
Kuda yang ditunggangi Shuwan dan Zhang terus melaju jauh ke dalam hutan mengikuti arah peta. Tidak terasa hari sudah semakin larut, hingga mereka menemukan sebuah gua didalam hutan dan memutuskan untuk beristirahat di sana.
“Kita istirahat di sini saja,” ucap Shuwan kepada Zhang.
“Baiklah, tapi aman, kan?”
“Kita sudah jauh dari tempat bertemu perampok tadi, kuda yang kita tunggangi juga sudah lelah. Aku rasa kau juga butuh istirahat supaya lukamu itu bisa cepat pulih.”
“Tidak ku sangka ternyata kau begitu perhatian padaku.”
“Heh, jangan terlalu percaya diri. Ingat, kita hanyalah rekan perjalanan. Begitu tujuan kita tercapai aku akan langsung pergi.”
Tiba-tiba wajah Zhang seperti kaget mendengar ucapan Shuwan.
“Pergi? Kenapa harus pergi?” tanya Zhang.
“Suatu hari nanti kau akan tahu alasannya. Sudah ayo cepat masuk ke dalam gua. Udara di luar terasa semakin dingin.”
Shuwan masuk ke dalam gua terlebih dahulu untuk mengecek kondisinya, betapa terkejutnya ia bahwa ternyata di dalam gua itu banyak sekali kunang-kunang. Shuwan pun terdiam menyaksikan pemandangan langka itu.
Kunang-kunang? Bukankah ia hanya akan muncul ketika musim panas? Sekarang kan masih awal musim semi? Shuwan membatin.
“Ada apa, Shuwan? Kenapa kau berhen..ti?”
Zhang pun juga kaget melihat banyak kunang-kunang itu ada di dalam gua.
“Kunang-kunang? Bagaimana bisa? Sekarang baru awal musim semi, apa mungkin musim panas akan datang lebih cepat?”
“Sudahlah, yang penting kita istirahat di sini dulu. Kunang-kunang itu biarkan saja menjadi penerang di dalam. Kalau begitu aku akan mencari ranting di sekitar sini untuk membuat api agar kita bisa menghangatkan tubuh.”
“Tunggu, di luar berbahaya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?” ucap Zhang khawatir.
“Bukankah kau tadi sudah lihat kalau aku bisa melindungi diriku sendiri? Kau tidak perlu khawatir, aku hanya akan mencari ranting yang ada di dekat mulut gua ini. Kau istirahatlah terlebih dulu.”
Zhang pun hanya menunduk dan menyetujui Shuwan karena bagaimanapun angin di luar tempat mereka berada memang terasa begitu dingin.
“Baiklah.”
Shuwan bergegas mencari ranting-ranting yang ada disekitar mulut gua. Setelah ranting terkumpul, Shuwan segera kembali ke dalam gua dan membuat api unggun untuk menghangatkan tubuhnya serta Zhang.
Tiba-tiba terdengar suara perut Zhang yang berbunyi karena lapar.
“Kau lapar?” tanya Shuwan.
“I-Iya..” ucap Zhang dengan wajah merona karena malu.
“Sekarang kita tidak punya bahan makanan, terlalu berisiko kalau keluar sekarang. Sebaiknya tunggu sampai pagi. Aku akan berburu di hutan.”
Mendengar perkataan Shuwan yang akan berburu, Zhang pun terkekeh seakan tak percaya.
“Apa? Berburu?”
__ADS_1
“Aku sering melakukan perjalanan ke hutan, dan sudah sering juga berburu untuk bertahan hidup. Lagi pula kurasa fisikmu tidak akan kuat melihat medan hutan yang terjal.”
“Baiklah, baiklah. Aku percaya padamu. Sebenarnya tubuhku sudah merasa lebih baik karena kau mengobatiku. Terima kasih ya, maaf karena merepotkan.”
“Anggap saja kalau aku sedang membalas budi karena kau sudah menolongku. Sudah, sebaiknya istirahat agar besok memiliki sedikit tenaga untuk bernapas.”
“Apa kau pikir aku tidak akan bernapas hanya karena tidak punya tenaga? Huh, kalau begitu aku tidur duluan.”
Zhang pun menarik selimut yang ia bawa, dan Shuwan hanya tersenyum mendengar perkataan Zhang barusan.
Hari sudah hampir fajar, tapi Shuwan tidak bisa tidur. Ia pun keluar untuk melihat situasi sekeliling. Tiba-tiba Zhang muncul di belakangnya dan membuat Shuwan kaget.
“K-Kau! Kenapa muncul tiba-tiba di sini?”
“Kenapa? Terserahku mau melakukan apa. Lalu, kenapa kau sendiri tidak tidur? Padahal hari sudah hampir fajar,” ucap Zhang.
“Justru karena itu. Aku akan bersiap untuk berburu, dan kau harus siapkan apinya.”
“Kita seperti bertukar peran ya. Kau adalah seorang suami yang berburu makanan, sedangkan aku seperti seorang istri yang memasak,” ucap Zhang sambil tertawa.
“Kau cerewet sekali ya?”
Zhang pun masih tertawa melihat ekspresi Shuwan.
“Aku hanya bercanda, jangan marah.”
Sambil menunggu matahari terbit, Shuwan menyiapkan senjata yang digunakan untuk berburu. Ia membuat tombak dari kayu yang diruncingkan ujungnya agar dapat melumpuhkan sasaran.
“Kalau begitu, aku berangkat dulu. Jaga kuda itu baik-baik dan siapkan apinya.”
“Siap, Nona.”
Shuwan pun tersenyum dan pergi ke hutan untuk mencari hewan yang bisa dijadikan buruan.
Setelah cukup lama berburu di hutan, Shuwan kembali ke gua dengan membawa dua ekor ayam hutan, serta buah-buahan. Lalu ia menyerahkannya pada Zhang untuk dimasak.
Selesai makan Shuwan pun mengganti perban Zhang dan menambahkan obat pada lukanya.
Posisi matahari mulai meninggi, Shuwan dan Zhang pun memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan dengan kuda yang mereka kendarai sebelumnya.
Zhang meminta agar dia yang mengendalikan kudanya, dan Shuwan duduk dibelakangnya. Awalnya mereka sempat berdebat mengingat Zhang masih belum sembuh.
“Biarkan aku yang mengendalikan kuda nya. Kamu duduk manislah di belakangku.”
“Tapi lukamu masih belum sembuh total,” ucap Shuwan mengingatkan.
“Aku tidak selemah itu sampai harus terus bergantung pada wanita. Sudah, ayo naik dan segera berangkat.”
Shuwan tidak menjawab dan langsung naik ke atas kuda. Ia duduk di belakang Zhang dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan untuk meninggalkan hutan itu.
Setelah mereka menyusuri hutan, mereka pun menyadari sesuatu. Mereka merasa hutan yang mereka lalui tidak memiliki ujung dan kemana pun mereka melaju, selalu saja kembali ke tempat yang sama seperti yang sudah dilalui sebelumnya.
__ADS_1
Shuwan pun meminta Zhang menghentikan kudanya.
“Hei, Zhang. Apakah kau tidak merasa hutan ini aneh? Rasanya kita terus kembali ke titik yang sama, dan tidak menemukan jalan keluar.”
“Kau benar. Aku juga merasa demikian. Apakah ada yang memainkan ilusi disini?”
“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Apa kau sudah melihat petanya dengan benar?”
“Tentu saja. Aku tidak buta arah sampai membuat kita tersesat seperti ini.”
Tiba-tiba ada suara misterius tanpa wujud yang mendominasi di dalam hutan.
“Wahai anak muda, kau benar, bahwa di sini memang dipasang sebuah ilusi yang dapat menyesatkan manusia yang lewat. Ilusi itu dapat dihilangkan jika kalian bisa menyelesaikan pertapaan hingga matahari terbenam.”
“Hanya itu?” kata Zhang meremehkan.
Suara itu pun tertawa.
“Pertapaan ini bukanlah pertapaan biasa. Kalian harus bisa melewati berbagai ujian yang timbul saat kalian bertapa. Banyak orang yang gagal melewatinya, hingga akhirnya ia meninggal karena tidak bisa keluar dari hutan ini.”
“Lalu.. Di mana kami harus melakukan pertapaan itu?” tanya Shuwan.
“Apakah kalian lihat batu besar yang ada di bawah pohon pinus itu? Kalian bertapalah di sana. Ingat, hanya orang dengan hati yang teguh yang bisa melewati ujian ini.”
Suara itu pun menghilang. Shuwan menuju batu yang ditunjukkan oleh suara tadi.
“Zhang, apakah kau bisa melewati ini?” tanya Shuwan.
“Percayalah padaku,” ucap Zhang sambil tersenyum pada Shuwan dan duduk di atas batu yang di maksud.
Zhang dan Shuwan pun melakukan pertapaannya. Mulanya suasana menjadi hening, dan hanya terdengar gemerisik dedaunan dihembuskan oleh angin. Kemudian muncul ujian pertama.
Terdengar seperti suara anak kecil yang berteriak meminta tolong. Tapi Shuwan sudah tahu bahwa itu hanyalah ujian dari pertapaannya begitu pula Zhang.
Kemudian, ujian yang mereka hadapi semakin meningkat, hingga hampir membuat mereka goyah. Mereka juga didatangi ilusi dari orang-orang yang mereka rindukan. Selain itu, cuaca di hutan itu juga berubah-ubah.
Tiba-tiba turun hujan tanpa mendung, panas, hingga turun salju disaat bukan musimnya untuk turun. Mereka pun berusaha sekuat mungkin untuk melewati ujian itu dengan tenang, walaupun hati mereka gelisah dibuatnya.
Matahari yang semula berada tepat lurus di atas mereka kini sudah berada di ufuk barat, Shuwan dan Zhang membuka matanya karena sudah tidak merasakan ada hal-hal lain yang mengganggu mereka. Suara misterius itu pun muncul kembali.
“Selamat anak muda. Kalian berhasil melalui ujian yang aku berikan. Sekarang ilusi itu sudah hilang, pintu keluar dari hutan ini juga sudah terbuka. Pergilah ke arah matahari terbenam, di sanalah pintu itu berada. Bergegaslah sebelum malam tiba, karena jika tidak, pintu itu akan tertutup kembali dan kalian akan terjebak di sini selamanya.”
“Shuwan, ayo!” Zhang pun menarik tangan Shuwan dan mengajaknya untuk segera menaiki kuda.
Tanpa berkata-kata mereka pun bergegas menuju ke arah matahari terbenam untuk menemukan pintu itu. Zhang memacu kuda dengan sangat cepat. Shuwan hanya bisa berpegangan erat pada Zhang agar tidak terjatuh dari kuda.
Setelah keduanya jauh dari tempat pertapaan, tiba-tiba saja muncul seseorang berjubah putih yang misterius. Ia memandangi Zhang dan Shuwan yang meninggalkan hutan. Shuwan pun sempat menoleh ke belakang, dan melihat orang itu tapi tidak bisa melihat wajahnya.
Siapa orang itu? Kenapa dia ada di sana? Sayang, aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup jubah dan lagi jarak kami juga cukup jauh untuk bisa melihat dengan jelas, batin Shuwan penasaran.
Mengenai orang berjubah putih yang dilihat oleh Shuwan di hutan, ia memilih memendamnya sendiri dan tidak menceritakannya pada Zhang.
__ADS_1
Akhirnya mereka menemukan pintu yang dimaksud, dan keluar dari hutan itu. Ketika mereka keluar dari hutan, nampaklah dari kejauhan kelap kelip lampu dari sebuah pedesaan di hadapan mereka. Tentu saja mereka langsung memacu kuda menuju desa itu, untuk mencari tempat istirahat dan juga makanan.