Aku Istrimu! Bukan Dia!

Aku Istrimu! Bukan Dia!
Jujur?


__ADS_3

Aleea menggeliat pelan ia membuka matanya melihat ruangan yang baru beberapa jam lalu ia datangi.


Suara air jatuh dari shower di kamar mandi, Aleea mendudukan tubuhnya di atas kasur. Ia lihat jam di dinding kamarnya menunjukan sudah pukul tujuh malam.


Aleea baru ingat sudah berapa lama ia tidur di kamarnya yang dulu. Ia mendongakan kepalanya setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Ceklek!


“Mah. Kenapa ma..” Ucapan Aleea terpotong ketika ia melihat seseorang yang keluar dari kamar mandi bukan mamanya melainkan suaminya, Sean.


“Kamu uda bangun By? Aku pikir kamu pingsan By? Aku akan membawamu ke rumah sakit, jika kamu tidak bangun beberapa menit lagi.” Ucap Sean yang sambil melangkahkan kakinya mendekati kasur dimana Aleea berada.


“Mandi dulu gih, setelah itu kita makan. Mama sudah nunggu di bawah.” Ucap Sean sambil membelain pipi Aleea dengan sebelah tangannya.


“Kamu kok bisa kesini?” Tanya Aleea seolah ia binggung tadi sebelum mengantar ia ke kampus Sean bilang hari ini banyak pekerjaan dan lembur. Tapi sekarang suaminya sudah berada di depannya. Ia bahkan tidak tau jika suaminya akan menyusul dia ke rumah orang tuanya.


“Oh itu. aku uda menyelesaikan sebagian. Sisanya biar Justin yang mengatur itu semua.” Jawab Sean.


“By. Baju ku kemarin kamu letak dimana?” Lanjut Sean.


Gleg!


Aleea membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Aleea tersadar jika Sean belum memeakai pakaiannya. Sean hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Di-dilemari. Ak-aku kemarin meletakannya di dalam sana.” Ucap Aleea dengan nada sedikit terbata sambil menunjuk ruangan ganti di dalam kamar tersebut.


“Kenapa wajahmu merah By?” Ucap Sean dengan nada jahilnya, senyuman kecil terlihat dari bibirnya.


Aleea menutupi wajahnya yang memerah karena malu.


“By. Kenapa kamu tutupi. Lihat semakin merah wajah mu.” Lanjut Sean sambil mencoba melepaskan tangan Aleea yang menutupi wajah nya.


Perkataan Sean membuat wajah Aleea semakin merah seperti kepiting rebus. Aleea membawa tubuhnya menuruni kasur dan berlari ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan menghindari ejekan jahil dari Sean.

__ADS_1


“Hahaha!” Sean hanya tertawa melihat tingkah Aleea.


Ia memandangi punggung Aleea sampai punggung di menghilang tertutup pintu kamar mandi.


Sean melangkahkan Kakinya menuju walk in closet untuk mengambil pakiannya yang sempat ia tinggal jika mereka menginap disini lagi Sean tidak binggung untuk mencari ganti pakaiannya.


Aleea dan Sean melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Mereka berjalan beriringan.


Diruangan itu sudah terdapat Anna dan Aldrich yang berada di ruangan telah menyelesaikan makan malam mereka.


“Sayang kesini! Mama sudah memasak makanan kesukaanmu.” Ucap Anna setelah melihat anak dan menantunya masuk ke ruang makan.


“Mama dan Papa baru saja selesai, kalian makan saja dulu. Nanti langsung ke ruang keluarga saja ya.” Ucap Anna, kemudian ia mengikuti langkah suaminya yang sebelumnya berbicara sebentar oleh Sean.


“Kamu mau yang mana lagi?” Tanya Aleea yang sudah meletakan beberapa makanan di dekat Sean.


“Segini aja, nanti aku ambil lagi sendiri jika kurang.” Jawab Sean yang di beri anggukan oleh Aleea.


Mereka menikmati makan malam dengan santai sesekali perkataan terlontar dari mulut masing-masing.


Aleea melihat waktu di jam dinding sudah menunjukan pukul 22:30. Jika mereka tidak pulang sekarang, mereka akan lewat tengah malam kembali kerumah mereka.


“Mah! Alee pulang sekarang saja yah.” Ucapan Aleea yang membuat dua orang pria yang sedang membicarakan sesuatu menatap kearahnya.


“Sean tidak bilang sama kamu, jika kalian menginap disini?” Tanya Anna pada Aleea yang memberikan gelengan sebagai jawaban.


Aleea menatap suaminya yang jaraknya tidak jauh dari tempat yang ia duduki.


“By. Kita malam ini menginap disini. Besok kita langsung ke rumah ku. Tante semalam datang kesini.” Ucap Sean menjelaskan kepada sang istri.


“Yasudah. Sebaiknya kita beristirahat, hari sudah semakin larut.” Ucap Aldrich, kemudian ia berjalan menuju kamarnya yang diikuti oleh istrinya di belakangnya.


Sean menghampiri istrinya yang masih betah duduk di tempatnya. Ia ambil tangan istrinya kemudian ia genggam.

__ADS_1


“Kamu kenapa? Aku perhatikan kamu sejak tadi diam saja. Apa ada yang mengganggu pikiran mu?” Tanya Sean yang memberikan usapan pada tangan Aleea yang ia genggam.


Aleea mendongakan wajahnya menatap Sean yang duduk di sampingnya. Tatapan mereka saling menyatu, Sean menatap Aleea dengan penuh dengan ketulusan dengan Aleea dengan tatapan yang sulit diartikan.


Aleea mulai membuka suara, “Hmm. Tadi siang kamu ada keluar kantor tidak?” Tanya Aleea yang masih menatap Sean yang berada di sampingnya.


Sean mengerutkan alisnya mendapat pertanyaan dari Aleea yang menurutnya sedikit berbeda.


“Ada. Tadi aku sempat untuk makan siang,” jawab Sean yang sesekali merapikan anak rambut milik Aleea.


“Apa orang yang aku lihat tadi itu Sean. Tapi siapa wanita yang bersamanya.” Batin Aleea.


“Apa Justin juga ikut dengan mu?” Lanjut Aleea memberikan sebuah pertanyaan.


“Tidak. Aku pergi sendiri. Ada yang ingin aku temui tadi.” Ucap Sean jujur, ia keluar kantor karena ingin menemui seseorang.


“Kenapa sih By? Pertanyaan kamu hari ini aneh tau.”


“Ayo. Kita ke kamar,” ucap Sean sambil meletakan tangannya di depan Aleea. Sebelum tangan Aleea mengapai tangan Sean yang berada di depannya. Tubuhnya melayang ke dalam pelukan seorang pria.


“Yaakk! Sean! Turunkan aku!” Ucap Aleea sedikit berteriak.


Sean mengangkat tubuh Aleea masuk kedalam pelukannya. Ia menggendong tubuh Aleea ala bridal style.


Setelah sampai kamar mereka, Sean menidurkan Aleea di atas tempat tidur. Kemudian ia ikut bergabung tidur di samping Aleea membiarkan tangannya menjadi bantal Aleea dan kemudian ia menyelimuti tubuh mereka.


Kicauan burung terdengar nyaring, nuansa dingin membuat insan yang tengah saling memeluk satu sama lain meringkuk untuk memberi hangat melalui sentuhan kasih. Selimut tebal yang menjadi penutup tubuh keduanya kembali ditarik sampai menutup kuping. Jarak yang sempat terbentang akibat tidak sadarkan diri pun dirapatkan lagi, bak esok tak ada hari lain untuk menikmati waktu tidur bersama orang terkasih.


Ting! Ting! Ting!


Notifikasi yang masuk secara beruntun mau tidak mau membuat keduanya sama-sama terusik. Terutama sosok yang lebih muda karena wanita itu cukup sensitif perihal bunyi. Sean dengan posisi yang tengah menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Aleea hanya merengek seraya menggeliat kecil. Sementara Aleea berusaha untuk mengumpulkan nyawa yang masih tercecer di bawah kaki. Lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.


“Sean...” panggilan itu adalah suara pertama yang dikeluarkan Aleea setelah keduanya terlelap dalam waktu yang cukup lama.

__ADS_1


“Ini ponselmu, dari tadi berbunyi. Mungkin ada yang penting.” Ucap Aleea yang susah membawa ponsel Sean di tempatnya.


“Sebentar lagi By. Lima menit lagi,” Ucap Sean yang masih memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aleea serta tangan yang memeluk tubuh ramping milik Aleea.


__ADS_2