
Tidak terasa, Shuwan sudah cukup lama menangis di sana. Ia kemudian berusaha menguatkan hatinya, dengan melepaskan genggamannya dan menyeka air matanya.
Sebelum pergi meninggalkan ruangan itu, Shuwan merapikan selimut Zhang. Ia menaikkan selimutnya sampai mendekati leher Zhang.
Tangan kirinya yang masih memegangi selimut itu pun menepuk pelan dada Zhang.
“Kau harus baik-baik saja. Setelah kau sadar, dan masalah di sini selesai, aku harap kau bisa hidup dengan bahagia. Walau pun kita harus berpisah lagi, dan tidak tahu kapan akan bertemu.”
Shuwan lalu beranjak. Ia mulai melangkahkan kakinya menjauhi pembaringan Zhang. Meski berat, tapi Shuwan tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Masih ada masalah yang begitu besar yang harus ia selesaikan.
Ketika Shuwan mulai membuka pintu, Yu Hao, Jiao,dan Zhi Qiang yang menunggu sedari tadi pun beranjak dari duduknya. Ketiganya menatap pintu yang sebentar lagi akan terbuka sepenuhnya itu.
Begitu pintu terbuka, Shuwan tercengang mendapati tiga orang yang tengah berdiri seolah menunggunya untuk keluar. Ia lalu mengalihkan pandangan, dan menutup kembali pintunya setelah keluar.
Zhi Qiang yang sudah menantinya pun segera mendekati Shuwan.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Tolong ikuti aku sebentar. Aku mohon...” kata Zhi Qiang dengan memelas.
Shuwan teringat kembali dengan misinya. Akhirnya ia menyetujui permintaan Zhi Qiang. “Baiklah. Aku akan ikut denganmu. Yu Hao, Jiao, aku titip Zhang ya? Tolong jaga dan rawat dia.” Kata Shuwan.
“Kau tenang saja. Kami pasti akan menjaganya dengan baik,” imbuh Jiao.
Shuwan kemudian melangkah pergi dari kamar itu mengikuti Zhi Qiang ke sebuah tempat yang tidak tahu ke mana Zhi Qiang sebenarnya membawa dirinya.
“Yu Hao, menurutmu, apakah setelah putra mahkota mengakuinya apakah semuanya akan baik-baik saja?” tanya Jiao.
Yu Hao membuang napasnya. “Entahlah... Kita tunggu dan lihat saja nanti.”
Shuwan mengikuti Zhi Qiang yang menuju ke sebuah kolam yang terdapat pohon persik yang bunganya tinggal sedikit.
Yang menjadi perhatian Shuwan adalah sebuah sampan yang seperti dengan sengaja telah di siapkan di kolam itu.
“Kita akan naik ke sampan itu, dan pergi ke tengah kolam.”
“Kenapa kita harus menaiki sampan?” Shuwan heran.
“Tidak apa. Hanya ada hal penting yang baru bisa kuucapkan ketika berada di sini, dan menaiki sampan itu.”
“Aneh...”
__ADS_1
Shuwan hanya mengikuti Zhi Qiang menaiki sampan. Hanya mereka berdua. Sekuat tenaga Zhi Qiang mengayunkan sampannya ke tengah danau.
Sementara Shuwan hanya duduk di ujung dan mengamati sekeliling. Kenapa dia membawaku ke tengah kolam? Apakah dia akan membunuhku di sini karena sudah membentaknya tadi?
Begitu sampai di tengah kolam, Zhi Qiang menghentikan dayungannya. Ia kemudian berdehem dan menatap Shuwan. “Hal yang ingin aku katakan ini mungkin akan membuatmu terkena serangan jantung. Jadi kumohon, kau harus menyiapkan diri.”
“Biar bagaimana pun jantungku sangat kuat. Tidak akan pernah terpengaruh dengan ucapan kotor dari lidah orang lain.”
Hah? Ucapan kotor? Apakah itu termasuk aku? “Ehem... Jadi yang ingin kukatakan adalah...”
Angin lembut menerbangkan sisa bunga persik yang ada di pohon. Seolah seperti sebuah drama indah di musim semi.
“Aku adalah orang yang kamu cari selama ini.”
Shuwan mengerutkan dahinya. Ia memandang aneh Zhi Qiang, berusaha mencerna perkataan yang baru saja ia lontarkan.
“Jadi biarkan aku memperkenalkan kembali diriku dengan penuh rasa hormat. Aku adalah Li Zhi Qiang, putra mahkota Negeri Awan.”
Shuwan seolah seperti baru saja tersambar petir. Ia syok ketika mengetahui bahwa pria kurang ajar yang ada di hadapannya adalah seorang putra mahkota terhormat sekaligus orang yang dia cari selama ini.
“J-jadi kau? Selama ini....”
Shuwan membuang napasnya. Ia mengedarkan netranya ke berbagai arah. Kedua tangannya lalu di lipat ke depan dada.
“Kenapa... Kenapa kau berusaha mendekatiku dengan cara licik seperti ini?”
“A-aku hanya tidak ingin menjadikan putra mahkota sebagai tabir yang membuat kita jadi tidak dekat.”
“Benarkah begitu? Hah... Apa kau pikir kita sedekat itu?”
Zhi Qiang tertunduk. Ada penyesalan yang terlihat dari sudut matanya.
“Kau boleh marah padaku karena telah membohongimu dengan menyembunyikan identitas asliku. Tapi sungguh... Perasaanku padamu tidaklah bohong. A-aku suka padamu, dan aku ingin kau terus berada di sisiku Shuwan.”
“Heh... Kau tahu betapa aku ingin bertemu dengan putra mahkota? Tapi kau malah bermain-main denganku. Kau itu seperti rubah yang licik!” Ketus Shuwan dengan sorot mata yang tajam. “Dan satu hal lagi, aku tidak akan menjadi milikmu, atau siapa pun. Jadi, jangan berharap lebih agar aku membalasa perasaanmu.”
“Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu.”
“Kalau begitu, mulai detik ini, aku akan melarangmu untuk jatuh cinta padaku.”
__ADS_1
Zhi Qiang memandangi Shuwan yang kini wajahnya mulai menunjukkan ekspresi dingin.
“Dan aku harap kita bisa mengakhiri sandiwara bodoh ini, karena ada hal yang lebih penting daripada membicarakan perasaanmu yang bertepuk sebelah tangan itu.”
Zhi Qiang berusaha menelan salivanya. Iya jadi sedikit takut untuk menatap Shuwan.
“Karena kau sudah bertemu dengan putra mahkota, hal penting apa yang ingin kau katakan?” kata Zhi Qiang lesu.
“Aku akan mengatakannya sekali, dengan pelan dan jelas. Saat perayaan besok, aku mendapatkan petunjuk mimpi tentang terjadinya pemberontakan terhadap penguasa Negeri Awan saat ini. Tepat saat bulan darah itu terjadi. Itu memang hanya mimpi, tapi keesokannya aku seperti diberi sebuah petunjuk nyata. Meski hanya praduga, tapi aku seperti merasa yakin dengan hal itu.”
“Jadi perayaan besok bertepatan dengan bulan darah?” tanya Zhi Qiang terkaget.
Shuwan mengangguk pelan. “Ada orang yang aku curigai di sekitaran istana. Aku meminta Jiao untuk melanjutkan penyelidikan selama aku pergi denganmu. Tidak tahu bagaimana hasilnya.”
“Jika itu benar, kita harus melanjutkan penyelidikan. Hanya besok waktu yang tersisa sebelum hari puncak perayaan.”
“Itu memang harus dilakukan.” Kali ini aku tidak akan melibatkanmu dahulu, Liem. Kau harus baik-baik saja.
Zhi Qiang sesaat mengalihkan pandangannya pada Shuwan. Ia kemudian menghembuskan napas. Menikmati suasana yang tenang di tengah kolam. Dengan desiran angin yang menerbangkan kelopak bunga persik yang masih tersisa di rating pohon.
Ah... Shuwan... Sepertinya aku akan sulit melupakanmu...
Sejenak Zhi Qiang baru menyadari tentang cincin yang Shuwan kenakan. Secara refleks ia pun mengutarakannya. “Shuwan, apakah cincin yang kau kenakan itu adalah cincin pernikahan?”
Shuwan tersentak. Ia tidak mengerti kenapa pria yang baru saja menipunya itu kini bertanya mengenai barang yang dikenakannya.
Shuwan tidak ingin Zhi Qiang mengetahui bahwa cincin itu adalah pemberian Zhang. “Ini hanyalah pemberian orang bodoh. Dia hanya menitipkannya. Kelak aku akan mengembalikannya.”
Dia benar-benar pandai menyembunyikan semuanya. “Yah... Syukurlah kalau memang benar begitu. Itu artinya, aku punya kesempatan.”
“Tidak akan ada celah untuk masuk. Aku sudah menguncinya rapat-rapat.” Shuwan membuang pandangannya. Menatap permukaan air kolam yang tenang. “Kita harus memikirkan langkah selanjutnya, mencegah pemberontakan itu. Aku yakin, Jiao pasti sudah menemukan sesuatu hari ini.”
Pikirannya sulit ditebak. Secepat kilat ia bisa mengalihkan topik pembicaraan. Zhi Qiang mengangguk pelan. “Kalau begitu, ayo kita mulai penyelidikan bawah tanah.”
“Bawah tanah?” Shuwan bingung.
“Itu hanyalah julukan untuk penyelidikan secara besar-besaran, tapi bergerak di dalam bayangan. Jadi hanya orang kepercayaan dan tertentu saja yang bisa menjalankannya.”
“Begitu..”
__ADS_1