Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Jalan Terbaik


__ADS_3

Sean sedang berada di dalam kamar rawat inap aleea setelah mendengar anaknya telah tiada aleea menangis histeris sehingga dokter harus memberikan obat penenang kepadanya.


Pria itu menatap istrinya yang tertidur pulas di atas kasur. Ada rasa bersalah di dalam hatinya. Airmata nya mulai menetes jatuh di pipinya. Tangannya masih setia mengenggam tangan wanitanya.


“Maafkan aku By,”


“Seandainya aku tidak meninggalkan kamu malam itu di rumah kita,”


“Seandainya aku membawa kamu juga,”


“Pasti kesalahpahaman ini tidak akan terjadi seperti ini,”


Gumam Sean, sambil terus melihat wajah wanitanya yang tampak begitu pucat.


“Seharusnya kita merayakan anniversary pernikahan kita dengan bahagia karena kehadiran calon bayi yang selama ini kita nanti,”


“Aku tahu kenapa kau menyembunyikan kehamilan ini dariku, karena aku pernah bilang tidak ingin memiliki anak untuk saat ini, semua yang aku katakan tidak benar By.”


“Aku hanya tidak ingin kau terus kepikiran By, apa yang dikatakan oleh keluargaku.”


“Maaf kan aku By, telah sikap ku membuat kita kehilangan calon bayi kita,”


“Buka matamu By, jangan buat aku khawatir seperti ini,”


“Kau boleh memukulku dengan apapun sampai rasa sakit di hatimu itu hilang tapi jangan hukum aku dengan melihat kondisimu seperti ini,”


Ucap Sean dengan pelan, sesekali ia membubuhkan kecupan di punggung tangan istrinya yang masih berada di genggamannya.


Pria itu masih masih menangis dalam diam, menyembunyikan dari orang-orang seolah dirinya kuat.


Anna sejak tadi berada di dalam ruangan rawat inap putrinya hanya melihat menantunya yang keadaannya sama kacaunya dengan putrinya. Sudah beberapa jam Aleea tertidur setelah diberikan obat penenang oleh dokter. Tetapi sejak tadi sean tidak meninggalkan putrinya sedetik pun.


Semua orang yang berada di ruangan itu telah pamit untuk pulang atau melanjutkan pekerjaan mereka.


Anna melangkahkan kakinya mendekati kasur dimana putrinya sedang terbaring di atas kasur yang di temani suaminya yang berada di sampingnya.


“Nak. Sebaiknya kamu pulang saja dulu, ganti pakaian kamu,” Ucap Anna yang berada di samping Aleea.


Sean menghapus air matanya kemudian ia melihat Anna yang berada di sampingnya.


“Iya mah, Sean akan pulang setelah melihat Aleea sudah sadar,” Ucap Sean dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan isak tangisnya.


Anna berdiam diri di samping Sean yang juga menatap putrinya. Kemudian ia berkata sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


“Menangislah nak. Jangan di pendam,”


“Tidak salah jika kamu ingin menangis,”


Ucap Anna sambil menepuk punggung Sean dengan pelan, yang di balas Sean dengan anggukan.


Anna hanya memberi akses agar Sean bisa menyalurkan kesedihannya tanpa di lihat oleh orang lain.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


Tangisan Sean akhirnya pecah, ia menumpahkan semua dengan tangisan yang jika orang melihatnya akan merasa iba.


Tangisannya sangat memilukan terlihat seperti seorang yang putus asa, rasa kecewa menjadi satu. Ia meletakan kepalanya di atas kasur yang ditiduri Aleea. Ia mulai memejamkan matanya dan ikut terlelap disamping Aleea dengan posisi duduk dan tangannya masih menggengam tangan Aleea.

__ADS_1


Ntah sudah berapa lama ia tertidur di samping aleea, ia mendengar suara istrinya sedang berbicara dengan seseorang yang berada di ruangan itu juga.


“Kapan kamu akan pergi meninggalkannya?”


“Aku bisa membantu kamu untuk menghilang dari dia.”


Ucap seorang pria tersebut.


Sean yang mendengar ucapan itu hanya terdiam dan melanjutkan pura-pura tertidur, ia ingin tahu sampai berapa jauh pria itu menghasut istrinya untuk meninggalkan dirinya.


“Ntahlah, aku juga tidak tahu,” Ucap Aleea.


“Kamu kenapa bisa tahu aku sedang di rawat disini?” Lanjutnya kembali.


“Tentu saja dari aku tahu, aku kan ada disana saat kau mengalami kecelakaan,” Gumam pria itu.


“Apa? Kamu bilang apa?” Tanya Aleea.


“Aku tidak bilang apa-apa. Aku tahu kamu ada di sini dari Selena. Dia bilang kalau kamu mengalami kecelakaan dan di rawat disini.” Ucap pria itu.


Aleea!!!


Terdengar suara wanita memanggil namanya. Aleea melihat ketiga sahabatnya datang ke ruang rawat inapnya. Aleea menampilkan senyuman manis di bibirnya.


“Alee. Kenapa bisa terjadi seperti ini?” Ucap Selena setelah mendekat ke arah aleea. Mereka memeluk Aleea secara bergantian.


“Kalian ini tidak tahu apa, ini rumah sakit bukan hutan,” Ucap pria itu ketika melihat ketika teman Aleea yang ribut saat memasuki ruangan itu.


“Kamu sih sirik aja,” ucap Selena sambil memberikan ejekan pada pria itu.


“Kamu bukan nya di kantor malah kesini,” lanjut Selena.


Aleea hanya bisa tersenyum dan mengelengkan kepalanya mendengar perdebatan temannya.


“Kalian itu bersaudara kenapa tidak pernah akur sih?” Tanya Ziva yang sejak tadi melihat temannya beradu mulut dengan pria didepan mereka.


Hoam!!


Suara pria terdengar di antara mereka. Sejak tadi mereka tidak melihat ada seseorang yang tertidur disamping kasur Aleea.


Mereka yang berada di ruangan itu menatap seseorang yang baru saja terbangun dari tidur nya.


“Kenapa kita tidak tahu jika suami Aleea disini ya?” Bisik Selena kepada kedua temannya yang di sampingnya.


“Aku juga tidak tau,” ucap Shea.


Sean mulai membuka matanya, di lihatny ruangan Aleea yang sudah banyak orang.


“By.. sejak kapan teman-temanmu datang kesini?” Tanya Sean dengan lembut.


"Mereka baru saja datang, kamu jika masih mengantuk tidur saja dulu," Ucap aleea sambil menunjuk ke arah kasur yang berada di ruangan itu juga.


“Tidak masalah aku berada disini saja, kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian” Ucap Sean kemudian ia mengambil tangan Aleea untuk ia genggam.


Sean memberikan tatapan tak suka saat melihat pria yang berada di depannya. Kedua pria itu saling menatap dengan tatapan saling tidak suka.


Suasana kamar yang tadinya dingin kini tiba-tiba terasa panas. Aleea dan kedua sahabatnya saling berpandang yang seolah bertanya tetapi di balas dengan mengendikan bahunya sebagai jawaban tidak tahu apa yang dilakukan.

__ADS_1


“Sean. Tolong ambilkan minum aku haus,” ucap Aleea untuk mengalihkan pandangan Sean kepada pria itu.


“Aiden! kamu kenapa melihat suami Aleea seperti itu?” Tanya Selena saat melihat Sean berjalan mengambil air minum untuk Aleea.


“Aku tidak menyukai nya,” Jawab Aiden.


“Tapi dia suami Aleea, kamu tidak boleh begitu,” ucap Selena.


“Mungkin lebih tepatnya akan menjadi mantan suami,” ucapan Aiden membuat ketiga teman Aleea melototkan matanya.


Sebelum Selena kembali bertanya maksud dari ucapan Aiden, sean telah datang dengan membawa air di dalam gelas untuk Aleea.


“Ini By. minum dulu,” Ucap sean sambil memberikan gelas itu kepada Aleea dan langsung Aleea minum.


Aleea dan kedua sahabatnya itu kembali melanjutkan percakapan mereka yang sesekali di ikuti oleh aiden. Sedangkan sean hanya menatap mereka dengan jarak yang tidak jauh darinya.


Beberapa menut kemudian Teman Aleea pulang meninggalkan Aleea dan sean yang berada di dalam ruangan itu. Lama mereka saling diam tanpa ada satu yang keluar dari mulut mereka.


Aleea menarik nafas dalam kemudian ia hembuskan secara perlahan. Ia lakukan beberapa kali, setelah ia merasa waktu yang pas untuk berbicara tentang hubungan mereka.


“Sean! Ayo kita berpisah.” Ucap Aleea dengan suara yang sedikit bergetar.


Sean yang merasa Aleea salah mengucapkan kata yang keluar dari bibirnya. Ia menatap Aleea yabg berada di depannya.


“Maksud kamu apa By.” Ucap sean.


“Ayo kita berpisah,” ucapan yang keluar lagi dari mulut Aleea.


“Hahaha! kamu ngomong apa sih By, jangan ngaco. Lebih baik kamu istirahat lagi ya.” Ucap sean kembali.


“Ayo kita bercerai,” Ucap Aleea.


“Setelah itu kamu bisa dengan mudah merawat mantan kamu dan anaknya dengan baik.”


“Tidak ada lagi yang melarangnya.”


“Lagian itu yang kamu pilihkan, lebih memilih mantan kamu dari pada merayakan anniversary kita,”


“Dan juga tidak ada yang perlu kita pertahankan dalam pernikahan kita,”


“Aku sudah tidak mengandung anak kamu lagi,”


“Jadi jalan terbaik untuk kita adalah perpisahan,”


Ucap Aleea panjang lebar dengan suara yang bergetar, air matanya sudah berada di pelupuk mata. Sehingga kapan saja akan terjatuh.


“Kamu tau kan By, aku tidak akan pernah mau berpisah darimu bahkan aku tidak akan pernah menceraikan kamu,”


“Lebih baik aku MATI daripada harus berpisah dari mu,”


“Jadi aku mohon kamu jangan egois,” ucap Sean dengan lemah di suara bariton nya.


“Hahaha aku egois,” ucap Aleea sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Kalau aku egois, jadi sebutan yang cocok untuk kamu apa?”


“Jadi aku mohon, ayo kita berpisah!” ucap Aleea dengan nada lemahnya.

__ADS_1


“Sampai kapan pun aku tidak akan mau berpisah dengan mu,” ucap Sean kemudian ia melangkah kan kakinya keluar dari ruangan Aleea.


Sebelum ia keluar ia berkata kepada Aleea, “kamu lebih baik istirahat dulu By, aku pergi dulu,” kemudian Sean keluar dari ruangan itu.


__ADS_2