Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Sakit


__ADS_3

Kepergian Sean beberapa menit yang lalu membuat Aleea kembali ketakutan.


Air mata Aleea jatuh perlahan. Ketakutan berada di gedung yang gelap dan sunyi. Aleea menjatuhkan tubuh nya ke lantai.


Hiks..


Hiks..


Suara tangis Aleea menggema di dalam ruangan itu. “Alee ingin pulang Mah, Alee ingin di peluk Mama, Alee takut sendiri disini Mah.”


Tangis Aleea semakin pilu jika ada seseorang yang mendengarkan nya.


Tubuh Aleea melemah kebanyakan menangis, ia pun naik ke atas kasur sambil menutupi seluruh tubuh nya sampai bahu. Ia mencoba menutup mata nya agar tidak ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Air matanya terus mengalir dengan posisi meringkuk.


Sean, setelah ia meninggalkan Aleea di dalam kamarnya. Ia segera menyusul kekasihnya yang sudah berada di dalam kamarnya. Sebelumnya ia ke apotik untuk membeli beberapa macam obat yang di bawa ke dalam kamar Syeila.


Beberapa menit perjalanan ia sampai di depan kamar kekasihnya itu, ia masukan card.


Klik!


Suara pintu kamar itu terbuka, langsung ia menuju dapur untuk mengambil gelas dan menuangkan air minum kedalam nya. Setelah itu ia segera masuk kedalam kamar Syeila. Dapat ia lihat kekasihnya itu menautkan kedua alisnya untuk menahan kesakitan yang dialaminya.


“Sayang, bangun dulu minum obatnya setelah itu kita lanjut tidur kembali.” Ucap Sean sambil mengelus pipi kekasih nya itu.


Merasa ada yang mengganggu tidurnya Syeila membuka mata nya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas kasur, kemudian menerima obat yang diberikan Sean. Mereka mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk mulai tidur kembali.


Pagi harinya Sean terbangun lebih awal. Ia mengambil ponsel dan mulai mengetik pesan untuk seseorang. Sudah hampir satu jam pesan itu iya kirim kan tetapi tidak ada balasan, dan pesan itu terkirim tapi belum dibaca sama sekali.


“Sayang, kamu sudah bangun? Kamu bersihkan dulu tubuhmu. sarapan sudah aku pesan, mungkin bentar lagi datang. Aku keluar sebentar ada yang harus aku kerjakan.” Ucap Sean berpamitan pada Syeila yang masih duduk di atas ranjang sambil membubuhkan kecupan di kening kekasihnya.


“Iya, kalau sudah selesai segera kembali.” Jawab Syeila yang dibalas anggukan oleh Sean. Ini yang Sean suka dari Syeila ia tidak pernah mengekang Sean dan bertanya macam-macam, ia selalu memberi kepercayaan kepada Sean.

__ADS_1


Setelah Sean Keluar dari kamar Syeila, ia langsung menuju kamar Aleea yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar mereka. Sepanjang perjalanan sean mencoba menelfon nomor Aleea tetapi tidak ada jawaban. Ia menekan bell yang berada di depan pintu kamar Aleea. Tetapi selama sepuluh menit tidak ada juga jawaban dari dalam kamar. Sean ke resepsionis untuk meminta card agar bisa masuk kedalam kamar Aleea.


Sean melihat Aleea yang masih tertidur di atas kasur. Ia mendekat ke arah tempat tidur itu.


“Astaga, aku terlalu khawatir tetapi lihat lah dia masih tidur dengan nyenyak sudah jam segini.” Gumam Sean yang melihat Aleea tidur dengan nyaman di atas kasur.


Saat ia ingin kembali ke kamarnya ia mendengar suara Aleea yang sedang bergumam dengan samar-samar.


“Mah! Alee takut, mau pulang, Alee ingin dipeluk Mama.” adu nya dalam keadaan mata terpejam dan air mata mengalir membasahi di pipi nya.


Mendengar itu Sean mendekati ranjang Aleea mencoba membangunkannya.


“Aleea,” panggil Sean sambil menepuk pelan pipi .


“Panas,” lanjutnya sambil mengecek seluruh tubuh Aleea. Ia buka selimut yang menutupi tubuh Aleea. Ia duduk di atas ranjang milik Aleea.


“Aleea, ayo buka matamu” ucap Sean sambil menepuk pelan pipi Aleea.


“Mamah,” ucap Aleea sambil memeluk Sean dari samping. Melihat itu Sean tidak protes sedikit pun atas apa yang dilakukan oleh Aleea.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sean kepada Dokter yang baru saja memeriksa Aleea.


“Dia hanya saja kelelahan, kekurangan cairan dalam tubuhnya. saya baru saja memberikan beberapa vitamin, setelah dia sudah bangun tolong berikan obat ini kepadanya. Ini resepnya bisa anda tebus di apotik terdekat.” Ucap dokter tersebut sambil memberikan resep kepada Sean.


“Terimakasih,” ucap Sean sambil mengantarkan dokter itu keluar dari kamar Aleea.


“Sudah berapa jam dia tertidur. Apakah terlalu indah mimpinya sehingga tidak ingin bangun,” gumam Sean sambil melihat kearah gadis yang sedang terkelap.


Seorang gadis yang tengah berbaring di atas kasur kini ia mulai mengerjapkan matanya. Pelan-pelan kelopak mata itu terbuka menyesuaikan dengan cahaya yang ada di ruangan itu.


Melihat Aleea yang mulai bangkit untuk duduk Sean dengan cepat menghampiri Aleea dan duduk di atas kasur tepat di samping Aleea, membantu untuk mendudukkan Aleea dengan nyaman.

__ADS_1


Sean sejak berada di dalam kamar Aleea, menjaga Aleea sampai ia terbangun. Suasana canggung di antara keduanya.


“Ada yang sakit, apakah masih pusing?” Ucap Sean untuk memecahkan keheningan, kemudian ia mengecek suhu tubuh aleea dengan tangan yang di letakan di atas kening Aleea.


“Sudah tidak panas seperti tadi,” lanjutnya kemudian mengambil mangkok yang berisi bubur yang baru ia pesan tadi.


“Makan dulu terus minum obat nya,” ucap Sean sambil memberikan mangkok yang ada di tangannya kepada Aleea.


“Mau aku suapi,” ucapnya yang dibalas Aleea dengan gelengan.


“Aku bisa sendiri,” balas Aleea.


Pelan-pelan Aleea mulai menyuapi bubur kedalam mulutnya. Sean hanya diam tanpa suara melihat Aleea mulai memakan bubur yang ia berikan. Setelah ia melihat Aleea selesai memakan buburnya ia memberikan obat yang telah ia tebus tadi.


“Ini minum dulu obatnya,” ucap Sean yang sedang memberikan beberapa macam obat kepada Aleea. Ia segera minum obat pemberian Sean itu.


“Yasudah, kamu istirahat lagi. Aku keluar dulu kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Aku akan datang kesini.” Ucap Sean yang hanya di berikan anggukan sebagai jawaban.


Setelahnya, Sean lalu berlalu. Berjalan dengan santai sambil menjawab panggilan di ponselnya. Aleea memandangi punggung Sean yang semakin lama semakin jauh.


“Kenapa ia bisa disini? Berapa aku tertidur?” Gumam Aleea sambil melihat jam diatas makas menunjukan pukul 19:00.


Dering ponsel Aleea membangunkan ia dari lamunan nya. Segera ia mengambil Ponsel dan membuka pesan dari seseorang. Tertera nama pengirim pesan itu, ia membaca dan membalas pesan tersebut.


Sean : Istirahat, besok kita pulang.


Aleea : Tapi ini bukan sesuai perjanjian kita.


Sean : Jangan banyak protes.


Aleea : Baiklah.

__ADS_1


Setelah membalas pesan itu dan tidak mendapat balasan kembali, ia meletakan ponselnya di atas nakas dan merebahkan dirinya kembali di atas kasur miliknya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemah.


Bersambung…


__ADS_2