1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Menanti Penjelasan


__ADS_3

Burung-burung berkicau menjadi senandung penggugah jiwa di pagi hari. Embun pagi tampak menjadi mutiara-mutiara di atas kutikula dedaunan. Sarang laba-laba yang tampak rapuh pun menjadi indah pula karena bulir mutiara embun.


Sementara itu, dua keadaan di dua tempat yang berbeda mulai menunjukkan kembali tanda kehidupannya.


Di kediaman putra mahkota, Shuwan mulai mengerjapkan matanya. Ia tersadar begitu merasakan ada hembusan angin hangat di telinga kanannya. 


Ketika netranya telah terbuka, Shuwan menyadari bahwa dirinya seperti berada di tempat yang asing.


Shuwan menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Dan...


DEG!


“Argh!” jerit Shuwan mendapati Zhi Qiang terlelap di sampingnya. 


“Kenapa pagi-pagi kau sudah berteriak-terika Shuwan?” tanya Zhi Qiang seolah tak bersalah.


“K-kau... Kenapa kau di sini?” Shuwan kehabisan kata-kata. 


Zhi Qiang kemudian duduk dan menatap Shuwan dengan pandangan yang menggoda. “Tidakkah kau menyadari apa yang sudah kita lakukan semalam, Shuwan?”


“Kau yang membawaku kemari bukan?” 


Zhi Qiang mengangguk. “Tentu saja. Kita sudah berpelukan sampai bulan muncul di langit malam Shuwan. Karena kau begitu menghayatinya sampai tak sadarkan diri, aku membawamu ke kamarku. Dan, semalaman kita sudah berbagi ranjang.”


“K-kau!” Shuwan pun hendak beranjak dari ranjang itu. Tapi siapa sangka Zhi Qiang menariknya dan menindihnya. “Dasar brengsek! Apa yang mau kau lakukan? Lepaskan!”


“Menurutmu posisi seperti ini bagusnya untuk apa, Istriku?”


“Dasar mesum!”


BRAKK!


Pintu yang bahkan semalam sudah dikunci Zhi Qiang tiba-tiba saja terbuka. 


Shuwan dan Zhi Qiang yang berada dalam posisi tidak mengenakkan itu pun langsung menoleh ke sumber suara. Rupanya itu adalah sang raja. Ia hendak membangunkan putranya.


“Qiang’er! Cepat bangun dan bersiap! Ini hari penting dan kau malah...”


Seketika ucapan sang raja terhenti melihat pemandangan dua insan yang tertutup kelambu yang sedikit transparan itu. Seketika wajahnya merona. “Ahem... Maaf aku tidak tahu kalau kalian sedang seperti itu. Kalian selesaikan dahulu saja. Setelah itu bergegaslah menuju altar untuk melakukan doa bersama.”


Raja langsung keluar dan menutup pintu tanpa menunggu tanggapan dari Shuwan atau pun Zhang. Di balik pintu, Li Jing Guo membatin senang. Sebentar lagi sepertinya aku akan punya cucu.


Sementara itu Shuwan dan Zhi Qiang masih dalam posisi sama. “Kenapa kau tidak mengatakan apa pun pada ayahmu? Bagaimana kalau terjadi salah paham?” bentak Shuwan.


“Aku harus menjelaskan apa? Lagi pula dimatanya kita adalah sepasang suami istri. Hal yang lumrah jika hanya berbagi ranjang, Shuwan.”


Shuwan menjadi semakin kesal. Wajahnya berubah merah padam. Ia lalu menggunakan lututnya untuk meninju perut Zhi Qiang.


BUGH!


Zhi Qiang terhempas dari Shuwan, dan terbentur tiang kelambu. Tiba-tiba saja baju putihnya ada bercakan darah. Zhi Qiang meringis kesakitan.


Kenapa dia berdarah? Padahal aku tidak sekuat itu menendangnya. Shuwan jadi merasa bersalah setelah melihat noda darah di pakaian Zhi Qiang.


Zhi Qiang menyadari perhatian Shuwan. Ia lantas menggodanya lagi. “Tidakkah seharusnya kau bertanggung jawab untuk lukaku, Shuwan?” tanya Zhi Qiang seraya memegangi bahunya yang berdarah.


Shuwan diam. Ia berusaha untuk tidak bersimpati pada Zhi Qiang.


“Kau menggigitku dengan buas semalam, dan aku terluka. Bukankah ini seharusnya jadi tanggung jawabmu?”


Telinga Shuwan terasa panas karena terus-menerus diingatkan dengan tanggung jawab. Ia lantas menyanggah ucapan Zhi Qiang. “Kenapa aku harus bertanggung jawab? Itu ‘kan salahmu yang memelukku. Lagi pula, kau sudah tidur denganku tanpa izin semalam. Aku rasa itu impas!” 


“Kau memang pandai bersilat lidah, Shuwan. Tapi aku tidak melakukan apa pun padamu yang menimbulkan darah. Sedangkan kau, membuatku berdarah seperti ini. Tidakkah ada sedikit rasa kemanusiaan di hatimu Shuwan?”


Shuwan membuang napasnya. Ia paling malas diajak berdebat. “Kalau begitu aku obati. Tapi jangan salahkan aku jika pengobatanku menyakitkan.” Gertak Shuwan.


Aku punya firasat buruk mengenai ini. “Baiklah. Aku tidak keberatan. Dengan senang hati aku akan menerima pengobatan dari Angsa Hitamku yang menawan ini.”

__ADS_1


“Cih... Sebaiknya kau cepat. Kau tidak lihat wajah ayahmu yang kesal tadi?”


Shuwan beranjak dari tempat tidur. Kini ia sudah berdiri di tepi ranjang. 


“Bukankah dia tadi mengatakan agar aku menyelesaikannya dahulu denganmu? Tentu saja, dia masih akan menungguku.”


“Jangan menguji kesabaranku!” Shuwan beranjak menjauh dari tempat tidur. Ia lalu mengambil perban dan beberapa obat yang ada di kediaman putra mahkota.


Dengan cepat ia menumbuk obat itu.


Zhi Qiang memandanginya dengan cermat dari balik kelambu yang nyaris transparan itu. Ketika serius Shuwan jadi bertambah cantik. Puji Zhi Qiang dari dalam hati. Senyum simpul pun mengembang di wajahnya.


Ia kemudian turun dari ranjang menuju kursi yang ada di dekat Shuwan.


“Buka bajumu!” perintah Shuwan.


“Sebegitu tidak sabarnya kau ingin melihat tubuhku,” goda Zhi Qiang.


“Jangan membuatku mengulang dua kali!”


Zhi Qiang tertawa pelan. Ia lalu membuka pakaian atasnya.


Shuwan mengamati luka yang ia buat semalam. Sampai sebegininya? Padahal aku hanya menggigitnya karena kesal. Ini pasti karena tidak langsung di obati. “Kenapa semalam kau tidak mengobati lukamu? Ini terlihat tidak baik.”


“Semalam aku merasa sangat ngantuk. Dan karena ada kau yang menemaniku tidur, aku jadi semakin ingin cepat tidur bersamamu.”


TAK!


Shuwan memukul keras kepala Zhi Qiang. “Singkirkan pikiran kotor itu dari kepalamu. Atau, kau akan merasakan hal yang lebih menyakitkan daripada sekedar gigitan.”


“Aku siap menerima apa pun yang kau berikan Shuwan. Selama itu kau, aku akan rela.”


Cih... Laki-laki memang begitu berbahaya lisannya. Jika tidak hati-hati, sudah pasti terkena diabetes mendengar perkataan manis-manis seperti ini.


Shuwan tidak menggubris nyata perkataan Zhi Qiang. Selesai membersihkan lukanya, Shuwan lalu menempelkan obat yang telah ia tumbuk tadi. “Ini adalah proses paling menyakitkan. Kau harus bersiap menerimanya.”


Aku ingin sekali mengerjainya, tapi tidak ada waktu lagi. Aku ingin melihat keadaan Zhang terlebih dahulu. Batin Shuwan.


Zhi Qiang yang mengira Shuwan akan mempermainkan lukanya ternyata salah sangka. Shuwan membubuhkan obat itu ke lukanya dengan sangat lembut.


DEG!


Jantung Zhi Qiang berdegup kencang. Kenapa ketika melihatnya secara tidak sengaja bisa memacu jantungku? Rasanya aku semakin gila dengan wanita ini. Zhi Qiang menutup mulutnya. Sebisa mungkin wajahnya ditutupi agar tidak ketahuan Shuwan bahwa dia sedang merona.


Shuwan tidak menggubris ekspresi Zhi Qiang yang merona karenanya. Ia fokus membalut luka itu dengan perban.


Setelah sekitar sepuluh menit, ia pun selesai mengobati Zhi Qiang. “Sekarang sudah baik-baik saja. Gantilah perbanmu, minimal dua kali.”


Zhi Qiang tersenyum, ia lalu bangkit dari tempat duduknya.


CUP.


Zhi Qiang memberikan ciuman singkat di pipi Shuwan. “Terim kasih.” Zhi Qiang langsung beranjak pergi meninggalkan Shuwan. Ia hanya takut kalau Angsa Hitam itu akan mengamuk dan menamparnya.


Shuwan terkejut dan diam membatu. Bukannaya senang, Shuwan justru merasa kesal dengna perlakuan putra mahkota. “Kau brengsek!” Teriaknya. 


Shuwan mengambil pedangnya yang tersandar di nakas, dan mengambil langkah untuk keluar kamar.


Namun dengan sigap, Zhi Qiang menghentikannya. “Kau tidak boleh keluar Shuwan. Aku akan memanggilkan pelayan untuk mendandanimu. Biar bagaimana pun ini adalah hari penti. Kau harus terlihat cantik di depan orang-orang itu.”


Shuwan mendengus kesal. Ia lalu menatap tajam Zhi Qiang. “Bukankah seharusnya perjanjian kita batal? Kau sudah menipuku, dan mengambil keuntungan dariku.”


“Tapi kau juga sudah mendapatkan keinginanmu bukan? Bertemu dengan putra mahkota.”


Wakah Shuwan bertambah merah. Ia benar-benar ingin menghabisi orang yang ada di depannya ini. Jika saja kau bukan putra mahkota, sudah pasti aku akan memotong lidahmu yang menyebalkan itu.


***

__ADS_1


Zhang yang tidak sadarkan diri sejak kemarin pun mulai mengerjapkan matanya. Ia berusaha memfokuskan penglihatannya yang buram, dan bangkit dari tempat tidurnya.


Ia mengedarkan netranya, dan mendapati Yu Hao berserta Jiao yang tertidur dengan posisi duduk di lantai, dan kepala yang disandarkan pada tepian ranjang.


Zhang menggelengkan kepalanya, dan berulang kali mengedipkan matanya agar pandangannya bisa jernih kembali. Dengan suara lirih ia pun memanggil Yu Hao dan Jiao.


“Yu Hao... Jiao...” panggil Zhang seraya mengguncang bahu kedua temannya itu.


Yu Hao dan Jiao tampak mengerjapkan matanya. Yu Hao dilanjutkan Jiao pun menguap. Rasanya mereka masih begitu ngantuk, dan ingin tidur.


“Yu Hao... Jiao...” panggil Zhang lagi.


Keduanya tersentak mendengar suara Zhang. Mereka yang tadinya memunggungi Zhang pun beralih dan menatapnya.


“Zhang... Kau akhirnya sadar juga,” kata Yu Hao gembira.


Zhang tersenyum. “Apakah kalian menjagaku sepanjang malam? Kantung mata kalian tampak menghitam?”


“Kau demam semalaman Zhang. Tentu saja kami khawatir. Jika bukan kami yang menjagamu, lantas siapa?” balas Yu Hao.


Zhang langsung membungkuk ke arah Yu Hao dan Jiao. “Maaf... Aku benar-benar minta maaf membuat kalian begadang semalaman.” 


Yu Hao memegangi kedua bahu Zhang. “Sudahlah. Jangan merasa sungkan. Toh kita sudah seperti keluarga bukan? Sudah sewajarnya saling menjaga dan melindungi.”


Zhang merasa begitu terharu. Dipandanginya Yu Hao dan Jiao dengan mata yang berbinar. “Terima kasih.” Sebuah ucapan singkat penuh makna terlotar begitu saja dari mulut Zhang.


Yu Hao dan Jiao membalasnya dengan senyum.


Zhang baru menyadari sesuatu. Seseorang yang begitu pentingnya kenapa tidak ada di sini juga. “Shuwan... Di mana dia? Apakah semalaman dia tidak pulang?” tanya Zhang.


Yu Hao dan Jiao saling melempar pandang. Mereka bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Zhang.


Akhirnya Jiao yang angkat bicara. “Semalam Shuwan pergi karena ada urusan penting. Dia izin untuk tidak kembali kemari.”


“Memangnya di mana dia? Apa yang dia lakukan sampai tidak kembali ke sini?” Zhang tampak begitu khawatir karena Shuwan tak ada di sisinya.


“Itu untuk perayaan hari ini Zhang. Pagi ini kebetulan ada doa bersama, dan Shuwan pergi untuk itu,” kata Jiao.


“Begitu rupanya.”


Maafkan aku Zhang. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kebenarannya padamu. Ada rasa bersalah yang terselip di hatinya. Ia terpaksa berbohong agar Zhang tidak syok dan jatuh sakit lagi. Di sisi lain ia tidak ingin hubungan Zhang dan Shuwan semakin keruh.


“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Bagaimana kalau kita susul dia di sana?”


Jiao dan Yu Hao kaget. 


“Zhang, kau baru saja sadar. Jangan memaksakan diri untuk ke sana,” kata Yu Hao.


“Benar yang dikatakan Yu Hao, Zhang. Kau masih harus istirahat,” imbuh Jiao.


“Tapi aku ingin meminta penjelasan dari Shuwan. Kemarin dia belum mengatakan apa pun padaku,” Zhang mulai merengek.


Yu Hao dan Jiao hanya bisa menahannya agar tak ikut ke sana. Mereka tahu kalau Shuwan akan datang berdampingan dengan Zhi Qiang. Takutnya jika Zhang ke sana, hanya akan membuatnya semakin sakit.


“Zhang... Tolong penuhi permintaan kami kali ini saja. Jangan memaksakan dirimu. Kau benar-benar butuh istirahat agar cepat pulih. Dan mengenai Shuwan, aku akan memanggilnya begitu doa bersama ini selesai untuk berbicara padamu,” kata Yu Hao.


Zhang diam. Ia sangat ingin menemui Shuwan sekarang. Tapi ia juga tidak ingin membuat Yu Hao dan Jiao lebih khawatir dengan dirinya. Lelah, itulah yang Zhang rasakan melihat kedua temannya yang rela terjaga demi mengobatinya.


Dengan berat hati, Zhang mengangguk. “Baiklah. Aku akan tetap di sini, menunggunya,” kata Zhang.


Wajah Yu Hao dan Jiao tampak cerah. Seperti ada kelegaan yang kembali menenangkan jiwa yang gundah.


“Kalau begitu, aku akan menjagamu. Dan Yu Hao yang akan pergi ke sana,” imbuh Jiao.


“Benar. Aku akan menyusul Shuwan, dan membantunya di sana. Kau tunggulah di sini bersama Jiao.”


Zhang mengangguk pelan. Sedangkan Yu Hao, ia pun bergegas pergi menyusul ke altar.

__ADS_1


Zhang masih kepikiran dengan Shuwan. Ia benar-benar tidak sabar menunggu penjelasannya. Shuwan, cepatlah kemari. Aku menantikan penjelasanmu.


__ADS_2