
Di ufuk timur, rona berwarna jingga menyeruak dari balik pegunungan. Pertanda, bahwa sang surya telah siap menaiki singgasananya di cakrawala.
Kicauan burung yang berada di balik rimbunnya dedaunan menjadi sebuah isyarat, bahwa hari yang baru harus segera dimulai.
Sementara itu, di balik batang pohon besar, tampak Shuwan yang masih terlelap, berselimutkan jubah Zhang yang semalam ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Zhang. Di dekatnya, tampak Jiao yang juga masih tidur dengan lelapnya. Senada dengan Yu Hao yang berada di sisi lain sudut yang mereka tinggali saat ini.
Mereka semua lelah, karena melalui malam yang panjang dan sangat berat. Kantuk yang datang memburu membuat ketiganya menjadi terlelap bak orang mati.
Suasana hutan yang menenangkan, membuat siapa pun betah berlama-lama di sana, selama itu tidak melalui pertarungan yang mematikan.
Semuanya tampak normal sampai suara seruling yang tiba-tiba saja terdengar di dalam hutan. Karenanya Shuwan jadi tersadar. Perlahan namun pasti ia mulai mengerjapkan matanya. “Umm,” Shuwan terbangun dan meregangkan otot-ototnya. “Siapa yang meniup seruling pagi-pagi?” kata Shuwan dengan heran.
Setelah lama mendengarkan bunyi seruling itu, tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu. “Liem? Ke mana dia?” ucapnya seraya mencari-cari dengan pandangan terbatasnya. “Apakah dia diculik? Ah tidak. Siapa yang ingin menculik manusia merepotkan seperti dia?” sejenak ia terdiam memikirkan Zhang yang sering membuatnya kesal.
Shuwan kemudian mengganti topik pikirannya, dan menggelengkan kepalan, “Aku harus mencarinya. Bisa-bisanya dia pergi bahkan saat yang lainnya masih terlelap. Awas saja nanti kalau ketemu.”
Shuwan berusaha bangkit sebisanya. Ia meraih tongkat yang digunakan untuk membantunya berjalan. Dengan susah payah, akhirnya ia bisa berjalan, meski harus dengan menyeret kakinya yang patah.
“Liem...” teriak Shuwan berusaha mencari keberadaan Zhang. “Tsk... Sebenarnya pergi ke mana sih dia?” Shuwan mulai kesal karena tak berhasil menemukan Zhang, hingga suara seruling itu kembali terdengar. “Seruling ini... Siapa sebenarnya yang meniupnya di tengah hutan seperti ini? Aku harus menemukan sumber suaranya.”
Shuwan berjalan mendekati sumber suara seruling itu, dan berusaha mencari tahu siapa orang yang meniupnya.
Setelah berkeliling, akhirnya ia pun menemukannya. Seseorang yang duduk di sebuah batang pohon yang tumbang sedang fokus meniup seruling dengan merdunya. Shuwan tidak mampu melihat wajahnya karena orang itu memunggunginya dengan menghadap ke arah matahari terbit.
“Orang itu?” katanya seraya memicingkan mata, berusaha mendapatkan fokus penglihatannya karena melawan cahaya matahari di hadapannya.
Keberadaan hutan yang kini ditinggali Shuwan memang berada di antara perbukitan. Bisa dikatakan bahwa bukit tempat mereka berpijak saat ini adalah yang paling tinggi di antara yang lainnya.
Perlahan Shuwan mulai mendekati oran itu. Saat hampir sampai, tiba-tiba saja ia tersandung batang kayu lainnya dan terjatuh.
Brugg...
Zhang menyadarinya. Ia lantas melihat ke belakang dan menyadari bahwa Shuwanlah yang terjatuh. Ia pun berjalan mendekatinya.
“Aw!” teriak Shuwan yang merasakan sakit di kakinya. “Sakit sekali. Dasar kayu sialan!”
“Kau tidak seharusnya menyalahkan benda mati,” ledek Zhang.
Shuwan lalu mendongak ke atas, dan mendapati Zhang di sana. “Kau! Aku sampai seperti ini juga karena mencarimu tahu!”
“Jadi, apakah kau mengkhawatirkanku?”
“Bukan hanya aku, tapi Jiao dan Yu Hao juga,” kata Shuwan berusaha mengelak dari godaan Zhang. “Bisa-bisanya kau menghilang saat kami sedang lengah? Apa kau puas membuat kami terjaga semalaman? Sebenarnya kau ini kenapa sampai tumbang seperti itu?”
Zhang kemudian berjongkok, dan fokus memandangi Shuwan. Ia lalu tersenyum. Tangan kanannya pun mengelus lembut kepala Shuwan, “Iya, iya. Aku minta maaf karena telah merepotkan kalian, dan menghilang di pagi hari. Aku hanya ingin menghirup udara pagi, dan mengetes seruling pemberian ini,” kata Zhang sambil menunjukkan seruling bambu miliknya.
“Sejak kapan kau ahli bermain musik? Rasanya selama melakukan perjalanan bersamamu, aku tidak pernah melihat seruling ini?”
“Aku memang selalu menyembunyikannya di bajuku. Seruling ini dibuat sendiri oleh ayahku. Dia memberikannya saat aku berusia tiga tahun. Benda ini sangat berharga, dan menjadi satu-satunya tanda mata darinya. Jadi, aku harus menjaga dan menyimpannya baik-baik.”
__ADS_1
Seketika pandangan Zhang menjadi sendu. Tampak tersirat sebuah kesedihan di wajahnya.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengungkit kejadian yang menimpa keluargamu,” kata Shuwan.
Zhang menggeleng, “Kau tidak perlu meminta maaf. Ini adalah garis takdir yang sudah ditetapkan oleh langit. Meski aku telah kehilangan keluargaku, tapi setidaknya aku masih meemilikimu.”
Semalam dia seperti orang yang sekarat karena tidak kunjung sadar. Tapi sekarang, dia tampak sangat sehat dan terus berupaya menggodaku. “Yah terserah apa katamu. Sebaiknya kita segera kembali ke tempat semula. Kalau tidak, Jiao dan Yu Hao pasti akan kaget karena kita tidak ada di sana,” kata Shuwan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Baiklah.” Zhang kemudian memutarkan tubuhnya, dan memberikan punggungnya pada Shuwan. “Naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu sampai sana.”
“A-apa?” Shuwan kaget mendengar perkataan Zhang. “Aku masih bisa berjalan. Kau tidak perlu repot-repot menggendongku.” Shuwan berusaha menolak permintaan Zhang. Huh, yang benar saja.
“Jelas-jelas tadi kau terjatuh dan bilang sakit, bagaimana mungkin aku membiarkanmu merasa semakin sakit?”
Bocah ini sangat menyebalkan. Apa tidak bisa dia menyerah saja dan membiarkanku berjalan? Aku hanya ingin berjalan dengan tenang. Tanpa dirinya. Batin Shuwan mendengus kesal. “T-tapi aku masih bisa berjalan, Liem. Kau tidak perlu menggendongku. Aku takut, kau tidak akan kuat menahan tubuhku.”
“Hah...” Zhang membuang napas seolah melepas beban yang begitu beratnya. “Baiklah kalau begitu.” Ia kemudian berdiri, lalu kembali menghadap Shuwan.
Shuwan hanya melihatnya dengan tatapan aneh sekaligus bingung.
Tanpa pikir panjang, Zhang pun mengangkat tubuh Shuwan. Ia membopongnya secara paksa.
“K-kau! Hei! Turunkan aku!” perintah Shuwan.
“Aku tidak akan mendengarkannya. Kau begitu ceroboh dan keras kepala. Jika aku tidak langsung bertindak, pasti akan lebih lama berdebat denganmu. Itu adalah hal yang sangat tidak aku suka.”
“Seperti ini, bukankah kita seperti pasangan yang baru menikah?”
“Apakah kepalamu baru saja terbentur sesuatu? Kenapa kau berpikiran aneh seperti itu?” Shuwan mulai merasa kesal. Ia sangat tidak suka pada Zhang yang terus mempermainkannya.
“Aku selalu berharap kalau ini akan menjadi kenyataan. Kelak, saat kita sampai di Negeri Awan, aku akan langsung menikahimu.”
Ucapan Zhang membuat Shuwan tersedak ludahnya sendiri. “A-apa yang barusan kau katakan?” Shuwan berusaha memastikan pendengarannya.
Pagi buta Zhang mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah tersirat di pikiran Shuwan. Yah, dia hanya ingin menjadi wanita karir yang sibuk, dan tidak ingin terjerat dalam rumitnya cinta.
“Aku akan menikahimu, Shuwan.” Sekali lagi Zhang mengucapkannya dengan begitu jelas.
Sedangkan Shuwan, masih saja pada ekspresi ketidakpercayaannya. “Heh, kau bilang ingin menikahiku? Tapi, kau tidak bertanya apakah aku setuju atau tidak. Dan ingatlah, ‘Cahaya Bulan yang Memudar’” Shuwan kembali menegaskan bahwa pertemuannya dengan Zhang akan selesai ketika sampai di Negeri Awan.
“Tujuanku menikahimu, bukan karena aku telah jatuh cinta padamu, tapi karena aku ingin membangun cinta yang lebih dalam denganmu. Mungkin kau tidak bisa mencintaiku sekarang, tapi aku yakin, saat kita menikah nanti kau akan mulai mencintaiku. Rasa cinta itu timbul dari kebiasaan. Pertemuan dan hubungan kita yang intens tentu akan membentuk ikatan itu, walau pun perlahan dan membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya, aku benar bisa memilikimu sebelum ‘Cahaya Bulan itu Memudar’.”
“Kau memang seseorang yang terpelajar. Membicarakan cinta pun teorinya begitu rumit.”
“Tentu saja. Karena kaulah yang membuatnya rumit, dan memaksaku berpikir lebih keras untuk bisa mendapatkan hatimu.”
“Lalu, apa kau tidak akan menyesal karena menikahiku? Sedangkan aku harus pergi meninggalkanmu begitu misi kita selesai.”
“Aku tidak akan menahanmu untuk pergi, walau aku sangat tidak ingin itu terjadi. Aku yakin, kau punya alasan tersendiri yang memaksamu harus pergi. Benar bukan?”
__ADS_1
Shuwan hanya terdiam. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang akan ia ucapkan.
“Kalau begitu, aku akan mencarimu di sudut bumi mana pun kau berada. Dan membawamu kembali bersamaku."
Konyol! Kau benar-benar konyol Liem!
Shuwan tidak merespon lagi. Ia tahu, kalau terus merespon Zhang akan selalu berakhir dengan perang dingin lagi antara mereka. Sedangkan itu bukanlah yang sebenarnya mereka berdua inginkan.
Zhang fokus berjalan membopong Shuwan dengan penuh semangat, mengelilingi hutan menuju tempat Jiao dan Yu Hao berada menanti kepulangan mereka.
***
Di tempat bermalam, Jiao dan Yu Hao yang sudah terbangun merasa bingung karena mendapati Shuwan dan Zhang yang tak lagi ada di sana.
“Mereka ini sebenarnya pergi ke mana sih? Pagi-pagi kerjanya sudah menghilang saja. Apa jangan-jangan mereka berusaha meninggalkan kita di hutan?” ucap Jiao.
“Jangan berpikir aneh-aneh. Dari penglihatanku, mereka bukanlah orang yang seperti itu. Mungkin mereka sedang berkencan. Tunggu saja sampai mereka kembali,” Yu Hao menimpali.
“Hei, Yu Hao, aku tidak mengerti dengan pola pikirmu. Bagaimana bisa kau berkata demikian?”
“Haish, Jiao, kemampuan menganalisismu ternyata sangat dangkal, ya? Apa kau tidak merasa, bahwa saat-saat seperti ini sangat tepat bagi mereka untuk berkencan dan lebih mengakrabkan hubungan?”
Jiao pun menyadari maksud dari perkataan Yu Hao, “Ah, kau benar juga. Semoga saja akan ada kabar baik begitu mereka kembali.” Jiao yang polos pun tersenyum puas setelah mendapat pencerahan dari Yu Hao.
***
Kembali pada Shuwan dan Zhang yang masih berjalan, berusaha kembali ke tempat bermalam.
“Hatchuu!”
Shuwan dan Zhang bersin secara bersamaan. Mereka hanya saling melempar pandangan karena bersin bersamaan.
Shuwan lalu menggosok hidungnya yang gatal setelah bersin. “Aku rasa ada yang sedang mengumpatku di belakang.”
“Kau benar. Aku juga merasa begitu. Mungkin saja ini ulah Jiao dan Yu Hao yang sedang kesal menanti kita kembali,” Zhang menimpali.
“Hei! Itukan karena kau yang menghilang di pagi hari.”
“Tapi aku hanya ingin mencari angin saja.”
“Tetap saja ini salahmu.”
“Hei! Apa kau selalu merasa kalau dirimu benar? Hah?”
“Tentu saja aku memang selalu benar,” kata Shuwan dengan percaya dirinya.
“Kau!”
Mereka berdua pun berkelahi seperti anak kecil sembari menyusuri jalanan hutan.
__ADS_1