
Siang ini, Amira dan Miko sedang duduk di bawah pohon.
Tangan Amira tampak sedang melukis seorang wanita yg sedang tersenyum. Miko dengan santainya berbaring di pangkuan kakaknya sambil memakan cemilannya.
Dia bahkan tidak peduli ketika kepalanya beberapa kali terkena kuas kakaknya.
"Miko, jangan berbaring disini sayang. Nanti kepala kamu sakit lho kena kuasnya kakak " ucap Amira sambil menatap adiknya.
Dia heran sekali dengan adiknya. Tidak biasanya dia mengganggu waktunya melukis. Hari ini adiknya sangat manja padanya.
"Nggak sakit kok kak " jawab Miko enteng.
"Kenapa Miko nggak main saja disana. Biasanya kan begitu "?? bujuk Amira lagi.
" Miko maunya sama kak Amira saja disini. Miko nggak mau main " sahut adiknya sambil terus mengemil.
Amira menggelengkan kepala mendengar jawaban adiknya. Dia lalu mengelus rambut adiknya.
Mungkin Miko seperti ini karena takut akan ditinggal lagi olehnya.
"Miko akan selalu sayang sama Kak Amira kan "??.
" Iya dong, Kak Amira kan kakaknya Miko. Jadi Miko sayang sama kakak " jawab adiknya polos.
"Kalau suatu hari kakak pergi, Miko marah tidak ke kakak "??.
" Miko marah. Tapi Miko mau ikut Kak Amira ".
" Kenapa begitu. Disini kan ada bunda dan teman-teman Miko yg lainnya ".
" Miko maunya kak Amira saja. Teman-teman disini tidak mau membaca cerita buat Miko ".
__ADS_1
" Kan ada bunda sayang ".
" Nggak mau lho kak. Miko maunya Kak Amira yg membaca ceritanya"!!?? jawab Miko lalu duduk.
Adiknya mulai takut saat Amira mengatakan kalau dia akan pergi.
Amira menjadi sedih. Padahal dia masih harus kembali kerumah ayahnya.
"Ya sudah kakak tidak akan pergi. Sekarang jangan sedih lagi ya " bujuk Amira lembut.
"Hikss... Janji ya kakak tidak pergi " ucap Miko sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Matanya berkaca-kaca.
" Iya, kakak janji " jawab Amira.
Mereka berdua saling mengaitkan jari. Mereka bercerita sambil bercanda dan saling menggelitik. Membuat siapapun yg melihatnya pasti akan ikut merasa bahagya karena tertular dengan suara tawa sepasang kakak dan adik ini.
Amira menyimpan dalam hati waktu yg sangat berharga bersama adiknya saat ini. Karena sekarang tidak setiap hari dia bisa bercanda bersama adiknya seperti dulu.
#flashback
Amira meletakkan buku yg barusaja di bacanya. Dia mencium kening adiknya yg sudah terlelap.
"Maafkan kakak Miko. Kakak tidak bisa menjagamu dengan baik " bisik Amira lirih.
Amira menangis dalam diam sambil terus menatap adiknya.
Tangannya membelai pipi adiknya yg terlihat tirus. Airmatanya semakin deras mengalir membasahi wajahnya.
"Kamu pasti sangat sedih berpisah dengan kakak ya?? Kakak juga sama. Hati kakak sakit setiap mengingatmu. Kakak selalu merindukan kamu setiap malam".
Amira menutup mulutnya menahan tangis. Dia takut tidur adiknya akan terganggu jika mendengar suara tangisannya.
__ADS_1
"Maafkan kakak karena kakak tidak bisa lama ada disini Miko. Kakak harus pulang. Masih ada urusan yg belum kakak selesaikan. Tapi kakak janji, kakak akan sering mengunjungimu disini. Kamu baik-baik disini bersama bunda dan yg lainnya ya. Tunggu kakak ".
Amira lalu berbaring disamping adiknya. Dia terus memperhatikan wajah adiknya. Bahunya berguncang karena menangis lalu memeluk adik yg sangat dia sayangi.
Tanpa dia sadari, Bu Fatimah sedang berdiri di depan pintu kamar. Dia mendengar semua perkataan Amira untuk adiknya. Tadinya Bu Fatimah berniat menemui Amira karena rindu berbincang dengannya.
Bu Fatimah menutup pintu perlahan lalu pergi dari sana. Dia ingin memberikan ruang untuk Amira meluapkan perasaannya. Dia berjalan kearah kamarnya dengan perasaan yg begitu sedih.
"Kenapa kamu masih belum bahagya juga Amira meskipun sudah berkumpul dengan ayahmu. Seburuk apakah perlakuan yg kamu terima di rumah itu sampai kamu harus memendam rasa sakit seperti ini "?? ucap Bu Fatimah lirih.
Hatinya ikut merasakan sakit yg Amira rasakan. Sejak kematian ibunya, Bu Fatimahlah yg merawat dan membesarkan Amira. Mata dia sendiri yg menyaksikan tumbuh kembangnya. Jadi saat melihatnya menangis sedih seperti tadi, hati Bu Fatimah terasa begitu hancur. Hancur karena putrinya tidak bahagya.
"Ya Alloh, kuatkanlah hati putriku. Bukakanlah hati ayahnya supaya bisa menerima keberadaan putrinya. Amiiiin ".
Setelah berdoa, Bu Fatimah merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya menerawang ke waktu sebelum kematian ibunya.
Wanita yg juga sama cantiknya seperti Amira. Wanita yg rela mempertaruhkan nyawanya demi sang buah hati.
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, like dan comment di novelku ini ya.
Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.
Jangan lupa juga untuk follow akun medsos author bagi yg berkenan.
Ig: nini_rifani
Fb: Nini Lup'ss
Wa: 0857-5844-6308
__ADS_1