
Dua puluh tahun kemudian....
Seorang lelaki terlihat berjalan memasuki tempat pemakaman seorang diri.
Lelaki itu membawa seikat bunga di tangannya.
Dia lalu berjalan menuju sebuah makam yg di kelilingi oleh tanaman bunga melati yg sedang mekar.
Bibir lelaki itu tersenyum manis sambil mengusap nisan dan foto yg terdapat diatas makam tempatnya berdiri sekarang.
" Hai kak, Miko datang "!.
Lelaki itu adalah Miko, adik kesayangan Amira.
Miko kini berusia 25 tahun. Dia tumbuh menjadi seorang lelaki yg begitu tampan.. Dua puluh tahun lalu, setelah Miko menyadari kalau kakaknya pergi dan tidak akan pernah kembali lagi, Miko mengalami guncangan batin yg begitu besar.
Dia terus terpuruk dalam kesedihan seperti saat pertama kali kakaknya pergi meninggalkannya.
Jimmy yg melihat kondisi Miko yg kian memburuk, meminta izin kepada Bu Fatimah untuk membawanya ke psikiater.
Jimmy lalu membawa Miko tinggal di rumahnya dan menyewa dua psikiater untuk merawat kejiwaannya yg sedang terganggu.
Hampir tiga tahun lamanya Miko berada dalam kondisi seperti itu.
Sampai dimana kakaknya datang menemuinya dalam mimpi. Baru setelah itu Miko tersadar dan bangkit dari keterpurukannya.
Jimmy kemudian memberikan pendidikan terbaik untuk Miko. Hari-hari Miko mulai berwarna kembali dengan kehadiran kakak dan ibu barunya sebagai pelipur lara menggantikan kasih sayang kakaknya yg telah hilang.
Bahkan sekarang Miko di percaya untuk mengurusi salah satu cabang perusahaan besar milik kakak barunya.
" Bagaimana kabarmu disana Kak "? tanya Miko sambil mengusap foto kakaknya yg sedang tersenyum.
" Kak, Miko datang kesini membawa kabar baik untuk kakak.
Kakak mau dengar tidak "??.
Miko meletakkan bunga melati yg dia bawa di samping nisan kakaknya.
Dia tersenyum lembut sebelum mengatakan kabar yg dia bawa pada foto kakaknya.
" Minggu depan Miko akan menikah dengan Princes Viola.
Dulu Kak Amira sudah berpesan pada Miko untuk menjaga dan menikahi Princes Viola bukan??
Sekarang Miko akan memenuhi janji itu Kak. Apa Kak Amira senang mendengarnya "??.
Angin sejuk datang menerpa wajah Miko setelah mengatakan kabar bahagya itu.
Miko memejamkan matanya menikmati hembusan angin yg dia yakini sebagai jawaban atas pertanyaan yg dia berikan pada kakaknya.
Lama Miko memejamkan matanya. Dia sangat menyukai saat berada di samping makam kakaknya sambil menikmati aroma wangi bunga melati seperti sekarang ini.
Perasaan itu seperti mengobati kerinduan pada kakaknya yg sudah lama pergi dari dunia ini.
__ADS_1
Tanpa Miko sadari, sosok putih transparan sedang berdiri menatapnya dari bawah pohon tak jauh dari tempatnya berada.
Sosok itu tampak tersenyum manis dengan membawa seikat bunga melati di tangannya.
💜
💜
💜
💜
💜
💜
" Aira... ".
Nadya berjalan mengelilingi rumah mencari keberadaan putri kecilnya.
Hari sudah menjelang maghrib akan tetapi putrinya entah pergi kemana.
Satu tahun setelah ayahnya Jimmy meninggal, Nadya dan Jimmy melangsungkan pernikahan mereka yg sudah tertunda cukup lama.
Nadya yg mengerti kondisi Jimmy dan ibunya yg masih di rundung luka, meminta pernikahan mereka di adakan secara sederhana saja demi menjaga perasaan suami dan mertuanya.
Dari pernikahan itu, mereka di karuniai dua putra kembar dan satu putri cantik yg baru berusia empat tahun.
Sedangkan putri kecil mereka bernama Aira Willen Anderkson.
Nadya dan Jimmy sengaja memberi nama Aira untuk mengenang nama adik mereka yg telah tiada.
Keanu dan Dewi juga akhirnya menikah berselang satu tahun dari pernikahannya. Mereka kini di karuniai sepasang anak laki-laki dan perempuan.
" Bi, Aira kemana ya "? tanya Nadya pada salah satu pelayannya.
" Nona Aira sedang bermain di halaman depan, Nyonya ".
" Oh ya sudah. Terima kasih Bi ".
Nadya segera berjalan untuk menghampiri putrinya.
Dia sedikit kaget saat tidak melihat siapapun di depan rumahnya.
Nadya menjadi panik lalu berteriak mencari-cari dimana keberadaan putrinya.
" Aira, kamu dimana sayang. Jangan menakuti Mama nak "! teriak Nadya panik.
Saat Nadya sedang kebingungan, putri kecilnya itu muncul dari luar pagar. Tangannya tampak menggenggam setangkai bunga berwarna putih.
" Mama "? panggil Aira.
Nadya segera memeluk putrinya. Dia takut sekali terjadi sesuatu yg buruk pada putrinya tadi.
__ADS_1
" Aira darimana "? tanya Nadya lalu duduk memangku putrinya.
" Aira bermain dengan Tante Ma " jawab Aira sambil memainkan bunga di tangannya.
" Tante siapa sayang "? tanya Nadya heran.
" Aira tidak tau Ma, tapi Tante itu baik sekali.
Bunga ini juga pemberian dari Tante "! jawab Aira lalu menunjukkan bunga yg dia pegang.
Mata Nadya langsung berkaca-kaca. Dia tau siapa orang yg di maksud oleh putrinya begitu melihat bunga itu.
" Amira " gumamnya lirih.
Nadya lalu menggendong putrinya berjalan keluar pagar.
Dia ingin melihat apakah adiknya masih berada disana atau tidak.
" Yahh, Tante sudah pergi "! desah Aira.
Nadya menggigit bibir bawahnya pelan. Airmata menetes keluar dari ujung matanya.
" Mama kenapa menangis "? tanya Aira bingung.
" Tidak apa-apa sayang. Oh ya, Tante bilang apa pada Aira "? sahut Nadya sambil menghapus airmatanya.
" Tante bilang Aira cantik seperti Mama. Kata Tante, Aira harus sayang Mama, Papa dan kakak " jawab Aira jujur.
Nadya memeluk erat-erat tubuh mungil putrinya. Airmatanya kemabali menetes.
" Amira, dimanapun kamu berada saat ini, aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi kakakmu.
Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Kalau kau ingin menemui Aira aku juga tidak keberatan. Meskipun kita tidak pernah bertemu, tapi aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri.
Aku menyayangimu sama seperti Jimmy yg mencintaimu ".
Setelah cukup lama berada di depan pagar, Nadya membawa putrinya masuk ke dalam rumah.
Hari sudah mulai malam, sebentar lagi orang yg di cintainya akan segera sampai di rumah. Dia akan menceritakan kunjungan Amira yg datang menemui putri mereka.
Setelah suaminya meninggal dan putranya menikah, Anita memutuskan untuk tinggal bersama Fatimah di panti asuhan setelah cucu kembarnya lahir ke dunia.
Dia melepaskan segala kemewahan yg selama ini dia dapatkan.
Anita meninggal dalam kebahagyaan di tempat yg pernah menjadi saksi cinta suaminya dan saksi bisu kesedihan putrinya.
Dalam damai Anita membawa pergi semua kenangan terindah di hidupnya.
T A M A T
__ADS_1