
Selama dua hari ini, Amira terlihat begitu bahagya. Dia seperti melupakan semua kesedihan setelah bertemu ayahnya. Waktunya hanya di habiskan untuk bermain bersama adiknya, melukis dan bermanja pada bundanya.
"Miko dengarkan perkataan kakak ya, Miko harus selalu menjaga dan melindungi adik Viola. Miko tidak boleh membuat princes menangis lagi. Oke ".
Amira sedang menceramahi adik-adiknya sambil melukis dibawah pohon.
Kedua bocah itu mendengarkan setiap ucapan Amira sambil menikmati es krim di tangannya masing-masing.
" Kenapa Miko harus menjaga Viola kak "?? tanya Miko.
" Karena..... Karena kakak sangat menyayangi Miko dan Viola.
Apapun yg terjadi, Miko dan Viola harus selalu bersama dan saling menjaga ya "??ucap Amira lagi.
Entah kenapa, dua hari ini hatinya begitu risau. Amira merasa seperti akan meninggalkan adik-adiknya pergi jauh.
"Kalau Miko tidak mau menjaga Viola bagaimana "??.
" Miko tidak boleh seperti itu. Miko itu kakaknya Viola, jadi harus selalu menjaganya. Kalau tidak, kakak akan sedih lalu menangis " bujuk Amira sambil mengelus rambut adiknya.
"Princes tidak mau dijaga kak Miko kak " sahut gadis kecil yg pipinya kotor terkena es krim.
"Lho, kenapa princes tidak mau "??.
" Karena princes akan menikah dengan Kak Miko saja.
Jadi, princes tidak mau di jaga oleh Kak Miko " jelasnya lagi.
Amira tertawa mendengar ucapan adiknya. Bagaimana bisa anak sekecil ini memikirkan pernikahan.
Amira yg sebentar lagi berusia 25 tahun saja tidak pernah memikirkan tentang hal itu.
Amira hanya sibuk memikirkan ayahnya saja.
"Hahahaa,, oh jadi princes mau menikah dengan Kak Miko "?? ledek Amira.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dengan semangat tanpa tau arti dari pernikahan yg sebenarnya.
" Nah, Miko dengarkan kalau princes mau menikah dengan Miko.
__ADS_1
Miko mau tidak menikah dengan princes Viola "??.
" Mau kak " jawab Miko polos.
"Janji ya, Miko harus menikah dengan princes Viola saat sudah besar nanti " ucap Amira sambil mengacungkan jari kelingkingnya di depan kedua adiknya.
Adiknya pun ikut mengacungkan jari mereka lalu dikaitkan pada jari kakaknya. Mereka bertiga tertawa bersama saat jari mereka saling terkait.
Setelah saling mengucapkan janji konyol itu, Amira mengemas alat melukisnya lalu mengajak kedua adiknya pulang.
Saat memasuki panti, Amira melihat Bu Fatimah yg sedang menyiram bunga.
Setelah meletakkan alat melukisnya, Amira menghampiri Bu Fatimah sambil mengendap-endap. Amira langsung memeluk Bu Fatimah begitu dia sampai.
"Astaghfirulloh.... Amira, kamu ini suka sekali sih bikin bunda kaget "!! ucap Bu Fatimah sambil mengelus dadanya.
"Hehehe, maaf bunda. Amira kangen sama bunda " sahut Amira tanpa melepaskan pelukannya.
Dia memejamkan matanya menghirup aroma tubuh wanita yg sangat di sayanginya ini.
Menghirup sebanyak mungkin seolah tiada lagi kesempatan untuk hari esok.
" Nggak ada apa-apa kok bun. Amira selalu merasa kangen berpelukan dengan bunda seperti ini ".
" Kamu ini, bicara seperti mau pergi jauh saja ".
Amira tersenyum. Dia kembali menghirup aroma tubuh bundanya.
Ada perasaan sedih yg tiba-tiba timbul di hatinya.
" Bunda... " panggil Amira.
"Iya sayang, ada apa "?? jawab Bu Fatimah sambil menyirami bunga.
" Jika suatu hari Amira berbuat kesalahan, bunda akan memaafkan Amira tidak "??.
" Maksud kamu apa Ra?? Kesalahan seperti apa yg kamu maksud "?? tanya Bu Fatimah bingung.
" Bunda, bunda adalah orang yg paling Amira sayang setelah ayah.
__ADS_1
Maafkan Amira ya bun kalau selama ini Amira banyak melakukan kesalahan ke bunda ".
Bu Fatimah menghentikan kegiatannya. Keningnya berkerut mendengar ucapan Amira yg tiba-tiba.
Perkataannya sedikit aneh selama dua hari ini. Amira selalu mengatakan rindu dan selalu meminta maaf padanya.
" Amira, kamu tidak apa-apa kan nak??? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari bunda kan "?? tanya Bu Fatimah curiga.
" Nggak bunda sayang, Amira baik-baik saja. Amira hanya sedang ingin meminta maaf pada bunda.
Siapa tau setelah ini Amira tidak bisa bertemu bunda lagi ".
" Hussss,,, nggak boleh bicara sembarangan Ra.
Ingat, ucapan adalah do'a " ingat Bu Fatimah.
Tiba-tiba saja hati Bu Fatimah menjadi tidak enak mendengar perkataan Amira.
"Iya bunda sayang.
Maafin Amira ya " ucap Amira lalu mengecup pipi Bu Fatimah.
Bu Fatimah menatap aneh kearah Amira yg sedang berjalan memasuki rumah. Perasaannya mendadak merasa tidak nyaman. Ada semacam perasaan seperti akan kehilangan saat Amira berkata seperti itu.
"Ya Alloh, lindungilah Amira anakku dari segala hal buruk. Amiiin "......
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, like dan coment di novelku ini ya.
Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.
Jangan lupa juga untuk follow akun medsos author bagi yg berkenan.
Ig: nini_rifani
Fb: Nini Lup'ss
Wa: 0857-5844-6308
__ADS_1