Airmata Dendam

Airmata Dendam
Langkah menuju penantian


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 sore. Tinggal 30 menit lagi Amira akan meninggalkan panti asuhan.


Miko yg tau jika kakaknya akan pergi meninggalkannya, tidak berhenti menangis sejak pagi.


Miko bahkan tidak mau turun dari gendongan Amira.


"Miko ikut bunda yuk.


Kasian Kak Amira, pasti capek dari tadi gendong Miko terus " rayu Bu Fatimah berusaha membujuk Miko.


"Nggak mau, Miko maunya sama kak Amira. Miko nggak mau sama bunda.


Huaaaa......... ".


Miko kembali menangis kencang.


Amira begitu sedih melihat adik kesayangannya menangis seperti ini.


Ingin rasanya dia membawa adiknya ikut serta, tapi semua itu tidak mungkin. Amira takut Miko akan ikut merasakan apa yg akan Amira terima dirumah ayahnya. Karena Amira datang sebagai seorang pelayan dirumah ayahnya.


" Stttt, sudah sayang jangan menangis lagi. Miko nggak malu ya dilihatin princes Viola. Wajah Miko jadi jelek kalau menangis terus " bujuk Amira lembut.


"Hikss... hiksss.....


Miko mau ikut kak Amira.


Miko nggak mau pisah dari Kak Amira " ucap Miko sambil menangis sesenggukan.


"Siapa yg bilang Miko pisah sama kak Amira. Miko kan selalu ada di dalam hati Kak Amira ".


" Tapi.. Tapi bunda bilang kak Amira mau pergi dari sini.


Kak Amira tidak akan tinggal di sini lagi dengan Miko".


Tak tahan mendengar perkataan adiknya, Amira memeluk erat Miko sambil menahan tangisnya.


"Kakak bukan pergi jauh sayang.


Tapi kakak akan pergi bekerja mencari uang. Miko kan tahun depan mulai masuk sekolah, kalau kakak tidak bekerja siapa yg akan membayar uang sekolah Miko " ucap Amira mencari alasan untuk adiknya.


"Biar bunda saja yg cari uangnya kak " jawab Miko.

__ADS_1


"Tidak bisa sayang. Bunda kan harus merawat teman-teman Miko yg lain ".


" Kalau begitu, nanti Miko minta uang sama Bu Tati saja kak.


Uang Bu Tati banyak loh. Ada lima " ucap Miko lagi sambil menunjukkan sepuluh jarinya.


Amira dan Bu Fatimah tersenyum sedih melihat Miko.


Miko dari bayi tidak pernah berpisah lama dengan Amira.


Dan sekarang, Miko akan di tinggalkan oleh seseorang yg selama ini selalu menyayanginya.


"Amira, sudah waktunya berangkat " bisik Bu Fatimah sambil melirik jam di dinding.


Amira berusaha menata hati dan ucapannya untuk membujuk bocah kecil yg terus menempel seperti lem di tubuhnya.


Sudah berbagai macam rayuan dan bujukan yg ditunjukkan padanya sejak pagi.


Tapi bocah ini malah semakin lengket pada Amira.


"Miko, Miko sayangkan sama Kak Amira "??.


Miko menganggukkan kepalanya. Jejak airmata masih tampak menghiasi pipi putihnya.


" Mau kak ".


" Miko ikut bunda ya sekarang. Kak Amira mau pergi berangkat kerja dulu ".


" Nggak mau, Miko nggak mau ikut bunda "!!.


Miko berteriak histeris saat mendengar perkataan Amira. Dia semakin kencang memeluk tubuh Amira.


Akhirnya, dengan terpaksa Bu Fatimah merangkup tubuh kecil Miko yg terus berpegangan kuat pada kakaknya.


" Nggak bunda, Miko mau ikut Kak Amira. Bunda lepasin " !!! teriak Miko sambil meronta-ronta dalam pelukan Bu Fatimah. Kedua tangan kecilnya terjulur kearah Amira.


"Kakak, tolongin Miko.


Miko nggak mau sama bunda. Miko maunya sama Kak Amira "!!!.


Amira tak kuasa lagi menahan tangis melihat adik yg begitu dia kasihi menjerit memanggilnya.

__ADS_1


Dadanya sangat sesak, tidak tega mendengar suara tangisannya.


" Amira, sudah sayang tidak apa-apa.


Kamu berangkat saja "!! ucap Bu Fatimah sambil terus berusaha menenangkan Miko yg terus meronta dan berteriak.


"Kakak jangan tinggalin Miko.


Miko sayang kak Amira, Miko janji tidak nakal lagi "!!! teriak Miko kuat saat Amira mulai berjalan menuju pintu keluar.


" Kakakkkk...!!!!!!!.


Langkah kaki Amira terhenti tepat di pintu rumah.


Tubuhnya gemetar, rasanya dia benar-benar tidak rela harus pergi meninggalkan adiknya yg terus menangis kencang sambil memanggil namanya.


" Amira, pergilah nak.


Kejarlah kebahagyaan kamu, jangan khawatirkan adikmu. Ada bunda disini, pergilah nak "....


Tanpa menatap kebelakang, Amira akhirnya menguatkan hati meninggalkan panti asuhan ini. Mencoba menulikan telinganya dari suara tangis dan jeritan Miko yg masih terus memanggilnya.


" Maafkan kakak Miko, maaf.


Kakak janji, kakak pasti akan selalu mengunjungimu.


Jika memungkinkan kakak pasti akan membawamu tinggal bersama kakak. Maafkan kakak sayang " ucap Amira sambil berjalan menuju persimpangan jalan.


Tampak beberapa kali tangannya menyeka airmata yg terus membasahi pipinya. Suara jeritan Miko masih berdengung jelas di telinganya. Menemani langkahnya menuju tempat dimana ayahnya akan datang menjemput.


Hallo para reader's tercinta..


Jangan lupa untuk vote, like dan comment di novel ini ya.


Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.


Jangan lupa juga untuk follow akun medsos author bagi yg berkenan.


Ig: nini_rifani


Fb: Nini Lup'ss

__ADS_1


Wa: 0857-5844-6308


__ADS_2