1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Lembah Putus Asa


__ADS_3

Setelah bermalam di kuil Chang Ling, Shuwan, Zhang, dan Jiao melanjutkan perjalanan. Tempat selanjutnya yang harus mereka lewati yaitu Lembah Putus Asa. Mereka bertiga pergi dengan mengendarai kuda, dan terus berjalan ke arah utara.


Seperti biasa, Zhang selalu mencoba mengingatkan Shuwan, dan tidak lupa anggota baru mereka, Jiao. Zhang berkata, “Sebentar lagi kita akan sampai di Lembah Putus Asa. Kalian tetap berhati-hatilah. Lembah itu telah banyak memakan korban.”


Aku sudah tahu soal itu, batin Shuwan tertawa kecil.


Jiao pun melanjutkan perkataan Zhang, “Konon lembah itu dihuni oleh seekor monster yang mengerikan. Mereka yang pernah melintasi lembah itu tidak ada yang pernah kembali. Untuk itulah, lembah itu diberi nama ‘Lembah Putus Asa’.”


Shuwan melihat raut kekhawatiran di wajah Jiao, kemudian ia berbicara padanya, “Jiao, apakah kau takut melewati lembah itu?”


“Lembah itu selalu berkabut tebal, aku takut kita bisa terpisah dan tersesat. Selain itu, kita tidak tahu monster seperti apa yang akan kita hadapi nanti,” ucap Jiao.


Zhang pun menyela, “Tenanglah... Kau tidak melewati lembah itu sendirian, ada aku dan juga Shuwan.”


Jiao melihat ke arah Shuwan dan Zhang. Shuwan pun mengangguk tanda setuju dengan pernyataan Zhang, dan kemudian berkata, “Sebelum memasuki lembah, aku punya sebuah rencana.”


Jiao dan Zhang memacu kuda yang mereka tunggangi agar berlari lebih cepat, sehingga bisa segera sampai di tempat tujuan.


Begitu sampai di tepi lembah, Shuwan turun dari kuda, dan mengeluarkan selendang putih yang cukup panjang.


“Selendang?” Zhang heran.


“Benar. Selendang ini akan diikat ditangan kita bertiga, jadi kita tidak akan tersesat ketika sudah masuk ke lembah berkabut yang ada dihadapan kita ini.”


“Apa ini akan berhasil? Bagaimana jika kita bertemu dengan monster itu?” tanya Zhang.


“Kalau tidak dicoba bagaimana tahu berhasil atau tidaknya? Soal monster kita akan tahu setelah melihatnya.”


Zhang pun langsung memasang ekspresi kaget, dan berkata, “Apa? Hei, Nona, apakah kepalamu baru saja terbentur sampai kehilangan akal sehat? Seharusnya kita mempersiapkan pertahanan dari sekarang seandainya monster itu nanti menyerang kita, bukan malah mencari solusi saat kita berhadapan dengannya!”


Jiao pun mengangguk, “Aku setuju dengan Zhang. Jika kita tidak menyiapkan apa-apa bagaimana kita bisa melewati monster itu?”


“Sekarang aku bertanya pada kalian, apakah diantara kalian berdua sudah ada yang pernah melihat monster itu?” tanya Shuwan.


Zhang dan Jiao hanya menggeleng. Kemudian Zhang berkata, “Tapi sudah banyak rumor yang tersebar bahwa banyak orang telah melewati lembah ini, dan tidak ada di antara mereka yang pernah kembali. Bagaimana menurutmu? Apa kita tidak akan mempersiapkan sesuatu?”


“Rencana untuk menghadapi monster itu aku yang akan melakukannya sendiri,” ucap Shuwan dengan wajah datar.


Zhang mendekati Shuwan dan memegang erat kedua lengan Shuwan. Kemudian ia berkata, “Apa yang kau pikirkan, Shuwan? Kenapa harus kau saja yang melakukannya? Kau anggap apa aku dan Jiao?”


“Kalian adalah temanku, tapi aku tidak bisa mengorbankan kalian. Cukup aku saja yang harus melakukannya. Selain itu, aku tidak berasal dari dunia ini. Begitu tujuan kita tercapai, aku akan pergi sejauh mungkin.”


Jiao dan Zhang yang mendengar pernyataan Shuwan terlihat begitu kaget. Kemudian Jiao berkata, “Ti-tidak berasal dari dunia ini? Sebenarnya kau siapa, Shuwan?”


Shuwan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jiao, kemudian ia berkata, “Saat ini belum saatnya kalian tahu, biarkan waktu yang akan menjawab semua pertanyaanmu.”


Zhang pun marah pada Shuwan dan berkata, “Alasanmu tidak bisa aku terima, Shuwan!”


“Ada saatnya kau harus menerimanya, meski terasa begitu getir. Walau bagaimana pun, kamu tidak bisa menggoyahkanku. Jika kalian tidak ingin mengikuti perkataanku, kalian bisa menunggu di sini sampai aku menyelesaikan urusan dengan monster yang ada di dalam sana.”


Shuwan segera mengikat selendang yang dikeluarkannya tadi ke tangan Jiao dan Zhang. Mereka hanya terdiam dan saling memandang satu sama lain.


Zhang masih marah dengan sikap Shuwan, di sisi lain ia jadi teringat perkataan Shuwan barusan bahwa ia akan pergi begitu tujuannya tercapai.

__ADS_1


“Tunggu!”


Shuwan yang sudah mulai berjalan dihentikan oleh Zhang. Zhang kemudian berkata, “Baik aku akan mengikuti perkataanmu.”


Shuwan pun melihat ke arah Jiao dan Zhang, ia pun berkata, “Baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi.”


Shuwan pun naik ke atas kuda bersama Zhang, dan mereka bertiga masuk ke dalam Lembah Putus Asa itu.


Kabutnya memang sangat tebal, sekeliling pun tidak terlihat. “Jiao, jangan jauh-jauh dari kami,” kata Shuwan.


“Baik.”


Jiao mendekat ke arah kuda yang ditunggangi Shuwan dan Zhang. Tiba-tiba..


“Eh... Ah... Tolong...”


Jiao berteriak dengan keras. Tubuh Jiao terjatuh dari kuda, ia merasa seperti ditarik dan diseret oleh sesuatu, Shuwan dan Zhang segera turun dari kuda karena mereka juga terkena tarikan itu. Mereka berdua berusaha menarik selendangnya agar Jiao tidak terbawa oleh kekuatan yang menariknya.


“Bertahanlah, Jiao!” kata Shuwan sambil menarik selendang sekuat tenanga.


Namun, entah mengapa selendang itu tiba-tiba robek dan terputus. Bersamaan dengan terputusnya selendang pengikat, suara Jiao pun menghilang di tengah kabut yang kini tinggal menyisakan kuda yang Jiao tunggangi.


Zhang tiba-tiba menarik tangan Shuwan dan mengatakan, “Lihat! Sekarang kau lihat 'kan? Baru saja kita masuk ke lembah dan Jiao tiba-tiba saja menghilang. Apa kau puas sekarang?”


Zhang kelihatan kalau dia panik, dan terlihat seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Shuwan hanya terdiam. Kemudian Shuwan membuka mulutnya, “Sepertinya aku masih belum pantas menjadi orang yang bisa dipercaya.”


Zhang yang semula menatapnya kini membuang muka dari Shuwan.


Shuwan kemudian berjalan beberapa langkah menjauh dari Zhang, dan lagi-lagi Zhang menghentikannya.


Shuwan hanya memasang wajah datar dan mengatakan, “Sebaiknya kau diam di sana saja, dan jangan mengganggu fokusku.”


“Tapi..”


“Turuti saja apa yang aku katakan, jangan buat aku mengulang kedua kalinya.”


Zhang terdiam berdiri didekat kudanya. Shuwan terdiam di tempat terakhir ia melangkah, ia melihat ke bawah dan menemukan sebuah biji pohon Oak. Ia pun mengambilnya dan memasukkannya ke dalam kantong. Setelah itu, Shuwan memejamkan matanya karena merasakan energi asing yang ada didekatnya.


Shuwan membuka kembali matanya.


Rupanya kau sudah muncul.


“Keluarlah! Aku tidak akan menyakitimu.”


Begitu Shuwan mengatakannya, munculah seekor makhluk seperti Panda, hanya saja memiliki tubuh raksasa yang kekar dan rupa yang lebih menyerupai beruang dengan tinggi sekitar 4 meter.


Makhluk itu pun mengamuk, dengan menyemburkan air dingin yang bisa langsung membekukan apapun yang ada disekitanya. Shuwan pun langsung menghindar dari serangan itu dan mengalihkan perhatiannya agar tidak melukai Zhang.


Shuwan pun mencoba berbicara pada monster itu, “Tenanglah, aku tahu kau bukanlah makhluk jahat. Aku rasa aku bisa membantumu. Jadi aku mohon, tenanglah.”


Monster itu pun menjadi tenang, ia terduduk lalu memejamkan mata. Shuwan pun naik ke punggungnya dan menyentuh kepala monster itu. Seketika sentuhan itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, Shuwan pun menutup matanya dan mulai fokus.


Zhang hanya melihat cahaya itu, ia memutuskan untuk tidak mendekat sesuai perkataan Shuwan.

__ADS_1


Shuwan ternyata telah masuk ke alam bawah sadar monster itu. Ia diperlihatkan banyak ingatan-ingatan seperti rol film berjalan. Ingatan itu berisi tentang eskploitasi binatang dan juga hutan yang dilakukan oleh manusia. Ingatan yang terakhir adalah dibakarnya hutan yang mengakibatkan seluruh binatang yang ada di hutan mati, hangus dibakar api.


“Kau pasti bukan manusia biasa.”


Tiba-tiba ada yang berbicara pada Shuwan, dan Shuwan baru menyadari bahwa ia berada di suatu tempat yang gelap. Shuwan merasa seperti berdiri di atas air. Benar saja, rupanya ia memang sedang berdiri di atas permukaan air, di tempat yang ia tidak ketahui.


Saat ia membalikkan tubuhnya, terlihat seekor Panda raksasa yang menatapnya.


“Apakah kau wujud asli dari makhluk ini?” tanya Shuwan pada Panda itu.


“Benar. Yang kalian lihat tadi adalah bagian dari amarah dan kebencianku, sedangkan yang kau lihat saat ini adalah sisi baik dari diriku,” ucap Panda itu pada Shuwan.


“Padahal kau adalah seekor Panda gendut yang menggemaskan, lalu kenapa bisa berubah menjadi monster yang mengerikan?”


“Hei, aku bukan Panda gendut tahu! Namaku adalah Xiong Mao.”


Shuwan hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu Panda itu. “Kalau begitu coba jelaskan kenapa kau berubah menjadi monster yang tidak imut seperti itu? Dan apakah kau juga yang menyebabkan orang-orang menghilang ketika memasuki lembah ini?”


“Sebenarnya aku adalah penjaga hutan ini. Tadinya kehidupan antara manusia dan juga binatang yang ada di hutan ini tenteram dan baik-baik saja. Sampai pada suatu hari, para manusia itu mulai merusak hutan, memburu segala jenis binatang yang ada di hutan, lalu membakarnya. Aku termasuk binatang yang terbakar dalam hutan yang ada di lembah ini. Tapi dewa seperti memberkatiku, dan memberiku kemampuan untuk membalas perlakuan manusia pada kami.”


“Kalau begitu, kau adalah binatang roh?” tanya Shuwan.


“Benar, aku adalah binatang roh yang akan menjaga lembah dan hutan ini sampai kapan pun.”


“Lalu, sebenarnya kau bawa kemana orang-orang yang kamu culik itu?”


“Aku membawa mereka ke alam bawah sadarnya, di sana mereka akan merasakan sedih yang mendalam karena kehilangan hal yang berharga darinya dan mereka tidak akan pernah terbangun apalagi kembali.”


“Apakah kau akan membebaskan mereka suatu saat nanti?”


“Tidak akan! Manusia sudah berbuat begitu keji pada kami para binatang dan juga merusak hutan. Mereka pantas mendapatkannya.”


“Aku tahu kau membenci manusia, tapi jika membalas mereka seperti ini, bukankah itu artinya kau sama jahatnya dengan mereka?”


“Kau tidak mengerti apa yang kami rasakan, bagaimana rasanya kehilangan keluarga, tempat tinggal dan juga mati mengenaskan. Apa kau tahu itu?”


“Tentu saja aku mengerti, selama ini aku juga telah kehilangan banyak hal. Semenjak lahir aku telah dikutuk tidak bisa merasakan cinta, karena hal ini aku telah kehilangan cinta. Belum sampai aku dewasa, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Apalagi yang lebih menyakitkan daripada hukuman kehidupan?


Jika bukan karena kakak, ataupun kakekku mungkin aku memilih untuk cepat mati menyusul kedua orang tuaku. Tapi aku masih punya harapan, ada kakak dan kakek yang telah memberikanku kehidupan baru meskipun sampai saat ini aku masih belum bisa merasakan apa itu cinta.”


Panda itu hanya terdiam. Shuwan kemudian mengeluarkan biji pohon Oak yang ia temukan di dalam lembah untuk diberikan kepada Panda itu, ia juga berkata, “Jika aku bisa bangkit dan memiliki kehidupan baru, kenapa kau tidak berusaha mencobanya juga? Memaafkan mereka yang telah menyakitimu akan membuatmu lega, dan dengan begitu kau punya kehidupan yang baru untuk dijalani.”


Panda itu mengambil biji pohon Oak yang diberikan Shuwan, dan kemudian membalik badannya berjalan layaknya Panda pada umumnya lalu menghilang dalam cahaya yang juga menyilaukan mata Shuwan.


Saat Shuwan membuka matanya, monster itu telah berubah menjadi Panda normal meskipun sebenarnya dia adalah binatang roh. Shuwan pun melepas tangan yang menyentuh kepala Panda itu, dan Panda itu pergi berjalan meninggalkan Shuwan dengan membawa biji pohon Oak yang Shuwan berikan tadi.


Terlihat kabut perlahan menghilang. Ternyata di dalam hutan itu ada patung Panda setinggi 2 meter yang sudah ada sejak dahulu, dan selama ini tertutup oleh kabut yang pekat sehingga tidak terlihat oleh mata yang melintasi lembah ini. Panda itu pun menuju patung itu lalu menghilang masuk kedalam patung.


Sebuah keajaiban muncul, jejak yang ditinggalkan Panda itu pun berubah menjadi rumpun pohon bambu dan tiba-tiba Jiao beserta orang-orang yang hilang dari lembah itu pun keluar dari pepohonan bambu itu dengan keadaan baik-baik saja meskipun jalannya sedikit sempoyongan.


Mereka yang baru saja terbebas itu pun bersorak gembira karena berhasil keluar dari lembah itu dengan selamat.


Zhang yang menyaksikan semua hal yang terjadi di depan matanya itu hanya bisa terpaku dan kebingungan. Ia selalu takjub dengan keajaiban-keajaiban yang Shuwan lakukan selama mereka bersama melakukan perjalanan.

__ADS_1


Setelah insiden itu berlalu, Shuwan memutuskan untuk membuat sebuah prasasti berisi petuah agar siapapun yang melintasi lembah untuk tidak merusak dan mengeksploitasi hutan beserta isinya jika mereka ingin selamat sampai keluar dari lembah.


Akhirnya Shuwan, Zhang, dan Jiao meninggalkan lembah itu dan kembali melangkah mengarungi samudera kehidupan yang sarat akan makna dan pelajaran bagi mereka yang masih hidup.


__ADS_2