
Sejak kembali dari pemakaman, Bu Fatimah terus mengurung diri di dalam kamar milik Amira.
Dia terus mengusap bantal tempat biasa Amira istirahat.
Matanya menatap foto Amira yg tergantung di dinding kamar.
" Amira,, bunda rindu padamu " ucap Bu Fatimah lirih.
Tes..
Airmata menetes dari sudut mata Bu Fatimah. Dia sangat merindukan kehadiran putrinya yg selalu bermanja padanya.
Dia sadar kalau putrinya telah meninggal. Tapi hatinya sangat sulit menerima kenyataan itu.
" Amira,, anak bunda. Bunda rindu nak " ucap Bu Fatimah mulai terisak.
Kerinduan seorang ibu yg di pisahkan dengan anaknya terasa seperti mencekiknya.
Putri yg dia yg timang-timang saat kecil dulu, putri yg selalu membuatnya tertawa bahagya, putri yg selalu menghiasi hari-harinya yg tidak memiliki pasangan, kini telah pergi jauh darinya.
Suaranya yg lembut saat memanggilnya bunda masih terngiang jelas di telinga. Wajahnya yg sangat sejuk di pandang dan senyuman manis di bibir mungilnya masih terbayang jelas di mata.
Kini semua itu telah hilang. Semua kebahagyaan itu kini telah menjadi sebuah kenangan yg sangat menyiksa hatinya.
Amira-nya telah pergi. Putri-nya sudah tidak mungkin lagi tersenyum padanya.
Membuat hati Bu Fatimah terasa seperti ter iris-iris.
Dirinya masih tidak bisa mempercayai jika putri kesayangannya telah lama pergi jauh darinya.
" Kesalahan apa yg telah kamu lakukan sampai kamu harus pergi dengan cara seperti ini, Amira " ucap Bu Fatimah sedih.
Dia sangat tau seperti apa baiknya hati Amira. Bagaimana mungkin ada orang yg tega membunuh gadis sebaik itu.
" Maafkan bunda Amira, seharusnya bunda tidak membiarkanmu pergi dari sini.
Sekarang kamu pasti masih ada di sini bersama bunda sayang ".
Saat Bu Fatimah sedang meratapi kesedihannya, Anita masuk ke dalam kamar.
Wajah Anita terlihat sangat letih. Dia kehilangan dan juga kecewa di saat yg bersamaan.
" Fatimah " panggil Anita pelan.
Anita lalu duduk di sebelah Fatimah yg masih berbaring menyamping di ranjang milik Amira.
Fatimah diam saja tidak menyahut panggilan Anita.
Airmata matanya terus menetes.
" Fatimah, ini sudah siang. Kamu belum makan " ucap Anita.
__ADS_1
" Aku tidak lapar mbak ".
" Walaupun tidak lapar juga harus makan. Perutmu bisa sakit kalau di biarkan kosong " bujuk Anita.
" Biarkan saja. Dengan begitu aku bisa lebih cepat menemui putriku " ucap Fatimah lalu kembali mengusap bantal Amira penuh kerinduan.
" Fatimah, jangan bicara seperti itu. Kamu hanya akan membuat putri kita sedih kalau terus seperti ini ".
Tangis Fatimah akhirnya pecah setelah Anita mengingatkannya tadi.
Tangis yg sudah dia tahan sejak di pemakaman Amira. Perasaan sakit yg dia tahan saat melihat jenazah putrinya tertutup tanah, kini akhirnya dia lepaskan.
Anita yg mendengar tangisan Fatimah kembali meneteskan airmatanya. Sebenarnya dia sudah sangat lelah saat ini. Dia lelah menangisi putri dan suaminya.
" Aku sangat merindukan Amira mbak, aku sangat merindukan dia.
Dadaku sangat sakit mengingat semua kenangan bersamanya. Aku tidak sanggup kehilangan Amira ".
" Fatimah, kita harus mengikhlaskan Amira. Ini semua sudah menjadi takdir putri kita. Dia sudah bahagya disana sekarang.
Dia tidak akan merasakan kesedihan lagi " ucap Anita sambil menangis.
Tangannya menepuk-nepuk punggung Fatimah.
" Bagaimana aku bisa merelakannya. Setiap hari, setiap waktu aku selalu bersamanya. Semua tempat terisi oleh kenangan Amira mbak.
Ini sangat sulit untukku, sangat sulit ".
" Aku tau Fatimah kalau ini sangat sulit untukmu.
Kamu yg membesarkannya sejak kecil, pasti semua ini sangat menyakiti hatimu.
Tapi Fatimah, kita tetap harus merelakan kepergian Amira supaya dia tenang disana ".
" Aku sudah berusaha untuk merelakannya mbak.
Tapi semua itu seperti mencekikku sekarang. Aku sangat tersiksa, aku tidak kuat ".
Dewi menangis dalam diam mendengar itu semua.
Dia memang tak mengenal siapa Amira. Tapi dia bisa merasakan kalau Amira adalah gadis yg sangat baik.
Kepergiannya membuat beberapa orang seperti kehilangan kewarasannya.
" Kita pergi saja dari sini Wi. Biarkan Bu Fatimah dan Tante Anita menenangkan pikiran mereka disini " bisik Keanu.
Dewi mengangguk lalu mengusap airmatanya. Sebelum pergi, dia menatap kearah kedua wanita yg masih menangis di dalam kamar.
" Aku yakin kamu pasti bisa, Fatimah. Kita akan sama-sama mencoba untuk ikhlas ".
Fatimah terus menangis di temani Anita di sampingnya. Dia berusaha untuk menerima semua kenyataan ini.
__ADS_1
Meskipun itu akan terasa sangat sulit, tapi dia harus bisa melakukannya demi almarhum putrinya.
" Ayo kita keluar, kamu perlu makan Fatimah " ajak Anita saat melihat Fatimah sudah tenang dan tidak menangis lagi.
" Tapi aku tidak lapar mbak " jawab Fatimah lirih.
" Iya aku tau, aku juga tidak merasa lapar saat ini.
Tapi mau bagaimanapun tetap harus ada makanan yg masuk ke dalam perut kita.
Meskipun itu hanya sesuap " bujuk Anita.
" Dimana Kak Dave, mbak "??.
" Dia sedang istirahat di kamar tamu ".
" Bagaimana keadaannya "?? tanya Fatimah.
Anita menarik nafasnya sambil membantu Fatimah yg ingin duduk.
Sejak pulang dari pemakaman, Dave seperti orang yg kehilangan nyawanya.
Dia masih bernafas, tetapi pikirannya entah pergi kemana.
" Sepertinya dia sangat menyesali perbuatannya pada Amira.
Dia seperti mayat hidup " jawab Anita.
Fatimah terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka ayah Amira bisa sampai seperti ini setelah Amira meninggal.
" Aku ingin menemui Kak Dave, mbak ".
" Baiklah ".
Anita dan Fatimah keluar dari kamar. Mereka kemudian menghampiri Dave yg berada di ruang tamu.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, vote, voteee, like, comment, rate dan share ya novel ini.
Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.
Jangan lupa juga untuk follow akun medsos milik author.
Ig: nini_rifani
Fb: Nini Lup'ss
Wa: 0858-5844-6308
__ADS_1