
“Aku ada di mana?” tanya Shuwan dengan penuh kebingungan, setelah mendapati dirinya berada di padang bunga yang luas, sendirian. “Ah, aku ingat. Tadi aku melawan perempuan jadi-jadian itu, lalu terluka parah, dan mati begitu saja.” Tiba-tiba air mukanya berubah menjadi sendu. “Hah... Padahal aku ingin tetap hidup. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Lalu, apakah ini alam akhirat?” tanya Shuwan pada dirinya sendiri. “Yah, apa pun tempat ini, setidaknya aku merasa sedikit tenang,” imbuhnya.
***
Sementara itu di hutan, Zhang, Jiao, dan Yu Hao masih ketakutan dengan sosok yang kini berada di hadapan mereka.
“S-siapa kau?” kata Zhang mengulangi pertanyaan yang sama.
“Aku adalah Gao Chun, penguasa asli hutan ini.” Sosok mengerikan itu memperkenalkan dirinya pada Zhang dan kedua teman lainnya.
“Ga-Gao Chun? Penguasa asli?” Zhang mulai bingung dengan pernyataan Gao Chun.
“Itu benar. Teman wanitamu itulah yang berhasil memusnahkan Tan Qian, perempuan bertubuh separuh ular.”
Zhang memicingkan matanya. Nalarnya seakan belum mengerti dengan situasi saat ini. “Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi di sini. Karena, tidak tahu kenapa tadi aku merasakan kantuk yang luar biasa, dan langsung tertidur begitu saja.”
“Aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak bisa merasakan apa pun ketika memejamkan mata. Rasa kantuk yang datang tiba-tiba datang itu, seolah menghinotisku untuk tidak membuka mata. Dalam lelap itu, aku bermimpi sangat buruk,” sambung Yu Hao.
“Ternyata kita bertiga mengalami hal yang sama. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Begitu sadar, aku sudah mendapati tempat ini porak poranda, ditambah Shuwan yang sekarang aku juga tidak mengerti kondisinya.” Jiao tampak begitu khawatir setelah mengatakannya. Ia tak sanggup berbicara lagi mengenai kondisi Shuwan saat ini.
“Kalian telah terkena dampak dari Lonceng Mimpi milik Tan Qian,” terang Gao Chun.
Wajah Zhang tampak semakin bingung. “Lonceng Mimpi? Apakah maksudmu adalah lonceng ini?” kata Zhang seraya menunjukkan lonceng yang sedari tadi berada dekat dengan Shuwan.
“Benar. Itu adalah Lonceng Mimpi. Siapa pun yang mendengar suara dari lonceng itu, maka ia akan tenggelam dalam ilusi buatan Tan Qian. Orang yang masuk ke dalam ilusinya jarang ada yang bisa membuka matanya kembali.”
“A-apa maksudmu?” sela Zhang.
“Kalian adalah orang-orang yang beruntung karena bisa terlepas dari jeratan Lonceng Mimpi. Itu semua berkat pertolongan nona ini. Dia berhasil membunuh Tan Qian dan kembali membunyikan lonceng itu agar kalian kembali. Meski pun ia telah kehilangan nyawanya.”
“Mustahil! Shuwan tidak mungkin meninggal. Kau... Kau pasti bercanda bukan?” Zhang berusaha menampik perkataan Gao Chun dengan begitu kerasnya.
“Kau tenang saja. Aku datang kemari untuk membantu nona ini sebagai ucapan terima kasih. Karena berkatnya, Tan Qian sang penguasa tiran telah musnah. Kini para penghuni hutan ini tidak perlu resah akibat kekejamannya.”
“Bagaimana... Bagaimana kau akan menolong Shuwan?”
“Aku akan mengadakan ritual pemanggil jiwa untuk membawa nona ini kembali. Tapi, hanya untuk jiwanya saja. Aku tidak memiliki ilmu ataupun obat yang bisa memulihkan kondisinya. Jadi, setelah ia bangun nanti, kalian harus tetap merawat lukanya. Aku juga akan memberikan pil bunga lotus untuk meredakan nyerinya,” jelas Gao Chun pada Zhang.
Gao Chun membentuk sebuah altar di tengah hutan. Dengan kekuatannya, sekali menjentikkan jari, altar berbentuk segi enam yang tiap sudutnya kelilingi lilin pun muncul di depan mata.
Zhang yang membopong tubuh Shuwan pun berjalan mendekati altar tersebut.
__ADS_1
Ia kemudian meletakkan tubuh Shuwan di atas altar dengan lembut dan sangat hati-hati.
“Kau, tidurlah di samping nona in,” pinta Gao Chun pada Zhang.
“Aku? Kenapa?” Zhang kembali kebingungan.
“Nona ini bukan berasal dari dunia ini. Kau akan menjadi perantara untuk membawa jiwanya kembali,” jelas Gao Chun.
“Shuwan tidak berasal dari dunia ini? Apa maksudmu?” celetuk Jiao yang bingung setelah mendengar ucapan Gao Chun.
“Hm, aku tidak bisa memberitahukannya karena bertentangan dengan kehendak langit. Biarkan waktu yang akan mengungkap siapa nona ini sebenarnya. Baiklah, aku akan memulai ritualnya.”
Zhang yang sudah terbaring di tubuh Shuwan pun diminta memejamkan matanya. Sedangkan Jiao dan Yu Hao hanya diam menyaksikan prosesi pemanggilan jiwa Shuwan.
Gao Chun membentuk segel di tangannya, dan semburat putih menerangi seisi hutan.
Zhang yang merasa dirinya tertidur di atas altar pun tiba-tiba terbangun. Ia terkagum manakala mendapati pemandangan indah di depan matanya.
“I-ini...” tidak ada lagi kata-kata yang berhasil keluar dari mulutnya. Takjub, itulah yang ia rasakan sekarang. Hamparan padang bunga membentang luas sejauh mata memandang. Bunga-bunga berwarna putih bersih tampak harmonis dengan langit berwarna biru.
Di tengah kekagumannya, matanya tiba-tiba saja tertuju pada satu arah.
“Shuwan?” ucapnya perlahan setelah mendapati sosok berbaju putih tengah berdiri di padang bunga yang luas. Ia pun berusaha memanggilnya lagi dengan suara yang lebih keras, “Shuwan!”
“Shuwan!” panggil Zhang lagi.
Shuwan pun menoleh karena merasa suara yang didengarnya sangat familiar. Betapa terkejutnya ia mendapai Zhang yang ternyata memanggil dirinya. “Zhang?”
Namun anehnya, Zhang tidak mampu mendekati Shuwan. Seperti ada tabir gaib yang membatasi mereka.
Akhirnya, Shuwan yang medekati Zhang. “Zhang, kenapa kau ada di sini? Kalian baik-baik saja ‘kan? Tapi, jika kau ada di sini, bukankah itu artinya terjadi sesuatu padamu?”
“Kau ini bodoh ya? Kau sampai seperti ini pun masih harus mengkhawatirkan orang lain?”
“Yah, aku memang bodoh. Aku... Hanya melakukan apa yang nuraniku katakan, dan apa yang aku anggap benar.”
Zhang menghela napas dalam-dalam. Dipandanginya wanita yang ia cintai itu. Ingin rasa memeluknya, tapi tak kuasa sebab terhalang dinding gaib.
“Shuwan, aku datang untuk membawamu kembali. Kita pulang ya?”
Shuwan diam tak menjawab. Pandangannya jatuh ke bawah. Ia tidak tahu bagaimana harus bertindak sekarang. “Zhang, jika aku tidak ingin pulang bagaimana? Aku merasa nyaman berada di sini.”
__ADS_1
Zhang terkesiap mendengar jawaban Shuwan. Ia pun masih berupaya meyakinkannya lagi. “Apa kau ingin mati dengan cara seperti ini? Lalu, apa alasanmu masuk ke dunia kami?”
Mata Shuwan terbelalak. Ia heran bagaimana Zhang bisa mengetahui kebenaran dirinya. Ia juga teringat kakek, dan kakaknya yang kini sedang menantinya kembali ke rumah.
“Apakah kau tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang menunggumu di rumah? Apakah kau lupa dengan tujuanmu?”
Bola mata Shuwan seakan menjelajahi sudut di hadapannya, hingga ia pun memantapkan hati. Ia menghela napas, dan melanjutkannya dengan persetujuan. “Kalau begitu, bagaimana kau akan membawaku pulang?”
Wajah Zhang tampak berseri. Ia girang karena mendengar jawaban Shuwan yang sesuai dengan harapannya. “Jika kita bisa menghancurkan tabir gaib ini, kita pasti bisa pulang bersama.” Zhang menggedor-gedor tabir gaib itu, dan mempelajarinya. “Shuwan, kau mundurlah. Aku akan menghancurkan tabir ini dengan kekuatanku,” pinta Zhang.
Shuwan mengangguk. Perlahan namun pasti, ia mundur, menjauh dari tabir yang akan dihancurkan oleh Zhang.
Zhang mempersiapkan dirinya, dengan bekal ilmu kanuragan yang telah ia pelajari.
“Hiaa!”
Zhang mengarahkan kedua tangannya ke arah tabir itu. Ia menahannya sekuat tenaga agar bisa merusak tabir gaib itu. Tabir itu pun bergetar, dan mengeluarkan cahaya. Selang beberapa waktu kemudian...
Kraak... Kraak... Kraak... Byaar...
Tabir gaib itu hancur seperti serpihan kaca. Zhang pun mendekati Shuwan. Ia memeluk erat gadis yang dicintainya itu.
“Akhirnya, aku bisa membawamu kembali,” ucapnya dengan haru. Ia lalu melepas pelukan itu, dan menggandeng tangan Shuwan. Berjalan meninggalkan padang bunga, dan pergi masuk ke dalam portal penghubung dua dunia.
Sementara itu, Jiao dan Yu Hao masih menunggu dengan cemas. Setelah beberapa waktu, kekhawatiran yang memburu mereka pun reda.
Tampak Shuwan mengerjapkan matanya.
“Shuwan?” kata Jiao.
“Tubuhku rasanya sakit. Sangat sakit,” ucapan pertama yang keluar dari mulut Shuwan membuat Jiao dan Yu Hao mengiba. Mereka tidak tahu harus berbuat bagaimana mendapati tubuh Shuwan yang memang terluka sangat parah.
Zhang yang terbaring di samping Shuwan perlahan mulai sadar. Ia langsung bangkit dan memandangi wanitanya. “Shuwan, syukurlah,” katanya.
“Karena nona ini sudah kembali, sesuai janjiku, aku akan memberikan pil bunga lotus padanya,” kata Gao Chun seraya menyerahkan pil itu pada Zhang.
Shuwan yang belum mengetahui makhluk itu pun kaget. “S-siapa kau?” tanyanya.
“Dia adalah yang membantu kita, sekaligus penjaga hutan yang sebenarnya,” terang Zhang. “Sekarang, kau minumlah obat ini. Agar tidak merasa begitu kesakitan.”
Shuwan didudukkan oleh Zhang dari pembaringan. Dibantu Zhang pula, Shuwan menelan pil itu.
__ADS_1
“Karena tugasku sudah selesai, maka aku akan pergi.” Gao Chun berpamitan pada Shuwan dan yang lainnya. “Satu lagi, atas nama penghuni hutan, aku mengucapkan terima kasih atas bantuanmu, Nona Shuwan. Untuk selanjutnya, kalian harus lebih berhati-hati. Akan banyak aral gendala yang membentang di depan. Kalau begitu, aku pamit,” Gao Chun pun menghilang dalam lesatan cahaya. Meninggalkan Shuwan yang masih bingung dengan setiap kata yang diucapkannya.