
Shuwan memandangi jalanan yang gelap. Tidak ada penerangan selain cahaya bulan yang kini berwarna merah, yang seolah menjadi saksi dari tragedi Negeri Awan malam ini.
“Liem... Apakah kau tahu arah sungai Xia?” tanya Shuwan.
“Cukup dengan mengikuti jalan ini, kita pasti akan sampai di sana. Aku sudah mempelajari peta di tempat ini.”
“Berapa lama agar kita bisa sampai sana?”
“Kemungkinan saat fajar nanti.”
Ada kekhawatiran di dalam hati Shuwan. Bisakah kita sampai sana tepat waktu? Batin Shuwan.
“Kau tidak perlu cemas, Shuwan. Percayalah kita akan sampai tepat waktu.”
“Semoga...” Shuwan merasa begitu takut, andai dia kehilangan kesempatan ini, akankah dia tidak bisa kembali ke dunianya?
Zhang mengerti keadaan Shuwan. Ia lalu meraih tangan Shuwan yang ada di belakangnya, dan menariknya ke depan. Digenggamnya erat-erat tangan dingin itu. “Jika kau ingin menangis, maka menangislah. Kau bisa menggunakan punggungmu jika ingin bersandar.”
Perkataan Zhang menyentuh hatinya yang paling dalam. Ia pun langsung memeluk Zhang dari belakang, dan mulai menangis. Menumpahkan segala kesedihan, dan juga ketakutan hatinya di tengah laju kuda yang menjadi somfoni hati yang kalut.
Shuwan... Aku akan selalu melindungimu, dan menjadi tiang yang kokoh untuk sandaranmu. Bagiku, kau adalah yang terpenting. Meski kau sering membuatku salah paham, tapi aku selalu tidak bisa membencimu. Mungkin aku egois padamu, tapi sungguh, aku benar mencintaimu.
Zhang memacu kembali kudanya di dalam hutan, dan menuju ke arah selatan. Sungai Xia berada di wilayah paling selatan Negeri Awan. Tidak ada kehidupan di sana selain binatang buas, dan hutan-hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi nan rindang.
***
Sementara itu di istana, para prajurit Harimau Gurun berhasil mengalahkan prajurit istana yang berkhianat, dan juga beberapa antek-antek mawar hitam. Tak lupa juga ketiga pejabat yang kini sudah berganti ditawan.
“Kalian merasa sudah membumbung begitu tinggi di angkasa, tapi lupa, bahwa di sana masih ada yang lebih tinggi.” Kata Raja Li.
Ketiga menteri itu pun hanya diam dengan tatapan kebencian. Meski mereka telah dijatuhkan, namun keangkuhan yang ada di hatinya masih begitu tinggi, melebihi lapisan eksosfer yang melindungi bumi.
“Heh.. Biar pun kami sudah ditangkap, tapi kami belum sepenuhnya kalah.... Putramu... Dia masih berada di tangan kami. Hahaha....” kata Duan Jung.
“Putraku pasti akan baik-baik saja. Aku percaya itu...” Raja Li tampak begitu optimis mengenai keselamatan putranya.
“Kau terlihat begitu optimis, Raja Li. Tidak tahu nanti bagaimana kau akan jatuh sejatuh-jatuhnya ketika hanya mampu melihat jasad putramu. Hahaha...” Bai Long masih menunjukkan keangkuhannya. Sama seperti Duan Jung.
“Dewa telah mengirimkan seorang penyelamat untuk putraku. Aku yakin, orang itu bisa menyelamatkannya. Dan seharusnya, kalian berdoa untuk ketenangan jiwa dan raga kalian agar nanti saat hukuman pancung itu tiba, dosa kalian bisa diampuni.”
Raja Li menatap sinis ketiga menteri yang kini sudah ditundukkan dengan posisi tangan yang diikat kebelakang. Sementara itu, ketiga menteri mulai merasa cemas. Wajah mereka tampak begitu khawatir. Sudah gagal mengkudeta, kini mereka harus bersiap untuk menerima hukuman atas kegagalan yang terjadi.
“Xin Ru...” panggil Raja Li.
Xin Ru berjalan mendekati Raja Li. “Ya, Yang Mulia.”
“Kirim pasukan untuk membantu istri putraku itu. Dan, habisi para pemberontak yang tersisa itu.” Titah Raja Li.
“Baik, Yang Mulia,” Xin Ru memberikan penghormatan pada Raja Li.
__ADS_1
“Izinkah kami berdua untuk ikut, Yang Mulia!” Yu Hao dan Jiao menghadapkan diri seraya memberikan penghormatan kepada sang raja.
Raja Li mengangguk. “Baiklah. Kalian semua pergi, dan bawa kembali putra mahkota beserta istri kesayangannya itu.”
Kapan kesalahpahaman ini berakhir? Sepertinya Raja Li sangat menyukai Shuwan sebagai menantunya. Batin Yu Hao.
Yu Hao dan Jiao membungkuk. “Baik, Yang Mulia!” ucap Jiao dan Yu Hao bersamaan.
Akhirnya, Jiao, Yu Hao, dan Xin Ru pergi menyusul Shuwan dan Zhang menuju sungai Xia untuk menyelamatkan Zhi Qiang.
***
Di tepi sungai Xia, Zhi Qiang terlihat sedang diikat disebuah pohon yang ada di sana. Kesadarannya perlahan pulih. Tampak ia mengerjapkan kedua matanya.
“Ugh... Ada di mana ini?” Zhi Qiang menggelengkan kepalanya berusaha memfokuskan penglihatannya. Begitu sadar, ia memandangi sekitarnya. Hanya ada sekelompok orang yang menyandera dirinya dengan seseorang bertubuh tinggi kekar yang terlihat seperti pimpinan mereka.
Hah... Pada akhirnya hanya aku sendiri yang disandera. Apakah akan ada yang datang menyelamatkanku? Bagaimana jika tidak? Apakah ini akhir dari hidupku? Batin Zhi Qiang merasa pasrah, tapi juga tidak ingin mati begitu saja.
Perut Zhi Qiang tiba-tiba saja berbunyi karena lapar. Sial! Aku lapar!
Ternyata suara perutnya menarik perhatian para bandit itu, sehingga mereka pun langsung menoleh ke sumber suara.
“Rupanya putra mahkota kesayangan kita ini sedang lapar. Bagaimana adik-adik? Apakah kita akan memberinya makan?” ucap salah seorang.
“Aku rasa itu tidak perlu,” kata Zhi Qiang. “Sekali pun kalian memberikan makanan padaku, aku tidak akan sudi untuk memakannya,” ketus Zhi Qiang.
“Huh... Percaya diri sekali kau. Memangnya siapa yang akan berbagi makanan denganmu?” celetuk orang lainnya.
“Sudahlah, kita abaikan saja dia, dan fokus makan. Kita tunggu, apakah raja bodoh itu akan menyerahkan tokennya sebelum matahari terbit, atau akan mempertahankannya dan melihat putranya mati. Hahaha...”
Zhi Qiang hanya diam. Ia mengutuk orang-orang yang menculiknya dan kini malah tertawa ria di atas penderitaannya.
***
Waktu berjalan begitu saja. Bulan tampak mulai berpindah dari singgasananya. Shuwan dan Zhang masih melajukan kudanya.
“Liem... Apa kau susah baik-baik saja? Kemarin kau baru saja terkena demam, dan sekarang harus keluar malam-malam begini,” kata Shuwan.
“Aku tidak apa. Selama bersamamu, aku selalu merasa baik-baik saja.”
“Kau selalu saja pandai berkata manis. Sepertinya terlalu banyak makan manisan.”
“Manisan? Sebenarnya aku ingin mengajakmu berkencan setelah semua kesalahpahaman ini. Kita akan makan manisan sebanyak yang kau mau, dan menghabiskan malam bersama.”
Shuwan tiba-tiba saja menjadi sedih. Saat ini selesai, kau seharusnya tahu, kalau aku pasti akan menghilang dari tempat ini.
“Shuwan...” panggil Zhang.
Shuwan tersadar dari lamunannya. “Iya.”
__ADS_1
“Setelah ini, bagaimana kalau kita langsung menikah saja?”
Shuwan tersedak salivanya sendiri begitu mendengar ucapan Zhang. “M-menikah? Apa kau sedang demam?” tanya Shuwan.
“Aku tidak demam. A-aku.... Hanya ingin menjadi kekasih resmimu, dan satu-satunya yang bisa memilikimu. Makanya aku ingin menikahimu.”
Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan bodoh ini? Liem, kenapa kau selalu menempatkanku pada pilihan yang sulit seperti ini? Kau membuatku goyah dan rapuh. Shuwan kembali melamun.
Sementara itu, Zhang masih menunggu jawaban Shuwan. Apa yang membuatmu ragu, Shuwan? Tidak bisakah kau mengatakan iya? “Aku akan menunggu jawabanmu begitu kita selesai menyelesaikan misi ini.”
Shuwan tak menanggapinya. Hal ini membuat Zhang sedikit kesal. Ia sudah berkata dengan penuh harap, namun tak ada respon apa lagi jawaban. Aku harus bersabar. Batin Zhang.
“Hyaa!” Zhang menambah kecepatan laju kudanya. Suasana hatinya sedang tidak terlalu baik. Ini saatnya melampiaskan perasaan Zhang pada pacuan kuda.
Tidak terasa mereka pun sudah hampir dekat dengan persembunyian musuh. Keduanya lantas turun dari kuda dan berusaha mengendap-endap ke tempat di mana mereka bisa mengintai.
Shuwan dan Zhang pun akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk mengintai. Sebuah pohon besar, dan semak yang menutupi akarnya dengan posisi yang berada di atas bukit. Tak jauh dari tempat penyanderaan. Keduanya lantas mengamati gerak-gerik musuh dari sana.
“Jumlahnya sekitar tiga puluh orang. Jika hanya kita berdua, apakah bisa menyelesaikannya? Sebaiknya kita tunggu bala bantuan datang,” bisik Zhang.
“Tapi sebentar lagi matahari akan terbit. Sedangkan sekarang, masih belum ada tanda-tanda pasukan yang menyusuli kita,” imbuh Shuwan.
“Kau tenanglah. Sebentar lagi pasti mereka akan datang. Kita hanya harus mengamati mereka dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka.”
“Ketika saat itu tiba, putra mahkota tidak akan tertolong.” Shuwan memandangi Zhang dengan tatapn serius penuh arti.
“Shuwan, kau harus percaya kalau semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya harus bersabar.” Zhang mencoba menenangkan Shuwan.
“Tapi semburat langit timur suda ter...”
Shuwan tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Bibirnya ditahan oleh tangan Zhang. “Tenanglah Shuwan, ku mohon, tenang...”
Shuwan berusaha tenang, tapi hatinya tidak bisa. Liem, maaf... Aku sepertinya tidak bisa melibatkanmu untuk turun ke medan pertempuran. Kau harus tetap aman dan baik-baik saja. Shuwan mempersiapkan siasat untuk membuat Zhang berhenti menghalangi Shuwan untuk bergerak maju.
“Kalau begitu, biarkan aku memelukmu agar tenang.” Kata Shuwan dengan pandangan yang tertunduk.
Zhang langsung tersenyum simpul, ia lalu membentangkan kedua tangannya. Bersiap menerima pelukan dari Shuwan.
Shuwan langsung memeluknya. Liem, maafkan aku. Shuwan langsung menancapkan jarum bius kepada Zhang.
“Shuwan... Kau....” Perlahan Zhang mulai kehilangan kesadarannya. Ia tumbang di dalam pelukan Shuwan.
“Maaf, aku terpaksa.” Shuwan menyandarkan Zhang yang tak sadarkan diri ke batang pohon. “Kau harus baik-baik saja, setidaknya sampai aku pergi dari sini.”
Shuwan kemudian bangkit, dan bersiap melakukan serangan. Satu berbanding tiga puluh, apakah dia akan berhasil menyelamatkan putra mahkota tepat pada waktunya?
Saat itu juga, tanpa sadar Shuwan menjatuhkan giok angsanya di dekat tangan Zhang. Ia langsung pergi begitu saja tanpa menyadari bahwa barang berharganya tertinggal di tempat itu.
“Aku sudah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan yang terjadi. Jarum-jarum beserta obat bius yang sudah kuambil dari kediaman Tuan Luo, seharusnya cukup untuk menumbangkan orang-orang ini.” Shuwan mulai meyakinkan dirinya kembali, untuk memulai misi penyelataman terakhirnya.
__ADS_1
Shuwan menuju kembali ke kudanya, yang telah menemaninya dalam perjalanan menuju ke istana, bahkan sampai ke medan pertempuran. “Terima kasih sudah membersamaiku sampai sekarang. Ini mungkin akan jadi yang terakhir kalinya kita bersama. Jadi, aku mohon bantuanmu sekali lagi.”
“Kali ini, saatnya kembali menyelami samudera pertempuran.”