1314 : A Thousand Peonies Bloom

1314 : A Thousand Peonies Bloom
Hari Kebebasan


__ADS_3

Yue, berdiri di dekat pusaka miliknya. Bibirnya mulai merapalkan mantra. Dari kejauhan Shuwan pun mengamatinya. Tidak lama dari itu, pusaka milik cenayang itu bergetar.


“Apa yang terjadi? Kenapa petinya bergetar?” tanya Shuwan.


“Pusaka itu beresonansi dengan mantra yang sedang dirapalkan oleh Yue. Tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya,” terang Liko.


Peti itu bergetar semakin hebat ketika mantra Yue mencapai puncaknya, hingga peti itu terbuka, dan cahaya berwarna merah darah menyeruak keluar dari dalamnya.


Terlihat Yue masih berdiri dengan tenangnya sembari menyelesaikan mantranya. Kedua tangannya menjulur ke depan, seolah mentransfer kekuatannya ke dalam peti.


Cahaya merah darah itu tampak bertambah pekat. Penglihatan Shuwan tidak mampu menembusnya. Apa yang terjadi di sana? Mataku tidak bisa menembusnya, batin Shuwan penasaran.


Perlahan, cahaya itu memudar. Terlihat 3 teman Shuwan yang tergeletak di lantai dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Shuwan segera berlari ke arah Zhang dan mendekap tubuhnya. “Zhang... Sadarlah... Ini aku, Shuwan,” teriak Shuwan pada Zhang yang masih tak merespon.


Tiba-tiba Yue berbicara pada Shuwan, “Jiwa mereka masih tertinggal di dalam peti ini. Sekuat apapun kau berteriak, mereka tidak akan bangun,” ujar Yue.


Shuwan yang mendengar penjelasan ini menjadi kaget. “Ma-masih tertinggal? Aku pikir ketika tubuh mereka kembali, jiwanya juga akan turut kembali,” kata Shuwan kebingungan sekaligus khawatir.


Yue memandang Shuwan dengan dingin, sebagaimana karakternya semasa hidup. Ia kemudian berkata, “Saat ini aku adalah roh, kekuatanku terbatas. Jadi, aku tidak bisa membebaskan jiwa mereka.”


“Lalu, bagaimana agar jiwa mereka bisa bebas dari sana?” tanya Shuwan pada Yue.


“Cukup menghancurkan pusakanya,” singkat Yue.


Shuwan terdiam, pikirannya dilanda beribu pertanyaan. Tapi hanya satu yang bisa ia keluarkan, “Bagaimana cara menghancurkan pusaka itu?”


“Aku akan masuk ke tubuhmu, dan membuat segel untuk menghancurkan pusaka itu,” kata Yue.


Setelah mendengar perkataan Yue, mata Shuwan terbelalak. “Kenapa, kenapa kau harus masuk ke tubuhku? Tidakkah bisa hanya dengan menggunakan rohmu sendiri?” ucap Shuwan.


“Tadi sudah kukatakan, kalau aku sekarang adalah roh yang kekuatannya terbatas. Apa lagi, tadi sudah digunakan untuk membuka peti dan mengeluarkan teman-temanmu. Selain itu, roh tidak bisa menyentuh benda-benda,” terang Yue.


“Ta-tapi, kenapa harus tubuhku?” tanya Shuwan kembali.


Yue pun menjawabnya dengan tenang, “Tentu saja karena jiwamu masih bersama ragamu. Dengan memanfaatkan kesadaran dan kekuatanmu, aku bisa membuat segel untuk menghancurkan pusaka itu.”


Pandangan Yue tampak menjadi sendu, “Aku sudah tinggal di dunia ini selama ribuan tahun. Kematianku pun sangat mengenaskan. Jujur aku sudah lelah untuk menunggu, hingga akhirnya tiba juga, hari di mana aku akan bebas dari sini. Orang yang ditakdirkan untuk membebaskanku sudah tiba, yaitu kamu. Jikalau dewa mengizinkan, aku hanya ingin bereinkarnasi menjadi orang biasa dan hidup dengan tenang,” ucap Yue.


Shuwan yang merasa iba pun akhirnya menyetujui Yue, “Baiklah, aku menyetujuinya,” singkat Shuwan.

__ADS_1


Yue mengangguk, ia pun berjalan mendekati Shuwan, “Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun yang dapat mengancam keselamatanmu,” kata Yue sebelum memasuki tubuh Shuwan.


“Akan kupegang kata-katamu."


Yue memberikan instruksi, “Ulurkan kedua tanganmu,” pintanya.


Shuwan kemudian mengulurkan kedua tangannya, dan kedua tangan Yue ditempelkan pada tangan Shuwan. Seketika, Yue sudah berhasil masuk, dan mengambil alih tubuh Shuwan.


“Liko, apakah kau masih menyimpan abu itu?” tanya Yue yang menggunakan tubuh Shuwan.


“Tentu saja, aku selalu membawanya sampai hari ini tiba,” jawab Liko sembari memberikan kantong abunya kepada Yue.


Yue memulainya dengan meletakkan peti itu di atas lantai. Ia kemudian menaburkan abu yang ada dikantong itu dengan membentuk heksagon. Selesainya menaburi abu, ia melanjutkannya kembali dengan merapal mantra.


Peti itu bergetar hebat, hingga terdengar seperti kayu yang patah, dan tiba-tiba saja meledak.


Ya, peti itu meledak setelah dibacakan mantra. Kabut akibat ledakan membuat Shuwan terbatuk meski saat ini Yue-lah yang menguasi tubuhnya.


Setelah kabut itu menipis, terlihat 3 buah cahaya yang tersisa. Cahaya itu pun berpencar, dan masing-masing memasuki tubuh pemiliknya, yaitu Zhang, Jiao, dan Yu Hao. Itu adalah jiwa-jiwa, yang kembali pada raga si empunya.


Karena pusaka itu sudah hancur, roh Yue pun keluar dari tubuh Shuwan. Seketika tubuh Shuwan menjadi sangat lemas, karena energinya banyak terserap saat menghancurkan pusaka itu.


Setelah roh Yue keluar, rupanya menjadi semakin transparan secara perlahan.


“Cinta? Itu hal yang mustahil bagiku,” singkat Shuwan.


“Orang yang sejak awal ditakdirkan denganmulah yang akan mengubah semua itu. Dari waktu ke waktu, ia selalu bersamamu. Kau akan tahu pasti saat berhasil menyelesaikan perjalanan terakhirmu ini,” ucap Yue yang tubuhnya mulai menghilang. “Terima kasih sudah membebaskanku, suatu hari nanti jika aku bertemu denganmu di kehidupan selanjutnya, aku harap aku bisa menjadi orang kepercayaanmu,” roh Yue yang telah terbebas pun menghilang.


“Ugh.. Di mana kita?” Zhang mulai sadarkan diri.


Shuwan yang masih terduduk lemas pun dengan sigap menuju Zhang dan yang lainnya setelah mendengar kesadaran mereka.


Akhirnya Zhang, Jiao, dan Yu Hao terduduk sadar. Shuwan tidak bisa menahan harunya.


“Aku mengalami mimpi buruk yang begitu menyedihkan dan menyakitkan. Aku merasa itu seperti nyata,” ujar Yu Hao.


“Benar, aku juga merasakan hal yang sama. Rasanya aku seperti sudah tertidur sangat lama,” Jiao menyambung ucapan Yu Hao.


Shuwan membatin, itu semua nyata adanya. Kalian hanya tidak menyadarinya saja. “Yang penting kalian sudah bangun ‘kan sekarang?” ucap Shuwan seraya tersenyum lembut.


Di tengah suasana yang mengharu biru itu, tiba-tiba saja tempat mereka berpijak berguncang begitu hebat, seperti ada gempa bumi melanda.

__ADS_1


“Ke-kenapa tempat ini bergetar?” ucap Jiao yang panik, mereka pun bergegas berdiri.


Shuwan yang tidak kuat berdiri pun terhuyung akan jatuh, namun berhasil ditangkap oleh Zhang.


“Sepertinya kamu sangat lelah. Kalau begitu, biar aku menggendongmu sementara waktu,” kata Zhang yang khawatir pada kondisi Shuwan.


“A-apa? Digendong? Aku bisa jalan sendiri, jadi tidak perlu merepotkanmu,” tolak Shuwan.


Zhang tersenyum sinis, “Heh... Berjalan? Berdiri saja kau tidak sanggup,” goda Zhang.


“Kau!” Shuwan sedikit menggertak.


“Sudah jangan banyak bicara dan membuatku semakin khawatir,” ucap Zhang yang tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya yang manis itu.


Tanpa basa-basi, Zhang langsung berjongkok dan mempersilakan Shuwan untuk naik ke punggungnya.


Shuwan yang juga sadar pada batas kekuatannya pun tidak menolak. Ia setuju untuk digendong Zhang.


Kenapa setiap kali bersama Zhang aku selalu merasa nyaman? Aroma tubuh Zhang seperti sudah akrab di hidungku. Bahkan suaranya juga. Haish.. Lagi-lagi aku berpikir terlalu banyak. Batin Shuwan kacau.


“Bagaimana kita akan keluar dari sini?” ucap Yu Hao yang bertambah panik karena pasir mulai berjatuhan dari atas.


“Tempat ini sepertinya akan runtuh. Jika kita tidak segera keluar, kita bisa terkubur hidup-hidup di sini,” Jiao menimpali.


“Kalian tenang saja, aku akan membukakan portal untuk keluar dari sini,” tiba-tiba saja Liko memasuki pembicaraan.


“K-kucing itu bisa bicara?” Jiao kaget. Begitu pula Zhang dan juga Yu Hao.


“Pusaka itu adalah pelindung gaib tempat ini, karena sudah dihancurkan, tentu saja tempat ini juga akan hancur,” jelas Liko.


“Kalau begitu, Liko, ayo cepat bantu kami keluar dari sini!” Pinta Shuwan.


Jika aku mati terkubur di sini, maka habislah sudah. Batin Shuwan semakin menjadi-jadi.


Liko pun langsung membacakan mantra, lalu munculah portal dimensi untuk keluar dari istana itu, tepat berada di belakang mereka.


Jiao dan Yu Hao masuk terlebih dahulu. Ketika Zhang akan masuk, Shuwan mengingat Liko. “Tunggu,” pinta Shuwan. Ia kemudian menatap ke belakang, “Liko, tidakkah kau ingin keluar juga dari sini?” tanya Shuwan.


“Aku adalah penjaga Pusaka Pengikat Jiwa. Karena pusaka itu sudah tidak ada, maka aku juga akan menghilang. Tidak perlu mengkhawatirkanku,” terang Liko. “Sebaiknya kau cepat, atau kalau tidak kamu bisa mati terkubur di sini. Kekuatanku sudah mulai melemah,” pinta Liko.


Tanpa pikir panjang, Zhang langsung berlari ke dalam portal. Shuwan masih memandangi Liko yang ada di belakang, sendirian di sana, hingga portal itu perlahan menutup dan menghilangkan Liko dari pandangan Shuwan.

__ADS_1


Liko, terima kasih. Kalau bukan karenamu, aku tidak akan bisa membawa teman-temanku kembali. Semoga kita bisa bertemu kembali nanti. Kata Shuwan dalam hatinya. Ia memeluk erat tubuh Zhang. Matanya terasa mengantuk. Tanpa sadar, ia pun tertidur dalam gendongan Zhang.


__ADS_2