
Shuwan memandangi pedangnya yang sudah beberapa waktu ini tidak bisa disentuhnya. Ia lalu mengambil, dan mengeluarkan dari sarungnya.
“Aku sangat ingin memainkanmu lagi. Terus menerus istirahat tanpa melakukan apa pun benar-benar membuatku bosan.”
Tiba-tiba saja Jiao masuk ke kamar Shuwan, dan menyadari Shuwan sedang memegang pedangnya. “Shuwan, apa kau ingin membunuh seseorang? Kenapa kau memegang pedangmu seperti itu?”
Shuwan langsung menyipitkan matanya dan tersenyum. “A-ah... Ini tidak seperti yang kau bayangkan Jiao. Aku hanya merindukan pedangku saja.”
“Begitu rupanya. Kondisimu masih belum pulih seutuhnya, jadi jangan bertindak gegabah.”
“Aku mengerti.”
Jiao mengerti keinginan hati Shuwan, tapi dia juga tak punya pilihan selain menjaga temannya agar tidak terluka lagi.
***
Sesekali Yang Mulia tampak seperti mempersiapkan mentalnya untuk membicarakan alkemis Luo Shu. Hingga, akhirnya ia mendapatkan timingnya.
“Alkemis Luo Shu adalah alkemis terhebat sepanjang sejarah Negeri Awan. Ia mampu menciptakan ramuan yang bisa meningkatkan stamina seseorang dalam waktu singkat.
Ia lalu dipuja dan diagungkan. Banyak yang sangat ingin berguru padanya, tapi tidak ada satupun yang diterimanya. Alasannya, dia melihat bahwa orang-orang yang ingin berguru padanya hanya berambisi untuk kepentingannya sendiri. Dan itu, sangat bertolak belakang dengan idealismenya.”
Dia menolak orang-orang hebat yang melamar jadi muridnya? Tapi, sekarang dia menerima Jiao? Hm... Apakah Jiao memang berhasil meluluhkannya? Batin Yu Hao penasaran.
“Waktu itu, wilayah timur Negara Awan terkena wabah menular. Banyak tabib yang sudah kukirim untuk menangani masalah tersebut. Namun tidak ada yang berhasil. Hingga akhirnya, aku memohon pada Luo Shu untuk membantu wilayah itu.
Dia sempat berpikir semalaman sebelum mengiyakan permintaanku. Setelah ia setuju, ia pun pergi ke sana, dan menitipkan putra serta istrinya di bawah perlindunganku. Luo Shu sudah hampir setengah bulan menangani wabah, semuanya masih baik-baik saja.
Hingga, suatu malam rumahnya yang waktu itu masih ada di dekat istana terbakar. Aku yang mengetahui hal ini langsung mengirimkan orang untuk menyelamatkan orang-orang di dalamnya.
Prajuritku berhasil menerobos api, tapi mereka hanya mampu menemukan putranya. Sedangkan istrinya, tewas terbakar dan baru ditemukan setelah api berhasil dipadamkan.
Aku takut dan khawatir mengenai hal ini. Aku ingin memberitahu Luo Shu tentang tragedi yang menimpa keluarganya. Tapi, lagi-lagi aku dihinggapi rasa takut kalau ia akan langsung berhenti melaksanakan tugasnya mengobati wabah. Jadi aku menyembunyikannya.”
“Bukahkan seharusnya kau mengatakan padanya saat tragedi itu terjadi?” tanya Zhang serius.
“Ya... Seharusnya aku memang mengabarinya. Tapi, aku takut pada para pejabat yang akan meragukan pemerintahanku jika sampai Luo Shu kembali sebelum wabahnya berakhir. Inilah yang membuatku mengurungkan niat untuk mengabarinya, sampai ia kembali.
__ADS_1
Dan.. Begitu mengetahui kebenaran tentang kematian istrinya, ia murka padaku. Ia membawa kembali putranya, dan membawanya pergi. Ke tempat terpencil dan cukup jauh dari sini. Dia tidak ingin lagi terlibat dalam urusan istana, ataupun bertegur sapa kembali denganku.
Itu wajar baginya. Aku adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian istrinya. Meski ia tak mau menemuiku lagi, tapi aku selalu mencari tahu perkembangannya dan juga putranya.
Setelah kejadian itu, Luo Shu hanya hidup bersama putranya. Ia terlihat bahagia ketika bersama putranya. Lagi-lagi, dia harus diuji. Anaknya sakit keras. Berbagai cara telah ia lakukan untuk menyembuhkan putranya. Tapi tidak ada yang berhasil. Hingga akhirnya putra semata wayangnya pun harus menyerah pada kematian.
Sampai sekarang, aku benar-benar masih bersalah. Aku ingin mengajak Luo Shu berbicara, tapi dia selalu menolakku dengan keras. Aku mengirimkan aneka barang dan tanaman herbal, dia juga mengembalikannya. Dia benar-benar masih membenciku.”
Wajah yang mulia pun tampak sedih. Ada penyesalan mendalam yang selalu menghantuinya. “Aku mengorbankan kepercayaan orang lain demi ambisiku. Aku ini, benar-benar tidak pantas menjadi raja.”
Zhang membuang napasnya. Ia lalu berkata, “Apa yang sudah terjadi tidak akan kembali. Begitu pula istri dan anak alkemis Shu. Aku rasa yang bisa Anda lakukan adalah tetap berdiri dan berjuang sebagai raja. Itu adalah jalan terbaik.”
“T-tapi, bagaimana dengan Luo Shu? Aku benar-benar menyesal melakukannya.”
“Anda tidak bisa terus menerus berlari di masa lalu. Ada banyak hal besar menanti Anda. Jika alkemis Shu membenci Anda, maka jadikan itu pelajaran dan cambuk hati agar Anda bisa jadi lebih baik lagi. Dan... Terus upayakan untuk berkomunikasi dengannya. Aku yakin, kelak ia akan memaafkanmu.”
“A-apakah itu benar?”
“Batu sekeras apa pun jika ditetesi air terus menerus, pasti akan lapuk dan hancur juga. Begitu juga hati manusia. Aku yakin, kelak tuan Shu juga akan luluh dan memaafkanmu.”
Raja Negeri Awan itu terdiam sejenak. Tidak tahu apa yang saat ini dipikirkannya. Ia lagi-lagi menghela napas, berusaha membulatkan tekadnya. “Aku mengerti. Terima kasih sudah memberikan petuah untukku.”
Ia lalu menyantap hidangan yang masih tersisa di mangkuknya. Di dunia ini tidak ada kesempurnaan sejati. Kau yang seorang raja pun pernah melakukan kesalahan. Aku juga demikian. Kesalahan dimasa lalu itu benar-benar tak termaafkan.
Setelah selesai makan, raja pun meminta pengawalnya untuk menuntun Zhang dan Yu Hao ke kuil istana. Sesampainya, mereka disambut oleh seorang biksu.
Zhang dan Yu Hao lantas memberikan penghormatan padanya.
“Aku mengerti maksud kedatangan kalian. Semuanya sudah dijelaskan padaku. Apa kau sudah siap?” tanya biksu itu pada Zhang.
“Aku siap.” Ini adalah hari yang kunanti-nanti. Batin Zhang dengan penuh keyakinan dan harapan.
Saat hari mulai gelap, Zhang memulai ritualnya. Ia membuka pakaian atasnya dan memberikannya pada Yu Hao.
“Aku titip barangku,” katanya.
“Ya, aku mengerti. Kau berhati-hatilah.”
__ADS_1
Zhang tersenyum. “Aku tahu itu. Lalu, apakah kau akan meninggalkan tempat ini?”
“Hah? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang sedang bertapa? Aku akan menunggumu di sini, sampai kau selesai,” imbuh Yu Hao.
“Apa kau tidak merasa bosan karena menungguku?”
Yu Hao mendecak. “Aku sudah terbiasa menunggu. Jadi sekarang kau cepatlah berendam dan memulai pertapaanmu.” Yu Hao mendorong tubuh Zhang ke arah kolam agar Zhang segera menjalankan ritualnya.
Kolam itu berbentuk lingkaran. Airnya sangat jernih. Ada tiang seperti gapura yang menjadi gerbangnya. Ada celah bagi cahaya bulan untuk masuk, berbentuk lingkaran seukuran kolam, dengan ukiran lambang Yin Yang yang begitu sempurna.
Zhang yang sudah berada di tepi kolam pun menceburkan kaki kanannya ke dalam kolam. Ini sangat dingin! Bahkan aku bisa merasakan tulangku juga ikut beku. Aku harus bisa bertahan!
Zhang memasukkan kaki kirinya juga. Ia sejenak terdiam berdiri, merasakan sensasi dingin yang begitu menusuk tulang.
Kenapa dia berhenti? Apa terjadi sesuatu? Yu Hao berusaha mendekati Zhang. Tapi tangannya ditarik oleh biksu.
“Kau tidak boleh mengganggunya. Saat ini ia mungkin sedang menerima rasa dingin yang menembus tulang itu. Jika ia berhasil, maka ia akan baik-baik saja. Jika gagal, ia akan mati membeku,” kata sang biksu.
“A-apa? Kenapa begitu mengerikan? Bukannya ini cuma kolam dingin biasa?”
“Ini memang terlihat seperti kolam biasa. Tapi begitu kau masuk ke dalamnya, akan ada energi yang besar di sana. Energi itu akan menjadi obat ataupun malah memperburuk penyakitnya, tentu bergantung pada dirinya sendiri.”
A-apa? Ini sangat berbahaya. Zhang, apakah kau yakin melakukannya? Yu Hao yang menemaninya merasa begitu cemas.
***
Shuwan masih duduk dalam lamunannya. Tangannya sangat tidak tahan untuk bermain pedang. Oleh karena itu, Jiao menyita pedangnya.
“Hah... Aku sangat bosan,” keluh Shuwan.
“Shuwan, daripada kau duduk dan kebosanan di sini, bukankah seharusnya kau menemui Shifu?” kata Jiao.
Mata Shuwan membulat sempurna. “Kau benar. Aku hampir lupa. Terima kasih sudah diingatkan.”
Shuwan pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan sebisanya menuju ruang belajar Luo Shu. Dilihatnya sekeliling rumah penuh dengan barang-barang seni.
Jika ini sampai ke duniaku, ini pasti sudah menjadi museum barang antik. Batin Shuwan.
__ADS_1
Setelah ia berjalan beberapa menit, sampailah ia di sebuah ruangan dengan pintu berlukiskan pohon bambu. Yah, itu adalah ruang belajar Luo Shu.
Alkemis ini... Ingin membicarakan apa ya denganku?