1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Pria Buruk Rupa


__ADS_3

Desa kecil di bawah lereng gunung. Hiruk pikuk pasar tidaklah seramai pada umumnya. Mungkin karena jumlah penduduknya yang tidak banyak.


Shuwan dan yang lainnya sudah sampai di pasar desa itu dan membeli beberapa persediaan seperti makanan, serta obat-obatan.


Yu Hao dan Jiao sibuk berbelanja, sedang Shuwan tidak diperkenankan untuk turun dari kuda, sehingga Zhang tetap bersama Shuwan menunggu Yu Hao dan Jiao selesai berbelanja.


Kaki mungkin tidak bisa memijak tanah dan melangkah, tetapi mata tetap bisa menjelajah. Begitupun Shuwan yang tidak bisa menghentikan pandangan matanya. Ia tidak lagi fokus dengan rasa sakit lukanya, tapi mulai fokus untuk mencari sesuatu.


Di dalam buku, Zhang dan lainnya akan bertemu dengan orang berwajah buruk di pasar kecil ini. Bukankah seharusnya orang itu ada di sini sekarang? Batin Shuwan.


“Kau sedang mencari apa?” tanya Zhang setelah menyadari gerak-gerik Shuwan.


Belum sempat Shuwan menjawab ia kembali menimpali, “Aku harap kau tidak berencana untuk kabur lagi. Buah dari keegoisanmu sudah kau terima di depan mata. Jadi, jangan lagi bertindak gegabah.”


Shuwan sedang tidak ingin menjawab Zhang, dan memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.


Matanya belum bisa menemukan hal yang dicarinya, hingga pandangannya tertuju pada kerumunan yang ada di ujung pasar. Hatinya jadi penasaran.


Mungkinkah ada di sana? Tapi, bagaimana aku akan melewati Zhang. Dia pasti tidak akan mengizinkanku pergi begitu saja.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Shuwan mendapatkan ide agar terlepas dari pengawasan Zhang.


“Zhang, aku ingin makan buah-buahan. Bisakah kau membelikannya untukku? Aku akan tetap di atas kuda menunggumu.” Pinta Shuwan untuk menjalankan rencananya.


Berharap kali ini berhasil, namun rencana awalnya gagal. Zhang mengatakan, “Aku tidak perlu meninggalkanmu sendirian di atas kuda. Kita akan pergi bersama membeli buah.”


Shuwan yang mendapatkan reaksi ini pun kecewa. Sial! Kupikir dia akan berbelanja sendiri dan meninggalkanku di sini. Benar-benar permulaan yang buruk. Gerutu Shuwan dalam hati.


“Kenapa? Kau kelihatan kecewa. Apakah kau tidak senang karena aku tidak membiarkanmu pergi sesukamu?” celetuk Zhang yang membuat mata Shuwan terbelalak.


“A-ah... Tidak. Aku hanya merasa kau mungkin lelah karena terus menjagaku, dengan membiarkanmu berbelanja sendirian mungkin itu akan menyegarkanmu,” ucap Shuwan sambil tersenyum untuk menutupi rencananya yang gagal.


“Aku tidak lelah, lagipula aku memang selalu ingin menjagamu,” kata Zhang yang membuat Shuwan semakin merasa aneh.


Apa yang barusan dia katakan? Apa dia sedang mencoba mendekatiku? Haish... Sepertinya aku terlalu banyak berpikir.


Mereka berdua pun menuju ke kedai buah yang ada di dekat mereka berada. Ketika Zhang turun untuk memilih buah dan perhatiannya beralih, Shuwan menggunakan kesempatan ini untuk kabur menuju kerumunan di ujung pasar.


Zhang yang langsung menyadari perbuatan Shuwan pun berteriak, “Shuwan! Kamu mau pergi kemana?” Ia pun segera menyelesaikan transaksi dan berlari mengejar Shuwan.

__ADS_1


Shuwan yang mengendarai kuda sudah sampai di tempat itu, dan mendapati orang-orang yang sedang membully seorang pria dengan tubuh penuh luka.


“Hentikan!” teriak Shuwan dengan lantang.


“Siapa kau? Kenapa ikut campur urusan kami?” balas salah seorang yang ada dikerumunan itu.


Shuwan melompat turun dari kuda nya. “Siapa aku itu bukan hal penting, tapi karena kalian melakukan tindakan semena-mena maka aku tidak bisa tinggal diam,” kata Shuwan.


Orang-orang dikerumunan itu hanya saling memandang, lalu salah seorang kembali berkata pada Shuwan, “Kau hanyalah seorang wanita lemah kenapa begitu cere-“


Tidak sampai selesai pria itu berbicara, Shuwan langsung mengeluarkan pedang dan menghunuskannya ke orang itu. “Kalau kau masih seperti ini, maka aku tidak akan sungkan untuk mencabik jantungmu dengan pedang ini,” ucap Shuwan yang membuat pria itu pucat pasi dan gemetar ketakutan.


Akhirnya orang-orang itu memutuskan untuk pergi karena takut dengan Shuwan.


Shuwan kemudian mendekat ke pria yang dibully tadi seraya mengulurkan tangan, “Ayo... Berdirilah. Jangan takut padaku, aku hanya menggertak mereka saja. Lagipula, kau juga kesal ‘kan dengan mereka?”


Pria itu terdiam, lalu ia memandangi Shuwan dan meraih tanggannya. “Terima kasih,” ucap pria itu setelah berhasil berdiri.


Zhang yang telah berhasil mengejar Shuwan pun mendapati Shuwan yang sedang berjabat tangan dengan pria yang wajahnya rusak itu. Ia mendekati Shuwan dalam kondisi marah, “Shuwan! Sudah kukatakan agar kamu tidak bertindak gegabah, kenapa kamu tidak mau dengar?”


Shuwan lalu melepaskan jabatan tangan itu dan mengatakan, “Aku hanya tidak bisa melihat orang lemah ditindas. Pria ini tadi dikerjai habis-habisan oleh preman pasar itu.”


Zhang kemudian berkata, “Kami tidak takut dengan wajahmu, Minghao.” Zhang kemudian mengulurkan tangan padanya, “Namaku Zhang, dan perempuan yang menolongmu tadi namanya adalah Shuwan.”


Tidak lama dari itu, Yu Hao dan Jiao tiba setelah mencari mereka berkeliling pasar, “Hei, apakah kalian berdua berencana meninggalkan kami?” ucap Jiao dengan nada kesal.


“Maaf karena pergi meninggalkan kalian di dalam pasar. Tadi aku mengejar Shuwan yang sangat suka kabur ini,” terang Zhang sambil menatap Shuwan tajam.


“Haish, Shuwan.. Kenapa kau sangat suka main kejar-kejaran seperti ini? Apa kau sudah tidak peduli dengan dirimu sendiri?” ucap Jiao sambil merangkul bahu Shuwan.


“Tidak,” kata Shuwan yang mengagetkan mereka yang ada di sana. “Aku memang sudah tidak memedulikan diriku lagi. Jadi jangan terlalu khawatir jika terjadi sesuatu padaku,” sambungnya.


Wajah Zhang kembali merah karena marah, ia menarik tangan Shuwan dan mengajaknya ke tempat lain untuk di ajak bicara. Zhang menyudutkan Shuwan di sebuah kedai. Ekspresinya seperti orang frustrasi.


Shuwan yang menyangka kalau dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh Zhang malah tidak disangka bahwa Zhang memeluk tubuhnya dengan erat.


Shuwan berusaha mengelak, “A-apa yang kau lakukan? Kita masih ada dikeramaian.”


“Jangan dilepaskan! Biarkan seperti ini sebentar saja,” ucapan Zhang membuat Shuwan berhenti melawan. “Aku tahu kau tidak peduli dengan dirimu sendiri, tapi aku mohon tolong juga pedulikan orang lain yang memikirkanmu. Kau bisa membunuhnya secara tidak langsung jika terjadi sesuatu yang buruk padamu,” sambungnya.

__ADS_1


“Kau tidak seharusnya seperti ini, Zhang, atau suatu hari nanti kau hanya akan merasa kecewa.”


Ucapan Shuwan membuat Zhang kaget seperti disambar petir.


“Jadi menyerahlah, dan tolong lepaskan aku,” ucapnya lagi.


Zhang akhirnya melepaskan pelukannya pada Shuwan. Shuwan pun bergegas meninggalkan Zhang sendirian di sana.


Zhang merasa seperti ditolak perasaannya pun hanya memandangi Shuwan yang berjalan menjauh darinya. Aku tidak akan menyerah Shuwan. Suatu hari nanti perasaanku ini pasti akan tersampaikan padamu, dan saat itu tiba kau tidak akan bisa mengelak lagi.


Shuwan kembali ke tempat di mana Jiao, Yu Hao, dan Minghao berada. “Apakah kalian sudah saling berkenalan?” tanya Shuwan kepada kedua temannya.


Mereka berdua pun mengangguk.


Shuwan mengajukan pertanyaan pada Minghao, “Apakah kau juga tinggal di desa ini?”


Minghao menggeleng, “Tidak. Aku tidak tinggal di desa ini. Penduduk desa mengusirku dan menganggapku sebagai pembawa sial karena wajahku yang buruk ini. Jadi aku tinggal sendirian di dalam hutan,” kata Minghao dengan wajah sedih.


“Kalau begitu ayo ke rumahmu!” ucap Shuwan sambil berjalan keluar meninggalkan pasar.


“E-eh..” kedua temannya kaget akibat ucapan Shuwan.


“Lagi pula aku lapar. Apa kalian tidak lapar? Dan sepertinya Minghao juga butuh pertolongan lainnya. Selain itu kita bisa menumpang istirahat di sana," sambung Shuwan.


Mereka pun bergegas pergi ke rumah Minghao. Zhang yang sedang patah hati mengikuti mereka dari belakang. Yu Hao yang menyadari Zhang tidak bersama mereka pun berhenti dan menoleh ke belakang.


“Semenjak berbicara pada Shuwan, kau nampak lesu. Apakah cintamu baru saja ditolak?” tanya Yu Hao menggoda.


“Benar. Aku ditolak,” jawab Zhang dengan gamblang.


“Pfft..” Yu Hao tertawa karena mendengar jawaban Zhang.


“Apa kau mau aku pukul?” ancam Zhang karena ditertawakan oleh Yu Hao.


“Aku hanya bercanda. Bukankah itu artinya kau harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa memenangkan hatinya?” ucap Yu Hao dengan optimis.


“Apakah kau sudah selesai bicaranya?” Zhang bertambah kesal.


Yu Hao hanya tertawa melihat ekspresi kesal Zhang dan terus menggodanya dalam perjalanan menuju rumah Minghao.

__ADS_1


__ADS_2