
Aleea di temani oleh kedua orang tuanya. Tepat hari ini keduanya resmi berpisah. Aleea melihat Sean yang berjalan kearahnya yang diikuti oleh orang tua Sean di belakangnya.
“Sayang. Mama sangat merindukan kamu.” Ucap Regina sambil memberi pelukan yang sudah ia anggap putrinya sendiri. Aleea juga membalas pelukan Regina dengan sangat erat juga.
Pelukan mereka merenggang Regina memandang Aleea dengan tatapan yang sulit diartikan. “Selalu bahagia ya sayang.” Ucap Regina kembali sambil membelai pipi Aleea.
“Iya. Maaf ya mi Alee belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mami.” Ucap Aleea dengan lemah.
“Jangan bicara seperti itu sayang. Anak mami saja yang tidak baik untuk kamu.” Ucap Regina kembali setelah memberi lirikan tidak suka kepada Sean yang berada di sampingnya.
Sean yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya. Sejak Aleea memutuskan untuk berpisah dengan nya maminya selalu bersikap seperti itu kepadanya.
Setelah memberikan pelukan perpisahan, kini giliran Sean yang mendekat kearah Aleea.
“By, sorry maksudku Al.” ucap Sean dengan canggung. Ntah mengapa memanggil Aleea dengan sebutan seperti itu membuat hatinya sakit.
“Tidak apa-apa, panggil seenak kamu saja.” Ucap Aleea.
“Terimakasih.” Ucapnya yang di balas anggukan oleh Aleea.
“Maaf.. karena menikah bersamaku kamu merasakan rasa sakit yang tidak pernah engkau rasakan sebelumnya.” Ucap Sean kembali.
“Maaf.. kamu harus mendapatkan suami yang seperti aku.” Lanjutnya kembali.
“Kamu sudah banyak mengucapkan kata maaf sejak kemarin. Cukup ini terakhir kalinya kamu mengucapkan itu kepada aku,” Ucap Aleea yang hanya di balas cenggegesan oleh Sean sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bisakah aku berkunjung kesini lagi By?” Tanya Sean dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh Aleea.
Aleea menatap Sean yang tengah berdiri di depannya. “Tentu saja. Alice pasti sangat senang jika kamu berkunjung kesini.” Balas Aleea.
“Oh. Hanya Alice saja yang senang jika aku berkunjung ke sini, kalau kamu senang juga tidak By.” Gumam Sean pelan.
__ADS_1
“Kamu mengatakan apa?” Tanya Aleea saat mendengar Sean mengucapkan sesuatu tapi sangat pelan.
“Aku tidak mengucapkan apa-apa.” Bohong Sean.
Aleea dan Sean terus berbicara sesekali di selingi dengan candaan yang membuat Aleea tertawa. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah meninggalkan tempat tersebut. Permbicaraan mereka terhenti sampai seseorang memanggil Aleea.
“Al! Apakah kamu sudah selesai?” Tanya seorang pria yang baru saja sampai di tempat itu, pria itu berdiri dengan jarak yang tidak jauh darinya.
“Sams. Kamu kesini? Sedang apa kamu berada disini?” Tanya Aleea, karena ia tidak pernah memberitahu Sams jika hari ini aleea dan Sean resmi untuk bercerai.
“Haa. Aku tadi hanya ada urusan disekitar sini terus aku melihat kamu ada disini.” Bohong Sams karena ia tidak mungkin berkata yang sebenarnya.
“Biasnya Sams jika ingin ke negara ini selalu bilang denganku, tapi ini kenapa seperti ada yang disembunyikan Sams dariku.” Batin aleea.
“Oo. Aku kira kamu sengaja datang ke daerah sini?” Tanya aleea kembali.
“Tidak. Tadinya aku ingin merahasiakan jika aku sudah disini.” Jawab Sams kembali.
Melihat itu Sams mengenggam kuat tanganya tampak jelas buku-buku putih di sela jarinya yang menandakan ia sedikit emosi.
Kemudian aleea berpamitan kepada sean untuk kembali kerumahnya bersama Sams. “aku kembali dulu,” ucap aleea yang di beri anggukan oleh Sean.
Sean terus manatap punggung Aleea yang mulai perlahan menghilang karena tertutup orang yang berlalu lalang.
“Tuan. Apakah tuan baik-baik saja?” Tanya Justin yang tiba-tiba berdiri di samping Sean.
“Kita kembali sekarang.” Ucap Sean yang mulai berjalan didepan Justin, sesekali ia melihat Aleea yang masih berjalan disamping Sams.
Flashback
Sams membanting IPad yang ada di tanganya ketika melihat Aleea pergi liburan bersama. Ia meminta anak buahnya untuk selalu memberi kabar tentang apa yang di lakukan Aleea saat berada di luar rumah.
__ADS_1
Sams datang kembali ke rumah sakit dengan amarah yang masih menguasai dirinya. Terlihat jelas wajah yang merah, pola nafas yabg tidak teratur dan ia menggengam tanganya dengan sangat kuat sehingga menghasilkan buku-buku putih disela jarinya.
BRAK!!!
Suara pintu ia buka dengan nyaring, sehingga seorang yang berada di dalamnya terlihat sangat terkejut.
“Sams. Kamu kenapa sih!” Ucap wanita itu dengan suara yang sedikit tinggi.
“Aku bilang kau susul Sean! Kenapa masih disini?” Ucap Sean pada wanita itu.
“Putra ku masih sakit, aku tidak akan pergi kesana.” Ucap wanita itu kembali.
“Syeila!!!” Teriak Sams yang membuat sosok anak kecil yang tertidur di atas kasur terbangun.
“Kau sudah gila Sams. Putraku masih sakit dan kau menyuruhku meninggalkannya. Lebih baik kau bunuh saja aku.” Ucap Syeila dengan lemah.
Sams mendekati Syeila dan mencengkeram leher wanita itu. Syeila merasakan kesulitan bernapas. Ia mencoba menepuk-nepuk tangan Sams agar melepaskan cengkeraman di lehernya.
“Mommy,” rengek seorang balita yabg berada diatas kasur.
Uhuuk!! Uhuuk!!
Syeila terbatuk ketika cengkeraman di lehernya telah di lepaskan Sams. Kemudian ia berjalan ke arah kasur dan mencoba menenangkan putra nya untuk tidur kembali.
“Huss. Bobok lagi sayang, ada Mommy disini.” Ucap Syeila sambil memberi pukulan di punggung putranya tanpa menghiraukan Sams yang sudah sangat marah sejak tadi.
Melihat kehadirannya tak dianggap ia keluar dari ruangan tersebut dengan amarah yang masih menguasai dirinya.
Sams memutuskan untuk pergi menuju tempat tinggal yang Aleea untuk melihat wanitanya. Ya, ia sudah beranggapan jika wanita itu akan segera menjadi miliknya.
Flashback off.
__ADS_1