1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Jurang Kesunyian


__ADS_3

Setelah merasa cukup beristirahat, Shuwan, Jiao, Zhang dan Yu Hao kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka melewati jalan setapak di dalam hutan. Jalanan itu sangat sunyi, bahkan suara binatang hutan pun tak terdengar sama sekali. Jalan tanah liat yang dipenuhi lumut, dan juga kabut tipis yang menutupinya menambah kesan angker di dalamnya.


“Shuwan.... Apakah ini jalan yang benar? Rasanya di sini ada yang aneh,” bisik Jiao.


Shuwan melihat sekeliling, ia juga menyadari apa yang dirasakan Jiao. “Kamu benar, di sini memang terasa aneh,” tukasnya. “Zhang, Yu Hao, apakah ini jalan yang benar?” tanya Shuwan yang sesaat kemudian menoleh ke belakang.


“Menurut peta ini benar. Kita hanya perlu mengikuti jalan tanah liat yang berlumut ini,” jawab Zhang.


“Tapi hutan ini terasa sedikit menyeramkan. Tidakkah kalian menyadarinya?” Jiao menimpali.


Yu Hao tertawa nakal, “Aiyaa... Jadi, apakah kau takut, Jiao?” goda Yu Hao.


“Ti-tidak.. Siapa yang takut?” Jiao berusaha menepisnya. “Sudahlah, daripada memikirkan ketakutan, sebaiknya kita segera mencari jalan keluar dari sini. Aku takut jika terlalu lama di sini, kabutnya akan semakin tebal dan menyulitkan kita nanti,” tutur Jiao.


“Hmm... Jiao benar, ayo segera keluar dari sini,” kata Shuwan.


Lambat, namun pasti. Begitulah Shuwan dan yang lainnya melewati jalan itu. Shuwan berjalan di depan bersama Jiao. Sedangkan Zhang dan Yu Hao mengikuti dari belakang. Mulanya semua berjalan dengan tenang, hingga...


Krsskk... Krsskk...


Tiba-tiba muncul suara bising dari balik semak di depan mereka. “Shuwan.. Bunyi apa itu?” Jiao berbisik ketakutan. “Tenanglah Jiao,” tukas Shuwan menenangkan Jiao. Jiao memegang erat tangan Shuwan, khawatir sesuatu muncul secara tiba-tiba. Perlahan, Shuwan mendekati sumber suara itu, dan...


Hoaaa....


Munculah Zhang dan Yu Hao dari balik semak yang membuat Shuwan dan Jiao kaget bukan kepalang.


“Kalian! Dasar kurang ajar!” jerit Shuwan.


Zhang dan Yu Hao kaget melihat kedua perempuan itu kaget dan kesal.


“Sudahlah, tenang, tenang... Tidak akan ada apapun di sini. Suasana kita terlalu serius, kami berdua hanya menghidupkan suasana. Iya ‘kan, Zhang?” pungkas Yu Hao.


Zhang menyipitkan kedua matanya, “Aku rasa ini hanya idemu, Yu Hao,” katanya.


“Tapi kamu juga ikut ‘kan?” Yu Hao memastikan.


“Hei! Itu kau yang memaksaku untuk melakukan hal bodoh seperti ini,” Zhang menimpali.


“Heh... Kalian berdua! Apakah sudah selesai berdebatnya?” Shuwan mulai geram. Wajahnya memerah karena emosi, terlihat seperti ibu yang marah di rumah. “Asal kalian tahu, ini benar-benar tidak lucu!” sergah Shuwan.


“Benar! Bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu? Bukannya serius karena kita berada di tempat asing, malah bergurau di waktu yang tidak tepat,” sergah Jiao.


Zhang dan Yu Hao merasa bersalah karena telah melakukan hal konyol. “Ya sudah, kami minta maaf. Jangan marah lagi ya?” ucap Yu Hao.


“Hump...” Jiao hanya membuang muka.

__ADS_1


Shuwan hanya memandangi sekeliling tempat mereka berada. Ia menyadari bahwa kabut menjadi semakin tebal. “Ayo kita cepat pergi dari sini. Kabutnya sudah mulai membatasi jarak pandang,” ajak Shuwan.


Krsskk... Krsskk...


Baru saja mereka jalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara bising lagi dari balik semak. Shuwan menghentikan langkahnya, dan menghela napas. “Zhang, Yu Hao, ini benar-benar tidak lucu,” ucapnya.


“Apa? Kami tidak melakukan apapun!” jawab Yu Hao dari belakang.


Shuwan pun menoleh ke belakang dan mendapati Zhang dan Yu Hao masih ada pada tempatnya. Lalu, suara apa itu tadi? Firasatku jadi tidak enak. Batin Shuwan bingung. Akhirnya ia kembali fokus pada jalannya dan memilih acuh pada suara yang baru saja menghentikan langkahnya itu.


Baru saja, ketika ia akan melangkah, tiba-tiba sesuatu muncul di belakang mereka.


Groarr....


Shuwan dan yang lainnya terkesiap mendengar raungan itu. Saat mereka menoleh ke belakang, seekor beruang madu raksasa sudah berdiri di belakang mereka.


Mereka semua mematung melihat beruang yang tampak kelaparan itu. Shuwan yang mundur perlahan karena takut pun menginjak ranting. Sontak perhatian beruang itu langsung tertuju padanya. Secepat kilat ia pun mengambil langkah seribu.


“Shuwan!” teriak Jiao cemas. Namun Shuwan tidak menggubris teriakan Jiao. Zhang, Yu Hao, dan Jiao bergegas mengejar Shuwan.


Aksi kejar-kejaran antara Shuwan dan beruang madu itu pun terjadi. Sial! Beruang ini seperti tidak kehabisan tenaga sama sekali. Aku harus melakukan sesuatu! Seandainya, di sini ada tempat untuk memojokkannya! Batin Shuwan mulai cemas.


Karena terus berlari tanpa memperhitungkan arah, kini Shuwan di hadapkan pada sebuah jurang yang sangat luas.


Bagaimana ini? Aku tidak bisa menjangkaunya dengan melompat. Beruang itu semakin dekat denganku!


***


Sementara itu Zhang, Yu Hao dan Jiao masih terus berusaha menemukan Shuwan di dalam hutan. “Shuwan!” Teriak Zhang dengan lantangnya. Shuwan, kamu ada di mana sekarang? Batin Zhang yang mulai cemas.


Mereka bertiga bersahutan memanggil Shuwan di hutan berkabut itu.


“Bagaimana ini? Ke mana sebenarnya Shuwan pergi bersama beruang itu? Aku takut terjadi sesuatu padanya,” ucap Jiao pada Zhang.


Mereka berdua menjadi semakin khawatir karena kehilangan jejak. “Tenanglah, Shuwan adalah wanita tangguh. Ia tidak akan mudah jatuh begitu saja. Sekarang kita harus percaya padanya, dan terus mencarinya,” tutur Zhang.


“Hei kalian... Aku menemukan sesuatu!” teriak Yu Hao dari sudut yang lain.


Segera Jiao dan Zhang mendekat ke arahnya. “Apa... Apa yang kamu temukan Yu Hao?” tanya Zhang panik.


“Ini... Coba kalian perhatikan tumbuhan yang patah ini. Ini pasti jejak Shuwan dan beruang itu. Kita bisa mengikutinya sebagai petunjuk menemukan Shuwan,” terang Yu Hao dengan optimis.


“Kalau begitu ayo!” seru Zhang. Mereka bertiga pun mengikuti tumbuhan patah yang diyakini mengarahkannya pada keberadaan Shuwan.


***

__ADS_1


Beruang itu menyerang Shuwan dengan cakarnya yang panjang dan tajam. Shuwan hanya bisa menghindar. Beruang ini terlalu besar untuk aku habisi sendiri. Aku harus segera melumpuhkannya!


Akibat pertarungan yang sengit, Shuwan mulai kelelahan karena kehabisan tenaga. Beruang ini... Apakah tidak bisa dikalahkan? Batinnya cemas.


Karena fokusnya hilang beruang itu pun menikamnya. Shuwan ambruk tepat di tindih beruang itu. Beruang itu berusaha mencakarnya, tapi Shuwan berhasil menghindar. Ugh... Tubuhku rasanya sakit sekali.


Shuwan pun mengerahkan tenaganya yang tersisa. Ia berusaha menyingkirkan beruang itu darinya dengan menendangnya.


Zhang, Yu Hao, dan Jiao pun tiba di sana dan menyaksikan pergulatan Shuwan dengan beruang ganas itu. “Shuwan!” teriak Jiao.


Seketika pandangan Shuwan teralihkan, “Jiao!” teriak Shuwan.


Mereka bertiga berusaha menyelamatkan Shuwan. Tapi Shuwan melarangnya dengan isyarat menggelengkan kepalanya. Sekuat tenaga Shuwan menendang beruang itu, dan beruang itu terpleset ke dalam jurang.


“Uhuk... Uhuk...” Shuwan terbatuk setelah berhasil melumpuhkannya.


Ia baru saja akan berdiri dan menghampiri Zhang dan yang lainnya, tiba-tiba beruang itu menyeret kaki Shuwan, dan ia pun jatuh bersama beruang itu ke dalam jurang.


“Aaaaahhhh....” teriak Shuwan yang tubuhnya mulai jatuh ke dalam jurang.


“Shuwan!” Zhang segera berlari untuk menyelamatkan Shuwan, tapi upayanya gagal. Ia terlambat meraihnya. “Shuwan!” Zhang menjatuhkan kepalan tangan ke tanah karena merasa kesal.


“Apakah ada jalan lain menuju dasar jurang ini?” tanya Jiao yang berurai air mata.


“Pasti ada. Tapi aku juga tidak tahu arah mana yang harus kita tempuh,” pandangan Yu Hao tampak putus asa. Ia tidak tahu seluk beluk hutan itu, karena keterbatasan informasi.


“Kita harus menemukan Shuwan. Harus!” Ucap Zhang seraya berdiri dengan tatapan mata yang tajam.


***


Shuwan yang terjatuh ke dasar jurang pun tak sadarkan diri. Sementara beruang itu, tampaknya sudah mati.


Dalam ketidaksadarannya, Shuwan seperti mengalami sebuah mimpi. Ia melihat seorang wanita yang punya rupa dan fisik sama persis dengannya. Siapa wanita itu? Kenapa begitu mirip denganku?


Perempuan itu bersama dengan seorang lelaki, namun tiba-tiba saja laki-laki yang bersamanya dibunuh oleh lelaki lainnya. Aku tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki yang dibunuh dan membunuh ini?


Adegan selanjutnya, perempuan itu meminum sesuatu dari mangkuk yang dibawa oleh lelaki yang membunuh. Seketika, dada Shuwan juga merasa sesak. Ugh... Kenapa aku merasa begitu sakit. Aahh.... Shuwan berteriak di bawah alam sadarnya. Ketika merasakan sakit yang luar biasa, Shuwan perlahan membuka matanya.


Ugh... Tubuhku rasanya hancur. Aku tidak bisa merasakan apapun. Shuwan berusaha menggeliat, dan bangkit. Beruang itu, apakah sudah mati? Batinnya penasaran. “Aku harus segera pergi dari sini,” ucapnya seraya meringis menahan sakit.


“Ugh...” Ia terjatuh kembali. Aku tidak punya cukup tenaga untuk berjalan. Apakah aku pada akhirnya aku akan mati di sini?


Ia duduk bersandar di dinding dasar jurang. Menunggu sangat lama, berharap ada yang datang menyelamatkannya. Dalam penantian itu, tiba-tiba ada suara berbisik yang datang bersahutan dengan suara yang berbeda-beda.


Tolong selamatkan aku... Jangan tinggalkan aku.... Aku ingin pergi dari sini.... Kamu harus menemaniku di sini.... Kamu adalah wanita kotor yang telah membunuh banyak orang....

__ADS_1


Suara-suara itu membuat dada Shuwan terasa sesak. Ia merasa seperti diintimidasi oleh banyak orang. Hanya saja di sana tidak ada siapa pun selain dirinya dan jasad beruang yang ia kalahkan tadi.


“Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Shuwan seraya menutupi kedua telinganya agar tak mendengarkan suara-suara itu. “Tidak! Jangan ganggu aku! Pergi!” Shuwan mulai menangis karena tidak tahan dengan bisikan-bisikan itu. Ia hanya meringkuk ketakutan, dan akhirnya pingsan


__ADS_2