
Perbincangan Zhi Qiang dengan raja sudah selesai. Shuwan dan Zhi Qiang pun berpamitan pada raja, kemudia berjalan keluar dari ruangan itu.
Pikiran Shuwan kini masih kacau. Kondisi Zhang yang tiba-tiba mencengangkannya menjadi dominasi dipikirannya sekarang.
Liem, bagaimana keadaanmu sekarang? Shuwan menghentikannya di lorong sepi yang hanya ada dirinya dan juga Zhi Qiang. Aku harus menemuinya. Shuwan mencoba menambah kecepatan langkahnya. Tapi hal itu dihentikan oleh Zhi Qiang dengan menarik kuat tangan Shuwan.
“Kau mau pergi ke mana?” tanya Zhi Qiang.
“Kau pasti sudah tahu bukan? Tentu saja aku akan menemui temanku yang jatuh sakit tadi!”
“Kau ingin mencoba mencemariku? Di sini kita adalah berperan sebagai suami istri. Lalu bagaimana dengan pendapat orang-orang ketika mengetahui istriku menemui laki-laki lain?”
Shuwan mengeryitkan dahinya. Kedua alisnya tampak hampir menyatu. Wajahnya yang gelisah menjadi merah padam mendengar ucapan Zhi Qiang. Shuwan lantas menarik tangannya sendiri secara paksa.
“Aku tidak peduli dengan pendapat orang-orang. Kau tahu, aku dan Zhang itu, sudah saling mengenal sejak lama. Bagaimana mungkin aku bersikap seolah peduli dengannya,” ucap Shuwan dengan ketusnya.
“Jadi, kau masih ingin menemuinya?”
“Tentu saja! Biar bagaimana pun dia adalah orang penting untukku.”
Zhang adalah orang penting bagi Shuwan? “Lalu bagaimana jika aku tidak mengizinkannya?”
“Aku akan tetap pergi. Tidak peduli jika itu harus melawanmu.”
Zhi Qiang berjalan mendekati Shuwan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Shuwan yang begitu kesalnya. “Itu artinya kau tidak ingin tahu dengan putra mahkota bukan?”
Tanpa pikir panjang Shuwan langsung menerjang leher Zhi Qiang. Ia lalu memojokkan Zhi Qiang ke dinding dengan tangan kanan yang mencekik lehernya.
Zhi Qiang tampak menunjukkan ekspresi kesakitan. Untuk seorang wanita dia memiliki tenaga yang kuat. Batin Zhi Qiang.
Shuwan menatap tajam Zhi Qiang. “Kau tahu orang seperti apa yang paling kubenci? Ya..Itu adalah orang yang suka mengancamku dengan sesuatu yang telah ia janjikan sebelumnya. Aku tidak peduli apa statusmu. Jika aku mau, aku bisa mengulitimu, dan bahkan mencincang dagingmu untuk diberikan ke binatang buas!”
Shuwan lalu melepaskan cengkeramannya di leher Zhi Qiang. Ia lalu membuang pandangannya pada Zhi Qiang dan berjalan sendiri di dalam lorong.
Zhi Qiang memandangi punggung Shuwan yang mulai menjauh dari dirinya. Shuwan, kau memang orang yang sulit ditebak. Tapi, ini benar-benar membuatku semakin menyukaimu.
Zhi Qiang kemudian mengejar Shuwan. Gema suara hentakan kaki akibat berlarian di lorong terdengar jelas. Ia kemudian menarik kembali tangan Shuwan.
Shuwan langsung memandanginya dengan tatapan penuh kebencian. “Apa lagi yang kau inginkan?” Bentak Shuwan.
“Aku salah. Maaf telah membuatmu marah seperti ini. Aku hanya...”
__ADS_1
Shuwan langsung menarik tangannya. Ia kemudian berkata dengan ketusnya. “Ingatlah... Ini hanya sandiwara. Jangan berharap lebih pada apa yang mungkin tidak bisa kau dapatkan.”
Zhi Qiang terdiam. “Apakah Zhang begitu berarti untukmu? Atau kalian benar adalah sepasang kekasih?”
“Kau benar! Aku dan Zhang adalah pasangan kekasih. Di kehidupan sebelumnya, saat ini, esok, dan selamanya. Orang sepertimu tidak akan bisa mengacaukan skenario takdir yang telah dibuat.” Tanpa sadar Shuwan mengatakan hal yang bahkan selama ini tidak diakuinya.
Andai Zhang ada di sana, ia pasti akan senang sekali mendengar ucapan ini dari Shuwan. Yah, meski pun itu hanyalan trik untuk menjauhkan Zhi Qiang dari Shuwan.
Zhi Qiang langsung seperti tertampar mendengar ucapan Shuwan. Apakah ini artinya aku sudah ditolak? Tapi aku belum melakukan apa pun?
Shuwan kemudian melanjutkaan kembali perjalanannya mencari Zhang. Ia tidak menoleh lagi pada Zhi Qiang, meski ia tahu apa konsekuensi dari perbuatannya.
Di mana sekarang Zhang? Aku harus segera mencarinya agar tahu keadaannya. Shuwan menambah kecepatan langkahnya, agar ia bisa segera menghilang dari pandangan Zhi Qiang.
Sementara itu, Zhi Qiang merasa ingin meledak.
“Argh!” Ia berteriak dan meninju tembok di hadapannya untuk melampiaskan amarah yang kini menguasai hatinya.
Setelah lama berputar-putar, Shuwan akhirnya menemukan di mana Zhang berada. Ia tadi sempat bertanya pada para pengawal yang ada di perjalanan.
Saat Shuwan membuka pintu, ia melihat Zhang yang seperti tertidur di pembaringan. Diam, tak bergerak. Shuwan kemudian mengalihkan netranya pada tabib yang menemani Zhang yang kini juga menatapnya.
“Aku adalah temannya. Kami sama-sama berasal dari kediaman Luo Shu,” kata Shuwan langsung pada intinya.
“Begitu rupanya. Kedua temanmu yang lainnya sedang pergi sebentar. Katanya ingin mengurusi masalah di tempat pembuatan lampion, dan persiapan pembagian manisan besok.”
Apakah itu Yu Hao dan Jiao? Sudah pasti mereka. Memangnya aku ini punya teman berapa di sini? “Kalau begitu, apakah boleh aku yang gantian menemaninya di sini? Kau sepertinya sudah cukup kelelahan.”
“Sebenarnya juga tidak mengapa aku di sini. Lagi pula aku bertanggung jawab untuk membuat obatnya.”
“Begitu rupanya.” Shuwan lantas berjalan mendekati ranjang Zhang, dan kemudian duduk ditepinya. Dipandanginya wajah Zhang yang terlelap dengan tenang. “Sebenarnya... Dia sakit apa? Bukankah seharusnya setelah seminggu dia meminum obat dan menjalani perawatan di sini bisa segera pulih?”
“Pemeriksaanku yang terakhir mengatakannya demikian. Dia, seharusnya memang sudah sembuh. Tapi sepertinya, gejolak batin yang ia rasakan hari ini membuat penyakitnya kembali tumbuh.”
Shuwan diam. Ia kehabisan kata-kata yang bisa meneguhkan kembali suaranya. “Ini semua salahku. Aku yang menyebabkannya menderita sampai seperti ini,” lirih Shuwan.
Tabib itu hanya memperhatikan ucapan Shuwan. Ia kemudian berkata, “Aku tidak mengerti apa konflik antara kau dan juga pemuda ini. Tapi, sebisa mungkin tolong jangan biarkan dia begitu tertekan. Aku hanya takut kalau kondisinya akan bertambah buruk.”
Tidak terasa, air mata menetes begitu saja di pipi Shuwan. Air mata yang entah kenapa terasa begitu panasnya. Ia menyadari dan tahu betul kalau Zhang menjadi seperti ini karena dirinya.
“Tuan tabib, bisakah kau tinggalkan kami berdua saja?” kata Shuwan dengan suara parau.
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan akan sekalian pergi ke balai untuk mengambil herbal.”
Tabib itu kemudian pergi meninggalkan Shuwan dengan Zhang. Ia kemudian menutup kembali pintunya.
Begitu ia berbalik, ternyata Yu Hao dan Jiao ada di belakangnya. Sontak saja ia terkaget. “K-kalian hampir membuat jantungku copot tahu!” kata si tabib.
Yu Hao terkekeh pelan. “Maaf, Tuan. Kami sungguh tidak sengaja.” Kata Yu Hao. “Oh, iya, ngomong-ngomong siapa yang ada di dalam? Dan, kenapa kau seperti akan pergi?”
Tabib itu membuang napas tuanya. “Seorang gadis cantik menemuinya. Ia ingin bersama dengan pemuda itu. Jadi, aku memberikan ruang untuk mereka berdua. Yah, meski pun pemuda itu masih belum sadarkan diri.”
“Yu Hao, apakah mungkin itu Shuwan?” tanya Jiao.
“Kemungkinan terbesarnya adalah benar. Siapa lagi yang akan menemui Zhang kalau bukan karena dirinya. Lagi pula, itu karena dia yang tidak berkata dengan jujur. Makanya Zhang sakit lagi,” tuduh Yu Hao.
“Sudahlah. Kita akan tahu alasannya ketika Shuwan sudah mengatakan semuanya. Sekarang kita tinggalkan saja mereka berdua. Setidaknya sampai Shuwan selesai di dalam.”
“Hm... Baiklah.”
Yu Hao dan Jiao hanya menunggu di luar pintu. Mereka duduk di teras.
Baru saja Yu Hao dan Jiao duduk, tiba-tiba putra mahkota datang ke tempat itu.
Yu Hao dan Jiao lantas berdiri dan memberinya hormat.
“Apakah Shuwan ada di dalam?” tanya Zhi Qiang.
“Dia sedang menemani Zhang yang masih belum sadarkan diri. Aku harap, kau bisa memberikan mereka sedikit waktu.” Kata Yu Hao dengan tenang.
Zhi Qiang membuang napasnya. Ia hanya memandangi pintu yang tertutup rapat. Menanti Shuwan agar mau menemuinya lagi.
Sementara itu, Shuwan di dalam kamar masih menangis sesenggukan. Ia tahu kalau menangis tidak akan merubah apa pun. Tapi tidak tahu mengapa, ia tidak bisa berhenti menangis.
Hatinya juga merasa sakit melihat Zhang yang tak kunjung sadar. Ia lantas berusaha menggenggam tangan Zhang dengan kedua tangannya.
“Liem... Kenapa tanganmu begitu dingin? Kenapa kau juga tidak bangun-bangun? Aku tahu aku salah, jadi tolong sadar dan dengar permintaan maafku.”
Ia lalu mengecup punggung tangan Zhang, dan kembali menggenggamnya erat di dada.
“Kenapa kau harus mencintaiku sampai seperti ini? Kenapa.... A-aku akan melakukan apa pun katamu, asalkan kau sadar Liem. Aku janji...”
Rintik air mata Shuwan tanpa disadari terjatuh di punggung tangan Zhang yang digenggamnya. Shuwan yang sangat jarang menangis pun kini seperti seorang anak yang kehilangan permennya. Menangis hingga tersedu-sedu. Hatinya tidak pernah terasa sesakit ini.
__ADS_1