
Bu Fatimah saat ini sedang membantu Amira mengemasi pakaiannya.
Besok sore Amira akan pergi meninggalkan panti.
Dia akan tinggal dirumah ayahnya.
"Nanti jangan lupakan bunda dan adik-adikmu dipanti ya Ra " ucap Bu Fatimah sedih.
Selama 24 tahun dirinya yg membesarkan Amira, sudah pasti akan terasa berat jika harus berpisah.
Tapi mau tidak mau, dirinya harus merelakan Amira mengejar kebahagyaan bersama keluarga kandungnya.
"Bunda bicara apa.
Bunda adalah orangtua Amira, sampai matipun Amira tidak akan pernah melupakan bunda dan panti asuhan ini.
Disinilah Amira tumbuh " ucap Amira menghibur bundanya.
Amira juga sedih harus berpisah dengan orang-orang yg begitu menyayanginya.
Tapi dia harus menahan kesedihan ini demi mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
"Amira, jika ayahmu memperlakukanmu dengan tidak baik, jangan sungkan untuk pulang kemari.
Bunda akan selalu menerimamu disini. Ingat ucapan bunda ya sayang ".
Amira tersenyum lalu memeluk wanita yg matanya sudah berkaca-kaca.
Malam ini adalah malam terakhir Amira tinggal di panti asuhan ini.
Dia akan menghabiskan malam bersama wanita yg sangat berarti baginya ini.
" Amira janji, seperti apapun keadaan Amira nanti, ntah hidup atau pun mati Amira pasti akan selalu datang mengunjungi bunda. Amira sangat menyayangi bunda dan adik-adik.
Amira pasti akan selalu merindukan kalian ".
" Bunda pasti akan sangat merindukan kamu Ra "....
Setelah selesai mengemas barang-barangnya, Amira mengajak bundanya berbaring diatas ranjangnya.
Dia sengaja meminta bunda dan adiknya untuk tidur bersama malam ini.
Amira ingin merekam moment ini sebelum dirinya keluar dari panti asuhan.
__ADS_1
" Bunda, jika Amira pergi tolong rawat Miko ya bun.
Katakan padanya kalau Amira pasti kembali " ucap Amira sambil mengecup pipi adiknya yg sudah terlelap sejak tadi.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang "??.
Amira tidak menjawab pertanyaan Bu Fatimah.
Matanya masih menatap lekat ke wajah adiknya yg terlelap.
Dengan penuh sayang, Amira menciumi seluruh wajah Miko.
Bu Fatimah yg memperhatikan tindakan Amira kembali merasa sedikit aneh.
Mencoba menerka-nerka apa yg sedang terjadi pada diri Amira.
"Miko, kakak sangat menyayangimu.
Maafkan kakak ya yg belum bisa membuat Miko bahagya.
Setelah kakak pergi, Miko harus tumbuh dengan baik. Jangan seperti kakak ".
Bu Fatimah terenyuh mendengar ucapan Amira.
" Bunda, Amira minta maaf kalau selama ini Amira sering menyusahkan bunda.
Maaf jika Amira belum bisa menjadi anak yg baik selama tinggal disini.
Bunda harus percaya, Amira sangat menyayangi kalian semua. Bunda dan adik-adik adalah jantung hati Amira.
Sampai matipun, cinta Amira akan selalu memenuhi panti ini.
Disinilah Amira tumbuh, ditempat inilah saksi kehidupan Amira.
Terima kasih untuk semua kasih sayang yg bunda berikan untuk Amira, biar Alloh saja yg membalas kebaikan hati bunda "...
Airmata Bu Fatimah menetes mendengar ungkapan hati Amira.
Tangannya meraih Amira yg saat ini sedang berbaring memeluk adiknya. Bibirnya terasa kelu, sulit untuk berkata-kata.
Yg Bu Fatimah rasakan sekarang adalah rasa sedih, sakit dan juga sesak.
Ungkapan Amira seperti salam perpisahan darinya.
__ADS_1
Padahal Amira hanya akan pergi berpindah rumah. Tapi entah kenapa rasanya seperti akan di tinggal Amira pergi untuk selama-lamanya.
"Bunda juga sangat menyayangimu nak "..
" Bunda, jangan lupa untuk selalu merawat bunga-bunga kesukaan Amira.
Aroma bunga itu sama dengan aroma tubuh Amira. Jadi bunda harus merawatnya dengan baik. Anggap saja bunda sedang merawat Amira " ucap Amira sambil tersenyum.
Bu Fatimah sedikit terhibur dengan candaan Amira. Di depan panti tumbuh begitu banyak bunga melati. Bunga itu adalah bunga kesukaan Amira.
Bahkan kamar, parfum sampai pewangi pakaian semua beraroma melati.
Karena itulah Bu Fatimah akan langsung mengetahui kalau itu Amira melalui aroma wangi bunga tersebut.
"Kamu sudah pamit belum pada Bu Tati Ra "?? tanya Bu Fatimah.
" Sudah semua bunda, tempat Teh Eis juga " jawab Amira.
Mereka terus berbincang hingga jam menunjukkan pukul 12 malam.
"Selamat ulang tahun anakku Amira.
Semoga panjang umur, sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Alloh SWT ".... ucap Bu Fatimah lalu mencium kening Amira.
" Amiinnn..... Terima kasih banyak bunda. Ini adalah ucapan terakhir yg paling membahagyakan Amira.
Amira sayang bunda "...
Meskipun ucapan Amira sedikit mengganjal, hal itu tidak menutup kebahagyaan diwajahnya.
Walaupun tanpa lilin dan kue ulangtahun, Amira tetap merasa sangat bahagya mendapatkan ucapan do'a dari seseorang yg sudah begitu tulus menjaga dan menyayanginya sepenuh hati.
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, like dan comment di novelku ini.
Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.
Jangan lupa juga follow akun medsos author bagi yg berkenan.
Ig: nini_rifani
Fb: Nini Lup'ss
__ADS_1
Wa: 0857-5844-6308