
Matahari tampak sudah berada tepat di atas kepala. Doa bersama telah selesai dilaksanakan. Shuwan, Yu Hao, Xin Ru dan Zhi Qiang berkumpul di tempat yang tidak ada orang. Mereka kembali membincangkan permasalahan pemberontakan.
“Bagaimana untuk persiapan nanti malam? Apakah para tentaramu itu sudah datang?” tanya Shuwan.
“Kalian tenang saja. Semuanya sudah berada di posisi masing-masing. Lampionnya juga sudah diganti, sehingga festival bisa berjalan dengan aman dan lancar. Iya ‘kan, Xin Ru?”
Tampak Xin Ru memiliki lingkar mata hitam yang besar. Apakah dia begadang? Ya... Itulah yang terjadi. Semalam suntuk ia menjalankan tugas yang diberikan putra mahkota. Selesai dari tugas itu pun ia hanya tidur selama sepuluh menit. Singkat sekali? Tentu saja, dia adalah pengawal yang harus siap siaga, termasuk siap bekerja pagi, siang. malam.
Xin Ru masih merasa sangat ngantuk. Ia pun hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Zhi Qiang.
Yu Hao dan Shuwan pun merasa lega.
“Lalu, apakah kita bisa mengumpulkan bukti pemberontakan yang dilakukan para pejabat itu? Akan sulit menjatuhi mereka hukuman ketika kita tidak punya bukti,” imbuh Yu Hao.
“Bukti tertulis sudah ada. Xin Ru yang menyelidikinya. Dan aku rasa, ketika mereka nanti mencoba menyerang, itu sudah bisa menjadi sebuah tuduhan dengan banyak saksi, bahwa ada yang ingin membunuh raja.”
Yu Hao mengangguk paham. Setidaknya ini sudah lebih sekedar cukup untuk menjatuhi hukuman pada mereka. Selama aku di Mawar Hitam, tidak pernah sekali pun aku melihat pimpinan utama. Kira-kira orang yang seperti apa dia?
Shuwan kemudian memutuskan untuk pergi dari sana. “Karena semuanya sudah dipersiapkan, aku akan pergi dahulu.”
“Ke mana?” tanya Zhi Qiang.
“Ke tempat di mana seharusnya aku memberikan sebuah penjelasan,” balas Shuwan.
Shuwan mencoba melangkah keluar dari ruangan itu, tapi lagi-lagi ucapan Zhi Qiang menghentikannya.
“Jangan sekarang. Temui dia petang nanti. Kau harus tetap bersamaku sampai saat itu tiba,” pinta Zhi Qiang.
Shuwan terdiam. Ia pun menimbang permintaan Zhi Qiang. “Kenapa aku harus tetap di sini? Aku akan pergi sekarang!” Shuwan melanjutkan langkahnya lagi.
Zhi Qiang yang sedari duduk pun berdiri. “Tidakkah kau khawatir kalau temanmu itu juga akan ditargetkan?” teriak Zhi Qiang.
Langkah Shuwan terhenti. Ia memandang lurus ke depan dengan netra yang membulat sempurna.
“Xin Ru memberitahuku sesuatu tadi, bahwa kau dan orang-orang yang ada di dekatku juga akan menjadi target mereka. Tidakkah itu juga termasuk kau dan teman-temanmu?”
Shuwan terdiam mematung di depan pintu. Ia tampak menjadi lebih khawatir sekarang.
“Shuwan, aku tahu kau mengkhawatirkannya, tapi penuhi permintaanku demi kebaikannya juga.”
Yu Hao dan Xin Ru hanya menjadi saksi bisu dari kedua orang yang sedang berdebat.
Apakah putra mahkota sedang menahan Shuwan agar tidak pergi? Batin Yu Hao.
Shuwan yang sedari tadi hanya diam dan mematung akhirnya membalikkan tubuhnya kembali. Ditatapnya Zhi Qiang yang khawatir. “Baiklah. Aku akan menunggu petang nanti.” Shuwan kembali ke dalam untuk duduk.
Ia merebahkan punggungnya di sandaran kursi, dan menyangga dagunya dengan tangan kanannya.
Syukurlah kau tidak jadi pergi. Dengan begitu, aku bisa melindungimu di sisiku. Batin Xin Ru senang karena Shuwan tidak jadi pergi dari sisinya.
Dengan perasaan terpaksa, Shuwan pun mengikuti setiap agenda perayaan itu. Meriah. Itulah keadaan perayaan itu. Tapi terasa seperti ada yang kurang bagi Shuwan. Ya, Zhang dan Jiao tidak ada di sana. Rasanya ia kehilangan separuh semangatnya.
Akhirnya, serangkaian kegiatan seperti perjamuan dari tamu undangan pun telah selesai. Tinggal menunggu pementasan atraksi dari kelompok penghibur dan juga penerbangan lampion. Selain itu juga, waktu yang dinanti oleh Shuwan pun tiba.
__ADS_1
Di dalam kediaman putra mahkota, ia bertatapan dengan Zhi Qiang.
“Aku akan pergi sekarang,” kata Shuwan.
Zhi Qiang mengangguk. “Berjanjilah untuk kembali sebelum atraksi,” pinta Zhi Qiang.
“Baik.” Shuwan langsung memalingkan wajah dan membalik tubuhnya. Berjalan menjauh dari posisi Zhi Qiang saat ini. Yu Hao pun menemaninya untuk kembali ke kamar Zhang.
Setelah berada di tempat yang tak terlalu ramai, Shuwan mengajukan pertanyaan pada Yu Hao. “Bagaimana keadaan Zhang?” tanya Shuwan.
“Semalaman dia demam.”
Shuwan tersentak kaget, langkahnya seketika itu juga terhenti. Rasa bersalahnya kini bertambah besar. Disaat Zhang sedang berjuang dengan sakitnya, ia malah tidur dengan tenang bersama putra mahkota.
Yu Hao melanjutkan kembali ucapannya. “Tapi tadi pagi sudah membaik dan sadar. Aku harap, kau bisa memberikan dia penjelasan setelah ini. Saat sadar tadi pagi, dia sudah menunggumu.”
Pandangan Shuwan hanya mengawang tanpa berkedip. “Aku tahu.” Ia lalu melanjutkan kembali langkahnya.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Shuwan dan Yu Hao sampai. Shuwan mendorong pintu dengan kedua tangannya.
Kini terbukalah pintu itu. Shuwan memandangi orang yang ada di sana. Keduanya pun beradu pandangan.
Dengan sadar diri, Jiao dan tabib istana pun keluar dari ruangan itu. Memberi ruang bagi Shuwan dan Zhang untuk berkomunikasi.
Shuwan kemudian melangkah masuk, dan menutup pintu itu kembali setelah hanya ada dirinya dan Zhang di dalam.
Dengan perasaan bersalah, ia berjalan mendekati Zhang. Ada wajah sedih yang kini dipandangi Shuwan. Apakah Zhang menangisinya? Mungkin. Shuwan adalah belahan jiwanya. Tentu saja itu menjadi tamparan yang sangat berat bagi Zhang ketika orang lain mengakui Shuwan sebagai istrinya.
“Apa kau datang untuk memberiku penjelesan?” ucap Zhang.
“Ya. Aku akan menjelaskan semuanya padamu, dan meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tidak berharap kalau kau memaafkanku, aku hanya ingin kau mendengar penjelasanku.”
Zhang terdiam. Tidak ada kata lagi yang bisa ia ucapkan. Memang ia marah pada Shuwan. Tapi rasa cintanya jauh lebih besar dari sekedar amarahnya.
Shuwan membuang napas dan bersiap memberi penjelasan. “Aku hanya berpura-pura menjadi istrinya putra mahkota. Aku bersedia karena waktu pertama kali bertemu di pasar dia mengaku sebagai pustakawan istana. Karena aku mendapatkan mimpi mengenai pemberontakan yang akan terjadi, aku bekerjasama dengannya agar bisa bertemu dengan putra mahkota. Dengan membantunya dalam urusan perjodohan, dia berjanji akan mempertemukanku dengan putra mahkota. Hingga akhirnya baru dia mengatakan kejujurannya, kalau sebenarnya dia sendiri adalah orang yang kucari. Mengesalkan bukan? Bisa-bisanya aku dibodohi seperti itu.”
“Apakah benar begitu? Kau tidak datang saat aku jatuh waktu itu. Dan kau tidak memberiku penjelasan kemarin. Apa kau tahu, hatiku rasanya seperti ditusuk dengan ribuan jarum melihatmu mengacuhkanku.” Zhang menjadi begitu emosional. Tampak netranya berkaca-kaca.
“Maaf... Aku terpaksa. Aku merasa begitu bersalah padamu, sehingga aku tidak punya keberanian untuk menjelaskan semuanya. Barulah hari ini bisa kuceritakan padamu.”
Zhang menarik tangan Shuwan, dan menjatuhkan Shuwan dalam pelukannya. “Aku hanya takut kalau aku benar kehilanganmu,” Zhang terisak.
Apakah dia menangis untukku? Shuwan kemudian menglungkan lengannya ke pinggang Zhang untuk membalas pelukannya. “Maaf karena membuatmu menunggu penjelasan tidak pentingku. Tapi aku masih harus menjalankan peranku sampai perayaan ini selesai. Aku harap kau bisa mengerti.”
Zhang melepaskan pelukannya, dan bergantian memegangi kedua lengan Shuwan. “Berjanjilah kalau kau akan kembali dengan selamat, dan temui aku lagi.”
Shuwan mengangguk pelan. “Ini sudah saatnya. Aku harus kembali ke sisi putra mahkota. Malam ini, para pemberontak itu akan segera beraksi. Aku harus melindungi putra mahkota sebagai misi terakhirku.”
Zhang terkesiap. Ia baru mengingatnya kembali ‘Cahaya Bulan yang Memudar’. Ketika tugas ini terlaksana, Shuwan akan pergi, menghilang dari sisinya.
Shuwan hanya menatap aneh Zhang yang seperti akan menangis. Kenapa pria ini? Tiba-tiba saja berubah menjadi aneh.
Zhang lalu memandangi wajah Shuwan. “Shuwan... Bulan memudar itu, sudah semakin dekat bukan?”
__ADS_1
Shuwan kaget karena Zhang rupanya masih mengingat hal itu. Dengan pandangan sendu, Shuwan mengangguk pelan. “Itu benar.” Singkatnya.
Zhang membuang napasnya. “Kalau begitu aku harap kau tidak menolakku lagi.”
“M-maksudnya?” Shuwan kebingungan.
Kedua tangan Zhang meraih wajah Shuwan. “Pejamkan matamu,” ucapnya.
“Kenapa aku...”
“Aku mohon...” pinta Zhang dengan wajah memelas.
Karena merasa iba, Shuwan pun menurutinya. Ia mengangguk pelan, dan kemudian memejam matanya.
Zhang langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Shuwan. Ia lalu mencium bibir Shuwan dengan intens.
Shuwan menjadi kaget. Ia langsung membuka matanya, dan berusaha melepaskannya. Tapi entah kenapa ciuman itu membuatnya menjadi lemah. Ia seakan tak kuasa untuk mendorong Zhang yang air matanya meleleh dan juga menyentuh pipi Shuwan.
Liem... Haruskah kau sampai seperti ini karenaku? Ada rasa sesak yang juga menyeruak di dada Shuwan. Namun ia tidak menyadari apa itu sebenarnya. Ia hanya merasa mungkin itulah rasa bersalah yang terlalu dalam pada Zhang.
Setelah cukup lama mencium Shuwan, Zhang pun melepaskannya. Ia kembali memandangi wajah wanita yang begitu dicintainya.
Shuwan segera membuang muka. “Liem, kau tidak perlu sebegitunya padaku. Kau tahu aku juga akan menghilang. Berjanjilah setelah aku pergi, kau akan tetap hidup dalam bahagia. Bukan dalam tangis dan juga duka. Kau dan aku, berasal dari dunia yang berbeda. Mustahil bagi kita untuk bersama. Selain itu, kau juga tahu bagaimana kondisiku bukan?”
Zhang meraih tangan Shuwan yang dipasanginya cincin. “Jika kau menghilang aku akan mencarimu lagi. Karena aku hanya ingin hidup bersamau, bukan yang lainnya. Tidak peduli berapa lama aku harus menunggu, aku pasti akan menemukanmu kembali.”
“Kenapa kau begitu keras kepala? Tidakkah kau cukup menderita karenaku?” Shuwan mulai berlinang air mata. Ia sangat ingin menghentikan Zhang yang begitu keras kepala mencintainya.
“Sangat sulit untuk menghentikan perasaan murni yang datang begitu saja, Shuwan. Ketika aku berusaha menghentikannya, itu hanya akan membuatku semakin sakit. Bahkan sangat sakit,” kata Zhang dengan lirih.
Shuwan hanya tertunduk dalam diam. Ia tak lagi menanggapi Zhang.
Zhang lalu membelai lembut tangang Shuwan yang ada di genggamannya.
CUP.
Zhang mengecup punggung tangan Shuwan, hingga membuat netra Shuwan membulat sempurna karena kaget.
“K-kau...”
KRIETT!
Pintu kamar tiba-tiba saja dibuka perlahan. Yu Hao berdiri di sana, disusul oleh Xin Ru.
Shuwan langsung menarik tangannya dari Zhang, dan mengusap air matanya. “Ini sudah waktunya. Aku harus pergi sekarang.” Shuwan langsung meninggalkan Zhang, pergi bersama Yu Hao dan Xin Ru.
Zhang tersenyum lembut. Ia menyentuh bibirnya yang baru saja mengecup bibir Shuwan. “Terasa manis. Apakah ini rasa rindu?” gumamnya.
Jiao kemudian masuk. Ia menghampiri Zhang yang tersenyum sendiri. Apakah mereka sudah berbaikan? Jika benar, maka syukurlah. Jiao merasa lega. Seakan beban berat di pundaknya baru saja terangkat.
Zhang yang menyadari kedatangan Jiao pun segera mengalihkan pandangannya. “Jiao, bisakah kau menceritakanku mengenai pemberontakan yang akan terjadi?” tanya Zhang.
Jiao sempat ragu. Bagaimana mungkin dirinya menceritakan hal buruk pada orang yang kini sedang sakit. Di sisi lain, ia tidak ingin membuat Zhang semakin penasaran dan khawatir.
__ADS_1
“Em... Baiklah, aku akan menceritakannya padamu." Jiao akhirnya setuju untuk menceritakan semuanya pada Zhang.