
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Amira dan Bu Tati sampai di kota tempat tinggal ayahnya.
Mereka terlebih dulu singgah di sebuah restauran untuk mengisi perut mereka yg sudah mulai merasa lapar.
"Mewah sekali, pasti makanan di sini harganya sangat mahal " gumam Amira.
"Jangan sungkan memilih makanan disini Ra, harga tidak jadi masalah " sahut Bu Tati yg ternyata mendengar gumaman Amira.
Amira tersipu saat mendengar ucapan Bu Tati. Bu Tati dan supirnya terkekeh melihat Amira yg sedang malu.
"Maafkan Amira Bu, Amira belum pernah masuk ke restauran mewah seperti ini sebelumnya " ucap Amira pelan.
"Bukan tidak pernah, kamu saja yg selalu menolak setiap Ibu ajak. Kamu kalah sama Miko, Miko udah sering keluar masuk restaurant yg bahkan lebih mewah dari ini. Iya kan Pak Iwan "??.
Pak Iwan mengiyakan ucapan Bu Tati. Memang benar, sudah berulangkali Amira menolak ajakan Bu Tati. Bukan karena apa, Amira hanya takut membuat Bu Tati repot. Sudah cukup banyak bantuan yg di berikan Bu Tati padanya dan adiknya selama ini. Berbeda dengan Miko adiknya, seringkali kemanapun Bu Tati pergi Miko akan selalu dibawanya. Termasuk ke mall dan restaurant seperti ini.
" Ibu sudah sangat baik pada Amira. Amira takut hanya merepotkan Ibu ".
Bu Tati menggenggam tangan putih Amira. Membelainya dengan begitu lembut.
" Tidak pernah sekalipun Ibu merasa di repotkan olehmu dan Miko. Sudah Ibu bilang, kalian berdua sudah Ibu anggap anak Ibu sendiri ".
" Terima kasih Bu " jawab Amira tulus.
"Karena sekarang kita sudah disini, kamu harus menikmati apa yg ada disini. Pesan semua makanan yg ingin kamu makan, jangan sungkan. Pak Iwan, silahkan pilih sendiri ya "??.
Amira akhirnya menuruti keinginan Bu Tati. Dia memilih beberapa menu makanan yg harganya lumayan mahal. Sambil menunggu pesanan datang, mereka bertiga bercengkerama bersama. Tidak ada batasan diantara majikan dan bawahan. Sungguhlah beruntung Amira dipertemukan dengan orang sebaik Bu Tati.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan mereka datang. Mereka segera menyantap makan siang mereka. Amira yg belum pernah memakan makanan di restoran, beberapa kali menanyakan pada Bu Tati bahan-bahan makanan tersebut. Rasa kagumnya pada makanan itu membuat Bu Tati dan Pak Iwan tertawa gemas.
"Alhamdulillah " ucap Amira setelah makanannya habis.
"Pantas saja harganya selangit, rasanya juga benar-benar nikmat " ucap Amira tanpa sadar.
Amira tersenyum malu saat ucapannya ditertawakan oleh Bu Tati dan Pak Iwan. Untuk menutupi rasa malunya, Amira pamit untuk pergi ke toilet.
"Maaf Bu, Amira permisi mau ke toilet dulu ".
" Mau ke toilet apa mau sembunyi karena malu "?? ledek Pak Iwan.
Wajah Amira memerah saat dirinya kembali ditertawakan. Entahlah, dirinya memang begitu kampungan sejak memasuki restauran mewah ini. Wajar saja jika dia di goda oleh Bu Tati yg notabennya sudah begitu sering keluar masuk tempat mewah seperti ini.
" Ya sudah sana, toiletnya di sebelah kanan Ra " ucap Bu Tati.
Setelah permisi, Amira berjalan masuk kearah toilet. Didalam toiletpun dia masih tampak mengagumi bangunan tempat ini.
Setelah mencuci tangannya, Amira bergegas keluar dari toilet.
Saat dia berjalan kearah mejanya, tanpa sengaja matanya melihat seseorang yg selama ini begitu dia rindukan. Ya,,itu ayahnya. Amira terpaku saat matanya dan mata ayahnya tak sengaja bertatapan.
"Ayah ".... ucap Amira lirih.
Jantung Amira terasa seperti ditimpa sebuah batu besar saat ayahnya mengalihkan tatapannya.
Bibir Amira bergetar saat mendapat respon seperti itu dari ayahnya.
__ADS_1
" Tidak-tidak, ayah seperti itu pasti karena sedang sibuk bekerja. Aku tidak boleh berburuk sangka. Lebih baik aku menunggu ayah saja " ucap Amira.
Amira kembali menatap kearah ayahnya. Dengan menguatkan hatinya, Amira melangkah kembali ke mejanya. Matanya beberapa kali menatap ke tempat ayahnya berada.
"Ya Alloh, semoga ayah tidak menolakku kali ini. Berilah kebahagyaan untukku Ya Alloh " do'a Amira dalam hati.
Harapannya sempat pupus saat ayahnya membuang tatapannya tadi. Sejujurnya, hati Amira terasa remuk menyadari jika ayahnya sepertinya akan kembali menolak kehadirannya.
Tapi dengan susah payah dia meyakinkan hatinya kembali jika ayahnya memiliki kesibukan lain sehingga belum bisa menyapanya.
Tapi, akankah kaca yg utuh itu tak retak saat jatuh dari tempatnya???
Atau bahkan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil?????? Kita akan tau jawabannya pada bab selanjutnya.
🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, like dan comment ya di novelku ini.
Jangan lupa juga untuk follow akun medsos author bagi yg berkenan.
Ig: nini_rifani
Fb: Nini Lup'ss
__ADS_1
Wa: 0857-5844-6308