1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Akhir Cerita


__ADS_3

Lin Quon dan Lin Jianying sedang duduk di ruang keluarga. Ya, mereka sedang menikmati pagi seperti biasanya.


Keduanya tiba-tiba saja dikejutkan dengan cahaya berbentuk pintu yang muncul di ruangan. Quon dan Jianying saling melempar pandangan.


Ternyata itu adalah pintu dimensi. Shuwan dengan terhuyung keluar dari pintu cahaya itu. 


“Kakak...”


BRUKK!


“Shuwan!” teriak Jianying.


Begitu Shuwan keluar, pintu dimensi itu pun tertutup dan menghilang. Menyisakan Shuwan yang mengerang kesakitan.


Jianying segera meraih tubuh Shuwan. “Apa yang terjadi padamu, Shuwan?” katanya dengan cemas.


Shuwan meremas perutnya. Ia merasa begitu sakit di bagian ulu hatinya. “Sakit, Kakak... Sakit... Ugh...”


Shuwan pingsan tak sadarkan diri. Jianying melemparkan pandangannya pada Quon. “Bagaimana ini, Kek?”


“Bawa dia ke kamarnya. Aku akan memeriksanya, dan memanggil dokter untuk memastikan kondisinya,” jawab Quon.


Jianying langsung membawa tubuh Shuwan ke kamarnya. Ia kemudian di periksa oleh kakeknya, dan juga seorang dokter yang menjadi kepercayaan keluarganya.


“Shuwan harus istirahat total. Jangan biarkan dia kelelahan atau mengalami stres.” Kata sang dokter.


Lin Quon mengangguk. “Aku setuju dengannya, Shuwan harus istirahat total. Ini adalah bagian dari pemulihan dari penyakit yang ia derita selama ini.”


Semenjak hari itu, Shuwan harus beristirahat total. Kurang lebih ia harus melewati musim panas, dan dingin begitu saja. Kini ia baru diizinkan untuk kembali beraktivitas lagi saat musim semi datang. Dengan catatan hanya aktivitas di dalam rumah.


Di sebuah meja belajar, tampak seorang perempuan berambut hitam panjang terurai sedang duduk membaca sebuah buku. Ya, tentu saja, orang itu adalah Shuwan sendiri. Ia mengakhiri kisah buku merah itu begitu saja.


Setelah selesai, Shuwan menutup buku itu. Ia bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


Bagaimana ya keadaan mereka sekarang? Apakah Qiang’er sudah naik tahta menggantikan ayahnya? Lalu, bagaimana dengan Jiao dan Yu Hao? Apa mereka pada akhirnya menikah? Dan yang terakhir, bagaimana dengan si mesum itu? Apa yang terjadi dengannya setelah aku pergi?


***


Seorang pemuda dengan wajah teduh sedang memandangi sebuah lukisan seorang wanita. Lukisan itu adalah Shuwan, gadis yang disukainya.


Pemuda itu membelai lembut lukisan itu, dengan tatapan penuh arti. “Shuwan, kita pasti akan segera bertemu kembali. Aku merindukanmu,” ucap pemuda itu.


Di tangan kirinya, ada sebuah benda yang sangat tidak asing. Ya, benda itu adalah liontin giok angsa milik Shuwan. Ia masih menyimpannya, dan menggenggamnya dengan erat. Tidak ia biarkan benda itu sampai rusak.


Pemuda itu selalu setia, menuggu kekasihnya sampai waktu mempertemukan mereka kembali. Dengan sebuah janji yang harus ditepati.


***


Hari itu adalah pertengahan musim semi. Setelah sekian lama menjadi anak pingitan, Shuwan akhirnya diizinkan keluar. Shuwan berencana mengunjungi Taman Anming untuk meletakkan Buku Merah itu ke perpustakaan yang ada di sana.


“Kakak... Aku keluar dahulu,” pamit Shuwan seraya menggigit sepotong roti di mulutnya. 


“Jangan pulang terlalu larut,” teriak Jianying dari dalam rumah.


Sebenarnya perjalan menuju Taman Anming lumayan jauh dari rumah Shuwan. Tapi karena Shuwan ingin menikmati harinya, jadi ia akan menempuhnya dengan jalan kaki. Menikmati aroma musim semi yang berbeda dari tahun sebelumnya.


“Ah... Setelah sekian lama tidak diizinkan keluar, akhirnya aku bisa keluar juga. Hum... Aroma musim semi kali ini terasa sangat segar.” Puji Shuwan seraya melangkahkan kakinya di bawah pohon Sakura yang ditanam di pinggir jalan. Kelopaknya berguguran ditiup oleh angin. Menambah indah suasana jalanan kala itu.


Akhirnya setelah berjalan cukup jauh dan lama, Shuwan pun sampai di Taman Anming itu. Ia langsung berjalan menyusuri lorong yang membawanya ke perpustakaan khusus.


Sesampainya di perpustakaan, Shuwan langsung menuju rak buku yang masih menyisakan ruang untuk meletakkan buku terakhirnya itu.


Dipandanginya buku itu sebelum ia letakkan dengan penuh kelembutan. “Kau adalah yang terakhir. Terima kasih sudah menjadi bagian yang berharga dalam perjalanan melintasi ruang dan waktu.”Gumamnya. 


Shuwan lalu meletakkan buku itu, di rak yang paling atas. Ia membutuhkan tangga agar bisa meletakkan buku itu di sana. Setelah meletakkan buku itu, Shuwan menyandarkan punggungnya di rak buku. Ia masih terduduk di bagian atas tangga, sehingga akan mudah baginya bersandari di rak paling atas itu.


“Hah... Semua sudah berakhir sekarang. Apakah aku sudah bisa jatuh cinta? Hm... Kira-kira siapa laki-laki yang akan membuatku jatuh cinta?” Shuwan mulai memikirkan hal-hal aneh semacam ini. Ia lalu menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, kenapa aku harus memikirkan hal tidak penting semacam ini? Bikin pusing saja!”

__ADS_1


Dengan hati-hati Shuwan pun menuruni tangga. Ia lalu melipat tangga itu dan meletakkan kembali ke tempat semula.


Selesai mengunci kembali perpustakaan, Shuwan berkeliling tempat itu sebentar. Tidak ada pengunjung lainnya di sana kecuali dirinya, serta orang-orang yang diminta Lin Quon untuk merawat dan menjaga tempat itu.


Setelah berkeliling, perhatian Shuwan tertuju pada sebuah ruangan yang di depannya ditumbuhi pohon aprikot. “Hm... Ini ruangan apa ya?” tanyanya.


Shuwan lalu masuk begitu saja ke ruangan itu. Ia memandangi isi ruangan, dan matanya langsung tertuju pada sebuah lukisan yang terpajang di sana. “Kenapa wajahku mirip sekali dengan lukisan ini? Apakah sosok dalam lukisan ini adalah aku?” tanya Shuwan pada dirinya sendiri. “Tapi siapa yang membuatnya?”


Shuwan menggeser kembali langkahnya. Pandangannya tertuju lagi pada lukisan yang ada di sebelahnya. Matanya berair ketika melihat lukisan itu. Dengan tangan yang bergetar, ia menyentuh lukisan itu. Figur seorang wanita dan pria yang sedang tersenyum lembut di sana.


“Liem... Apakah ini kau dan aku?” tanyanya.


Taman Anming memang di dedikasikan untuk Shuwan. Tempat yang dibangun oleh Zhang Wu Liem pada masa lampau untuk mengenang istrinya, Shuwan. Tentu saja isi dari tempat peristirahatan di Taman Anming adalah kenangan dan juga berbagai hal yang di sukai Shuwan.


Shuwan terlahir dari garis keturunan adiknya di masa lalu. Ia telah ditakdirkan untuk terus bereinkarnasi dan menyelesaikan misi agar terbebas dari kutukan selama ribuan tahun lamanya.


Kini Shuwan masih memandangi lukisan itu, dan menemukan sebuah catatan yang membuatnya semakin deras menangis. 


Shuwan, istriku... Kita pasti akan bertemu kembali. Karena hanya engkaulah orang yang kuakui menjadi istriku. Aku mencintaimu, selamanya...


Shuwan menangis dengan derasnya di ruangan yang tidak ada siapa pun di sana. Ia merasa sesak ketika melihat catatan itu. Ingatannya tentang Liem yang selalu ia temui di dalam misi membekas dengan begitu jelas.


Bagaimana mereka harus bertemu dan bepisah dalam skenario takdir yang telah dibuat. Semuanya, Shuwan menumpahkan air matanya di sana.


Setelah merasa tenang dan lega, Shuwan menutup kembali ruangan itu. Ia lalu menuju tempat duduk yang berada di bawah pohon aprikot. 


Pandangannya mengawang, tangannya berada di atas meja seraya memegangi botol minuman yang sempat ia bawa dari rumah.


Pertemuan kembali? Kapan hari itu akan tiba? Apakah aku akan siap ketika hari itu tiba? Aku mencari Liem di toko miliknya waktu itu, tapi tidak pernah membuahkan hasil. Apakah takdir lagi-lagi mempermainkan kami?


Shuwan meneguk minuman di botolnya. Ia membuang napasnya yang terasa berat.


Setelah melamun cukup lama, Shuwan akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia hanya berjalan seperti biasanya. Seperti tempo andante dalam sebuah lagu. Berjalan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Ia masih ingin menikmati hari itu. Dengan tenang, di bawah kelopak Sakura yang berguguran di jalanan. 


__ADS_2