Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Salah Paham


__ADS_3

Sean melangkahkan kakinya menuruni satu-satu anak tangga. Ia mencari keberadaan istrinya. Ia tau niat Aleea keluar dari kamar hanya untuk mengambil air minum untuknya.


“Kenapa lama sekali sih,”


“Aku kan hanya ingin mengerjainya, berpura-pura mendiamkan nya.”


“Kenapa aku yang jadi di diamkan nya.”


“Punya istri kenapa gak peka sekali sih,”


Gumam Sean sepanjang jalan menuruni tangga.


“Dimana dia ya,” ucap Sean yang sudah sampai di ujung anak tangga.


Samar-samar Sean mendengar suara berisik dari dapur. Ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dapur.


“Tapi Oma Aleea akan meninggalkan sean,”


Deg!


Perkataan Aleea membuat Sean membeku di tempatnya. Tubuhnya seperti kaku, sulit untuk bergerak.


“Jika Sean melakukan kesalahannya dan membuat aku kecewa lagi Oma,”


“Tapi.. untuk sekarang aku tidak ada alasan untuk meninggalkannya Oma,” Ucap Aleea dengan suara yang bergetar.


“Itu pilihan Oma untuk mau percaya atau tidak sama Aleea, tapi satu yang harus Oma tau jika Aleea bukan wanita murahan seperti yang katakan,” lanjutnya kembali dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


“Maaf Oma jika kehadiran Aleea membuat liburan disini menjadi tidak menyenangkan.”


“Sekali lagi Aleea minta maaf,” Ucap Aleea dengan menundukan kepalanya sedikit sebagai memberikan hormat kepada yang lebih tua, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju tangga yang untuk kembali ke kamar Sean.


Sedangkan Sean yang masih di sekitar area dapur hanya diam tanpa suara. Ia semakin kagum dengan istrinya. Walaupun dia sudah di hina habis-habisan tapi ia tidak membalas perkataan orang yang menghinanya.


Sean merasa sangat beruntung mendapatkan Aleea yang cantik luar dalam. Sean mengikuti istrinya yang sudah berjalan dahulu beberapa langkah di depannya.


Dari sini ia dapat melihat Aleea yang mulai menghapus air matanya dan menepuk pelan pipinya serta mengipas-ngipas kecil wajah nya dengan telapak tangan nya. Ia tau kenapa itu di buat nya karena ketika ia masuk kamar wajahnya tidak sembab seperti orang baru saja menangis.


Aleea rasa dirinya sudah tengah, ia mambawa langkahnya memasuki kamar yang ia tempati beberapa hari ini.


Ceklek!


Suara pintu terbuka, Aleea membawa tubuhnya memasuki ruangan itu tapi yang di lihat dari kamar tersebut hanya sunyi tak ada seorang pun di ruangan itu.


Aleea kemudian meletakan botol minum miliknya di atas meja yang tadi dimana laptop dan buku masih terletak di atas meja tersebut.


“Sean kemana ya,” Gumam nya mencari keberadaan Sean yang tidak ada di kamar nya.


Ia melangkahkan kaki nyake arah kamar mandi. Ia buka kamar mandi tersebut tidak ada seorang pun. kemudian ia membawa langkah kakinya masuk ke walk in closet dan ke balkon kamar.

__ADS_1


“Tidak ada juga,”


“Ohh.. Mungkin Sean ada disana” gumamnya, tapi di lihat Sean juga tidak ada saat ia sudah sampai di balkon kamar itu.


Tak ingin ia terlalu banyak berpikir ia berdiri di atas balkon melihat suasana sore ini sangat indah.


Langit yang sudah berwarna jingga, sangat indah sehingga membuat mata yang melihat nya. ia mendongakan wajahnya ke atas sehingga angin lebih leluasa menerpa wajahnya.


Sean memasuki kamarnya, ia melihat laptop dan botol minum Aleea sudah berada di atas meja.


Ia menduduki ujung kasur nya untuk menunggu Aleea, mungkin Aleea di dalam kamar mandi pikir nya. Tapi beberapa menit ia menunggu Aleea tidak juga menampakan dirinya.


“Kemana dia,” Gumam Sean.


“By..” ucap Sean sambil melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.


Ceklek!


Sean membuka pintu kamar mandi. Ia tidak melihat Aleea yang berada di dalamnya.


“Baby..” lanjutnya kembali saat ia memasuki ruang ganti, tapi dia juga tidak melihat Aleea di dalam sana.


“Al.. Kamu dimana..” ucapnya sangat pelan hanya Sean yang dapat mendengarnya.


“Jangan buat aku takut, By.” Ucap Sean dengan lemah.


Ia yakin Aleea masuk ke kamar mereka, terbukti botol milik aleea berada di meja belajar.


“Indah banget,” Ucap seseorang yang berada di balkon kamarnya.


Sean melangkahkan kakinya mendekati aleea yang sedang memejamkan matanya.


Greb!!


Tubuh itu berjengit kaget ketika lengan berurat Sean menelusup ke pinggang ramping Aleea.


"Sean! Kaget astaga!!" Ucap Aleea sambil memegang lengan senan yang berada di perutnya.


Sean tertawa, kemudian menyematkan satu ciuman ke pipi yang lebih muda.


"Maaf, aku tidak bermaksud mendiamkan kamu." Ucap Sean, kemudian ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aleea. Menghirup aroma tubuh Aleea yang menenangkan.


“By. Kenapa diam saja? Kamu masih marah kereta aku pura-pura mendiamkan kamu?” Ucap sean disela ceruk leher aleea.


Tubuh aleea merinding merasakan hembusan panas di lehernya.


Aleea masih berdiam diri tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Tapi ia tidak menolak pelukan yang Sean berikan. Ia butuh hanya pelukan untuk saat ini. Disaat keluarga Sean tidak menginginkan kehadiran nya secara terang-terangan.


“By. Maaf aku hanya bercanda,” ucap Sean dengan nada rendah.

__ADS_1


Sean mengerutkan dahi nya saat Aleea melonggarkan pelukan di pinggangnya.


Aleea membalikan tubuhnya menghadap Sean, ia tatapan mata sean begitu dalam. Kemudian ia meregangkan tangannya.


“By. Apa yang kamu la-,” ucapannya terhenti ketika ia merasakan pelukan di tubuhnya begitu erat.


Sean membalas pelukan aleea dengan tidak kalah eratnya. Ia elus surai aleea dengan lembut.


“By. Kamu tau? Kamu membuatku sangat takut. Aku pikir kamu masih marah dengan ku,” Ucapnya sambil memberikan kecupan di dahi aleea.


Aleea masih saja diam, tapi ia masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sean seolah mencari ketenangan.


Sean merasakan bajunya basah. Ia tahu istrinya saat ini sedang menangis. Menangis dalam diam dan Ia juga tahu penyebab istrinya menangis. Tapi ia tidak ingin Aleea merasa bersalah karena membelanya dan berdebat dengan Oma nya.


“By.. Kamu kenapa?” Ucap Sean sambil mengelus surai indah Aleea.


“Menangislah. Jangan di pendam,” Lanjutnya.


Setelah Sean mengucapkan perkataan itu, tangis Aleea akhirnya pecah.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Suara tangis Aleea yang menyayat hati ketika orang mendengarkannya.


“Tenanglah ada aku disini By,” Ucap Sean dengan lembut, sesekali ia memberikan tepukan kecil di punggung Aleea.


“Ada yang menyakiti mu?” Ucap Sean yang hanya di balas gelengan oleh Aleea.


“Tidak ada. Aku hanya merindukan Mama Anna.” Bohong Aleea.


“Sabar ya. kita akan menginap lagi ke rumah orang tua kamu, jika orang tua kamu sudah pulang dari perjalanan bisnis ke negara K.” Ucap Sean seolah menenangkan, padahal ia tahu jika ini adalah alasan Aleea tentang ia yang saat ini sedang menangis.


“Apakah kami tadi menerima foto aku dan Xander?” Tanya Aleea dengan suara serak.


“Iya. Aku menerimanya.” Jawab Sean.


“Apakah kamu mempercayai nya?” Tanya Aleea kembali.


“Heem, aku sempat mempercayainya.” Ucap Sean dengan lemah di suara baritonnya.


“Tapi sekarang aku lebih percaya kepadamu, maaf sempat meragukan kamu,” Lanjutnya kembali.


“Tidak apa-apa itu hak kamu untuk dapat mempercayai seseorang,” Ucap Aleea.


“Terima kasih sudah mau mempercayai aku,” Lanjutnya sambil melonggarkan pelukan di tubuh Sean.


Sean mengusap bekas air mata yang masih di pipi Aleea.


Sean menciumi seluruh wajah Aleea, di mulai dari kedua kelopak mata Aleea, kemudian dahi dan hidung Aleea. setelahnya kedua pipi Sean, dagu, dan terakhir bibir Aleea.

__ADS_1


Sean hanya memberikan ciuman singkat di bibir Aleea. kemudian ia memeluk tubuh Aleea kembali. Pelukan ketengangan dan kenyamanan.


__ADS_2