
" Sayang, cepatlah bangun. Bukankah kita akan segera menikah "??.
Jimmy mencium tangan Nadya yg berada di genggamannya.
Semalam, dia mendapatkan kabar dari keluarga Nadya kalau kekasihnya mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga.
Jimmy yg saat itu belum jauh dari rumah Nadya segera memutar arah mobilnya.
Dunianya hancur saat melihat Nadya tidak sadarkan diri dengan luka yg cukup parah di kepalanya.
Dia segera membawa kekasihnya ke rumah sakit dan terus menungguinya sampai sekarang.
" Jimmy, apa boleh Tante bicara sebentar "?? tanya ibunya Nadya.
Semalam Jimmy tidak sempat menyapa orangtua Nadya karena terlalu panik melihat keadaannya.
Dia hanya melihat ibu Nadya pingsan dipelukan ayahnya Nadya.
" Iya Tante, silahkan. Maaf baru sempat menyapa Tante " jawab Jimmy sopan.
" Tidak apa-apa. Tante mengerti kamu sedang panik semalam ".
" Tante ingin bicara apa "?? tanya Jimmy.
" Apa semalam kamu bertengkar dengan Nadya "??.
Jimmy mengernyitkan keningnya.
" Maaf, kenapa Tante bertanya seperti itu "??.
" Tante hanya menebak saja. Semalam Tante melihat mobilmu berada cukup lama dihalaman rumah.
Tante pikir kalian sedang bertengkar karena itulah mungkin pikiran Nadya tidak tenang jadi dia terpeleset jatuh dari tangga.
Maaf kalau pertanyaan Tante menyinggungmu ".
" Kami tidak bertengkar Tante. Kami memang sedang membicarakan hal yg serius, tapi itu bukan pertengkaran.
__ADS_1
Melainkan Jimmy sedang melamar Nadya " jelas Jimmy meluruskan kesalahpahaman ibu Nadya.
" Jadi kamu sudah melamar anak Tante, Jim "?? tanya ibu Nadya kaget.
" Iya Tante. Jimmy serius menjalin hubungan dengan Nadya " jawab Jimmy mantap.
" Bukankah kalian baru kenal beberapa bulan ini.
Apa kamu yakin ingin menikahi Nadya "?? sahut ayah Nadya yg sejak tadi diam mendengarkan pembicaraan Jimmy dan ibu Nadya.
" Iya Om saya sangat yakin dengan keputusan saya. Memang benar kami berdua masih sangat baru menjalin hubungan, tapi kami sudah cukup lama saling mengenal ".
Orangtua Nadya saling berpandangan. Jantung Jimmy berdebar kencang menunggu jawaban dari mereka.
" Kami hargai niat tulusmu Jimmy.
Tapi semua keputusan berada di tangan Nadya.
Kami akan menerima apapun keputusannya nanti " ucap ayah Nadya.
Sudah jelas Nadya akan sangat setuju menikah dengannya karena semalam Nadya sudah menerima lamarannya.
" Terima kasih banyak Om " jawab Jimmy.
" Apa kamu tidak pulang dulu Jim. Biar Tante dan Om yg menjaga Nadya disini "?? tanya ibu Nadya sambil melihat kearah Jimmy yg terlihat sedikit berantakan.
" Tidak Tante. Saya ingin menemani Nadya sampai dia sadar " jawab Jimmy lalu menatap sedih kearah Nadya yg belum tersadar.
Orangtua Nadya hanya bisa diam melihat Jimmy. Mereka lalu memutuskan untuk keluar meninggalkan mereka berdua.
Tak lama, Dewi datang sambil mendorong Keanu yg memakai kursi roda.
" Jimmy, apa yg terjadi pada Nadya "?? tanya Keanu cemas.
" Dia jatuh dari tangga " jawab Jimmy lirih.
" Astaga,, Kamu yg sabar. Nadya pasti baik-baik saja " ucap Keanu sambil menepuk bahu sahabatnya.
__ADS_1
" Semalam aku baru saja melamarnya. Dia baik-baik saja saat aku pulang.
Dan sekarang dia terbaring tidak sadarkan diri di sini ".
*De*ghhh
Dewi menatap lama kearah Nadya setelah Jimmy mengatakan jika semalam telah melamar Nadya.
" Mungkinkah "??!!.
" Jimmy, Ken, aku keluar sebentar ya "?? pamit Dewi.
Dia harus segera menghubungi kakaknya. Dia merasa ada yg tidak beres pada Nadya sebelum terjatuh dari tangga.
" Ada apa Wi "?? tanya Keanu.
Dewi diam sambil menggigit bibir bawahnya. Keanu yg melihat itu segera memahami apa maksud dewi ingin keluar dari kamar ini meskipun dia baru saja datang kemari.
" Keluarlah "!! ucap Keanu sambil tersenyum pada Dewi.
Dewi membalas senyum itu kemudian segera keluar menelfon kakaknya.
Jimmy tidak terlalu memperhatikan tingkah aneh Keanu dan Dewi karena dia sibuk menatap kekasihnya.
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, like dan comment di novelku ini ya.
Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.
Jangan lupa juga untuk follow akun medsos author bagi yg berkenan.
Ig: nini_rifani
Fb: Nini Lup'ss
Wa: 0857-5844-6308
__ADS_1