan lalu menunduk memberikan penghormatan pada Zhang dan Yu Hao yang ada di sana, tanpa ada kata penjelesan yang keluar.
Yu Hao melihat situasi mengerikan itu. Tampak tangan Zhang yang sudah mengepal erat, dan sudah siap menghajar siapa pun yang ada di hadapannya. Pandangan Zhang tajam tertuju pada Shuwan yang ada di samping putra mahkota. Mukanya nyaris merah padam.
Yu Hao lantas menepuk bahu Zhang. “Jangan membuat keributan di sini, Zhang. Ini bukanlah hal yang baik,” bisik Yu Hao.
Sedangkan raja, Li Jing Guo tersenyum senang karena putranya sudah datang. “Kemarilah, Qiang’er.”
Zhi Qiang lalu berpamitan pada Zhang. “Kalau begitu aku ingin berbincang dahulu dengan ayahku,” katanya pada Zhang dan Yu Hao. “Shuwan, ayo,” ajak Zhi Qiang seraya menarik tangannya.
Shuwan berlalu begitu saja melewati Zhang yang gunung api kecemburuannya nyaris meledak.
“Zhang ayo!” Yu Hao menarik paksa Zhang.
Langkah kaki Zhang berjalan dengan langkah yang begitu berat. Ia benar-benar menantikan penjelasan Shuwan mengenai apa yang terjadi hari ini.
Sementara itu, Shuwan hanya bisa pasrah. Ia sudah siap menerima apa pun yang kelak akan terjadi. Termasuk amarah Zhang padanya.
Liem... Maafkan aku... Aku terpaksa. Aku juga ingin segera pulang. Kau pasti tahu itu dengan jelas bukan?
__ADS_1