1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Bertarung dengan Pikiran


__ADS_3

Shuwan tersentak kaget. Ia pun terbatuk dan memutahkan kembali air minum yang sudah sempat masuk ke mulutnya.


“Uhuk... Uhuk.... Ugh... Siapa yang berani-beraninya mengagetkanku?” ucap Shuwan dengan sedikit emosi. Tangan kirinya lalu mengusap sisa air yang tumpah di permukaan luar mulut dan juga dagunya.


Saat ia menoleh ke belakang, didapatinya sosok seorang pria bertubuh putih, berambut abu-abu pendek dengan sedikit sisa rambut panjang yang dikucir kuda, dan juga mata berwarna kuning keemasan tengah berdiri seraya memasang senyum yang kelihatan terpaksa pada Shuwan.Yah, orang itu adalah Xin Ru, pengawal bayangan Zhi Qiang sang putra mahkota.


“S-siapa kau?” tanya Shuwan tergugup.


“Aku adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengantarkan surat ini ke sini,” Xin Ru kemudian mengeluarkan gulungan surat dari saku bajunya.


Ia lantas menyerahkannya pada Shuwan. 


Tanpa ragu Shuwan langsung menerima surat itu. “Siapa yang mengirimkannya? Apakah si penjaga perpustakaan itu? Bukannya tinggal meminta San saja untuk mengirimkannya?” 


Shuwan membuka surat itu dan mendapati bahwa Zhang yang telah mengiriminya surat. Ia tak berkomentar apa pun saat membaca isi suratnya.


Sementara itu Xin Ru masih mengamati Shuwan, si ‘Angsa Hitam’ yang telah membuat tuannya jatuh hati. Dia sepertinya habis berlatih pedang. Jadi, Tuanku menyukai wanita yang bisa berkelahi? Jika wanita ini sampai dimasukkan ke harem, dia pasti tidak akan mudah tertindas. Malahan bisa membuat para selir lari ketakutan. Tuanku memang punya mata yang bagus.


Shuwan, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah membaik? Tidak terasa, hampir seminggu kita tidak bertemu. Apa kau merindukanku?


Yah, aku harap kau juga merasakan yang sama.


Oh iya, aku ingin mengundangmu datang ke festival lampion. Kau datanglah ke istana bersama Jiao ya?! Aku hanya ingin menerbangkan lampion bersamamu.


Hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Sampai bertemu di istana. Aku merindukanmu.


Tertanda: Zhang


Shuwan menggulung kembali suratnya seteleah selesai dibaca. “Hah... Tumben sekali bocah ini mengirimi surat? Kupikir dia sudah melupakan kami di rumah,” ujarnya.


Xin Ru terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Shuwan. Apakah Zhang dan Angsa Hitam saling mengenal? Aku harus melaporkannya pada Yang Mulia.


“Tolong katakan pada Zhang, aku dan Jiao akan memikirkannya,” kata Shuwan.


“Baik. Kalau begitu aku pergi dahulu,” Xin Ru berpamitan.


“Tunggu! Ini untukmu.”


Shuwan memberikan dua buah manisan kesemek pada Xin Ru. Katanya, “Kau pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Ini bisa kau makan untuk menunda lapar. Dan, hati-hatilah ketika di jalan.”


Xin Ru tersenyum. Ia pun menerima pemberian Shuwan. “Terima kasih,” singkatnya.


Shuwan mengangguk, dan membalas senyuman. “Kalau begitu aku masuk dahulu.” 


Shuwan lalu berlalu meninggalkan Xin Ru yang sedang memperhatikan kepergiannya.


Mungkin Tuan memang tidak salah jatuh cinta padanya. Batin Xin Ru seraya memandangi dua buah manisan kesemek di tangannya.


Shuwan masuk ke dalam rumah. Ia pun bergegas mencari Jiao untuk memberitahukan surat itu padanya.


“Jiao?” panggil Shuwan yang mendapati Jiao sedang rebahan di kamar.


“Ah... Shuwan. Kau sudah kembali. Bagaimana perasaanmu?”


“Sudah lebih baik setelah memakan beberapa manisan kesemek.”


“Syukurlah kalau begitu. Em... Ngomong-ngomong yang sedang kau bawa itu?” tanya Jiao penasaran dengan barang yang sedang Shuwan bawa.

__ADS_1


“Ini adalah surat dari Zhang. Bacalah. Aku tadi sudah membacanya.”


Shuwan lalu menyerahkan surat itu pada Jiao. Jiao pun membacanya, dan tersenyum-sendiri.


Shuwan yang memperhatikannya pun menjadi resah.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Shuwan dengan sengak.


“Tidak, tidak... Dibanding sebuah undangan, ini terlihat lebih seperti surat rindu. Dia merindukanmu Shuwan,” ledek Jiao.


Shuwan hanya membuang muka. “Laki-laki memang selalu manis di mulut. Tapi tidak tahu bagaimana hatinya,” ucap Shuwan.


***


Sementara itu di istana, Zhang dan Yu Hao akan datang mengunjungi putra mahkota menyerahkan laporan persiapan perayaan.


Sesampainya di kediaman putra mahkota, keduanya pun di persilakan masuk.


Zhang dan Yu Hao menghampiri Zhi Qiang yang sedang duduk di meja belajarnya.


“Yang Mulia, ini adalah laporan akhir dari persiapan perayaan,” kata Zhang seraya menyerahkan buku itu pada Zhi Qiang.


“Terima kasih. Kalian sudah bekerja keras. Aku harus mentraktir kalian makan sepertinya.”


“Kau terlalu sungkan Yang Mulia,” sahut Yu Hao.


“Sesekali juga boleh ‘kan? Kebetulan aku butuh teman makan dan juga mengobrol.”


“Baiklah jika Yang Mulia memaksa,” Yu Hao kembali menanggapi ucapan Zhi Qiang.


Sementara itu, Zhang masih tidak memalingkan pandangannya pada lukisan di meja belajar Zhi Qiang.


Karena tidak tahan menyimpan penasarannya, Zhang akhirnya membuka mulut.


“Yang Mulia, lukisan ini begitu indah. Siapakah gerangan orang yang ada di lukisan ini?”


Zhi Qiang tersenyum. Ia lalu menjawab pertanyaan Zhang. “Dia adalah Angsa Hitam yang kutemui di pasar.”


“Angsa hitam?” tanya Zhang seraya memicingkan matanya.


“Haha.. Itu hanyalah julukan yang kuberikan padanya. Dia adalah seorang wanita yang sangat sulit ditebak.”


“Begitu rupanya.” Apa ini hanya perasaanku saja? Bagaimana mungkin Shuwan pergi ke pasar dengan pakaian seperti ini?


Zhang berusaha menepis perasaannya. Dia tidak mengetahui kebenarannya bahwa lukisan itu adalah benar Shuwan yang dikenalnya.


Mereka bertiga pun berbincang hingga matahari pun mulai condong ke barat. Selang beberapa waktu kemudian, Xin Ru pun kembali.


“Tuan, aku kembali,” katanya dari depan pintu.


“Xin Ru, akhirnya kau kembali,” sambut Zhi Qiang. “Bagaimana, apa kau sudah mengantarkan surat itu?”


Xin Ru mengangguk. “Orang yang dituju sudah menerimanya. Dia mengatakan bahwa akan mempertimbangkannya.” Aku ingin melaporkan sesuatu padamu. Tapi Zhang dan Yu Hao masih di sini.


Hah... Kenapa dia tidak mengiyakannya saja sih? Batin Zhang resah. Ia lalu mengabaikan perasaannya sesaat. “Kalau begitu, terima kasih sudah membantuku, Tuan Xin Ru,” kata Zhang dengan santun.


“Santai saja. Kita ini seumuran, kau panggil saja aku Xin Ru. Itu terdengar lebih baik dan akrab,” sahut Xin Ru.

__ADS_1


“Hm... Baiklah kalau begitu, Xin Ru.”


***


Dua orang mengundangku datang ke acara yang sama. Siapa yang harus kuprioritaskan? Shuwan kembali bergelut dengan lamunannya. Belum selesai dengan misi penyelamatan putra mahkota, kini ia harus kembali berpikir dengan undangan milik Zhang.


Pustakawan itu mengundangku terlebih dahulu. Berarti aku harus pergi ke tempatnya dahulu. Tapi, Zhang adalah rekan perjalanan ini, sekaligus seseorang dari masa laluku. Hah... Kepalaku rasanya sakit memikirkan masalah yang tak berkesudahan.


Shuwan merebahkan tubuhnya ke atas kasur setelah merasa lelah karena terus berpikir.


Jiao yang baru saja masuk ke kamar pun kembali bingung dengan sikap temannya itu. Ia lantas mendekati Shuwan yang sedang terbaring di tempat tidur, membelakanginya.


“Shuwan, apakah masalahmu begitu beratnya sampai kau seperti ini?” tanya Jiao khawatir.


“Ah.. Jiao. Baiklah aku akan mengatakannya padamu.”


Jiao pun mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia bersiap mendengarkan cerita Shuwan.


“Kau tahu ‘kan sebelum Zhang mengirimiku surat seseorang dari istana telah lebih dahulu mengirimi kita surat?”


Jiao mengangguk. “Sebelumnya, pustakawan itu ‘kan yang memintamu datang ke istana?”


“Benar. Nah sekarang yang menjadi masalahku, Zhang juga mengundangku untuk menerbangkan lampion bersama. Aku bingung harus bagaimana? Andai saja aku bisa jurus membelah diri, aku pasti akan datang di keduanya.” Belum lagi aku juga harus melindungi putra mahkota.


“Ternyata pikiranmu benar-benar rumit ya? Begini saja, kau pergilah ke tempat pustakawan itu terlebih dahulu. Lalu baru menemui Zhang. Ini jika sesuai dengan siapa dahulu yang mengundang ya?”


“Aku juga berpikir begitu Jiao. Tapi, bagaimana jika Zhang langsung salah paham denganku? Hah... Aku hanya ingin menjalani hariku dengan tenang saja.”


“Besok kita berangkat ke istana bukan? Kita temui saja Zhang, dan katakan kalau sudah ada yang mengundangmu terlebih dahulu. Dia pasti mengerti.”


“Aku harap juga begitu, Jiao.”


“Kau harus mampu meyakinkan Zhang, agar dia tidak marah dan mau mengalah.”


Shuwan mengangguk. “Aku mengerti.”


Perbincangan mereka pun berakhir begitu saja. Sekarang mereka berdua sedang mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke istana.


Saat sedang mengemasi pakaian, Shuwan pun bertanya sesuatu pada Jiao.


“Jiao, menurutmu berapa pakaian yang harus kubawa? Dan, pakaian yang mana saja yang harus kubawa?”


“Hm... Perayaannya tinggal lima hari. Bawalah lima pasang pakaian, Shuwan. Jangan lupa bawa gaun sebagai pakaian formal.”


“Bukankah itu terlalu banyak? Dan gaun, aku sama sekali tidak kepikiran untuk membawanya.”


“Hei... Kau kan diundang untuk menerbangkan lampion bersama orang istana itu, bagaimana mungkin kau hanya akan berpenampilan alakadarnya?”


“Hah... Baiklah... Aku akan membawa satu gaun saja.”


“Hm... Tidak... Tidak.... Bawalah tiga gaun.”


“Apa? Itu terlalu banyak!”


“Kau akan memerlukannya nanti, jadi bawalah seperti yang kusebutkan.”


“Hei, sejak kapan kau peduli dengan pakaianku?”

__ADS_1


“Sejak banyak orang yang tertarik denganmulah...”


Keduanya pun beradu mulut seperti anak kecil yang rebutan permen.


__ADS_2